
“Iya, pasti Glen akan sangat senang mendengarnya.” Jawab mama Dona.
“Tapi kok Glen tidak pulang-pulang sih ma? Apa mama tahu sesuatu? Katanya kemarin mau pulang, tapi kok tidak sampai-sampai sih?” Kata Leoni sedikit sinis.
Deeeggg… Mama Dona menjadi bingung menjawab pertanyaan Leoni berusan, tidak mungkin dia menjawabnya sekarang, sepertniya persiapan kata-katanya tadi sejenak dia lupa dan tidak tahu apa yang harus dia katakan pada sang menantu. “Kita temui papa dulu, yuk!” Mama Dona menghalihkan pembicaraan lagi, namun nampak mama Dona sangat gugup saat ini.
“Ma, ada apa sih? rasanya sejak tadi mama aneh banget dan sangat mencurigakan deh, mama selalu saja menghindar kalau di tanya?” Leoni terus melangkah mengikuti mama Dona menuju ke ruang tamu. “Ma, jawab!” teriak Leoni yang merasa frustasi dengan tingkah sang mertua, sedangkan mama Dona terus melangkah dengan bening air mata yang menetes di pipinya namun dia berusaha untuk menutupinya dari Leoni.
“Leoni, kenapa teriak seperti itu? Tidak sopan loh pada orang tua.” Mama Serly menghampiri Leoni yang sudah berada di dekat mereka.
Leoni duduk di samping papa Albert yang nampak terlihat sangat tenang saat itu. “Pa.” Sapa Leoni pada papa Albert setelah dia duduk.
“Gimana kabarmu?” Tanya papa Alber basa-basi.
“Aku baik pa. papa?” Jawab Leoni yang kemudian berbalik bertanya. “Ada apa papa dan mama datang ke sini tanpa memberi tahu terlebih dahulu?” Leoni berusaha tenang walaupun dia sudah punya firasat tidak enak dengan maksud kedatangan kedua mertuanya itu. “Sebenarnya ada apa sih pa?” Tanya Leoni lagi karena tidak mendapat jawaban, papa Albert dan mama Dona bertatapan saling memberi kode yang bisa diartikan mereka saling menunjuk siapa yang akan bicara terlebih dahulu. “Kenapa diam saja? apa terjadi sesuatu pada Glen? Ma, pa, jawab aku dong!” Leoni menatap kedua mertuanya itu secara bergantian.
“Papa minta kamu tenang dulu yah! Papa akan bicara, tapi kamu harus janji untuk tenang dan jangan buat yang aneh-aneh, ingat anak di dalam kandunganmu, apalagi usia kandunganmu masih sangat kecil.” Papa Albert memulai pembicaraan.
“Iya pa, aku akan berusaha untuk tenang.” Jawab Leoni dengan lemah, dia tahu pasti telah terjadi sesuatu pada Glen sehingga mereka seperti itu.
“Glen mengalami kecelakan.” Kata papa Albert pelan mengimbangi Leoni.
Mama Dona yang ada di samping Leoni pun langsung memegang tangan menantunya itu dengan erat untuk menenangkannya.
“Apa? Glen kecelakaan? Kecelakaan pesawat?” Leoni histeris.
__ADS_1
“Leoni tenang dulu, dengar papa bicara sampai selesai, yah?” Bujuk mama Dona.
“Leoni, jangan menangis seperti itu, ingat anakmu!” Mama Serly pun berdiri dan mendekat pada Leoni dan besannya yang saat itu sudah saling memeluk.
“Glen sekarang ada di rumah sakit.” Lanjut papa Albert memecah tangisan ketiga wanita berbeda usia itu.
“Apa?” Tanya Leoni. “Kenapa bisa berada di rumah sakit?” Tanya Leoni, dia berbalik menghadap papa Albert dan menuntut pejelasan dari papa Glen itu.
“Dia bukan kecelakaan pesawat.” Jawab papa Albert.
“Lalu? Kenapa dia ada di rumah sakit?” suara Leoni mulai bersahabat.
“Kemarin seharusnya selesai pertemuan dengan rekan bisnisnya, dia akan segera kembali ke sini, namun di hadapannya ada kebakaran dan secara spontan dia menolong orang yang sedang mengalami musibah itu, apa lagi ada anak bayi yang terkurung dalam kobaran api.” Jelas papa Albert.
“Heeemmm…” Nampak Leoni menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara kasar diuadara, pemikirannya sangat kacau, dia menduga-duga apa yang sedang terjadi pada suaminya sambil menunggu kelanjutan penjelasan dari papa Albert.
Leoni jadi kehilangan akal mendengarkan penjelasan dari papa Albert, tubuhnya terjatuh lemas dan tidak sadarkan diri. Merekapun segera membawah Leoni ke rumah sakit yang sama dengan Glen di rawat agar dia juga mendapat tindakan medis.
“Aku di mana?” Tanya Leoni setelah sadarkan diri.
“Kamu di rumah sakit. Tadi pingsan di rumah, jadi kami mambawahmu ke sini.” Jawab Mama Serli yang saat itu menjaganya di ruang perawatan.
“Ny, gimana keadaanmu?” Tanya mama Dona yang baru saja masuk ke dalam ruangan Leoni.
“Aku baik. Mama dari mana? Mana Glen?” Tanya Leoni.
__ADS_1
“Glen ada di dalam ruangan perawatannya.” Jawab Mama Dona.
“Aku mau melihatnya ma.” Leoni berusaha bagnun dari tempat tidurnya.
“Iya kamu boleh melihatnya, ayo mama antar ke ruangannya.” Mama Dona dan mama Serly memegang ke dua tangan Leoni karena takut dia terjatuh, mereka menuntunya menuju ke ruangan di mana Glen sedang dirawat.
“Glen belum sadarkan diri, dia masih dalam tahap observasi dan menunggu tindakan medis apa yang akan dilakukan oleh para dokter.” Jelas mama Dona. Mereka melihat Glen dari sekat kaca yang membatasi mereka dengan ruangan dimana Glen berada.
“Bisakah aku masuk ke dalam?” Tanya Leoni menunjuk ke arah di mana Glen dirawat.
“Bisa.” Jawab mama Dona singkat.
Leoni langsung menuju ke dalam ruangan, dibukanya pintu ruangan tersebut.
“Paulo?” Leoni kaget melihat keberadaan asisten suaminya yang setia berjaga di samping pintu.
“Mba?” Paulo kaget melihat kedatangan Leoni.
“Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Glen bisa terbaring seperti ini?” Tanya Leoni.
“Maafkan aku mba, aku tidak berhasil menahan tuan. Kemarin aku mengejarnya, tapi semangat tuan untuk menyelamatkan nyawa orang yang terkurung dalam kobaran api membuat dia secepat kilat menerobos masuk ke dalam kobaran api sampai petugas yang sudah ada di lokasipun tidak dapat menahan tuan. Saat aku mau menyusul masuk menerobos untuk mencari tuan, aku dihadang oleh petugas sehingga aku tidak bisa masuk, aku hanya bisa menunggu tuan keluar.” Jelas Paulo. “Waktu keluar dari kobaran api, tuan berhasil menyelamatkan anak bayi yang terkurung dalam kobaran api itu, namun seketika itu juga tuan langsung pingsan dan sampai sekarang tidak sadarkan diri.” Tambah Paulo.
Leoni meneteskan air mata dan tak mampu menahan berat badannya sehingga dia tersungkur di hadapan Paulu, dengan gerakan cepat Paulo langsung memapahnya dan membantu Leoni duduk di sofa yang telah disiapkan di dalam ruangan itu.
“Kenapa kamu tidak memberi tahu aku?” Tanya Leoni.
__ADS_1
“Maaf mba, sejujurnya aku takut mba down makanya aku tidak memberi tahu mba. Maaf.” Kata Paulo dengan sedih.