
Semua orang keluar dari dalam ruangan Glen tanpa berkata apa-apa lagi, mereka keluar dengan tenang. Tersisa Glen dan Paulo di dalam ruangan presdir itu.
“Kenapa kamu mengusir semua orang keluar begitu saja tanpa perintah dariku?” Tanya Glen yang masih menuntut penjelasan atas tindakan Paulo.
“Maaf tuan aku melakukannya tanpa konfirmasi dengan tuan dulu.” Paulo merapatkan kedua tangannya ke dada dan bermohon pada Glen. Mendapatkan anggukan dari Glen, akhirnya Paulo melanjutkan pembicaraannya. “Aku sudah menyuruh beberapa orang anak buahku untuk menyelidiki perusahaan asing itu.” Paulo mulai memberikan informasi.
“Lalu?” Glen belum puas atas pernyataan Paulo.
“Beberapa anak buahku yang menyamar menjadi petani di daerah ini, mereka mengatakan ada beberapa orang kepercayaan dari perusahaan kita yang bekerja untuk perusahaan asing itu dan menjadi mata-mata. Itu alasan kenapa aku menyuruh mereka semua tadi untuk keluar sebelum aku berbicara.” Jelas Paulo.
Kening Glen mengkerut, tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan, dia merasa tidak mungkin orang kepercayaannya mengkhianatinya. “Apakah orang suruhanmu memberikan bukti atas ucapannya?” Tanya Glen penuh selidik.
“Ini tuan!” Paulo menunjukkan kepada Glen beberapa foto dan video yang dikirimkan oleh anak buahnya.
“Shhhiiiitttt….” Glen berdiri dari duduknya dan memukul meja jati yang ada di depannya, rasanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Tuan jangan emosi, kita tidak bisa gegabah dalam menghadapi masalah ini. Kita harus menghadapinya dengan kepala dingin.” Paulo menenangkan Glen.
“Heeemmm…” Glen menarik nafas dalam-dalam, kemudian duduk kembali di tempatnya. “Kamu punya rencana apa?” Kata Glen setelah merasa tenang dan dapat berpikir secara jernih.
“Aku sudah menyuruh orang untuk menyelidiki perusahaan ini, kita tunggu informasi selanjutnya baru bisa bertindak.” Jelas Paulo.
“Baiklah.” Glen lagi-lagi menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan secara kasar ke udara.
“Kita harus memperlakukan mereka seperti biasa walaupun kita sudah tahu perbuatan mereka, yang harus kita lakukan terlebih dahulu adalah melumpuhkan perusahaan asing tersebut, setelah itu baru bisa menghukum mereka yang turut terlibat.” Kata Paulo lagi.
“Iya kamu benar, dari mereka juga kita bisa mencari tahu apa yang dilakukan oleh perusahaan asing tersebut. Orang-orang itu pasti akan menjadi informan yang baik karena dibalik mereka membawah informasi bagi lawan pasti mereka di hadapan kita akan seolah-olah berpihak pada kita sehingga akan memberikan informasi yang kita butuhkan.” Tambah Glen sependapat dengan Paulo.
__ADS_1
“Benar tuan.” Paulo menarik sebelah bibirnya menciptakan senyuman tipis di wajah tampannya itu.
“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” Tanya Glen.
“Sambil menunggu informasi dari orang suruhanku sebaiknya kita coba memanggil sang manager dan staf keuangan untuk memberikan laporan pertanggung jawaban mereka dan sedikit menyusun strategi bersama mereka.” Kata Paulo.
“Kamu?” Glen kaget dengan saran yang diberikan oleh Paulo.
“Entahlah apakah mereka terlibat atau tidak, kita coba dengarkan mereka sebagai umpan.” Paulo tersenyum sinis.
“Oke, aku ikut rencanamu.” Glen menerima pernyataan Paulo, dia tidak meragukan kemampuan analisis dari asistennya itu. Sesaat kemudian Glen melakukan panggilan telepon melalui telepon kantor yang ada di meja kerjanya untuk menghubungi sang manager dan memerintahkannya datang ke ruangan di mana mereka berada sekarang.
Dalam beberapa menit kemudian sang manager membawah beberapa orang staf yang diminta Glen untuk datang keruangannya. Orang-orang yang dibawah oleh manager tersebut nampak tidak ada dalam video yang dikirimkan oleh orang suruhan Paulo.
Ketika mereka duduk berhadapan dengan Glen, dia memberikan tatapan tajam pada Paulo, seraya mengerti maksud tatapan Glen itu Paulo langsung menyampaikan maksud memanggil mereka. Benar saja apa yang dipaparkan oleh orang-orang itu seperti tidak ada yang mencurigakan. Selesai dengan staf keuangan, selanjutnya dengan bidang yang lain sampai semua stafnya sudah di panggil oleh Glen dan melihat wajah-wajah mereka. Ada beberapa staf yang terlihat mencurigakan, terlebih orang-orang yang ada dalam video itu, Glen dapat mengenali beberapa orang tersebut namun dia tetap berusaha bersikap sewajarnya.
“Sama-sama tuan.” Kata sang manager.
“Jam kerja sudah selesai, kamu boleh pulang. Besok baru kita susun rencana untuk mengatasi semua masalah yang terjadi.” Kata Glen mengakhiri diskusi mereka.
“Siap tuan.” Kata manager itu dengan tegas.
Setelah semuanya pulang, Glen dan Paulo pun kembali ke hotel. Paulo mengikuti Glen sampai ke dalam kamarnya, namun karena terlalu capek seharian bekerja maka Glen tidak menghiraukan asistennya itu dan membiarkannya melakukan sesuka hatinya.
“Apaan sih? ngapain ikut ke sini? Bukannya kembali ke kamarmu dan beristirahat?” Glen merasa risih karena kemanapun langkahnya pergi, Paulo mengikutinya dari belakang. Dia ingin menghubungi istrinya namun rasa tidak bebas karena keberadaan Paulo.
“Aku rasa sejak tadi di perusahaan sampai di sini, ada yang mengikuti kita tuan.” Jawab Paulo.
__ADS_1
“Bukannya kamu yang dari tadi mengikutiku terus?” Kata Glen jengkel.
“Tuan!” Bentak Paulo. Yah hanya dialah bawahan Glen yang berani melakukan itu pada sang atasan yang paling berkuasa itu. “Aku curiga gerak-gerik kita sedang diawasi oleh orang-orang suruhan dari bos perusahaan asing itu. Kita harus hati-hati, makanya aku mau disini saja dengan tuan untuk menemani tuan, aku takut terjadi apa-apa.” Jelas Paulo.
“Issshhh kamu, bilang aja kalau takut tidur sendiri!” Bentak Glen. “Sekarang kembali ke kamarmu dan beristirahat, aku mau menghubungi istriku.” Perintah Glen dengan tatapan mematikan.
“Iii….iya tuan.” Paulo terbata dan langsung berlari keluar menuju ke kamarnya berada tepatnya di samping kamar Glen.
Setelah membersihkan diri dan siap beristirahat, Glen menuju ke ranjangnya, dia duduk bersandar pada dashbor tempat tidur itu sambil memainkan smartphone nya dan menghubungi istrinya yang sedang menunggu kabar dari sang suami.
“Kamu istirahat yah!” Kata Glen pada Leoni melalui sambungan telepon setelah selesai melaporkan pada istrinya itu apa saja yang dilakukannya sepanjang hari di kantor.
“Kamu juga istirahat, jangan lupa makan, dan cepat kembali!” Kata Leoni yang tengah berlinang air mata karena merindukan suaminya.
“Aku akan berusaha untuk menyelesaikan masalah di sini secepat mungkin agar bisa pulang.” Kata Glen meyakinkan sang istri.
****
“Tok…. Tok…. Tok….” Baru saja Glen mau memejamkan mata untuk beristirahat, pintu kamarnya diketuk dari luar yang membuatnya terganggu.
“Ini aku tuan, tolong buka pintunya!” Teriak Paulo dari luar.
“Issshhh dia ini, bisakah dia tidak menggangguku di jam seperti ini?” Kesal Glen dalam hati. “Kembali ke kamarmu! Aku mau istirahat. Kalau ada masalah, kamu selesaikan dulu, aku capek.” Bentak Glen ketika membuka pintu kamarnya.
“Ini penting tuan.” Kata Paulo yang hendak masuk ke dalam namun dihalangi oleh Glen yang hanya membuka pintu selebar badannya saja.
“Aku yakin kamu bisa mengurusnya, pergi sana!” Glen tiba-tiba menutup pintu dan meninggalkan Paulo yang terpaku di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
Dengan menahan rasa kesalnya, akhirnya Paulo kembali ke kamarnya. “Besok saja aku bicara dengan tuan kalau begitu.” Kata Paulo dalam hatinya.