
Rumah Kirana tidak tepat seperti yang digambarkannya. Karena rumah itu tidak sederhana atau kecil. Kirana terlalu merendah. Rumah dua lantai itu punya lima kamar dan tiga kamar mandi. Dia bisa membayangkan Kirana kecil tertawa, menangis, bermain, dan belajar di sekitar rumah itu. Ada banyak kebahagiaan yang tidak bisa diusik oleh kesedihan atau pun kehilangan.
Perabotannya sudah tua namun terbuat dari kayu yang kokoh. Beberapa lemari dicat ulang, lapisan kulit pada sofa masih baru, dan ada lemari es baru menggantikan yang lama. Karena dia mengganti barang yang rusak atau memperbaikinya, keluarga yang menyewa rumah itu sebelumnya sangat bertanggung jawab. Kirana beruntung menemukan mereka. Kebanyakan orang yang hidup di rumah sewa sangat ceroboh dan menyebabkan beberapa perabotan rusak.
“Halo, ada orang di sini?” teriak seseorang dari depan pintu.
Kirana sedang menunjuk kamar William di lantai atas, jadi hanya dia yang sedang senggang. Miles berjalan ke pintu depan dan melihat seorang pria berdiri di ambang pintu. Dia bertubuh tinggi dibandingkan orang lokal, tetapi tidak cukup tinggi untuk melampaui Miles. Karena dia pria yang menarik, pasti banyak wanita yang menyukainya. Kelihatannya dia pria yang baik dan ramah.
“Ya?” tanya Miles ketika mereka sudah cukup dekat.
“Oh. Halo. Apakah kamu yang akan tinggal di rumah ini?” tanyanya dalam bahasa Inggris. Miles nyaris tertawa. Semua orang yang melihatnya selalu bicara dalam bahasa Inggris secara automatis. Tidak ada yang pernah bertanya apakah dia bisa berbahasa Indonesia. “Aku dengar pemilik rumah ini akan datang hari ini untuk mengambil kunci.”
“Dex!” Kirana memekik pelan dari belakangnya sebelum Miles sempat menjawab pertanyaannya.
Jadi, ini pria yang bernama Dexter. Miles memerhatikan pria itu dengan saksama dari kepala hingga kaki. Selera istrinya boleh juga. Lalu apa yang membuat pria itu tidak memilih Kirana menjadi kekasihnya? Mereka berdua akrab dan cocok untuk satu sama lain. Apakah ini karena apa yang diucapkan Ratri? Karena Kirana bukan wanita yang menarik, maka pria berpaling darinya? Kalau iya, pria ini sudah pasti buta.
“Kiki?” ucap Dexter tidak percaya.
“Iya. Ini aku!” Kirana mengulurkan tangannya kepadanya. Tetapi pria itu tidak menerimanya. Dia mendekat dan melingkarkan tangannya di tubuh Kirana. Mereka saling berpelukan. Miles menoleh saat merasakan sentuhan pada celananya. William sedang berdiri di sisinya.
__ADS_1
“Ya, ampun, Ki! Aku rindu kamu!” Dexter memeluk sahabatnya dengan erat. Miles merasakan hal yang tidak nyaman di dadanya melihat itu. Begitu rasa cemburu datang, dia segera menepisnya. Karena mereka hanya teman, dia tidak perlu bersikap berlebihan.
“Aku juga.” ucap Kirana senang.
“Apa kamu akan tinggal di sini lagi?” tanya Dexter sambil melepaskan pelukannya. Kirana cepat-cepat menggeleng. Dia mundur satu langkah lalu melihat ke arah Miles.
“Tidak. Aku hanya tinggal beberapa hari di sini. Sudah ada orang lain yang mau menyewa tempat ini, jadi aku akan memberikan kuncinya kepada mereka.” Kirana tersenyum. Dexter melihat ke arah Miles dan mengerutkan kening.
“Maksudmu dia?” tunjuk Dexter. Kirana menoleh ke arah Miles, lalu tertawa dengan canggung.
“Ng, bukan.” Karena Kirana semakin mendekat, Miles melingkarkan tangannya di pinggangnya. Kirana meletakkan tangannya dengan percaya diri di dada suaminya dan tersenyum. “Dex, mari aku perkenalkan. Ini Miles, suamiku. Miles, ini sahabat baikku, Dexter.”
“Oh.” Dexter melihat ke arah tangan Miles yang ada di pinggul Kirana, lalu ke tangan Kirana di dada suaminya, dan ke tangan Miles yang terulur. “Hai.”
“Dan ini putra kami, William.” Karena William berada di sisi Miles yang lain, Kirana hanya bisa melihat ke arah putra mereka. Namun Miles membantu dengan menyentuh punggung William agar memperkenalkan dirinya. Menyadari bahwa dia mendapatkan seluruh perhatian pada saat itu, anak itu pun tersenyum ceria.
“Hai, Om.” William mengulurkan tangannya dan dengan bangga mengatakan, “Panggil aku Will.” Miles dan Kirana serentak tertawa sambil menggelengkan kepala mereka.
“Hai, Will.” Dexter menjabat tangan kecil William. Kemudian menoleh ke arah Kirana. “Aku tidak tahu kamu sudah menikah.” Dia terlihat terkejut sekaligus terluka.
__ADS_1
“Iya. Maafkan aku. Keadaannya rumit.” aku Kirana. Miles tidak suka melihat wajah istrinya berubah sedih. Saat dia membelai pinggangnya untuk menghiburnya, Kirana mendekatkan diri kepadanya.
“Kalau kamu bisa, silakan datang makan malam bersama kami nanti. Kalian berdua bisa saling berbagi cerita. Kami yang traktir.” undang Miles. Dexter melirik Miles lalu ke arah Kirana.
“Hanya kalian dan aku?” tanya Dexter memastikan.
“Aku mengundang teman-teman dari kantor lama juga. Datanglah. Sekalian kita semua reunian. Aku ingin bicara dengan kalian.” ucap Kirana girang. Dexter tersenyum.
“Oke.” ucapnya setuju. Kirana memberitahu nama restoran dan jam makan malam mereka akan dimulai. Dexter mengangguk dengan cepat.
Setelah pria itu keluar dari gerbang, Miles menutup pintu rumah. Ada yang aneh dari ekspresi pria tersebut tetapi dia tidak bisa mencari tahu alasannya. Kirana juga sepertinya memerhatikan hal yang sama. Dia tidak suka melihat kerutan di kening istrinya. Dia meletakkan telunjuknya di dagu wanita itu, mengangkat dagunya, dan mencium kerutan di antara kedua alisnya. Kirana tersenyum. Kemudian dia menunduk dan mencium bibirnya.
“Aku tahu kamu mengkhawatirkan sahabatmu. Tapi aku tidak suka melihat wajahmu sedih.” ucap Miles keberatan. Kirana tersenyum lalu mengangguk pelan. Mereka berniat berciuman lagi, tetapi William menginterupsi dengan kalimat favoritnya dan mereka tertawa.
Acara makan malam itu dihadiri oleh sekitar dua puluh orang. Yang paling banyak hadir adalah mantan rekan kerja Kirana. Ada dua orang pria lain yang memperkenalkan diri sebagai sahabat baik istrinya. Salah satunya bernama Fauzi. Pria itu datang bersama istrinya dan anak mereka tetapi matanya tidak bisa berhenti menatap Kirana. Menarik.
Dia hanya bisa mengingat beberapa nama, Dexter, Fauzi, Gilbert, Ruby, dan Tamara. Mereka sering bicara sehingga nama mereka disebut berkali-kali. Sisa nama tamu lainnya tidak bisa dia ingat. Tetapi dia tidak harus mengingatnya, dia tidak akan bertemu dengan mereka lagi dalam waktu dekat.
Mereka semua segera menyukai William pada pandangan pertama. Putranya juga menyukai semua perhatian yang ditujukan kepadanya. Dengan riang, dia menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan kepadanya. Kalau sudah melihatnya bertingkah secerdas itu, Miles lupa dia hanyalah anak berusia lima tahun. Masih perlu ditemani ke toilet, meminta mamanya untuk menyuapinya bila dia ingin seluruh perhatian ditujukan kepadanya, makan dengan saus, selai, dan krim ada di sekitar mulutnya tidak peduli sehati-hati apa pun dia makan atau mengunyah.
__ADS_1
Kirana terlihat santai dan dengan bahagia sesekali menunjukkan kasih sayangnya kepada suaminya di depan teman-temannya. Kadang-kadang dia menyentuh tangannya yang ada di atas meja, meletakkan kepala di dada atau pundaknya, menatapnya dengan mata penuh cinta saat dia bicara atau setuju saja dengan apa yang suaminya katakan.
Dia kelihatannya sangat menyukai temannya. Dia bicara dengan mereka, mendengar apa yang mereka katakan, dan tertawa bersama mereka. Yang ada di depannya ini bukanlah Kirana yang setiap hari dia lihat berinteraksi bersama orang lain. Ini adalah Kirana yang ditemuinya pertama kali di Singapura. Sayang sekali, dia sudah berubah.