Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 42


__ADS_3

Memenuhi janjinya kepada kedua orang tuanya, Miles pulang ke negaranya. Dia berencana tinggal di sana selama dua bulan. Ibunya memeluknya erat saat menyambutnya di bandara. Wajah wanita itu sekejap saja sudah bersimbah airmata. Ibunya bagai tidak bisa mengenalnya karena wajahnya tidak bahagia. Miles menghapus air mata wanita yang telah melahirkannya itu dengan kedua tangannya.


“Aku baik-baik saja, Mom.” ucap Miles meyakinkannya.


“Kamu tidak baik-baik saja. Aku benci dia karena sudah melakukan ini kepadamu.” Mamanya mempererat pelukannya.


Sepanjang hari itu mereka memintanya menceritakan semua yang telah terjadi. Walaupun lelah dan ingin segera beristirahat, Miles menurut. Selesai mendengar ceritanya, Amanda memintanya untuk menemui psikolog untuk memulihkan diri. Miles berjanji akan melakukannya di Indonesia.


Melihat ibunya tidak puas dengan jawabannya itu, dia mengikuti kelas pemulihan yang diadakan oleh gereja mereka. Dia tidak merasa sendiri ketika bertemu dan berbagi dengan orang-orang yang mengalami hal yang sama dengannya. Kehilangan seseorang yang dicintai karena bunuh diri.


Jauh di dalam hatinya Miles tahu bukan itu yang membuatnya merasa berbeda. Bukan karena kehilangan istrinya. Pernikahan mereka tidak bahagia dan dia sudah lama memikirkan untuk keluar dari neraka ciptaan istrinya itu. Tetapi dia bertahan mengikuti kelas itu demi membuat ibunya merasa lega dan tidak mengkhawatirkannya lagi. Konselor yang memimpin kelas itu tahu dia tidak mengatakan semua hal, hanya sebagian saja. Tetapi dia tidak memaksanya untuk terbuka lebih dari apa yang telah disampaikannya. Untuk itu Miles sangat berterima kasih.


Berat badannya kembali normal karena selera makannya telah kembali. Masakan ibunya sangat lezat. Musim panas di kotanya tidaklah panas. Suhunya cukup sejuk sehingga dia lapar setiap waktu. Tinggal bersama keluarga yang mencintainya, Miles menemukan apa yang dicintainya di dalam hidup. Kehangatan hati mereka menyembuhkan hatinya yang hancur. Penerimaan mereka atas dirinya membuatnya bahagia setelah bertahun-tahun hidup dalam tekanan.


Dia kembali pergi ke tempat kebugaran dan berolahraga selama dua jam. Tubuhnya kembali bugar. Ketika pandangan mata wanita maupun pria tertuju kepadanya saat dia berpapasan dengan mereka, dia tahu bentuk tubuhnya sudah ideal lagi. Dia mengunjungi banyak tempat yang disukainya dan orang tuanya menemani ke mana pun dia pergi. Mereka berjemur atau berenang di pantai pada akhir pekan. Di kesempatan lain, mereka bersantai di pondok di tengah hutan.


Saat bangun dan sebelum tidur. dia menggunakan beberapa saat untuk memeriksa surel dan pesan pribadinya. Dia bekerja selama empat saja. Hanya bila ada keadaan darurat, dia lembur. Itu pun jarang terjadi. Setiap kali menginap di penginapan, dia selalu memastikan mereka menyediakan mesin pencetak dan pemindai di kamarnya. Kedua orang tuanya hanya geleng-geleng kepala tidak percaya melihatnya.


Ingin melihatnya bahagia lagi, Amanda dan Shane berusaha memperkenalkannya dengan beberapa wanita yang mereka kenal. Semuanya Miles tolak dengan halus. Dia bahkan segera keluar dari ruang makan, ruang duduk, atau restoran begitu melihat ada seorang wanita yang tidak dia kenal duduk di salah satu kursi bersama kedua orang tuanya. Tahu dia akan menolak bila ditawarkan berjumpa dengan seorang wanita, Amanda mengubah strateginya dengan mengundang mereka tanpa sepengetahuan putranya. Tetap saja Miles tidak terperangkap oleh rencana mamanya itu.


“Aku tidak percaya kamu menolak semua wanita lajang yang cantik yang ingin aku perkenalkan kepadamu.” Amanda menggeleng-gelengkan kepalanya. Shane tertawa geli.

__ADS_1


“Bye, Mom, Dad. Aku akan menghubungi kalian kalau aku sudah di rumah.” janjinya kepada orang tuanya sambil melambaikan tangannya. Liburan sudah berakhir, saatnya kembali ke kehidupannya.


Hal pertama yang dilakukannya ketika kembali ke perusahaannya adalah meminta Reynand untuk mencari informasi nama-nama psikolog terbaik di kota mereka. Psikolog itu harus bisa menolong orang dewasa yang lama hidup dalam intimidasi untuk keluar dan menemukan jati dirinya lagi. Seperti biasanya, pria itu tidak bertanya dan hanya melakukan tugasnya.


Pada malam harinya, Miles pergi ke tempat praktik psikolog sepulang kerja. Asistennya sudah mendaftarkannya, jadi dia tidak perlu menunggu lama sampai gilirannya tiba. Wanita yang bertugas di meja depan memintanya untuk mengikutinya ke sebuah ruangan.


“Bapak Miles Alastair Bradford.” Wanita itu mengumumkan kedatangannya kepada seseorang di dalam ruangan lalu mempersilakan dia masuk. Miles mengangguk dan masuk ke dalam.


“Terima kasih, Reva. Aku akan tangani dari sini.” Seorang wanita cantik berdiri dan berjalan mendekatinya.


“Andrea Lalita?” tanya Miles.


Miles duduk di sofa santai dengan tiga dudukan. Wanita itu tersenyum lalu duduk di sofa di seberang Miles. Dia mengambil papan yang ada di atas meja lalu bersiap untuk menulis percakapan mereka dengan pulpennya.


“Apa yang bisa saya bantu, Pak Miles?” tanyanya santai.


“Aku butuh pertolongan.” jawabnya dengan jujur. “Istriku baru saja meninggal dan selama tahun-tahun terakhir kami menikah, aku tidak bahagia. Aku ingin bahagia lagi.”


Wanita itu menulis sesuatu pada catatannya sebelum melihat ke arah Miles. “Boleh saya tahu istri Anda meninggal karena apa?”


“Bunuh diri.” ucap Miles dingin. Wanita itu menyadarinya karena dia terdiam untuk beberapa saat.

__ADS_1


“Itu hal yang sangat rumit. Maafkan saya. Pasti berat bagi Anda untuk melaluinya.” ucap wanita itu prihatin. Miles hanya diam menunggunya untuk melanjutkan pertanyaannya. “Sudah berapa lama Anda menikah dengan istri Anda?”


“Dua puluh tahun.” Miles mendesah dengan berat. Itu adalah waktu yang sangat lama.


“Tahun-tahun terakhir di mana Anda tidak bahagia tadi, apakah Anda ingat berapa lama tepatnya?”


“Sepuluh tahun.”


“Baik.” Wanita itu meletakkan pulpen dan catatannya. “Saya dengan senang hati ingin membantu Anda. Tetapi saya punya syarat.”


“Aku tahu semuanya. Tidak perlu disebutkan lagi. Aku janji aku akan menjalani semua sesi yang harus aku ikuti, menjawab semua pertanyaan dengan jujur, melakukan setiap hal yang harus aku lakukan untuk memperlancar proses pemulihan.” ucap Miles. Wanita itu tersenyum.


“Anda membuat saya terkesan, Pak Miles.” godanya.


Dengan susah payah, Miles mengikuti konseling tersebut selama hampir sembilan bulan. Perlahan-lahan intensitas mimpi buruknya berkurang. Setiap mengingat istrinya dan semua hal yang telah dilakukannya, tidak ada lagi rasa marah, benci, atau muak. Dia telah memaafkannya.


Rasa percaya dirinya kembali lagi. Dia semakin mudah tersenyum dan tidak enggan tertawa mendengar lelucon.


Ada satu hal yang tidak ingin diubahnya. Jatuh cinta dan menikah lagi. Kedua hal itu tidak masuk dalam rencana hidupnya. Setelah pengalamannya dengan Angelica, keinginan itu ikut mati bersama kematiannya. Pengkhianatan yang dilakukan istrinya nyaris merenggut kewarasannya. Rasa cinta tanpa syaratnya kepada istrinya membuatnya menuruti semua kemauan Angelica. Seandainya dia memeriksakan diri lebih cepat, mungkin mereka masih hidup bahagia bersama. Kebodohan yang tidak bisa diperbaikinya lagi.


Sekalipun Andrea mendorongnya untuk mencoba menjalin hubungan asmara lagi, Miles menolak. Dia mengagumi psikolognya dengan segala keahlian dan pengetahuannya, tetapi bukan berarti dia setuju dengan semua ucapannya. Setelah mengucapkan selamat tinggal kepadanya, Miles berjanji tidak akan pernah kembali lagi ke tempat itu. Andrea hanya tertawa kecil.

__ADS_1


__ADS_2