Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 89


__ADS_3

Mereka kembali berkumpul di ruang duduk setelah makan malam. Masih dengan posisi duduk yang sama, mereka melanjutkan perbincangan. Beberapa saat kemudian, Kirana meminta izin untuk ke toilet. Miles mencium pipinya sebelum membiarkannya pergi. Wajah wanita itu memerah. Satu menit kemudian, Ratri melakukan hal yang sama. Miles mengerutkan keningnya. Entah mengapa dia tidak suka membiarkan Kirana berdua saja dengan kakaknya.


Dengan dorongan Shane, Phoebe memainkan dua buah lagu klasik menggunakan piano yang ada di ruangan tersebut. William mengangakan mulutnya melihat keahlian saudara sepupunya memainkan piano itu. Miles tertawa kecil. Segera saja putranya berlari mendekat dan minta diajari. Phoebe mempersilakannya duduk di sisinya. William menurut dan meniru apa yang dilakukan sepupunya.


Pintu terbuka, Miles menoleh ke arah sana. Ratri masuk dengan wajah sangat serius. Wanita itu melihat ke arahnya sesaat sebelum duduk di sisi Brian. Kirana masuk beberapa menit setelahnya dengan wajah memerah nyaris menangis. Dia menutup pintu lalu duduk di sisinya kembali. Miles tidak suka ekspresi itu. Dia mendekatkan tubuh mereka. Nanti mereka punya banyak waktu untuk membicarakan apa yang terjadi. Sekarang dia ingin membuat wanitanya merasa lebih baik.


“Aku sudah merindukanmu.” bisik Miles. Kirana tersenyum kecil. Tangan wanita itu menyentuh pahanya. Miles menggenggam tangannya. Dingin. “Mengapa lama sekali?”


“Supaya kamu sempat merindukanku?” godanya. Miles mencium pipinya penuh sayang. Itu bukan alasan yang sebenarnya tetapi dia akan membiarkannya lewat.


“Usahamu berhasil.” Miles melingkarkan tangannya di pinggang Kirana.


“Alastair, Brian bertanya tentangmu.” ucap Shane. Miles mengalihkan pandangannya dengan enggan dari tunangannya dan menoleh ke arah ayahnya. “Coba ceritakan bagaimana kamu memulai usaha di Indonesia.”


Pertanyaan yang membosankan, pikir Miles. Dia sudah mengulang jawabannya berulang kali hingga dia tidak perlu berpikir untuk menjawabnya. Dengan jempol kirinya, dia mengusap-usap panggul Kirana. Saat berbicara dengan Brian, dari sudut matanya dia melihat Ratri melihat ke arahnya dan Kirana. Wanita itu terlalu banyak mengamatinya dan adiknya malam itu. Saat mereka baru saja datang, saat makan malam, dan pada saat ini. Tatapannya membuat Miles tidak menyukainya. Seolah-olah wanita itu tidak suka dengan apa yang sedang dilihatnya.


Miles baru bisa bernapas lega setelah Ratri dan keluarganya pulang. Dia tidak punya masalah dengan Brian dan kedua anak mereka. Mereka orang yang baik dan menyenangkan. Tetapi dia tidak suka dengan kehadiran Ratri yang membuat Kirana resah. Amanda dan Shane tampak puas dengan pertemuan mereka itu. Mereka tidak mencurigai ada hal yang aneh. Shane membopong William yang sudah tidur ke kamarnya. Mereka pun saling mengucapkan selamat malam sebelum menuju kamar masing-masing.

__ADS_1


“Kamu dipanggil Kiki di rumah.” ucap Miles saat Kirana keluar dari kamar mandi. Dia sudah membersihkan riasan dari wajahnya dan berganti pakaian dengan baju tidurnya. Dia tetap terlihat cantik. Miles mengulurkan tangan, dan dia menerimanya dengan cepat.


“Iya. Juga oleh sahabat kecilku.” Kirana duduk di depannya, di antara kedua kaki Miles. Punggungnya bertemu dengan dada pria itu. Miles melingkarkan tangannya di tubuh wanita itu, lalu mencium lehernya.


“Hm. Tapi aku lebih suka memanggilmu sweetheart. Rasanya lebih cocok untukmu.” ucap Miles pelan. Kirana tertawa kecil.


“Aku suka panggilan itu. Dan aku tidak akan protes seperti Will. ‘Namaku Kiki. Bukan sweetheart.’ Ya, Tuhan. Kadang-kadang aku sangat sayang kepadanya.” ucap Kirana geram. Mereka tertawa bersama.


“Boleh tahu apa yang diucapkan Ratri saat kalian di toilet?” tanya Miles. Kirana tiba-tiba terdiam. “Aku berhak mengetahuinya, Kirana. Tidak ada yang boleh menyakiti tunanganku di belakangku.”


“Miles,” Kirana menyentuh tangan Miles yang melingkari tubuhnya. “Tolong maafkan aku. Aku telah merayumu, menggodamu, dan mengajakmu tidur bersama pada malam itu. Padahal kamu sudah menikah dan punya seorang istri yang menunggumu pulang.”


“Aku tahu. Tapi kakakku benar. Selama lima tahun aku membesarkan Will tanpa seorang ayah. Sesuatu yang sebenarnya bisa aku cegah. Aku terlalu egois. Aku hanya memikirkan tentang memiliki anak tanpa memikirkan risikonya ke depan bagi putraku bila hidup tanpa ayah.” Kirana terisak dan itu menghancurkan hatinya. Tangannya mengepal. “Aku juga sudah merusak pernikahanmu dengan istrimu. Aku wanita jahat. Aku sangat jahat.”


“Pernikahanku sudah lama hancur dan itu bukan karena perbuatanmu.” ujar Miles dengan tegas sambil mengguncang pelan tubuhnya. Kirana menutup mulutnya. “Aku dan istriku masih berusaha untuk bersama hingga pada hari dia meninggal. Berhenti merasa bersalah. Ratri tidak berhak mencoba menilai atau menghakimimu.”


“Dia kakakku, Miles.” protes Kirana cepat.

__ADS_1


“Yang pergi dari hidupmu selama tujuh belas tahun ini, jangan lupa itu.” balas Miles. “Dia pikir dia siapa sehingga merasa berhak menilaimu? Dia tidak ada di sisimu untuk dimintai pendapat. Dia tidak ada saat kamu membutuhkan seseorang untuk memelukmu. Dan dia tidak menemanimu ketika kamu kesepian. Kamu baru saja kehilangan orang tuamu, kehilangan cintamu, pekerjaanmu, bahkan sahabatmu pada waktu yang nyaris bersamaan. Di mana dia? Bersama keluarganya ribuan kilometer di benua lain, Kirana.”


“Lalu siapa yang memberinya hak untuk memberi pendapat? Apa yang kamu lakukan selama enam tahun terakhir ini sama sekali tidak mengganggu kehidupannya atau merusak reputasinya. Kamu membesarkan Will seorang diri tanpa bantuannya. Kamu bekerja keras memenuhi kebutuhan kalian berdua, juga tanpa campur tangannya. Bahkan kamu melindungi Will dari omongan orang, juga seorang diri.” Miles mencium lehernya lagi.


“Dan mengenai malam itu, kita berdua tahu akulah yang salah. Aku pria yang sudah menikah tapi mengaku lajang kepadamu. Kamu tidak tahu itu. Bagaimana kamu bisa tahu? Akulah yang tahu aku sedang tidur dengan wanita lain yang bukan istriku.” Miles berhenti dan tertawa teringat sesuatu yang lucu. “Kamu tidak merayu, menggoda, atau mengajakku tidur bersama, sweetheart. Kamu bahkan tidak tahu bagaimana mencium dengan benar. Untuk menggodaku pada hari itu, kamu perlu berlatih lebih keras lagi.”


“Kamu memang menyebalkan.” Kirana ikut tertawa. Miles kembali berwajah serius.


“Jadi, pada acara makan malam keluarga nanti, menjauhlah darinya. Karena kalau aku melihat dia menyakitimu lagi, aku tidak bisa menjamin apa yang sanggup aku lakukan kepadanya. Dia harus belajar tidak melewati batas kehidupan pribadi orang lain.” ucap Miles. “Kamu sedang hamil. Aku tidak suka melihatmu tertekan.”


“Dia tidak tahu aku sedang hamil.” ujar Kirana sedih. Miles lelah dengan semua itu. Dia lelah dengan penghakiman dari orang-orang di sekitar mereka. Kehamilannya bukanlah kesalahan. Bukan sebuah kesalahan. Mereka melakukan kesalahan menurut standar masyarakat, tetapi bayi mereka tidak. Miles sudah membenci saudara kekasihnya. Dan dia benci melihat wanitanya frustrasi dengan masa lalu mereka.


“Kalau dia tahu dan masih berusaha membuatmu sedih, dia tadi pasti pulang dengan hidung yang patah.” ancam Miles.


“Miles,” ucap Kirana terkejut.


“Aku tidak peduli dia kakakmu atau bukan. Laki-laki atau perempuan. Begitu dia menyakitimu, siapa pun orangnya, harus berhadapan denganku.” ucap Miles serius.

__ADS_1


Saat Kirana membalikkan tubuhnya, Miles melonggarkan pelukannya. Mereka bertemu muka dengan muka. Miles mengerutkan keningnya. Kirana tersenyum, lalu menciumnya. “Aku mencintaimu.”


Miles tersenyum bahagia. “Dan aku mencintaimu.” Mereka melupakan tentang Ratri dan menikmati malam dengan tidur saling berpelukan.


__ADS_2