KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Bertemu Leoni


__ADS_3

“Paula, aku pasti akan menemuinya di saat aku sudah siap. Aku mohon kamu mengerti dengan keadaanku.” Pintah Leoni.


Setelah diskusi panjang antara Leoni dan Paula, akhirnya Paula mengikuti keinginan Leoni, dia pun sebagai wanita mengerti perasaan Leoni walaupun di sisi lain dia ingin Leoni bertemu dengan Glen untuk menyelesaikan masalah diantara mereka, ingin rasanya dia yang menggantikan Glen untuk menjelaskan apa yang dia tahu pada Leoni namun dia sadar bahwa itu bukan hak nya, yang bisa dia lakukan adalah membujuk Leoni walaupun akhirnya Leoni tidak berhasil dibujuk. Sedikit kecewa tapi dia tetap memilih untuk mengerti perasaan Leoni sebagai sesama wanita.


Akhirnya Paula kembali ke tempat perawatan pasien yang tadi sementara dia obati dan Leoni langsung mencari tempat aman agar tidak bertemu dengan Glen yang saat itu dia tahu berada di tempat itu.


***


Sementara Romi yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, pergi menemui bapa desa yang ternyata saat itu sedang berdiskusi dengan Glen.


“Romi.” Bapa Desa menyebutkan namanya saat Romi bergabung dengan mereka. “Tuan, kenalkan ini anak saya Romi.” Kata Bapa Desa memperkenalkan Romi pada Glen. “Dan Romi, ini tuan Glen presdir dari yayasan Gonzaga. Dia datang memberikan bantuan untuk kita.” Kata Bapa Desa lagi.


“Sepertinya ini orang yang tadi aku lihat bersama orang yang mirip dengan Leoni, ah atau Leoni yang sebenarnya.” Bisik Glen dalam hati.


“Tuan?” Bapa Desa menegur dengan sopan.


“Hai… aku Romi.” Romi menyodorkan tangannya ke arah Glen untuk bersalaman.


“Ah ya, Glen.” Glen balas bersalaman dengan Glen. “Presdir yayasan Gonzaga.” Glen mempertegas lagi siapa dirinya.


“Ohh yah. Terima kasih atas bantuan yang telah kalian berikan untuk masyarakat kami di sini.” Kata Romi dengan sopan.


“Anak saya bekerja sebagai staf kepresidenan, tapi saat ini dia sedang cuti.” Bapa Desa membanggakan anaknya pada Glen.


“Ohhh yaa… bagus…” Glen mengangguk-anggukan kepalanya. “Luamayn juga ni orang, memiliki pekerjaan yang sembarangan, namun penampilannya sederhana.” Kata Glen dalam hati, tanpa sadar dia memuji Romi.

__ADS_1


“Tuan, kalau tuan bersedia mengunjungi masyarakat kami dan sekedar bercerita dengan mereka, mungkin mereka akan senang, apalagi mereka tahu tuan yang sudah bersedia memberikan bantuan pada mereka.” Kata Bapa Desa.


“Hem bole juga.” Kata Glen. “Tapi bapa tidak perlu repot-repot mengumpulkan mereka. Biar saya berkeliling di tenda pengungsian ini saja dan bercengkrama dengan mereka.” Glen sengaja meminta seperti itu agar aksinya tidak mencurigakan, sengaja dia mengatur taktik seperti itu agar tidak membuat kehebohan, dia yakin kalau meminta masyarakat untuk berkumpul maka Leoni tidak akan datang, tapi kalau dia diam-diam seperti itu pasti Leoni tidak akan menyadari kehadiran dirinya.


“Kalau begitu Romi akan mendampingi anda.” Kata Bapa Desa. “Aku harus lanjut mengurus masyarakat. Tidak apa kan kalau Romi yang menemani anda?” Jelas bapa desa.


“Heemmmm… yah bisa.” Glen nampak berpikir namun akhirnya dia menerima tawaran bapa desa.


“Kalau begitu ayo!” Ajak Romi.


Glen mengikuti langkah Romi, mereka berjalan berdampingan sambil bercerita ringan tentang keadaan di desa. Mereka pertama kali mengunjungi tempat kemah sementara masyarakat yang rumahnya hanyut terbawah air sungai, Romi menjelaskan kepada masyarakat siapa orang yang ada bersamanya saat ini, nampak sesekali Glen bercerita dengan beberapa orang, dia menyampaikan pertanyaan seputaran kronologi peristiwa banjir atau sekedar


basah-basih dengan masyarakat, kedua mereka medatangi ruangan penanganan pasien korban bencana dimana Paula sedang menangani beberapa pasien yang harus diobati dan diganti perban karena luka.


“Tuan.” Paula mendatangi Romi dan Glen.


“Paula.” Paula mengulurkan tangan bersalaman dengan Romi tapi dia mengkerutkan kening ke arah Glen seolah bertanya siapa orang yang ada dihadapannya.


“Oh ini Romi, anaknya bapa desa. Tadi bapa desa menyuruhnya menemaniku berkeliling-keliling.” Jawab Romi mengerti dengan tatapan isyarat dari Paula.


“Romi? Bukannya ini orang yang bersama dengan mba Leoni tadi?” Paula berusaha mengingat-ingat siapa yang dia lihat bersama Leoni tadi saat bermain dengan anak-anak. “Benar ini dia orangnya.” Kata Paula lagi dalam hati. “Tuan, sungguh kasihan sekali dirimu. Kamu tidak tahu kalau orang yang bersama mu sekarang adalah sainganmu untuk mendapatkan mba Leoni. Mungkin saja mba Leoni akan lebih memilih dia, nampaknya dia sudah membuat mba Leoni nyaman.” Paula masih meluapkan perasaannya dalam hati. “Tuan, tadi obat-obatan yang dibawah sudah saya serahkan kepada pihak desa, dan sementara diatur di dalam. Apa tuan mau melihatnya?” Paula sengaja bertanya seperti itu supaya agar Glen mau menuju ke ruang penyimpnan obat karena dia yakin Leoni pasti ada di situ.


“Ah ya tuan, benar juga apa kata mba Paula, kalau mau melihat tempat penyimpanan obat-obatan dan bantuan logistik yang sudah di serahkan serta bagaimana pengolahannya, mari saya antarkan.” Sambung Romi.


“Tidak, tidak perlu. Aku percaya pihak desa pasti akan mengelolahnya dengan baik. Mungkin sebaiknya saya perbanyak bercengkrama dengan masyarakat dan mendengar setiap cerita mereka.” Kata Glen menolak dengan tegas.

__ADS_1


“Tuan, ada baiknya juga tuan sekedar melihat tempatnya saja seperti yang dikatakannya.” Paula mendukung apa yang dikatakan Romi.


Glen bingung dengan tingkah Paula, tidak seperti biasanya dia bertentangan dengan Glen kalau hanya sekedar masalah kecil seperti itu. Glen mengkerutkan kening menimbang perkataan Paula.


“Mari tuan.” Kata Romi dengan sangat hati-hati. “Tapi kalau tuan enggan untuk melihatnya juga tidak apa-apa. Aku tidak punya maksud apa-apa. Aku hanya bisa menyampaikan terima kasih atas kepercayaan tuan dan juga sekali lagi terima kasih atas bantuan yang sudah diberikan pada kami, itu sangat bermanfaat bagi masyarakat kami.” Kata Romi dengan sopan.


“Kak Romi.” Salah satu anak kecil datang memegang tangan Romi.


“Hai…” Romi menggendong anak itu. “Ada apa Aurora?” tanya Romi pada anak kecil itu.


“Kak Romi dan kakak-kakak ini (menunjuk ke arah Glen dan Paula) bisa ikut bermain bersama kami?” tanya Aurora gadis kecil itu.


“Bisa dong sayang.” Paula mencubit pipi Aurora. “Mau main di mana?” tanya Paula lagi.


“Di luar sana!” Aurora menunjuk teman-temannya yang sedang bermain di bawah pohon beringin tempat biasa mereka bermain.


“Ayo!” Ajak Paula kemudian menurunkan Aurora dari gendongan Romi sambil berpegangan tangan menuju ke tempat yang ditunjuknya.


“Mau ikut gabung dengan mereka?” Tanya Romi pada Glen.


“Boleh.” Jawab Glen walaupun hatinya merasa berat, karena dia merasa tidak ada gunanya bermain dengan mereka sekarang karena tujuan utamanya adalah mencari Leoni. Dia ikut hanya sekedar menghargai permintaan anak kecil, sebenarnya dia sangat menyukai anak kecil, tapi menurutnya sekarang bukan waktu yang tepat untuk bermain-main. Glen dan Romi mengikuti Aurora dan Paula dari belakang.


Nampak dari jauh seorang wanita dewasa tengah bermain dengan para anak-anak kecil itu.


“Nona ibu, aku sudah bawah banyak teman nih.” Teriak Aurora memanggil Leoni, Leoni dengan sendirinya memutar badannya dan mengangkat kepala melihat ke arah datangnya suara.

__ADS_1


“Leoni?” Bisik Glen kaget.


“Glen? Paula?” Kata Leoni dalam hati melihat siapa saja yang datang, mereka saling bertukar pandangan, masing-masing menatap dalam-dalam untuk meyakinkan penglihatan matanya. Sedangkan Romi tidak mengerti arti dari pandangan mereka, nampaknya dia tidak paham dan mungkin dia berpikir tidak mungkin Glen yang ini adalah Glen yang diceritakan oleh Leoni.


__ADS_2