
Setelah Leoni memutuskan untuk mengijinkan Glen berangkat ke Larantuka, dia langsung membantu suaminya itu untuk mempersiapkan segalah sesuatu yang dibutuhkannya saat berangkat ke Larantuka.
Pagi harinya Leoni bangun terlebih dahulu dari Glen seperti biasanya, dia mempersiapkan sarapan untuk mereka berdua nikmati dipagi itu.
“Kamu sudah bangun?” Leoni masuk ke kamar setelah mempersiapkan sarapan dan didapatinya sang suami yang sudah terjaga dari tidurnya namun masih berada di atas ranjang.
“Iya.” Jawab Glen singkat.
“Kalau begitu, ayo cepat mandi! Aku tunggu kamu di ruang makan.” Kata Leoni berbalik hendak kembali ke dapur.
“Kamu tidak menyiapkan pakaianku dulu?” Tanya Glen saat Leoni melangkah mendekati pintu kamar.
“Aku ambilkan pakaianmu, kamu mandi sana!.” Leoni kembali berbalik menuju lemari yang ada di dalam walk in closet untuk mengambilkan pakaian yang akan digunakan Glen.
Ssssrreeetttt……
Langkah kaki Glen menghampiri Leoni yang sedang berada di depan lemari dengan posisi memegang baju yang telah dia persiapkan untuk Glen kenakan.
“Glen?” Leoni kaget dengan tingkah Glen saat itu.
Glen memeluk Leoni dari belakang. “Aku pasti akan sangat merindukanmu.” Bisik Glen di telinga Leoni.
Rasa geli Leoni rasakan, hembusan nafas Glen berasa hangat ditelinganya. Tangan Glen yang memeluk Leoni pun mulai bergerilia menggelitik di perut Leoni yang langsing itu. Leoni merasakan sensasi geli yang diciptakan oleh gerak tangan Glen itu terpaku memegang baju yang hendak dia berikan untuk Glen pakai.
“Kita mandi bareng yuk!” Bisik Glen, dia mengambil alih gantungan baju dari tangan Leoni dan menggantungnya kembali, dia menuntut Leoni bersama-sama masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Leoni menghela nafas dalam-dalam. “Nanti kamu terlambat dan ketinggalan pesawat.” Leoni berusaha berpikiran rasional.
“Kamu lupa yah kalau aku pakai pesawat pribadi yang bisa menungguku sampai kapan saja?” Bisik Glen ke telinga Leoni lagi.
Leoni tidak dapat berkata-kata lagi, diapun tidak dapat menolak permintaan Glen lagi.
“Tapi hanya sekedar mandi saja yah?” Kata Leoni lagi yang hanya mendapatkan tanggapan berupa senyuman dari suaminya itu. Glen menarik sebelah bibirnya ke samping.
Melihat senyuman di wajah Glen, Leoni jadi tahu kalau suaminya itu akan melakukan sesuatu selain hanya sekedar mandi namun dia pasrah saja, kalaupun menolak apalagi mrmbantah tetap saja akan sia-sia karena pasti Glen tetap akan melancarkan aksinya.
Yah, sampai di dalam kamar mandi apa yang Leoni pikirkan pun terjadi. Glen mengangkat tubuhnya ke dalam bathap, menyiapkan air hangat dan perlengkapan untuk mereka berendam.
“Byuuurrrr….” Glen melompat masuk bersama Leoni ke dalam bathap dan duduk disamping istrinya itu.
“Glen?” Leoni kaget melihat aksi yang dilakukan Glen, terlihat seperti anak-anak saja.
menuntutnya melakukan apa yang dia inginkan. Tanpa rasa malu-malu lagi Leoni membalas semua perlakuan Glen dengan mesrah sampai senjata ampuh milik Glen berhasil melancarkan tembakan dan tepat sasaran.
“Ny, semoga tembakanku hari ini tepat sasaran dan berhasil menanamkan saham di dalam sana.” Bisik Glen mesrah setelah berhasil melakukan aksinya.
“Yah, semoga saja.” Kata Leoni menanggapi perkataan Glen, dia mengerti apa maksud dari perkataan Glen barusan. “Sepertinya saat ini aku lagi masa subur.” Kata Leoni malu-malu, memberikan dukungan atas perkataan Glen tadi.
Nampak Leoni yang merasa diri telah salah berbicara merutuki kebodohannya. “Kenapa aku bisa bicara seperti itu?” Kata Leoni dalam hati.
Memang seharusnya tidak salah jika Leoni berkata seperti itu pada suaminya sendiri, namun dia kurang percaya diri untuk saat ini walaupun mungkin dia pun dengan suaminya punya keinginan yang sama bahwa ada yang akan hidup di dalam rahimnya itu namun dirinya berpikir bahwa kehidupan rumah tangganya baru seumur jagung dan mereka baru beberapa kali melakukan hubungan suami istri sehingga belum tentu akan membuahkan hasil mengingat saat ini Glen pun akan pergi ke luar daerah. “Apa benar aku hari ini ada pada masa subur?” Tanya Leoni dalam hatinya, dia kurang yakin dengan kondisi rahimnya saat ini.
__ADS_1
Glen tersenyum manis menanggapi perkataan istrinya, “Aku sangat berharap kita bisa segera memiliki anak.” Bisik Glen di telinga Leoni.
Dengan langkah sigap Glen mulai membantu Leoni mandi setelah mereka melakukan aksi panasnya di kamar mandi, setelah itu diapun ikutan mandi. Selesai melakukan ritualnya di dalam kamar mandi, Glen melilitkan handuk ke pinggangnya kemudian mengambil handuk yang lebih besar lagi untuk menutupi tubuh Leoni.
“Ayo kita pakai baju.” Glen mengankat tubuh Leoni dengan gaya bridal style menuju ke dalam kamar dan menurunkannya di walk in closet.
Leoni membantu Glen memakai baju yang tadi sudah dia persiapkan untuk suaminya itu, setelah itu sebaliknya Glen membantu Leoni memakai pakaiannya setelah Leoni memilih baju mana yang akan dia pakai saat itu.
“Cepat pulang yah!” Kata Leoni setelah mereka keluar dari dalam walk in closet bersama.
“Aku pasti akan segera kembali setelah masalah di sana selesai aku tangani.” Glen mengusap lembut rambut di kepala istrinya yang tergerai indah.
Mereka keluar dari kamar menuju ke lantai bawah untuk menikmati sarapan bersama, dengan sangat cekatan Leoni melayani suaminya di meja makan mulai dari menyiapkan piring dan gelas sampai pada mengisi piring yang kosong dengan makanan sarapan yang telah dipersiapkannya, begitupun dengan dirinya, setelah selesai memberikan sepiring makanan dan segelas air untuk Glen, Leoni pun mengambilkan untuk dirinya.
Dua puluh menit mereka habiskan untuk menikmati sarapan paginya, suasana hening mereka lewati ditemani dengan dentingan sendok yang berbunyi ketika bersentuhan dengan piring.
Selesai menikmati sarapan bersama, Leoni hendak mengantarkan suaminya itu sampai di depan rumah.
“Mama? Papa?” Leoni kaget, dia membuka pintu untuk mereka keluar namun bertepatan dengan melihat keberadaan kedua orang tuanya mama Serly dan Papa Dio yang sudah berada di depan pintu rumahnya dengan sebelah tangan mama Serly terangkat hendak mengetuk pintu.
“Ada apa ke sini?” Leoni bertanya.
“Aku menyuruh mereka ke sini untuk menemanimu selama aku berada di luar daerah.” Jelas Glen sambil mengecup pucuk kepala Leoni.
“Makasi.” Leoni menanggapi perkataan Glen. “Ayo masuk ma, pa!” Leoni mempersilahkan kedua orang tuanya itu untuk masuk ke dalam rumah dan mendapat anggukan dari keduanya pertanda menyetujui perkataan Leoni.
__ADS_1
“Glen hati-hati yah! Mama dan papa pasti akan menjaga Leoni dengan baik di sini.” Kata Mama Serly sebelum masuk ke dalam rumah dan berdiri di samping Leoni.
Mereka mengantarkan kepergian Glen sampai dia menaiki mobil pribadi yang akan mengantarkannya ke bandara.