Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 26


__ADS_3

Begitu Romeo tidak kelihatan lagi dari pandangannya, Kirana tidak lagi menahan air mata yang sudah mendesak keluar dari pelupuk matanya. Dadanya sesak dengan perpisahan itu. Dia tidak peduli apakah sopir taksi yang duduk di depannya melihat ke arahnya atau tidak. Saat ini dia hanya ingin menangis, maka itu yang akan dilakukannya.


Hubungan mereka tidak untuk selamanya, dia tahu itu. Hanya asmara singkat untuk dinikmati selama liburan. Mereka hanya bersenang-senang selama akhir pekan. Mereka melakukannya atas dasar kesepakatan bersama antara dua orang dewasa yang sadar dengan apa yang mereka putuskan. Tetapi bukan berarti ketika segalanya berakhir dia tidak merasakan luka dan sakit dalam hatinya. Memikirkan bahwa perpisahan itu mungkin saja untuk selamanya sangat menyakitkannya.


Di dalam hidup, dia tahu bahwa dia tidak bisa mendapatkan semua yang dia inginkan. Kadang-kadang dia hanya mendapatkan satu dari tiga hal yang dia inginkan. Kirana telah mendapatkan satu hal yang paling dia inginkan, berhubungan intim di masa suburnya. Menginginkan hal lainnya juga untuk dia miliki, terkesan berlebihan untuknya.


Romeo masih lajang, Kirana juga tidak punya kekasih. Kalau mereka tertarik terhadap satu sama lain bisa saja mereka melanjutkan hubungan mereka ke tingkat lebih lanjut. Tetapi pria itu pasti berasal dari suatu negara yang jauh. Kirana tidak tertarik meninggalkan negerinya demi seorang laki-laki dan mengubah kewarganegaraan seperti yang telah dilakukan Ratri. Dia tidak mau mengubah identitasnya karena dia ingin tetap tinggal di mana dia tinggal dan tetap menjadi siapa dirinya yang sekarang.


Dia telah menolak kartu nama Romeo. Satu-satunya petunjuk yang bisa membantunya menemukannya pada suatu hari nanti. Kalau saja dia tidak menutup mata dan segera menolaknya, dia bisa saja tergoda untuk mengambil kartu tersebut dan menyimpannya. Dia tidak akan berbohong, dia sangat penasaran ingin mengetahui siapa pria itu yang sebenarnya, dari mana asalnya, apa yang dia lakukan dalam hidupnya sehari-hari, berapa orang saudara yang dia miliki, di mana dia tumbuh besar, semuanya.


Dia juga menolak untuk tinggal lebih lama. Walau dia sangat menginginkannya, dia menyadari bahwa cepat atau lambat hubungan mereka harus diakhiri. Mengapa pertemuan mereka perlu diperpanjang lagi bila mereka tidak punya masa depan bersama?

__ADS_1


Romeo juga tidak membantunya sama sekali. Perpisahan mereka bisa dijalani dengan baik tanpa drama andai saja dia mematuhi kesepakatan awal mereka. Dia sudah bangun tidur dengan wajah bahagia akan segera kembali pulang untuk mempermudah saat mereka saling mengucapkan selamat tinggal. Tidak mudah tersenyum seperti itu ketika hatinya menjerit tidak ingin pergi.


Pria itu malah mengajaknya untuk kembali ke tempat tidur, hal yang sulit dia tolak. Entah apa yang ada di tangan pria itu sehingga dia mudah saja luluh pada permintaannya. Entah apa yang terkandung pada bibirnya sehingga dia sulit melawan dorongan untuk membalas ciumannya.


Seolah-olah tidur bersama untuk terakhir kalinya itu masih belum cukup baginya, dia menggodanya, menyentuhnya, membujuknya, memohon kepadanya, menciumnya habis-habisan supaya dia mau tinggal beberapa saat lagi dengannya. Dia tidak melakukannya di kamar, dia melakukannya di depan elevator. Seseorang bisa datang kapan saja dan menangkap basah mereka melakukan itu tetapi tidak. Romeo bisa dengan leluasa melakukan aksinya tanpa ada yang datang menginterupsi mereka.


Untung saja dia tidak melanjutkan rayuannya di dalam elevator, atau dia akan menyerah. Dia hanya wanita biasa, yang benar saja, dia bukan wanita yang mati rasa yang tidak bisa dibujuk dengan godaan yang bertubi-tubi seperti itu.


Jantung mereka sama-sama berdetak begitu cepat, takut menghadapi masa depan tanpa satu sama lain. Dia hampir menangis saat pria itu memohon kepadanya dengan suara bergetar, agar dia bersedia tinggal lebih lama bersamanya. Tetapi dengan sisa keberanian yang masih ada, dia menguatkan diri dan melepaskan pelukannya. Dia harus pergi segera sebelum dia berubah pikiran.


Apa yang dia lakukan adalah jalan yang terbaik. Romeo dan dirinya tidak bisa bersama selamanya. Kisah mereka hanya untuk tiga malam saja. Lalu mengapa dia terus menangis? Mengapa dia tidak bisa berhenti mengalirkan air mata? Mengapa dadanya terasa sesak dan nyeri? Apakah mereka menjadi begitu dekat karena telah berhubungan intim? Mungkinkah suatu hari nanti dia bisa melupakannya dan melanjutkan hidup tanpa memikirkan pria itu lagi? Bagaimana dengan Romeonya, mungkinkah dia juga akan melupakannya?

__ADS_1


Melihat gerbang masuk bandara, Kirana tidak terkejut dia masih menangis. Dia mengeluarkan selembar tisu dari dalam tas sandangnya. Setelah yakin wajahnya cukup kering dan air matanya bisa ditahan untuk tidak keluar lagi, dia bicara kepada sopir dan membayar tarifnya. Dia keluar dari taksi bersamaan dengan sopir mengeluarkan kopernya dari dalam bagasi.


Berkali-kali dia menghapus air mata dengan tisu di tangannya, berkali-kali juga air mata kembali memenuhi pelupuk matanya. Saat dia masuk ke dalam terminal keberangkatan, saat dia mengantri untuk check-in, saat dia memasuki beberapa toko cendera mata untuk membeli oleh-oleh, saat dia mengantri di bagian imigrasi, saat dia menunggu di ruang tunggu, hingga dia masuk ke dalam pesawat, air matanya tidak berhenti membasahi wajahnya.


Duduk satu baris dengan dua orang asing di sisi kirinya, Kirana lega tidak satu pun dari mereka mencoba mengajaknya bicara. Ketika pesawat sudah lepas landas dan lampu tanda sabuk pengaman telah dipadamkan, salah satu dari mereka yang duduk paling ujung berdiri. Dia mengeluarkan tas ransel dari bagasi kabin dan mengambil sebuah laptop dari dalamnya. Dengan laptop itu, mereka sibuk berdiskusi mengenai presentasi mereka.


Kirana lega lagi-lagi dia duduk di dekat jendela. Dia bisa menangis sepuasnya tanpa ada yang melihat. Ingin sejenak melupakan tentang Romeo dan akhir pekan mereka bersama, dia memejamkan matanya, mencoba untuk tidur.


Begitu pesawat yang ditumpanginya mendarat dengan lancar di bandara kotanya, Kirana lapar. Jadi, dia makan siang di salah satu restoran setelah mengambil kopernya dari tempat pengambilan bagasi. Walaupun tidak selera makan, dia memaksa dirinya untuk menghabiskan makanan yang telah dibelinya. Beberapa wanita melihat ke arahnya dan berbisik kepada orang di dekatnya. Mereka pasti melihat air mata di pipinya. Inilah alasan dia tidak mau menangis di depan umum, tetapi dia tidak bisa menahan dirinya.


Begitu sampai di rumah dan telah menutup pintu depan, dia bersandar pada pintu dan menangis. Kini tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya. Karena tidak akan ada yang melihatnya sedang berada di bawah titik terlemahnya. Juga tidak ada yang akan memandang heran melihat matanya yang basah dan wajahnya yang merah. Dia tidak mengerti. Mengapa ini terasa begitu menyakitkan? Apa yang sedang terjadi kepadanya? Ke mana wanita tegar yang selalu kuat menghadapi segalanya itu?

__ADS_1


Duduk di tepi tempat tidurnya, Kirana menatap kopernya. Pandangannya kemudian beralih pada bungkusan berisi oleh-oleh. Dia mendesah pelan. Salah satu bungkusan kecil dikeluarkannya dari bungkusan tersebut. Keluar dari kamar, dia meletakkan bungkusan itu di atas meja. Di dapur, dia mengisi gelas dengan air minum dan menghabiskannya. Sebelum tidur, ada hal yang harus dilakukannya.


__ADS_2