
Kekesalan Paula dan Romi mendengar perkataan MC bagi mereka berdua membuat terciptanya kembali pertengkaran diantara mereka saat itu. Dihadapan para tamu undangan yang mengahadiri pesta Glen dan Leoni, mereka berdua bertengkar tanpa ada rasa malu sedikitpun, keduanya beradu pernyataannya masing-masing seperti kucing dan anjing yang sedang berkelahi memperebutkan makanan. Glen lagi-lagi harus turun tangan untuk melerai perkelahian mereka berdua yang sudah dimulai sejak pagi sampai malam, Glen memberikan hukuman bagi mereka berdua malam itu untuk membereskan rumah setelah pesta selesai, mereka harus mengerjakannya sampai tuntas sebelum matahari terbit besok paginya.
Setelah menyelesaikan hukumannya, Paula dan Romi menghampiri Glen dan Leoni yang masih berbincang dengan beberapa keluarga mereka yang belum pulang. “Tuan, sebaiknya tuan dan mba Leoni ganti pakaian dulu deh, kasihan tuh rempong banget sama gaun malamnya, lebih baik di ganti dengan yang agak santai aja!” Saran Paula pada Glen karena melihat Leoni yang sudah tidak nyaman dengan gaun pengantin untuk acara malam yang sedang dia pakai.
Leoni menghela nafas panjang mendengarkan perkataan Paula barusan, benar badannya serasa pegal dan tidak nyaman lagi karena sejak pagi gonta-ganti gaun pengantin yang berat-berat dan membuat badannya tidak nyaman ditambah lagi tubuhnya sudah terlalu capek seharian kebanyakan berdiri menyalami para tamu undangan. Diapun pingin pamit untuk istirahat tapi tidak mungkin meninggalkan para tamunya. Pandangan Leoni pun perlahan tertuju pada wajah Glen yang terlihat tengah menatapnya. “Glen, ka-amu mau ganti pakaianmu?” Tanya Leoni gugup melihat tatapan Glen yang sangat intens padanya.
“Bener Glen, sebaiknya kamu antar Leoni ke kamar dulu supaya bisa berganti pakaian yang agak santai dan mungkin bisa sedikit beristirahat. Kelihatanya Leoni sudah capek tuh!” Kata Anita yang saat itu sedang mengatur makanan di dekat mereka dan mendengarkan pembicaraan saat itu.
Glen menganggukkan kepalanya. “Jika kamu sudah tidak nyaman dengan pakaianmu, mari aku antar ke kamar supaya bisa berganti pakaian yang nyaman. Yuk!” Ajak Glen.
Leoni pun hanya bisa mengaggukkan kepalanya menerima ajakan Glen. Glen membantu Leoni berjalan menuju kamar dengan menarik-narik rok gaunnya yang lumayan panjang itu.
“Silahkan, itu baju gantimu!” setelah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya, Glen menunjukkan sepasang baju yang nyaman untuk digunakan.
“A-aaku ganti pakaian dulu.” Leoni nampak canggung, dia mengambil baju yang ditunjuk oleh Glen tadi dan hendak menuju ke kamar mandi untuk menggantinya.
“Silahkan!” Glen mengiyakan.
__ADS_1
Hampir tiga puluh menit Leoni di dalam kamar mandi dan tidak ada tanda-tanda untuk keluar. Glen pun menjadi gelisah menunggu Leoni di dalam kamar. Dia berpikiran bahwa jangan sampai telah terjadi sesuatu pada istrinya itu yang membuat dia tidak keluar-keluar.
“Tok… tok… tok…” Glen mengetuk pintu kamar mandi sambil memanggil nama Leoni.
Leoni menghirup sebanyak-banyaknya pasokan oksigennya yang terasa berkurang kemudian dengan malu-malu Leoni membuka pintu kamar mandi.
“Loh kok belum ganti bajunya?” Glen kaget melihat penampakan dihadapannya, Leoni yang sudah hampir setengah jam berada di dalam kamar mandi keluar masih dengan kondisi yang sama saat dia masuk tadi.
Glen memperhatikan setiap inci pada tubuh Leoni saat itu, dia sadar kalau ternyata baju yang dipakai Leoni kali ini sulit untuk dibuka karena bagian belakangnya ada banyak sekali pengait yang tidak dapat digapai oleh tangannya sendiri sehingga harus membutuhkan bantuan dari orang lain untuk membukanya, namun Glen menunggu permintaan dari istrinya untuk dia dapat melakukannya. Dia takut istrinya tidak akan nyaman jika dia mengambil langkah mendahului Leoni untuk membukakan baju yang dipakai istrinya itu.
“A—aaa—aku.” Leoni sungguh gugup dan tergagap entah kata apa yang akan dia keluarkan dari bibir mungilnya itu. Dia tidak biasa dibantu oleh seorang pria untuk membuka bajunya.
“Aku tidak bisa membukanya sendiri.” Jawab Leoni. “Bisakah panggilkan Paula?’ Tanya Leoni takut.
Glen merasa bingung apakah dia akan pergi memanggil Paula atau dia menawarkan diri sendiri untuk membantu Leoni.
“Aku telpon Paula.” Jawab Glen setelah menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan. “Tidak aktif.” Glen mengangkat Hp-nya ke arah Leoni setelah melakukan panggilan pada Paula. “Aku cari diluar.” Kata Glen setelah melihat wajah istrinya itu dan meyakini kalau istrinya merasa tidak nyaman jika tidak dibantu oleh Paula.
__ADS_1
“Tidak usa!” Leoni menahan tangan Glen, diapun menoleh ke wajah istrinya sambil mengkerutkan kening menuntut penjelasan. “Kamu bisa bantu aku?” Tanya Leoni setelah mempertimbangkan apa yang harus dia lakukan. “Mungkin Paula sedang membantu mama di belakang.” Pernyataan Leoni yang logis sebagai pembelaan dirinya.
“Oh yaaa.” Glen juga bingung apa yang harus dia lakukan. “Kalau gitu ayo berbalik belakang!” Glen gugup namun terpaksa diapun harus melakukannya walaupun dia tidak tahu apa saja yang harus dia lakukan. Sebelumnya dia melepaskan tuksedo yang melekat pada tubuhnya sampai hanya tersisa baju tanktop yang membuatnya nyaman bergerak kemudian dia perlahan membalikan tubuh Leoni dan mulai melepas perlahan-lahan setiap lapisan baju yang dipakai Leoni sampai pada lapisan yang terakhir.
Leoni diam saja ditempat sampai Glen berhasil membantunya melepaskan gaun malamnya itu, walaupun rasa gugup bercampur rasa takut dan malu pada suaminya karena ini pertama kali baginya merasakan bantuan orang lain apa lagi laki-laki hanya untuk sekedar berganti pakaian saja. Namun dia tetap harus membiasakan diri dari sekarang untuk merasakan keberadaan Glen disekitarnya sehingga dia berusaha bersikap tenang dan menghilangkan kecanggungannya.
Sementara Glen yang sedang membantu Leoni melepaskan gaunnya pun merasakan hal yang sama, gugup bercampur takut karena ini pertama kalinya dia melakukan hal ini pada istrinya. Dulu sewaktu belum bertemu dengan Leoni ada banyak wanita yang berusaha menggodanya dengan melepaskan pakaian mereka di hadapannya namun tidak pernah dia sentuh dan saat itupun dia tidak pernah merasa gugup apalagi takut. Tapi kali ini berbeda, dia yang melucuti setiap helai benang di tubuh istrinya bahkan sudah sah untuk dinikmati namun rasa gugup dan takut hinggap pada diri seorang Glen.
“Aaaawww…” Teriak Glen saat melihat semua yang melekat pada tubuh Leoni telah terlepas dengan sempurna.
“Aaaawwww…” Leoni menyadari semua pakaiannya telah terlepas, secara spontan dia menutupi kedua gunung kembar empuknya.
“Ssssstttt!” Glen menaru jari telunjuknya ke bibir Leoni pertanda menyuruhnya diam. Mereka berdua menyadari kesalahan saat itu yang bisa saja mengundang perhatian orang.
Sejenak setelah mereka berdua kembali hening, wajah Leoni tertunduk malu dan perhatian Glen kembali tertuju pada pemandangan dihadapannya saat itu, pemandangan tersebut tentunya membuat tubuh Glen terasa panas dan menegang. Rasanya pingin segera Glen melahap istrinya itu.
***
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukungannya untuk Glen dan Leoni dengan cara like, komen, vote dan giftnya, semakin banyak dukungannya semakin semangat author melanjutkan ceritanya.