
Hari pertama di minggu berjalan, Leoni pangun pagi dan bergegas mempersiapkan diri untuk ke sekolah, semua perlengkapan renang di bawahnya, sedangkan Paula selalu siap mendampingi di manapun Leoni berada, seperti perintah sang tuan untuk selalu menjaga dan harus selalu berada di samping Leoni. Dia harus lebih disiplin lagi dan lebih peka dengan lingkungan agar dapat mengantisipasi keadaan buru yang mungkin akan terjadi pada Leoni.
***
“Pagi ma.” Melati menyapah mama nya yang sedang mempersiapkan sarapan di dapur.
“Eh Mel, sudah bangun? Sini duduk!” Mama Melati menyuruhnya duduk di kursi ruang makan yang telah disiapkannya.
“Mama masak apa?” tanya Melati basa-basi.
“Mama lagi masak makanan kesukaanmu, sup kacang hijau.” Jawab mama. “Ayo di makan!” mama meletakkan semangkuk sup kacang hijau di hadapan Melati sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Melati. “Enak?” Tanya mama setelah Melati menyuapkan beberapa sendok ke mulutnya.
“Seperti biasa, masakan mama selalu menjadi favorit aku.” Jawab Melati.
“Yah sudah, habiskan yang ada di mangkuk mu!” perintah mama.
Dengan senyum Melati melahap semangkuk sup yang diberikan oleh mamanya.
“Kamu masuk kerja kan hari ini? Kok belum mandi?” tanya mama.
“Aku malas kerja ma.” Jawab Melati singkat.
“Kenapa?” tanya mama lagi.
“Aku tidak mau ketemu dengan Wiliam ma.” Jawab Melati polos.
“Kenapa begitu? Bukannya kamu senang kalau ketemu dia?” tanya mama spontan.
Selama ini Melati memang sering curhat dan berbagi cerita dengan mamanya, dia menjadikan mamanya teman terdekatnya karena dia tidak pernah percaya dengan orang begitu saja apalagi meceritakan tentang masalah kehidupannya. Sama seperti kali ini, dia menceritakan apa yang terjadi.
“Oh jadi semalam itu kamu urak-urakan dan bersedih itu gara-gara Wiliam?” tanya mama setelah Melati selesai bercerita.
__ADS_1
“Iya.” Jawab Melati singkat.
“Mel, Mel,” Mamanya geleng-geleng kepala mendengarkan perkataan anaknya. “Mama tahu kalau kamu begitu mencintai Wiliam walaupun kamu belum tahu bagaimana perasaannya padamu, tapi apa yang kalian lakukan pada Leoni itu salah. Kamu seharusnya tidak mensuport dan menjadi perantara Wiliam walaupun kamu pingin membuat dia senang.” Nasihat mamanya. “Mama memang belum mengenal Leoni, tapi menurut mama dia pasti anak yang baik dan tidak akan mungkin dia mencelakakan kamu. Seandainya dia ada pada posisimu, mama yakin dia tidak akan melakukan seperti apa yang kamu lakukan padanya.” Lanjut mama. “Dan kalau dia bukan anak yang baik, pasti bos mu tidak akan mungkin menyukainya.” Tambah mama.
“Iya ma, aku tahu aku salah.” Melati menyesal.
“Mama yakin dia pasti tidak menyangka kalau kamu bersekongkol dengan Wiliam, dia pasti tidak akan membenarkan kalau kamu tega melakukan itu padanya.” Kata mama lagi. “Tapi untung sajaa tidak sempat terjadi sesuatu padanya. Sekarang tugasmu adalah meminta maaf padanya.” Perintah mama.
“Baik ma, nanti aku akan meminta maaf padanya.” Kata Melati lagi. “Iya karena kamu anak yang baik dan cantik maka tuan Glen menyukaimu dan karena itu pula sepertinya Wiliam tertarik padamu.” Kata Melati dalam hati.
“Jadi kami masuk kerja atau tidak?” tanya mama meyakinkan lagi.
“Tidak ma. Aku mau istirahat dulu. Aku ke kamar dulu yah.” Pamit Melati mencium pipi mama kemudian menuju ke kamarnya. Sampai di depan pintu kamar Melati mendengar deringan Hp nya berbunyi tandanya ada panggilan masuk. “Halo pak.” Melati menjawab telpon di Hp nya.
“Kamu di mana? sudah jam begini kok belum datang?” Tanya orang di balik telepon.
“Maaf pak George, aku lagi sakit. Ijinkan aku untuk tidak masuk sekolah hari ini!” Jawab Melati.
“Heeemmmm…. Kebiasaan kamu!” Pak George menarik nafas panjang tandanya dia kesal. “Ingat, besok Leoni akan menyelesaikan proses seleksi atlit renang, jadi lusa akan ada acara inagurasi sebagai tanda menetapkan mereka sebagai atlit yang akan dipersiapkan untuk lomba nantinya.” Pesan pak George.
“Dan ingat itu adalah tugasmu untuk mempersiapkannya.” Pesan pak George lagi.
“Iya baik pak” kata Melati lagi.
“Apa saja yang sudah kamu persiapkan? Bagaimana konsep acara yang kamu rancang? Sudah ada bayangan belum? Waktu itu sudah pernah di ingatkan kan?” pak George menghujani Melati dengan pertanyaan.
“Belum ada rancangan pak.” Jawab Melati jujur.
“Kalau begitu sekarang juga kamu hadir di sini, saya tunggu di ruangan. Kita bicarkan sama-sama.” Perintah pak George tanpa bantahan dan langsung mengakhiri panggilan.
“Arrrggghhhh…” Melati jengkel sekali, hari itu dia maunya beristirahat tapi tidak bisa, dan hari itu harus bertemu lagi dengan Wiliam.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian dia sudah siap dan langsung bergegas. Sesampainya di ruangan personalia, dia sudah di tunggu oleh beberapa staf, termasuk Leoni dan Wiliam juga ada disitu.
“Silahkan bu Melati!” Pak Lukas memberi isyarat pada Melati yang baru masuk untuk duduk di samping pak George.
“Maaf aku terlambat.” Melati duduk di samping pak george seperti perintah pak Lukas tadi, tepat berhadapan dengan Wiliam dan Leoni yang duduk bersampingan.
Pak Lukas langsung memulai pertemuan mereka itu untuk membicarakan acara inagurasi untuk atlit renang yang akan dilatih oleh Leoni.
“Jika ada yang punya ide rancangan acara silahkan langsung disampaikan!” kata Pak Lukas setelah membuka pertemuan dengan menyampaikan agenda yang akan mereka bicarakan.
Melati langsung menyampaikan ide yang sempat dia pikirkan, dimana acaranya sangat sederhana namun berkesan bagi seluruh siswa. Jadi acara yang diusulkannya adalah malam inagurasi dengan konsep semua siswa berkemah di halaman sekolah dan seleksi terakhir dilaksanakan dihadapan para siswa malam itu, agar para siswa juga bisa memberikan komentar atau sejenis penilaian bagi para atlit sebelum ditentukan siapa saja yang akan dinobatkan sebagai utusan sekolah dan berhak mendapatkan pelatihan pendampingan selama kurang lebih hampir tiga bulan.
“Bagaimana? Apakah ada yang punya ide lain? Atau ada yang mau berkomentar terhadap ide dari bu Melati?” tanya Pak Lukas setelah Melati selesai menyampaikan ide nya.
“Sepertinya ide bu Melati bagus juga. Selama ini sekolah kita belum pernah melaksanakan acara seperti ini.” Tambah Pak George merasa puas dengan apa yang Melati sampaikan.
“Bagaimana? Apa semua setuju?” tanya Pak Lukas lagi. “Baiklah ide bu Melati diterima, dan tanggung jawab mempersiapkan acara saya serahkan pada Melati dan Leoni. Bagaimana? Setuju?” lanjut pak Lukas.
“Apa? Melati dan Leoni bekerja sama?” kata Wiliam dalam hati. “Tidak, tidak. Mereka tidak boleh bersama. Takutnya Melati akan semakin dekat dengan Leoni dan bisa membocorkan kejadian malam itu.” Pikiran Wiliam mengantisipasi hal yang dia takutkan.
“Maaf pak. Saya bisa bicara?” tanya Leoni.
“Bisa silahkan!” pak Lukas mempersilahkan Leoni bicara.
“Minta maaf bukannya aku tidak mau mempersiapkan acara dengan Melati, tapi apa tidak sebaiknya aku diganti dengan orang lain? Karena aku harus mempersiapkan atlit dan berbagai perlengkapannya.” Jelas Leoni. “Aku rasa tanggung jawabku sudah sangat besar dalam mempersiapkan anak-anak, kalau di tambah lagi dengan mempersiapkan acara aku takut nanti terbengkalai salah satunya.” Lanjut Leoni.
“Mantap Leoni, tahu aja sih?!” Wiliam senang dalam hatinya, tanpa perlu bekerja keras untuk memisahkan dia dan Melati. “Benar pak, sebaiknya Leoni diganti dengan orang lain saja, nanti dia tidak fokus dalam mempersiapkan atlit lagi, jadi sebaiknya biar dia hanya mengurus atlit saja, tidak usa dengan acara. Dia hanya tahu seleksi saja.” Sambung Wiliam yang sejak tadi diam saja.
“Issshhhh apaan sih dia? Bisa-bisanya dia sependapat dengan Leoni?” Melati merasa jengkel dengan Wiliam, dia marah-marah dalam hatinya.
“Kalau begitu kamu yang menggantikan Leoni. Bisa kan? Kamu bersama Melati mempersiapkan acaranya?” Pak George memotong pembicaraan Wiliam.
__ADS_1
Mendengar perkataan Pak George, Wiliam menjadi jengkel kenapa dia harus bekerja sama dengan Melati. Dibalik Wiliam yang jengkel malah Melati sangat senang karena akan memiliki waktu berduaan dengan Wiliam walaupun hanya dua hari saja.
“Benar pak. Wiliam saja.” Melati mendukung perkataan Pak George. “Aku pasti bisa bekerja sama dengannya.” Tambah Melati lagi. “Semoga dua hari ini kamu bisa memahami isi hatiku.” Melati tersenyum mekar dalam hatinya.