
Seminar pada hari kedua berjalan dengan lancar. Kirana sangat berterima kasih kepada Miles yang telah memaksanya untuk menghadirinya. Dia banyak belajar mengenai pemasaran internasional. Pembicara yang diundang adalah orang-orang yang kompeten di bidang tersebut serta berpengalaman selama puluhan tahun.
Kalau pada hari pertama Miles mengizinkannya menghabiskan waktu dengan mereka, hari ini dia tidak mau pergi dari sisinya. Sikapnya itu membuat para pembicara menggoda mereka kapan saja mereka bicara dengan Kirana pada saat istirahat untuk kudapan dan makan siang. Kirana hanya tersenyum.
Sebelum kembali ke aula, Kirana pamit untuk pergi ke toilet. Di salah satu bilik yang kosong, dia duduk di atas dudukan toilet, dan mengeluarkan ponselnya. Dia memilih nomor telepon rumahnya, Helen menjawab telepon tersebut. Dia harus menunggu wanita itu untuk memanggil putranya agar mereka bisa bicara.
“Mommy!” Terdengar sorak girang William dari seberang. Air mata Kirana jatuh membasahi pipinya. Dia merindukan anak laki-lakinya.
“Hai, Will. Apa kabarmu?” tanya Kirana penuh kerinduan.
“Baik, Mom. Tapi kalau kamu tidak pulang malam ini, aku akan sakit.” ancam William. Kirana tertawa kecil. “Aku serius, Mom. Aku sedang tidak bercanda.” Kirana tahu dia sedang tidak bercanda.
“Aku pulang malam ini. Jangan khawatir.” ucap Kirana serius. “Kamu sedang apa?”
“Nonton Finding Nemo.” William kembali bicara dengan suara riang. Kirana tertawa.
“Lagi? Kamu tidak bosan?” goda Kirana.
“Gambar ikannya bagus, Mom. Oranye, putih, hitam, biru. Kura-kuranya juga lucu. Tanaman lautnya banyak yang cantik.” ucapnya setengah mengkhayal. “Film itu penuh warna.”
“Aku setuju. Ayahnya sudah berhasil menemukan anaknya?” tanya Kirana. Dia nyaris menangis mendengar ucapannya sendiri. Film itu mengingatkannya kepada kisah putranya sendiri. Ayah William. Miles. Dan dia sedang berencana untuk menjauhkan mereka agar mereka tidak pernah bertemu. Tetapi dia harus melakukan ini. Dia khawatir jika dia berterus terang, dia akan kehilangan putranya.
“Belum. Tapi sebentar lagi aku akan sampai di bagian itu.” lapornya. Kirana membiarkan dia bicara panjang lebar mengenai film tersebut dan pendapatnya yang sudah dia dengar setiap kali putranya menonton film tersebut.
__ADS_1
“Bagaimana dengan Miss Helen? Apakah dia memperlakukanmu dengan baik?” tanya Kirana pelan, nyaris berbisik. Dia tidak mau wanita muda itu sampai mendengarnya andai saja dia sedang berada di dekat William.
“Iya, Mom. Aku bisa mandi dan ganti baju sendiri. Dia yang memasak. Tapi dia suka sekali menelepon dan menatap teleponnya sepanjang waktu. Kamu lebih menyenangkan daripada dia.” keluh putranya.
Kirana mengerutkan keningnya. Dia tidak suka mendengar itu. Helen berjanji akan menjaga putranya dengan baik. Itu termasuk mengawasinya saat beraktivitas. Tidak seharusnya dia bermain dengan teleponnya sepanjang waktu. Dia tidak akan meninggalkan putranya di bawah pengawasan gadis itu lagi. William juga harus pindah tempat penitipan. Dia tidak aman berada di tempat penitipan tersebut.
“Aku tidak bisa lama-lama. Acara seminarnya sebentar lagi dimulai. Sampai jumpa nanti malam.” ucap Kirana berat setelah melihat jarum pada jam tangannya.
“Oke, Mom. Aku rindu kamu.” ucap William riang.
“Aku rindu kamu juga.” Kirana memutuskan hubungan telepon mereka.
Kirana memeriksa wajahnya di depan cermin sebelum keluar dari toilet. Penampilannya masih baik. Dia memekik pelan, terkejut melihat Miles berdiri di hadapannya saat dia membuka pintu. Pria itu tersenyum kemudian berjalan mendekatinya. Dia meletakkan tangannya di punggung bawah Kirana lalu mencium pipinya. Wanita itu nyaris menangis merasakan sentuhan Miles yang menenangkannya. Dia benci berbohong kepada pria itu.
Tetapi bagaimana kalau dia salah membaca sifat orang lagi? Dia belum pernah melihat pria itu marah. Bagaimana jika sifat aslinya keluar pada saat dia marah? Badannya besar dan dia jelas bukan laki-laki yang lemah. Meskipun dia belum pernah menyakitinya secara fisik, bukan berarti dia tidak akan pernah melakukannya suatu hari nanti.
“Kita masuk sekarang?” tanya Miles membuyarkan lamunannya. Tidak berani mengeluarkan suara, Kirana hanya menganggukkan kepalanya. Miles tidak memindahkan tangannya dari punggungnya sampai mereka kembali duduk di kursi mereka semula.
Seminar berakhir tepat pada jam tiga sore. Mereka langsung kembali ke kamar tanpa menikmati kudapan sore yang telah disajikan untuk mengejar penerbangan mereka kembali ke Jakarta. Seorang pelayan datang untuk membawa koper mereka ke lantai bawah. Setelah memastikan tidak ada barang-barang milik mereka yang tertinggal, mereka beriringan menuju lift.
Mobil sedan hitam yang sama kembali menunggu mereka di depan pintu utama. Dia menoleh ke arah Miles. Pria itu berterima kasih kepada seorang pegawai hotel lalu menolong Kirana masuk ke dalam mobil. Dia menurut. Pria itu kemudian duduk di sisinya lalu menutup pintu. Sopir mengendarai mobil tanpa perintah siapa pun.
“Apa kamu menyewa mobil ini? Kita naik mobil ini dari bandara ke hotel. Semalam saat ke Marina Bay Sands kita juga naik mobil ini. Hari ini kita ke bandara naik mobil yang sama.”
__ADS_1
“Aku tidak menyewanya. Ini mobil temanku, yang memiliki hotel tempat kita menginap. Dia memberiku fasilitas penuh kapan saja aku mengunjungi negara ini. Aku tidak bisa menginap di hotel lain, harus di hotel ini.” Miles tertawa kecil.
“Oh, iya. Kamu pernah mengatakannya. Siapa namanya?” tanya Kirana ingin tahu. Dia mendengar namanya sebelumnya tetapi dia lupa dan tidak bisa mengingatnya.
“Gregory. Kamu bertemu dia pada hari pertama seminar.” Miles mengingatkan. Iya, itulah kapan dia ingat pernah mendengar tentangnya dan bertemu dengannya. Bagaimana dia bisa lupa?
“Kadang-kadang aku lupa siapa kamu sebenarnya. Wajar saja kamu berteman dengan orang-orang konglomerat seperti pemilik hotel ini. Kamu juga seorang konglomerat.” gumam Kirana. Miles punya perusahaan dengan beberapa kantor cabang di Indonesia. Dia bukan orang biasa.
“Apa itu artinya bagimu aku tidak sekaya mereka?” goda Miles.
“Aku tidak pernah berpikir seperti itu tentangmu sebelumnya. Walaupun semalam kita makan malam di Marina Bay Sands yang pasti sangat mahal, bermalam di kamar suite di hotel bintang lima, kamu tidak pernah memberi kesan bahwa kamu seorang yang kaya raya. Mungkin aku sudah terbiasa bersamamu sehingga tidak menyadarinya.” ucap Kirana heran. Miles tertawa kecil.
“Aku lebih suka kalau kamu menganggapku begitu. Kadang-kadang sulit menyembunyikan identitasku yang sebenarnya karena gaya hidupku. Tapi di negara ini, aku bisa bebas berekspresi karena aku hanya orang asing.” ucapnya dengan nada lega.
“Tapi itu tidak membuatmu jauh dari godaan wanita lain yang berpapasan denganmu.” goda Kirana.
“Kamu cemburu?” Miles mengangkat satu alisnya. Kirana memukul lengannya setengah bercanda.
“Aku tidak cemburu. Kamu tidak pernah membalas tatapan atau rayuan mereka.”
“Bagus. Selalu ingat itu.” Dia membelai tangan Kirana. Wanita itu tersenyum.
Ketika mereka tiba di bandara, jantung Kirana berdebar dengan cepat. Sebentar lagi semuanya harus berakhir. Miles keluar dari mobil lebih dahulu dan mengulurkan tangannya untuk menolong Kirana keluar dari mobil. Koper mereka telah dipindahkan sopir mobil tersebut ke dalam troli. Miles menjabat tangannya dan berterima kasih.
__ADS_1