
Minggu pertama di tempat kerja yang baru adalah peperangan bagi Kirana. Dia harus menyesuaikan diri dengan tanggung jawab, tugas, dan kecepatan baru sebagai kepala divisi yang baru. Dia harus bekerja lebih cepat dari yang dialaminya saat di kantor cabang. Dia tidak punya waktu untuk bersantai atau sekadar menarik napas.
Yang paling buruk adalah dia berulang kali melirik ke arah sofa setiap kali dia memasuki ruangannya atau pintu setiap kali dia sedang bekerja. Bosnya sudah gila. Dia sama sekali tidak takut dengan gosip atau omongan orang tentang mereka. Dia tetap saja datang ke kantornya hanya untuk mencium atau memeluknya.
Bersiap-siap untuk pulang, Kirana menuju kamar mandi wanita. Jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit. Langkahnya terhenti di depan gang masuk kamar mandi begitu mendengar nama Miles disebutkan. Dia bersandar di dinding. Dari suaranya dia tahu itu adalah suara rekan-rekan kerjanya.
Tetapi mengapa dia bersembunyi seperti ini? Mereka menyebut nama pria itu bukan berarti dia ada di dalam toilet wanita. Ada-ada saja. Semua ini karena pria itu dan tingkah lakunya yang tidak wajar yang telah membuatnya menjadi paranoid.
“Oh, ya?” ucap wanita lain.
“Iya. Minggu lalu Pak Miles datang ke kantor kita. Mungkin menemui Bu Kirana. Kamu tahulah. Beliau selalu memerhatikan pegawai baru supaya betah bekerja bersamanya.” jawab wanita yang pertama bicara. Mendengar namanya disebut, Kirana mengurung niatnya untuk masuk ke dalam toilet. Dia menunggu sesaat.
“Sayang, perhatiannya selalu hanya sebatas atasan kepada bawahan. Tidak pernah lebih.” ucap yang lain dengan nada kecewa. Kirana memutar bola matanya. Yang benar saja. Dia tidak berlaku seperti itu kepadanya. Menciumnya sepanas itu bukanlah bentuk perhatian atasan kepada bawahannya.
“Iya. Sayang sekali. Bukankah istrinya sudah satu tahun lebih meninggal? Mengapa dia berduka begitu lama? Aku tahu mereka telah menikah selama dua puluh tahun. Tapi Pak Miles masih muda dan tampan. Banyak wanita yang mau sukarela menjadi istrinya.” ucap wanita ketiga penuh khayal.
Jantung Kirana nyaris berhenti. Istri? Pria itu sudah menikah selama dua puluh tahun? Dia mengerutkan kening dan mulai menghitung di dalam kepalanya. Dia sudah menikah ketika mereka bertemu enam tahun yang lalu. Tidak. Ini tidak benar. Tidak mungkin Miles berbohong kepadanya. Dia tidak boleh berbohong kepadanya. Tetapi tidak mungkin pegawainya berbohong.
“Termasuk kamu?” goda wanita kedua.
“Memangnya kamu tidak mau?” tantang wanita ketiga.
__ADS_1
“Aku tidak yakin aku bisa menandingi kecantikan Bu Angie. Almarhumah istri Pak Miles sangat cantik. Pasti beliau mencari pengganti yang tidak kalah cantik juga.” aku wanita yang kedua.
Dia sudah cukup mendengarnya dan tidak mau mendengar percakapan mereka lebih lanjut. Dia menarik napas panjang lalu mengeluarkannya. Perlahan dia tersenyum. Tetapi rasa marah kembali muncul di hatinya. Miles, beraninya kamu berbohong kepadaku!
“Menurutmu, Pak Miles suka wanita yang bagaimana?” tanya wanita yang pertama.
“Aku,” Wanita ketiga berusaha untuk memberi jawaban.
Kirana memilih saat itu untuk masuk ke dalam toilet. Ketiga wanita yang ada di dalamnya segera terdiam dan kembali sibuk merapikan dandanannya masing-masing. Beberapa kali merapikan diri di kamar mandi, Kirana tidak pernah melihat mereka melakukan hal yang sama sebelumnya. Tetapi mengingat topik pembicaraan mereka, dia akhirnya mengerti. Mereka pikir Miles akan datang lagi sehingga mereka bersiap-siap memberinya penampilan yang terbaik.
“Ada acara sepulang kerja?” tanya Kirana dengan ramah, bersikap seolah-olah tidak mendengar percakapan mereka tadi.
“Ng, i, iya, Bu.” jawab salah satu dari mereka dengan gugup.
“Silakan. Selamat bersenang-senang.” ucap Kirana saat mereka terburu-buru keluar dari toilet.
“Apakah menurutmu dia mendengar pembicaraan kita tadi?” bisik salah satu dari mereka ketika dia pikir mereka sudah cukup jauh darinya. Tetapi dia masih bisa mendengar kalimat itu.
Kirana memicingkan matanya. Senyum di wajahnya menghilang. Jadi, dia sudah menikah? Dia masih belum bisa memercayainya. Dia tidak bisa menerima bahwa dirinya telah dibohongi. Dia sudah menikah selama dua puluh tahun? Mengapa dia mengaku masih lajang kepadanya? Dia benar-benar pria yang menyebalkan! Andai saja dia tahu bahwa pria itu sudah menikah, tidak mungkin dia mau melakukan hubungan intim dengannya. Oh. Tidak, tidak. Dia tidak boleh berpikir begini. Benar, pria itu telah membohonginya. Tetapi tanpa dia, William tidak akan pernah lahir.
Oh. Ini benar-benar menyebalkan! Dia berada dalam masalah besar.
__ADS_1
Dia sudah tiga kali mencoba merayunya dengan sentuhan dewanya itu. Hanya dengan sentuhan kecil pun mampu membuatnya melayang tinggi dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Berani-beraninya dia bersikap seolah-olah segalanya bisa kembali seperti dahulu. Dasar pembohong! Pria itu tidak punya hak apa pun atas dirinya. Mereka bukan kekasih. Dia bukan wanita simpanannya. Argh! Dia ingin sekali membenturkan kepalanya ke dinding.
“Ada apa, Mom?” tanya William membuyarkan lamunannya. Kirana mengangkat kepalanya.
“Tidak ada apa-apa.” Kirana mengangkat salah satu bahunya.
“Kamu tidak pernah makan sambil mengetuk-ngetuk garpu dengan keras, Mom.” William melihat ke arah tangan mamanya yang masih memegang garpu dan mengetuk piring dengan benda tersebut.
“Oh! Maaf.” Dia segera mengangkat tangannya dari meja.
“Wajahmu merah. Apa kamu sakit?” William berdiri di atas kursinya lalu menyentuh dahi mamanya dengan punggung tangannya. “Hangat.”
“Aku baik-baik saja. Habiskan makananmu.” Kirana tersenyum.
“Apa aku boleh bantu mencuci piring, Mom? Seperti yang kita lakukan semalam.” ucap William riang sambil kembali duduk.
“Boleh.” Mudah saja dia berkata iya. Bagaimana mungkin dia menolak apa yang putranya inginkan?
Usai makan malam, mereka membereskan meja makan kemudian mencuci piring bersama. William begitu antusias membantunya. Kirana mengeringkan lantai dengan alat pel ketika putranya pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap tidur. Dia membacakan sebuah buku cerita hingga William tertidur. Saat kembali ke kamarnya, dia tidak bisa tidur.
Senyum Miles dengan mata birunya yang bercahaya, lesung pipi, dan giginya yang sempurna menghantuinya. Dia tidak bisa mengeluarkannya dari kepalanya. Seolah-olah dia mematrikan dirinya jauh di dalam pikiran Kirana ketika mereka bertemu lagi. Ruangan itu menjadi panas ketika kenangan di Singapura bermain dengan jelas di kepalanya, meskipun dia sudah menutup mata dengan rapat. Pria itu sangat menyebalkan!
__ADS_1
Pada rapat manajerial hari Jumat itu, Kirana terkejut melihat Miles juga ada di dalam ruangan. Entah sengaja atau tidak, dia memilih duduk di seberang Kirana. Sepanjang rapat berlangsung, pria itu tidak sedetik pun mengalihkan pandangannya darinya. Mencoba bersikap wajar, dia tidak melihat kembali ke arahnya. Siapa pun yang sedang bicara, dia akan memerhatikan dan mendengarkan dengan saksama. Ketika Miles yang bicara, dia pura-pura mengetikkan sesuatu pada laptopnya.
Begitu rapat selesai, dia bergegas menuju pintu, sebelum pria itu mengatakan sesuatu yang konyol seperti memintanya tinggal di dalam ruangan atau mengikutinya menuju kantornya. Dari sudut matanya, dia bisa melihat pria itu tertawa kecil karena tingkahnya. Kirana tidak peduli. Dia ingin menjaga jaraknya darinya. Pria itu berbahaya.