
Dengan satu tangan menggandeng tangan Kirana, Miles menggunakan tangannya yang lain untuk mendorong troli mereka di depannya. Setelah check-in, Kirana tidak terkejut mengetahui bahwa mereka kembali duduk berdekatan di pesawat. Sambil menunggu keberangkatan, Miles mengajaknya makan malam di salah satu restoran.
“Kamu diam saja sejak kita sampai di sini. Ada apa?” tanya Miles sambil menyeka bibirnya dengan tisu. Kirana mengangkat kepala dan melihat kepadanya.
“Tidak ada apa-apa.” Dia berusaha tersenyum dan gagal. Miles menyentuh tangannya yang ada di atas meja. Kirana menahan diri untuk tidak membalikkan telapan tangannya dan membalas genggamannya.
“Selalu ada yang tidak beres dengan tidak-ada-apa-apa-mu. Katakan kepadaku.” desak Miles.
Mungkin ini lebih baik. Mengatakannya sekarang daripada menunggu sampai pesawat mereka mendarat di Jakarta. Kapan pun dia memberikan jawabannya, Miles tetap akan protes. Lalu, apa bedanya? Dia hanya menunda pertengkaran besar yang sudah pasti akan terjadi.
“Mengenai lamaranmu,” Kirana memulai. Mata Miles berubah sedih. “Jawabanku tidak.”
“Ternyata benar. Pesonaku sudah hilang. Aku bahkan tidak bisa mendapatkan hati wanita yang aku inginkan.” ucap Miles kecewa.
“Maafkan aku.”
“Tidak adakah yang bisa aku lakukan untuk mengubah keputusanmu? Aku mohon?” tanya Miles memohon kepadanya.
“Tidak ada lagi yang bisa kamu lakukan, Miles. Itu keputusan final.” ucapnya menyesal.
Miles berdiri lalu menundukkan badannya. Meja yang menjadi penghalang di antara mereka tidak cukup untuk menghalanginya mendekatkan wajah mereka. Kirana yang tidak siap, tidak cukup cepat untuk menghindar darinya. Pria itu mencium bibirnya. Ada rasa nyeri menekan dada Kirana. Tidak ada yang perlu dilakukan Miles untuk membuktikan bahwa dia mampu membuatnya meleleh pada setiap ciuman dan sentuhannya. Tetapi demi kebaikan mereka berdua, dia harus pergi.
__ADS_1
“Mengapa, Kirana? Mengapa kamu berbohong kepadaku? Apa yang tidak bisa aku baca di sini? Kamu membalas ciumanku, tidak berhenti ingin tahu semua tentangku. Kamu juga tidak bisa berhenti menyentuhku. Katakan, apa yang membuatmu begitu takut kepadaku?” Miles menyeka air mata dari wajah wanita itu. “Aku mencintaimu, Kirana, aku tidak akan menyakitimu. Aku janji.”
“Maaf, aku harus ke toilet.” Kirana tiba-tiba berdiri. “Aku segera kembali.”
Dia mencoba menenangkan dirinya di dalam sebuah bilik. Sia-sia saja. Air matanya tidak berhenti mengalir di pipinya. Dia sudah menyampaikan jawabannya atas lamaran Miles. Lalu, mengapa dia tidak bisa berhenti menangis? Apa yang membuatnya sesedih ini? Bukankah ini yang dia inginkan? Kalau dia sendiri tidak bisa menentukan sikap, bagaimana Miles bisa percaya bahwa dia benar-benar tidak ingin ada hubungan lebih di antara mereka?
Ketika keluar dari toilet, dia menemukan Miles berdiri di depannya. Pria itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya. Tanpa kata, Miles menggandengnya menuju ruang tunggu. Selama mereka duduk menunggu di sana, pria itu melingkarkan salah satu tangannya di bahu Kirana, sedangkan tangannya yang lain meremas tangan wanita itu di atas pahanya sendiri. Kirana tahu pria itu tidak sedang mengucapkan selamat tinggal. Dia sedang memberinya sinyal bahwa dia tidak mau mereka berpisah.
Di dalam pesawat, Miles masih memegang salah satu tangan Kirana. Sesekali dia hanya menatap ke arah jendela melihat pemandangan di luar. Sesekali dia menyentuh dagu Kirana dan memutar wajah wanita itu hingga matanya menatap mata biru itu. Dia membelai pipinya dan Kirana tidak bisa menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya. Pria itu menyeka pipinya dengan tangannya. Tidak jarang pria itu menciumnya, membuat dada Kirana semakin sesak.
“Aku mencintaimu, Kirana. Tolonglah, aku memohon kepadamu. Katakan apa yang harus aku lakukan untuk mengubah keputusanmu?” Miles menggerak-gerakkan jempolnya di pipi Kirana. Wanita itu memejamkan matanya.
“Tidak ada, Miles. Kamu tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubah keputusanku. Aku mohon, jangan lakukan ini kepadaku. Aku tahu ini berat bagimu. Ini juga berat bagiku.” Dia gemetar menahan diri agar tangisnya tidak pecah.
“Tidak ada yang mudah dalam hubungan kita.” protes Kirana. Miles mendesah pelan.
“Kamu masih marah karena aku tidak memberitahumu bahwa aku sudah menikah?” tanya Miles lagi. Kirana menggelengkan kepalanya.
“Ini bukan tentang itu.” jawab Kirana jujur.
“Lalu ini tentang apa?” desak Miles lagi.
__ADS_1
Kirana merapatkan bibirnya. Dia mengalihkan pandangannya dan tidak menjawab pertanyaan pria itu. Ketika air matanya jatuh, Kirana cepat-cepat menyekanya dengan tangannya. Dia berdoa di dalam agar pesawat itu segera mendarat. Dia tidak bisa menahan air matanya lebih lama lagi. Tangisnya bisa meledak kapan saja.
Mereka menuju bagian imigrasi begitu mereka tiba di bandara tujuan. Miles menggandeng tangannya saat mereka menuju tempat pengambilan bagasi dan saat keluar dari terminal kedatangan. Kirana melihat mobil Miles telah menunggu. Dia menarik tangannya dari genggaman pria itu. Miles menoleh ke arahnya.
“Selamat datang kembali, Pak.” Markus menyapanya sebelum Miles bisa mengatakan apa pun kepada Kirana. Miles tersenyum ke arah sopirnya.
“Mark, tolong masukkan koperku ke bagasi. Tunggulah aku di mobil.” ucap Miles. Pria itu menurutinya dengan mengambil koper tuannya dari troli. Miles menoleh ke arah Kirana. “Aku antar sampai rumah.”
“Tidak. Lebih baik kita berpisah di sini. Aku naik taksi saja.” tolak Kirana.
“Ada apa, Kirana? Kamu menjawab tidak atas lamaranku, lalu? Kita berhenti saling mengenal? Apa salahnya dengan aku mengantarmu pulang?”
Kirana membingkai wajah Miles dengan tangannya, berjinjit, dan menciumnya. Pria itu melingkarkan tangannya di pinggangnya. Air mata Kirana kembali jatuh membasahi pipinya, membasahi pipi Miles. Dia tidak peduli dengan tatapan orang di sekitar mereka. Kedua tangannya dia lingkarkan di leher pria itu memperdalam ciuman mereka. Lalu dia melepaskan pelukannya. Miles mempererat pelukannya dan masih mencium bibirnya. Tetapi Kirana sudah tidak membalas ciumannya lagi.
“Tidak. Tidak, Kirana. Jangan lakukan ini kepadaku.” protes Miles. Dia menyandarkan keningnya di dahi Kirana dan memegang tangannya erat-erat.
“Selamat tinggal, Miles.” Kirana menarik tangannya dari genggaman Miles. Pria itu menatapnya lama. Melihat Kirana masih tetap pada pendiriannya, dia tidak protes lagi dan melepaskan tangannya.
“Jadi, aku hanya pantas bersamamu selama di Singapura tetapi tidak untuk menjadi bagian dari hidupmu?” tanya Miles pelan.
“Aku sangat berterima kasih untuk segalanya, Miles. Sungguh. Tapi kita tidak bisa bersama. Kamu tidak akan mengerti hal ini sekarang. Suatu hari nanti kamu akan mengerti. Ini yang terbaik bagi kita berdua.” Kirana mencoba untuk menjelaskan. Miles mundur selangkah sambil mengangkat salah satu tangannya, meminta Kirana untuk berhenti bicara.
__ADS_1
“Jangan coba-coba mendikte apa yang terbaik untukku. Sudah cukup satu wanita yang aku biarkan mendikte hidupku sesukanya selama sepuluh tahun. Kalau menurutmu berpisah adalah yang terbaik, itu hanya berlaku bagimu. Bukan aku.” ucap Miles dengan tegas. Kirana mengangguk pelan.