
Setelah keduanya sudah saling mengungkapkan kata maaf, keduanyapun saling memaafkan atas semua kejadian menyakitkan yang pernah terjadi. Sekali lagi mereka berpelukan sebagai tanda perdamaian diantara mereka. Setelah drama-drama menangis berakhir, Luna dan Linda pulang untuk melanjutkan pekerjaan mereka di rumahnya Linda, mereka mau merintis kembali usaha dan pekerjaan mereka dengan mengerjakan beberapa orderan yang sudah dipesan namun terbakar sehingga mereka akan mengerjakannya kembali.
Seluruh keluarga Glen dan Leoni pun kembali melanjutkan aktifitas mereka untuk mempersiapkan acara pernikahan besok. Keluarga Glen kembali kerumahnya walaupun Glen masih tinggal dan menemani Leoni dirumahnya sampai benar-benar Leoni tenang dan persiapannya beres.
“Mba, sebaiknya isitrahat saja dulu, simpan energinya untuk besok. Begitu juga tuan, sebaiknya pulang istirahat. Ingat jangan sampai besok kalian sakit.” Pesan Paula menasihati kedua bos nya itu.
“Tapi masih banyak yang belum beres dan harus diselesaikan.” Bantah Leoni.
“Apanya lagi yang belum beres mba? Semua sudah beres, sisa hal-hal kecil mba tidak usa khawatir, masi ada banyak orang yang mempersiapkannya. Mba tenang saja, aku akan mengawasinya.” Kata Paula lagi.
“Benar Ny, sebaiknya kita istirahat. Apalagi kamu yang sejak tadi sudah mengeluarkan begitu banyak energi menangis.” Glen menuntun Leoni menuju ke ranjangnya dan membantunya berbaring. Leoni menurut saja dengan apa yang dilakukan oleh Glen. “Kamu harus istirahat!” Kata Glen setelah posisi Leoni sudah nyaman berbaring di tempat tidurnya.
“Jangan pergi!” Leoni menarik tangan Glen saat dia akan keluar. “Tetaplah disini denganku sampai aku terlelap.” Pintah Leoni.
“Paula, kamu boleh keluar biar aku yang temani Leoni disini.” Perintah Glen. Paula pun keluar dari kamar Leoni dan Glen menutup pintu kamar tersebut, setelah itu dia bergabung dengan Leoni untuk tidur. “Aku isitrahat di sini saja.” Glen berbaring di samping Leoni, memeluknya dari belakang dengan nyaman.
Besok paginya, semua orang bingung menunggu Leoni dan Glen bangun, seharusnya sudah waktunya Leoni untuk berdandan tapi mereka berdua di dalam kamar masih terlelap. Lagi-lagi Paula dan Romi bertemu di depan pintu kamar Leoni, mereka berdua saling menjulurkan lidah, tanpa sengaja Paula mau melangkah terlebih dahulu untuk mengetok pintu kamar tapi tepat Romi juga melangkah seperti tanpa aba-aba mereka berdua melakukan gerakan yang sama dan akhirnya Romi menginjak kaki Paula yang kecil dan imut itu.
“Aduh… aduh…. Aduh…” Teriak Paula kesakitan. “Heh dasar pria tidak berguna! Kenapa kamu menginjak kakiku? Sengaja yah? Hah?” Paula menarik kerah baju Romi dan hendak memukulinya dengan jurus bela diri yang dia miliki.
Glen dan Leoni mendengar keributan diluar pintu kamar mereka membuat mereka terbangun dan langsung keluar untuk melihat apa yang terjadi. Tepat Leoni membuka pintu kamar nampak terlihat Paula sedang menarik kerah baju Romi dengan gerakan seperti mau berkelahi.
“Eheemm.” Glen berdehem setelah melihat apa yang ada di depan pintunya. “Kalau bermesraan tuh di taman sana, jangan di depan kamar kami.” Sindir Glen.
__ADS_1
“Idih siapa yang bermesraan?” Paula melepaskan kerah Romi yang sejak tadi dia pegang.
“Terus itu ngapain dong?” Tanya Glen dengan nada menyindir. “Romi, kalau mau ciuman dengan Paula janganlah dipamer-pamer di depan kamar kami.” Kata Glen lagi.
“Apa ciuman? Siapa juga yang mau cium dia tuan? Amit-amit tuan, dia bukan level ku.” Romi berkata kasar menunjuk-nunjuk ke arah Paula.
“Apa? Dasar laki-laki tidak berguna! Terus levelmu yang bagaimana? Ohh aku tahu levelmu itu kan yang biasa metik-metik jagung di kebunmu kan? Bukan kayak aku yang kerjaannya di kantoran.” Sindir Paula dan perkataan Paula itu membuat Romi semakin naik darah.
“Apa kerja di kantoran? Kerja dikantoran atau jadi ekornya Nona Ibu? Hahaha…” Romi membalas perkataan Paula.
“Dasar!” Kekesalan Paula bertambah ketika mendengar perkataan Romi barusan, dia hendak memukul Romi.
“Hei ada apa sih kalian ribut-ribut di sini?” Mama Airin datang menghampiri mereka yang sedang beradu argumen dan saling menjelekkan.
“Ini ema, Romi dan Paula bertengkar entah apa penyebabnya, sejak kemarin mereka bertemu selalu saja bertengkar.” Kata Leoni yang sejak tadi diam saja.
Leoni dan Glen yang mendengar nasihat mama Airin pun hanya bisa tersenyum sambil menutup mulut mereka dengan kedua tangannya.
“Sebaiknya kalian baikan dan bantu tuan Glen dan Nona Ibu untuk siap-siap!” Perintah mama Airin.
“Idih siapa yang mau baikan dengan orang seperti itu? Ogah ah.” Kata Paula memalingkan wajahnya tidak mau melihat ke arah Romi.
“Siapa juga yang mau baikan denganmu.” Romi juga melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Glen.
__ADS_1
“Paula!” bentak Glen.
“Romi!” Leoni pun membentak Romi seperti Glen membentak Paula.
“Berbaikan sekarang juga!” Glen dan Leoni berbicara secara bersamaan yang membuat semua mereka tertawa mendengarnya.
“Kalian berdua kompak banget sih?” Kata Paula tersenyum pada Glen dan Leoni. “Mentang-mentang udah mau nikah, jadi kayak kembaran saja, sampai kata-kata juga pada sama.” Lanjut Paula.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, ayo sekarang berbaikan!” Kata Glen dengan serius.
Paula memasang wajah cemberutnya namun tetap mengulurkan tangan ke arah Romi walaupun tanpa mengatakan apa-apa.
“Romi!” Leoni menyenggol Romi dan memberikan isyarat ke arah Paula. “Ayo baikan!” Kata Leoni lagi.
Akhirnya Romi pun mengulurkan tangan ke arah Paula, dia bersalaman dengan Paula namun juga tidak bersuara sedikitpun dan tidak berniat untuk mengucapkan satu kata pun.
“Gitu aja?” Kata Leoni melihat perbuatan mereka berdua. Dia mendorong mereka berdua untuk lebih dekat lagi sampai hampir berpelukan, lagi-lagi Leoni dan Glen tertawa. “Ayo saling mengucapkan kata maaf!” Perintah Leoni.
“Kalau tidak, aku akan mengurung kalian berdua di satu ruangan yang sama sampai kalian saling memaafkan.” Kata Glen.
“Maaf.” Tiba-tiba Romi dan Paula mengatakannya secara bersamaan.
“Ehem… kompak banget nieehh, kayak kembaran saja.” Sindir Leoni dengan senyuman yang merekah mengembalikan kata-kata yang sebelumnya dikatakan oleh Paula.
__ADS_1
“Sudah, sudah!” Kata Glen menengahi. “Sebenarnya tadi tujuan kalian sampai di depan pintu kamar kami untuk apa?” Tanya Glen menyadarkan maksud kedatangan mereka.
“Waduh, tadi mama mba menyuruhku untuk membangunkan tuan dan mba untuk segera siap-siap.” Paula melirik jam yang melingkar ditangan kirinya. “Sudah jam delapan tuan, tuan harus segera pulang untuk siap-siap. Mba juga harus segera mandi karena penata rias sudah ada.” Paula berkata secara tergesah-gesah.