KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Hidup Kembali


__ADS_3

Romi tidak ingin terlalu lama berduaan dengan Leoni karena dia sadar jika semakin lama bersama Leoni maka akan semakin susah baginya untuk melepaskan Leoni.


Mereka berdua kembali bergabung bersama semua orang di ruangan tengah yang saat itu sedang menunggu mereka.


“Sudah selesai?” Kata Glen ketika melihat Leoni dan Romi kembali. “Kita pulang sekarang?” Glen mendekat ke arah Leoni dan bertanya dengan sangat hati-hati.


“Iya.” Jawab Leoni.


“Makasi Ny.” Glen mendekap Leoni dan mencium keningnya dihadapan semua orang, dan Leoni pun membalas pelukannya.


Kebahagiaan pun berhasil Glen dapatkan. Tidak sia-sia usahanya mencari Leoni sampai ke daerah yang terkena bencana dan jauh dari kota, harus ditempuh menggunakan helikopter karena akses jalan darat tidak dapat dilalui, hal yang tidak mudah untuk sampai disana namun akhirnya disanalah dia menemukan apa yang dia cari selama ini. Senang rasanya tidak pulang dengan tangan kosong.


Walaupun dia sempat kecewa karena berpikir bahwa di tempat itu pujaan hatinya telah menemukan tambatan hati yang baru, Glen terus berusaha untuk memenangkan hatinya kembali, dan usahanya berhasil. Dia berhasil membawah kembali hatinya itu pulang bersamanya, yah Leoni akan ikut dengannya pulang ke Kupang dan selanjutnya ke Manado.


“Ema, Bapa, Romi.” Leoni menyelami mereka semua sebagai tanda perpisahan. “Ema, bapa. Terima kasih sudah menerimaku dan menjagaku selama di sini.” Leoni berpelukan dengan kedua orang tua Airin. “Sampaikan salamku untuk Airin.” Kata Leoni. “Suatu saat nanti aku pasti akan datang mengunjungi kalian di sini.” Kata Leoni memeluk mama Airin yang sudah menangis. “Ini nomor Hp ku, kalian bisa menghubungiku kapan saja. Aku pun akan selalu menghubungi kalian, melalui rumahnya Romi.” Leoni memberikan selembar kartu yang bertuliskan nomor Hp nya.


“Hati-hati nona ibu, kami menyayangimu. Kami akan selalu menantikan kedatanganmu di rumah ini. Rumah ini adalah rumahmu juga, silahkan datang kapan saja kamu mau.” Kata mama Airin.


“Nona Ibu.” Panggil Romi sebelum Leoni naik ke atas helikopter.

__ADS_1


“Tuan Glen.” Romi melihat ke arah Glen dan Leoni. “Jaga nona ibu dengan baik dan jangan sakiti dia lagi.” Pesan Romi, rasanya hati Romi tidak rela namun dia harus melepaskan Leoni untuk menggapai kebahagiaannya, hanya kata ini yang dapat dia ungkapkan sebagai kata perpisahan.


“Aku tahu itu. Mulai sekarang aku akan berusaha untuk membahagiahkannya semampu ku.” Jawab Glen. “Terima kasih” Glen berpelukan dengan Romi.


Akhirnya Leoni pulang bersama Glen ke vila nya di kupang, sebelum mereka lanjut kembali ke Manado. Selama perjalanan yang mereka tempuh dari daerah Fatuleuh ke Kupang Glen selalu menggenggam erat tangan Leoni, tak sedikitpun dilepaskannya, sesekali dia mengusap kepala Leoni dan mencium pipinya, bahkan memeluk Leoni. Paula bersama sang pilot helikopter yang duduk di bagian depan, menutup tirai pembatas diantara mereka agar tidak merasa risih dengan aksi yang dilakukan oleh bos mereka bersama sang tambatan hati.


“Apaan sih?!” Leoni merasa risih dengan apa yang Glen lakukan padanya. “Malu tau sama mereka.” Bisik Leoni menunjuk ke arah depan.


“Biarin aja.” Glen mulai beraksi, tanpa aba-aba diapun mendaratkan kecupan pada Leoni yang awalnya mendapat penolakan namun lama-kelamaan pun mendapat balasan dari Leoni. Aksi semakin ekstrim di antara mereka berdua, tuntutan Glen yang menginginkan lebih dari sekedar mencium bibir mungil Leoni.


“Aaaawwww….” Tiba-tiba teriakan Leoni terdengar karena tanpa sengaja aksi yang Glen lakukan sudah melewati batas, dua gunung kembar milik Leoni pun tak luput dari sentuhan tangannya.


“Hahaha…. Mereka lagi melakukan aksi saling melepas rindu.” Sang Pilot bersama Paula ikut tertawa.


“Iya juga sih, kan lumayan lama tidak melakukan *****..tititit.” Paula membuat gerakan tangan yang artinya berciuman.


“Hahaha….” Paula dan Pilot tertawa bersamaan.


“Hei, tutup telinga dan mulut kalian! Jangan bicara sembarangan!” Glen membuka penutup tirai dan memarahi kedua orang yang ada di depan itu, mereka berdua pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Glen dengan memasang headset ke telinganya masing-masing, kemudian Glen menutup kembali tirai.

__ADS_1


“Hahaha…” Leoni dan Glen tertawa, mereka merasa aneh dengan apa yang baru saja mereka berdua lakukan.


“Maaf aku tidak sengaja.” Glen menunjuk ke arah sesuatu yang tadi tanpa sengaja dia sentuh dari Leoni dan Leoni pun hanya menanggapinya dengan tersenyum.


“Aku sangat merindukanmu Ny.” Glen menarik wajah Leoni mendekat padanya kemudian melakukan kembali aksi yang sempat terganggu tadi, dia kembali menautkan bibir mungil milik Leoni dengan bibirnya. “Sungguh aku sangat bahagiah hari ini.” Kata Glen setelah tautan mereka terlepas. “Semoga tidak ada lagi yang dapat memisahkan kita berdua Ny.” Kata Glen penuh harap. “Sungguh hancur hidupku tanpamu Ny, asal kamu tahu, sejak kejadian tiga bulan yang lalu saat aku mengusirmu pergi, hidupku rasanya sudah mati, tak ada lagi tujuanku untuk hidup. Sakit sekali rasanya. Memang terlalu bodohnya aku yang tidak menyelidiki kejadian itu, malah hanya percaya pada penglihatanku yang tidak jelas itu. Akal pikiranku tidak dapat bekerja dengan baik saat itu.” Glen merutuki kebodohannya waktu itu.


“Jangan bahas masalah itu lagi, itu semua sudah berlalu. Sekarang waktunya untuk kita memulai semua dengan yang baru.” Leoni bersandar pada dada bidang nan kokoh milik Glen.


“Iya, aku tidak akan membahas masalah itu lagi, sungguh rasanya aku seperti hidup kembali. Sekali lagi aku mohon maafkan segala kesalahan dan kekhilafanku! Aku masih belum bisa berhenti meminta maaf darimu.” Kata Glen menyesali semua yang telah dilakukannya pada masa lalu. “Aku juga harus meminta maaf secara langsung pada kedua orang tuamu.” Lanjut Glen.


“Mereka pasti akan memaafkanmu.” Kata Leoni singkat, tanpa sadar Leoni mengecup pipi Glen dengan sangat dalam, hal itu membuat Glen menuntut lebih dari itu. Dalam satu kali helaan nafas Glen kembali menautkan bibir mereka dengan mesrah.


Apa yang mereka lakukan kali ini sungguh menyiksa Glen, dia menyadari ada sesuatu pada bagian tubuhnya yang mulai menegang dan menuntut untuk menemukan dimana sangkarnya.


“Ah… sial, apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak mungkin aku melakukannya di sini sekarang kan?” Kata Glen dalam hati.


“Tuan, ayo turun!” Kata Paula mengetuk pintu dari luar, Leoni dan Glen tidak menyadari kalau helikopter yang mereka tumpangi telah mendarat di halaman vila milik Glen.


“Hhhheeemmm… aku harus menuntaskan ini sendiri di dalam kamar mandi.” Glen membuka pintu. “Ny, aku kebelet, aku duluan yah!” Glen berbohong pada Leoni, dia buru-buru turun dari helikopter dan berlari masuk ke dalam vila

__ADS_1


__ADS_2