KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Pendamping Pengantin


__ADS_3

“Baik. Aku akan segera pulang. Kamu tetap disini bersama Leoni!” Kata Glen pada Paula.


“Siap.” Kata Paula.


“Ny, aku pergi siap-siap dulu sekalian jemput papa dan mama.” Kata Glen mendekat ke arah Leoni.


“Kamu hati-hati yah! Secepatnya kembali yah!” Kata Leoni seperti berat melepas Glen untuk pulang padahal rumahnya hanya berjarak beberapa rumah dari rumah Leoni.


“Iya, aku akan datang secepatnya. Kamu tenang saja!” Glen menarik kepala Leoni dan memberikan kecupan di pucuk kepalanya.


“Aku tunggu! Jangan lupa kabari aku kalau sudah menuju ke sini yah.” Pesan Leoni sebelum Glen keluar dari kamar.


Setelah Glen pulang, Leoni langsung mandi dan berdandan dibantu oleh penata rias khusus sekaligus memakaikan gaun pengantinnya. Sekitar satu jam Leoni berdandan di dalam kamarnya ditemani oleh Paula sambil menunggu kedatangan Glen bersama orang tuanya menjemput Leoni dan mereka akan menuju ke gereja untuk diberkat dalam


sakramen pernikahan. Begitupun dengan kedua orang tuanya dan semua keluarga, mereka segera mempersiapkan diri untuk sama-sama ke gereja menyaksikan ikrar suci pernikahan yang akan diucapkan oleh Glen dan Leoni.


“Tuan sudah datang mba.” Paula mengintip dari jendela kamar Leoni dan memberi tahu Leoni yang sedang duduk di depan meja rias, dia sangat bersemangat melihat tuannya datang. “Dia sudah masuk ke dalam rumah.” Paula menghampiri Leoni memberi tahu apa yang dia lihat. “Sedikit lagi dia akan mengetuk pintu kamarmu.” Paula sangat gembira berbisik di telinga Leoni. Nampaknya dia ikut berbahagiah dengan tuannya yang sebentar lagi akan beralih status menjadi suami orang.


Tok… tok… tokkk….


(Ketukan pintu pertama.)


Glen nampak gagah menggunakan set tuksedonya mengetuk pintu kamar Leoni didampingi oleh keluarganya dan keluarga Leoni yang menunggu sang pengantin wanita untuk membuka pintu menyambut jemputan sang mempelai pria untuk sama-sama mereka menuju ke gereja.


“Yeeaaayy sang pangeran sudah menunggu mu tuan putri.” Paula membantu Leoni berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


Tok… tok… tokkk….


(Ketukan pintu kedua.)


“Ayo mba, cepat!” Paula sangat gembira dan tidak sabar menunggu Leoni membukakan pintu untuk Glen. Paula mendampingi Leoni berjalan dari meja rias menuju pintu.


Tok… tok… tokkk….


(Ketukan pintu ketiga.)


Paula membantu Leoni membukakan pintu kamar sedangkan Leoni berdiri menunggu pintu terbuka lebar dan siap untuk melangkah keluar dari dalam kamar itu, Glen pun siap menanti pintu kamar terbuka untuk melihat Leoni keluar di depan kamar itu.


Setelah pintu terbuka lebar Leoni dan Glen saling menatap satu sama lain, keduanya saling mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang ada didepan matanya. “Leoni, kamu sangat cantik, tidak ada yang dapat mengalahkan kecantikanmu dimataku.” Bisik Glen tepat didepan Leoni sang calon istri yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


Leoni keluar dari dalam kamar, menyematkan bunga di dada Glen yang datang menjemputnya.


Setelah bunga dada disematkan oleh Leoni, Glen pun membuka Wedding veil di kepala Leoni kemudian memberikan kecupan manis di keningnya setelah itu seorang tetua dari keluarga Glen mewakili Glen dan orang tuanya meminta Leoni secara hormat dan sakral untuk mereka hantar ke gereja mengikuti pemberkatan nikah.


Dibelakang petua tersebut berbaris keluarga Glen yang saling berhadapan dengan keluarganya Leoni.


“Romi, kapan kamu akan memberikan moment seperti ini untuk bapa?” Bapa Desa meneteskan air mata terharu menyaksikan adegan Glen dan Leoni di depan matanya. “Kapan kamu akan menjemput mempelai mu seperti ini?” Tanya Bapa Desa lagi.


“Ema juga sangat menginginkan moment seperti ini Romi.” Bisik Mama nya.


“Bapa, ema.” Romi baru sempat menjawab apa pertanyaan kedua orang tuanya, tiba-tiba Paula melangkah keluar dari dalam kamar dan tersandung dengan gaun yang dipakai oleh Leoni, ditambah lagi dengan gaun yang dia pakai sendiri terlalu panjang serta high heels juga terlalu tinggi sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan. Akhirnya jatuh tepat di depan Romi, dia menjadikan Romi sebagai tumpuannya. Romi kaget dengan kejadian itu akhirnya tidak melanjutkan kata-katanya. “Paula?” Romi membantu Paula berdiri. “Makanya hati-hati dong! Pakai mata dan kakimu baik-baik sebelum melangkah, juga itu (menunjuk ke arah gaun yang dipakai Paula) kalau tidak bisa pakai yang panjang-panjang, mending pakai yang simpel saja supaya tidak jatuh, sepatu juga jangan pakai yang menjulang tinggi seperti itu kalau tidak biasa. Lihat tuh, jatuh kan? Tambah jalannya tidak lihat-lihat lagi, makanya punya mata itu di gunakan dengan baik dong!” Sindir Romi dengan kasar.

__ADS_1


“Kamu!” Teriak Paula jengkel. “Dasar laki-laki tidak jelas, jangan pegang-pegang aku! (Paula menyingkirkan dengan kasar tangan Romi yang masih memegang lengannya) dasar tidak ikhlas membantu, kalau gini terus sikapmu pada perempuan aku jamin tidak ada cewek yang akan mau sama kamu.” Bentak Paula pada Romi.


“Apa? Tidak ada cewek yang mau? Atau sebaliknya yah, cewek kasar kayak kamu yang tidak akan ada cowok yang mau, lihat saja perlakuan dan kata-katamu kasar seperti itu, sudah dibantuin, dikasi nasihat eh malah dibentak-bentak lagi.” Balas Romi.


Semua orang yang ada disitu seharusnya memperhatikan dan menyaksikan kebahagiaan Glen dan Leoni eh malah mengalihkan perhatiannya pada pertengkaran yang dilakukan oleh Romi dan Paula. Akibat pertengkaran mereka, seharusnya Leoni dan Glen sudah menuju ke gereja, malah terlambat karena ulah kedua orang tersebut.


“Paula.” Panggil Glen dengan emosi yang membuat Paula langsung berbalik menuju ke samping Glen dalam diam. “Belum puas kah bertengkar dengan Romi?” Bisik Glen pelan namun terpancar aura marah dari wajahnya.


“Siapa juga yang mau bertengkar dengan dia? Dia yang duluan bukan aku.” Balas Paula tanpa memperhatikan ekspersi wajah Glen, dengan jutek dan suara lantang dia mengeluarkan kata-kata dari mulutnya tujuannya agar Romi juga turut mendengarkannya.


“Siapa yang duluan? Ngomong yang jelas yah! Kamu yang duluan nyambar aku, sudah manfaatkan aku sebagai tumpuan, sudah aku bantuin berdiri juga eh malah tidak tahu berterima kasih.” Romi menghampiri Paula dan berbicara tepat didepan wajahnya.


 “Kamu.” Paula jengkel sekali namun tidak dapat berkata apa-apa lagi karena tepat dia menatap wajah Glen dan hendak membalas perkataan Romi, Glen sudah melotot dan memasang wajah geram padanya.


“Sudah, sudah. Jangan melanjutkan perkelahian kalian.” Leoni pun menengahi. “Lebih baik kalian bantu aku jalan.” Leoni menunjuk ke arah rok nya yang panjang itu.


Romi dan Paula tidak berkata apa-apa lagi, mereka langsung membantu Leoni mengangkat roknya dan membantunya turun dari tangga kemudian menuju ke mobil yang akan membawah mereka ke gereja.


Romi dan Paula berperan sebagai pendamping pengantin untuk Glen dan Leoni, nampak mereka berdua sangat kompak walaupun sesekali menunjukkan ekspresi permusuhan saat tanpa sengaja saling bertatapan.


***


Bersambung.


Jangan lupa vote, like dan komen yah!

__ADS_1


Demi kelangsungan hidup author.


__ADS_2