KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Tidak Ikut Campur


__ADS_3

“Glen…” Leoni tiba-tiba berdiri mengejar Glen, dia terjatuh tepat di bawah kaki Glen, dia pun memeluk kaki Glen erat-erat. “Kamu kenapa? Apa salah ku? Kenapa kamu tiba-tiba marah seperti ini?” Leoni menangis terisak.


“Lepaskan tanganmu dari kakiku!” Kata Glen pelan.


“Leoni.” Mama Leoni berdiri menyusul anaknya. “Bangun Leoni, kamu tidak boleh seperti ini!” Mama Leoni ikut mengangis melihat anaknya seperti ini. “Ayo lepaskan Glen! Kita bicarakan baik-baik.” Bujuk mama Leoni.


“Ma ada apa sebenarnya?” Tanya papa Glen pada istrinya.


“Biar anak-anak selesaikan masalah mereka sendiri pa, kita jangan ikut campur.” Jawab mama Glen.


“Lepaskan!” Glen berkata agak kasar pada Leoni dengan menatapnya sinis.


“Akan aku lepaskan, tapi sebelumnya kamu harus beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi!” kata Leoni.


“Beri tahu kamu? Bukannya kamu lebih tahu apa yang terjadi padamu?” Glen memaksa Leoni melepaskan kakinya, bayangan peristiwa yang dia lihat semalam membuat amaranya semakin memuncak, dia merasa jijik di sentuh oleh Leoni.


“Maksud kamu apa? Glen!” Leoni berusaha bangun dan mau kembali mengejar Glen.


“Sudahlah Leoni. Ayo kita bicara dengan orang tua Glen terelbih dahulu. Mungkin mereka tahu apa yang terjadi pada Glen.” Bujuk mama Leoni.


Akhirnya Leoni bangun dan kembali duduk diapit oleh papa dan mamanya.


“Leoni jelaskan ke papa apa yang terjadi!” kata Papa Leoni tanpa ekspersi apapun.


“Aku tidak tahu pa, semalam masih baik-baik saja. Kami sempat telponan sebelum aku pergi ke kegiatan sekolah dan saat itu baik-baik saja.” Jelas Leoni.


“Tidak mungkin Glen seperti itu kalau tidak ada yang terjadi.” Kata papa Glen.


“Aku juga tidak tahu.” Bisik Leoni yang masih terisak. “Ma.” Leoni mengharapkan bantuan mama Glen yang dia tahu sangat dekat dengan anaknya.


“Sebetulnya mama sangat kecewa dengan mu.” Mama Glen mengerti maksud Leoni. “Mama tidak bisa buat apa-apa. Kalian berdua selesaikan masalahnya. Mama sudah janji dengan Glen untuk tidak ikut campur.” Jelas mama Glen.

__ADS_1


Leoni menarik nafas dalam-dalam tanda kecewa mendengar perkataan mama Glen yang tidak mau membantunya dalam menyelesaikan masalah yang dia sendiripun tidak tahu apa yang telah terjadi dan membuat Glen marah.


Terlintas dalam pikiran Leoni semua peristiwa yang terjadi sepanjang malam, sepertinya tidak ada yang aneh dan tidak ada hal-hal yang bisa memicu Glen untuk semarah itu. Dia sangat bingung dengan perlakuan Glen yang tiba-tiba seperti ini.


“Permisi.” Supir masuk ke dalam ruangan tempat mereka berkumpul saat ini.


“Iya ada apa?” Tanya papa Glen.


“Maaf, tuan Glen menyuruh saya untuk mengantar mba Leoni dan keluarganya ke bandara sekarang juga. Katanya mau kembali ke Manado.” Kata Supir dengan polos.


“Apa?” Leoni kaget mendengar perkataan supir.


“Tunggu di luar saja.” Kata Papa Glen yang juga ikut bingung namun masih sedikit berpikir, Glen benar-benar mau membatalkan acara yang sudah mereka rencanakan, dan mungkin juga dia tidak akan menikahi Leoni.


“Baik.” Supir undur diri dan menunggu di depan mobil. “Ada apa sebenarnya? Semalam baru saja datang, sekarang mau kembali ke Manado?! Keluarga ini sungguh aneh.” Kata supir yang juga ikutan bingung.


“Leoni apa benar kamu tidak tahu penyebab Glen seperti ini?” Tanya papa Glen.


“Aku tidak tahu.” Jawab Leoni polos.


“Pa, tunggu.” Mama Glen juga ikut dengan papa.  “Sepertinya kita tidak bisa membujuk Glen saat ini pa, dia sudah bulat dengan keputusannya.” Bisik Mama Glen.


“Ada apa sebenarnya?” Tanya papa Glen berbisik.


“Maaf pa, mama sudah berjanji pada Glen untuk tidak menceritakannya pada siapapun, termasuk papa.” Bisik mama lagi.


“Tapi ini masalah serius ma, kenapa tidak bisa? Bagaimana kita menyelesaikannya? Papa malu dengan keluarganya Leoni ma, kita ajak mereka ke sini untuk acara tunangan kedua anak kita, tapi apa? Malah mereka datang dengan sia-sia.” Jelas papa.


“Papa tidak perlu malu. Sebaliknya mereka yang harus malu punya anak seperti itu.” Tambah mama lagi.


“Kenapa bisa begitu?” tanya papa Glen semakin penasaran.

__ADS_1


“Tunggu Glen yang bicara sendiri pa. Mama yakin sebentar lagi dia akan omong dengan papa.” Kata mama Glen lagi.


Setelah diskusi singkat diantara mama dan papa Glen, mereka berusaha mengajak Glen bicara namun sayangnya Glen tidak bicara sama sekali tentang masalahnya, malah dia hanya meminta papa dan mamanya untuk segera mengantar keluarga Leoni ke bandara, dia tidak mau melihat Leoni lagi. Papa dan mama nya tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena mereka tahu dan sangat mengenal anaknya itu. Apa yang sudah menjadi keputusannya, tidak ada satu orangpun yang bisa mengubahnya.


“Leoni, maaf Glen tidak mau bicara.” Kata papa Glen sedih ketika kembali ke ruang tamu di mana keluarga Leoni berada. “Maafkan papa Leoni.” Papa Glen penuh penyesalan, dia sangat kecewa dengan apa yang sedang terjadi saat ini namun dia juga tidak dapat berbuat apa-apa. “Maaf juga, bukannya mengusir kalian, tapi sebaiknya papa mengantar kalian ke bandara sekarang sebelum emosi Glen semakin membarah.” Papa Glen ikut meneteskan air mata.


“Tapi pa, apa salah Leoni?” Leoni menangis sejadi-jadinya.


Dari dalam kamar Glen mendengar teriakan histeris Leoni, “Aku sangat menyayangimu Ny, sejak dulu. Namun kenapa kamu tega menduakan aku?” Glen pun menangis. “Aku tidak akan pernah menikahi wanita yang telah ternoda seperti dirimu.” Glen pun semakin bersedih.


“Leoni sudahlah, ayo kita pergi dari sini!” Papa Leoni menariknya dengan sekuat tenaga dan dibantu dengan adiknya.


“Tunggu pembalasanku Glen, tega sekali kamu memperlakukan kakakku seperti in.” Kevin dalam hati pun menyimpan dendam pada Glen atas perlakuannya hari ini yang tidak menjelaskan sedikitpu apa yang terjadi dan malah mengusir mereka. “Ayo Ny!” Bisik Kevin ke telinga Leoni yang tengah menangis.


“Ayo!” Ajak mama Leoni sesaat mereka sampai di bandara dan hendak masuk ke dalam pesawat.


“Aku masih punya tanggung jawab pekerjaan ma, tiga bulan depan aku akan pulang.” Kata Leoni yang masih sesegukan.


“Lebih baik kamu pulang dan cari pekerjaan lain di Manado, daripada di sini. Kapan saja pasti dia akan mengusirmu dari pekerjaanmu.” Kata Kevin emosi.


“Kalau aku dipecat, aku akan pulang sendiri menyusul kalian.” Jelas Leoni yang masih mengingat tanggung jawabnya di sekolah, memang sekolah itu milik Glen namun dibalik itu dia masih memikirkan nasib anak-anak.


“Terus kamu akan tinggal di mana?” tanya mama khawatir pada anaknya.


“Mama tenang saja. Aku akan cari tempat tinggal yang nyaman.” Leoni menenangkan orang tuanya.


“Ya sudah, papa dan mama percaya padamu, kamu pasti bisa. Dan ingat, kalau terjadi apa-apa di sini kamu harus segera pulang.” Pesan papa Leoni. “Dan ini ada sedikit tabungan papa yang bisa kamu simpan, sewaktu-waktu bisa kamu gunakan, apalagi di saat genting.” Papa menyerahkan kartu atm ke tangan Leoni.


“Papa tidak perlu repot seperti ini, papa tidak perlu khawatir seperti itu, aku sudah dewasa, aku pasti bisa.” Jelas Leoni hendak mengembalikan kartu itu ke tangan papa.


“Kamu simpan saja, kalau memang kamu tidak menggunakannya, nanti kamu kembalikan ke papa saat kamu kembali.” Potong mama Leoni.

__ADS_1


“Benar Ny.” Kevin pun membenarkan.


“Baiklah.” Leoni memasukkan kartu yang diberikan papanya ke dalam tas. “Hati-hati yah! Sampai dirumah hubungi aku. Itu sudah di panggil pramugari.” Pesan Leoni saat pramugari memberi kode agar para penupang segera naik ke dalam pesawat.


__ADS_2