
Sebuah treadmill yang tidak digunakan di ujung aula adalah alat yang sering dipakainya setiap kali dia datang ke tempat itu. Dia meletakkan handuknya di pegangan lalu mulai menekan tombol pengaturan. Kecepatannya dia tambah dan kurangi hingga mendapatkan kecepatan yang dia butuhkan. Baru berlari beberapa menit, seorang pria di sisinya berhenti. Seorang wanita bergegas mengambil alih.
“Hai.” Terdengar suara sapaan dari sebelahnya. Dia mengabaikannya karena tidak yakin sapaan itu ditujukan kepadanya. “Hey, you,” Merasakan sentuhan pada sikunya, Miles menoleh.
Seorang wanita cantik dengan dandanan yang berlebihan untuk sekadar berolahraga berdiri di dekatnya. Kerah bagian depan kausnya yang ketat begitu rendah hingga tidak perlu usaha keras untuk melihat belahan dadanya. Celananya begitu pendek sampai dia tidak bisa memutuskan apakah itu celana pendek atau pakaian dalam.
“Ya?” ucap Miles yang kembali melihat ke arah depannya.
“Kamu bisa berbahasa Indonesia? Wow.” godanya.
“Maaf, kalau tidak ada yang mendesak, saya datang ke sini untuk berolahraga. Bukan mengobrol.” ucap Miles dengan tegas.
“Kita bisa mengobrol setelah dari sini.” ucap wanita itu tidak menyerah. Miles mengangkat tangan kanannya, menunjukkan cincin yang disematkan di jari manisnya. “Sejak kapan cincin itu menghalangi seorang pria untuk mengobrol dengan seorang wanita?”
“Aku tidak tertarik. Oke?” Miles melihat ke arah wanita itu dengan tatapan serius.
“Aku hanya mencoba bersikap ramah. Apakah ada yang salah kalau ingin menambah teman?”
“Kalau kamu tidak segera berhenti bicara, aku akan panggil keamanan.”
“Huh. Mentang-mentang kamu ganteng, kamu pikir kamu bisa bersikap sombong kepada orang lain. Dasar bule sombong!” umpat wanita itu sambil menjauh.
Tidak bisa menahan dirinya, Miles tertawa kecil. Dunia ini memang lucu. Ketika kamu berusaha setia dan tidak terpancing rayuan dan godaan wanita lain, kamu diumpat dan dicaci. Jika kamu selingkuh dan bermain api dengan wanita lain di belakang istri atau kekasihmu, tindakanmu juga dikecam.
Pantas saja banyak orang yang tidak bisa lagi melihat dengan jelas mana keputusan yang benar dan mana tindakan yang bisa membawa kemalangan. Orang-orang di sekitar mereka sering membuat mereka sendiri kebingungan. Hal itu yang membuatnya bertahan pada prinsip dan tidak membiarkan komunitas yang mengatur hidupnya.
Perlahan-lahan tempat kebugaran itu mulai sepi. Orang-orang berpulangan. Miles dengan leluasa bisa menggunakan peralatan mana pun. Tiga puluh menit sebelum tutup, dia berhenti berlari. Dia menarik napas panjang berusaha menenangkan debaran jantungnya. Di kamar mandi, dia menghabiskan waktu dua puluh menit di bawah air pancur. Dia memakai kaus oblong dan celana jins, bukan pakaian kantornya. Keluar dari tempat tersebut, para pegawai mengantarnya pergi dengan senyuman.
__ADS_1
Mobilnya sudah terparkir di depan menunggunya. Perutnya lapar dan dia menemukan alasan untuk lebih lama lagi berada di luar rumah. Dia tidak ingin bertemu istrinya saat dia masih terjaga. Mereka pasti akan bertengkar lagi.
Pertama kali dia bertemu Angelica adalah saat mereka diperkenalkan oleh salah satu pacar dari temannya, yaitu kakak iparnya sendiri. Sejak hari itu mereka sering kencan ganda sampai akhirnya Angelica tidak malu-malu lagi saat berbincang dengannya. Kencan pertama mereka berdua saja berakhir sempurna. Angelica mengizinkannya untuk menciumnya. Itu bukan ciumannya yang pertama. Dia sudah pernah punya pacar saat masih tinggal di negaranya. Tetapi itu ciuman yang paling berkesan baginya.
Satu tahun menjalin hubungan, Miles melamarnya. Saat itu dia sudah dua tahun memiliki gedung untuk perusahaannya sendiri dan dua kantor cabang. Dia begitu bahagia telah berhasil dalam bisnis dan cinta. Mereka menikah enam bulan berikutnya dan sangat bahagia. Istrinya tidak perawan lagi bukan masalah baginya. Dia juga bukan perjaka, hal yang paling disesali dalam hidupnya. Pulang dari bulan madu, mereka tidak terpisahkan.
Dengan sifat Angelica yang tertutup, dia tidak mudah menambah teman. Tetapi teman-teman lamanya rajin menghubunginya atau bertemu dengannya. Dalam satu bulan mereka mempunyai acara masing-masing dengan teman baik mereka sendiri. Saat itulah dia sangat merindukan istrinya.
Bila rindu sudah melanda, mereka akan berhubungan intim sepanjang malam. Saat yang paling ditunggu-tunggunya. Setiap hari kerja, Miles tidak sabar ingin cepat pulang agar bisa bertemu istrinya di rumah. Dinas keluar kota atau keluar negeri adalah saat-saat yang paling menyiksa. Dia tidak bisa selalu membawa istrinya karena dia juga bekerja.
Sepuluh tahun menikah, mereka berdua bagaikan pengantin baru yang membuat banyak kerabat, kolega, sahabat dan kenalan mereka iri. Melangkah ke mana pun, mereka selalu bergandengan tangan, duduk selalu berdekatan, saling mencuri ciuman di saat mereka pikir tidak ada yang melihat, menghadiri acara bersama-sama. Saat sedang berjauhan, mereka saling menelepon atau berbalasan pesan.
Semuanya itu berubah. Dia tidak ingat sejak kapan. Tetapi mereka berhenti saling menelepon dan berbalasan pesan saat tidak bersama. Mereka lebih nyaman menghadiri acara masing-masing tanpa membawa pasangan. Bila terpaksa menghadiri acara bersama, mereka saling menghindar. Mereka hanya bersentuhan saat istrinya sedang ovulasi. Hal yang dulu sangat dinanti-nantinya, kini membuatnya tersiksa.
“Ke mana, pak?”
Hanya itu pilihan restoran yang buka dua puluh empat jam dan berada lebih dekat dari yang lain. Dia menunggu sopirnya bergabung dengannya, lalu memesan makanan mereka masing-masing. Miles makan sambil memeriksa ponselnya. Ada beberapa pesan dan surel masuk. Semua diperiksanya satu-persatu. Yang penting segera dibalas, yang berurusan dengan pekerjaan diteruskannya ke surel asistennya dan yang hanya berisi iklan dihapusnya.
Miles mengerutkan keningnya melihat Markus makan dengan lahap. Bukankah pria itu tadi sudah makan malam? Apa yang membuatnya terlihat begitu lapar?
“Kamu bukannya sudah makan?” tanya Miles heran. Pria itu mengunyah makanannya sebelum menjawab.
“Sudah, Pak.”
“Lalu mengapa makan terburu-buru begitu? Kamu masih lapar? Kamu boleh pesan lagi.” Miles merogoh kantong untuk mengambil dompetnya.
“Bukan, Pak. Saya mau segera kembali ke mobil.” jawab pria itu cepat.
__ADS_1
“Mengapa? Ada yang mau kamu telepon?” tanya Miles heran. Markus bicara kepada dirinya sendiri. “Bicara yang jelas, Mark. Aku tidak mengerti.”
“Saya segan makan di sini bersama Bapak.”
“Karena?”
“Anda atasan saya, Pak.” jawabnya. “Sopir tidak makan satu meja dengan tuannya, Pak.”
“Nonsense. Aku tidak keberatan. Makannya pelan-pelan saja. Aku tidak buru-buru pulang.” ucap Miles. Markus melihatnya heran. Atasannya menatapnya kembali. “Ada masalah apa lagi?”
“Ti, tidak ada, Pak. Itu, terima kasih, Pak. Sudah mau makan satu meja bersama saya.”
“Bukan masalah.” ucap Miles santai. Dia melirik ke arah pria itu kembali. “Kamu sudah menikah?”
“Sudah, Pak.” jawabnya dengan cepat. Saat Miles bertanya tentang anak, dia tampak bahagia. “Anak saya dua, Pak. Sepasang.”
“Kebutuhan keluargamu selama satu bulan tercukupi?”
“Cukup, Pak. Terima kasih. Berkat Bapak saya juga bisa menabung.”
“Bagus. Kalau ada masalah tolong beritahu aku.”
“Iya, Pak. Terima kasih, Pak. Anda sudah sangat baik kepada saya dan keluarga.”
“Bukan masalah. Kamu sudah bekerja dengan baik. Hanya itu yang bisa aku lakukan sebagai balasannya.”
Markus masih berusia dua puluh tujuh tahun dan sudah memiliki dua orang anak. Dia dan istrinya hanya bisa bertemu pada akhir pekan. Tidak bisa selalu berhubungan intim kapan saja mereka mau dan butuh. Tetapi mereka mempunyai dua orang anak. Sedangkan Miles yang tinggal satu atap dengan istrinya sejak mereka menikah, yang melakukan hubungan intim dengan teratur pada masa subur istrinya, sampai sekarang belum juga dikaruniai seorang anak. Dan usianya sudah empat puluh tahun.
__ADS_1
Rumahnya sudah gelap saat dia pulang. Hanya lampu dengan sinar temaram di dekat tangga yang tetap menyala untuk mempermudahnya naik tangga menuju kamarnya di lantai atas. Dia membuka pintu kamar sepelan mungkin. Di atas tempat tidur, istrinya sudah tidur pulas. Dia mendesah lega. Dari ruang pakaian, dia mengambil piyama bersih lalu mengganti pakaiannya. Dia berbaring di atas tempat tidur, memadamkan lampu meja dan segera terlelap.