
Sungguh Leoni tidak dapat mengekspresikan perasaannya saat ini, kaget? Iyah sungguh kaget rasanya mendapatkan surprise seperti ini. Sebelumnya Glen tidak pernah mengatakan kalau membeli rumah atau telah mempersiapkan rumah untuk mereka, bahkan kemarin di tanya mau ke mana pun Glen tidak mau memberitahunya. Sekarang Leoni paham kenapa Glen tidak mau memberitahukan kepadanya, karena dia mau memberikan surprise atau kejutan yang tidak dapat dipirkan bahkan tidak pernah singgah dibenak Leoni kalau Glen akan menyiapkan rumah khusus bagi keluarga kecil mereka. Menurut Leoni pun, tinggal dengan kedua orang tua Glen itu sudah lebih dari cukup dan membuat dia bahagiah karena mereka juga memperlakukannya dan menerimanya dengan sangat baik.
Terkejut? Iya benar, Leoni sangat terkejut mendapat perlakuan seperti itu oleh suaminya. Bahagiah? Sangat benar kalau Leoni saat ini merasakan bahagiah.
Rumah yang tidak kalah mewahnya dengan rumah yang mereka tinggali sekarang bersama kedua orang tua Glen, berada di kawasan elit di daerah Manado. Rumah yang didesain secara minimalis menggunakan konsep rumah ala Korea namun tetap terlihat mewah itu lengkap dengan kolam renang yang sangat besar dan bisa membuat Leoni bebas mengeksplor tubuhnya untuk berenang dan bisa mengekspresikan dirinya dengan bebas, terdapat ruang outdoor yang tertata dengan sangat baik dan bisa menyenangkan mata dengan taman yang sangat indah lengkap dengan garasi mobil yang bisa memuat dua sampai tiga buah mobil.
“Ny.” Glen memanggil Leoni dan menyadarkannya dari lamunannya yang lumayan lama karena mengagumi rumah yang sekarang ini menjadi miliknya. “Kok bengong? Gimana? Apa kamu suka?” Tanya Glen yang dibalas dengan senyuman manis dari Leoni. “Kalau ada yang kamu tidak suka atau kurang pas dihati kamu, kasi tahu saja supaya aku suruh orang untuk perbaiki atau rubah sesuai dengan keinginanmu sebelum kita move and stay di sini.” Lanjut Glen selagi belum mendapatkan jawaban apa-apa dari Leoni yang masih disibukkan dengan pemikirannya sendiri yang mengagumi rumah pemberian Glen itu.
“Tidak kok. Aku suka banget, semuanya sudah pas seperti ini saja, tidak perlu dirubah-rubah lagi.” Jawab Leoni masi dengan ekspresinya yang sama seperti tadi.
“Yakin? Bagaimana dengan dekorasi rumahnya? Atau ada yang mau kamu tambahkan atau kamu butuhkan untuk rumah ini?” tanya Glen lagi.
“Sementara ini sih pas banget, heemmm…. Yang terpenting bagiku adalah kolam berenang deh kayaknya.” Jawab Leoni.
Glen tersenyum medengarkan perkataan Leoni, sudah dapat dia prediksikan kalau Leoni pasti akan meminta dibuatkan kolam padahal kolamnya sudah ada. Glen mengambil salah satu remot yang ada di sudut ruangan kamar itu dan menekan salah satu tombolnya, beberapa saat kemudian jendela kaca di hadapan mereka terbuka dan menampakkan kolam renang yang sangat mewah dibalik kamar utama itu namun tidak terlihat dari sudut lain rumah itu. Glen sengaja mengaturnya sebagai kolam privasi khusus bagi Leoni sehingga didesain seperti itu.
“Wooww…” Ekspresi Leoni mengagumi apa yang baru saja diperlihatkan oleh suaminya itu.
“Gimana? Ada lagi?” Tanya Glen lagi setelah melihat kepuasan dari ekspresi Leoni.
“Sudah. Pas banget, tidak ada lagi yang aku butuhkan untuk rumah ini. Ini aja aku sudah sangat senang.” Jawab Leoni.
“Yah sudah kalau menurutmu sudah pas.” Jelas Glen. “Aku sangat bersyukur ternyata kamu suka.” Glen melihat ekspresi Leoni yang senang dan menerima pemberiannya itu apa adanya.
__ADS_1
Leoni menatap wajah Glen sambil melebarkan senyuman ke arah suaminya itu, dia menarik kedua tangan Glen sampai suaminya itu mendekatkan jarak diantara mereka, Glen pun mengenggam kedua tangan Leoni dan diapun menarik kedua tangan Leoni itu mendekat ke mulutnya yang ternyata dia mencium tangan Leoni dengan mesrah.
Leoni sangat bahagiah mendapatkan perlakuan manis dari suaminya, diapun membalas perlakuan manis itu dengan mencium pipi sang suami.
“Makasi.” Kata Leoni spontan.
“Aku yang seharusnya berterima kasih padamu sayang.” Glen melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Leoni dan mengecup mesrah kening sang istri. “Ini tidak sebanding dengan kebahagiaan yang kamu berikan padaku.” Kata Glen lagi. “Kapan kita akan move and stay di rumah ini?” Tanya Glen pada Leoni setelah melepaskan pelukan diantara mereka dan mengalihkan tangannya yang sebelumnya melingkar di pinggang Leoni ke pipi istrinya itu. Dia menangkup pipi Leoni dengan kedua tangannya.
“Terserah kamu saja, kalau aku sih kapan saja bisa, tapi aku harus ngomong dengan papa dan mama mu dulu. Aku takutnya mereka belum mengijinkan kita untuk tinggal terpisah dari mereka.” Jawab Leoni.
“Iya, kita harus bicara dulu dengan mereka tapi tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak mengijinkan kita untuk tinggal di rumah kita sendiri kan? Lagian aku punya ide untuk membuat mereka akan menerima keputusan kita untuk tinggal di rumah ini.” Jelas Glen.
“Ide apa?” Tanya Leoni penasaran.
“Jangan cemberut gitu dong sayang.” Goda Glen. “Gimana? Kita pulang sekarang ke rumah mama atau kamu masih mau disini dulu?” Tanya Glen.
“Pulang saja.” Jawab Leoni singkat.
“Yah sudah ayo!” Glen menarik tangan Leoni dan menuntunnya menuju ke parkiran yang ada di bagian depan rumah itu.
Dalam perjalanan mereka kembali ke rumah orang tua Glen nampak hening dalam waktu yang lama karena Leoni lebih memilih diam.
“Kita pindah besok saja gimana?” Tanya Glen memecah keheningan diantara mereka saat akan memasuki pekarangan rumah.
__ADS_1
Sontak Leoni menatap wajah Glen yang masih sibuk mengemudikan mobilnya. “Besok?” Tanya Leoni mempertegas pertanyaan Leoni barusan.
“Iya besok.” Jawab Glen lagi.
“Kan kita belum bicara dengan mama papa.” Kata Leoni yang tidak dapat melanjutkan perkataannya.
“Sekarang kita bicara dengan mereka.” Tegas Glen.
“Aku juga belum beres-beres barang-barang yang mau aku bawah ke sana.” Kata Glen sedikit tujuannya untuk membantah keinginan Glen untuk mereka pindahan besok.
“Kamu tudak perlu bawah banyak barang ke sana karena disana sudah ada semua. Barang-barang yang ada di sini biar saja ditempatnya, nanti dapat kita gunakan sewaktu-waktu kalau nginap disini.” Jelas Glen.
“Yah sudah kalau gitu, aku hanya atur berkas-berkas penting saja dan beberapa yang aku butuhkan.” Lanjut Leoni.
Sesampainya dirumah kedua orang tua Glen, mereka langsung menghampiri papa dan mama Glen yang sedang duduk menikmati sore di bagian belakang rumah itu untuk menceritakan keinginan mereka untuk move di rumah baru mereka. Hal ini mendapatkan respon yang baik dari kedua orang tua itu, bahkan papa Glen sangat senang. “Bagus itu. Papa sangat mendukung keinginan kalian, dengan begitu kan Glen bisa terus-terusan mencetak gol dengan bebas. Kalau di sini kan sering kali terganggu dengan keberadaan kami, jadi sebaiknya kalian tinggal di rumah baru kalian.” Respon papa saat mendengar perkataan Glen dan Leoni yang merencanakan untuk pindah ke rumah baru.
****
Love you all readers.
Maaf akhir-akhir ini jarang update yah, mohon dimaklumi aktivitas yang lumayan padat.
Tetap dukung author yah, berikan like dan komentar kalian dong, pleaseee....
__ADS_1