
Acara inagurasi yang direncanakan berjalan dengan sangat lancar, semua orang puas dengan acara yang dilaksanakan dan hasilnya telah diseleksi 10 orang atlit renang yang masih akan di gembleng dalam latihan yang akan di dampingi oleh Leoni.
“Bagus sekali. Aku senang dengan kerja sama kalian semua yang membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Thank’s for all of you!” Kata Pak Lukas sebagai pimpinan pada semua karyawan guru dan staf yayasan yang ada saat itu sebelum acara berakhir. “Anak-anak yang terpilih, sangat diharapkan kerja keras kalian. Nama baik sekolah kita ada di tangan kalian. Mari kita semua memberikan dukungan bagi mereka.” Pak Lukas bertepuk tangan mengakhiri sambutannya malam itu.
Seperti yang sudah direncanakan, Pukul 11.00pm para siswa sudah kembali ke rumahnya masing-masing sedangkan para staf dan guru beserta para siswa atlit dan siswa pemenang giveaway, melanjutkan acara di Hotel Sylvia Kupang. BBQ-an di pinggiran kolam ditemani aneka makanan khas NTT lainnya, ada yang sambil berenang, ada yang Gym, ada yangsibuk bercerita dengan teman-teman, ada juga yang menyempatkan waktu untuk ngobrol dengan pacar. Sungguh acara yang tertata dengan sangat baik.
“Mba, jangan minum beer. Nanti mabuk loh, ingat kejadian waktu itu.” Bisik Paula mengingatkan.
“Iya.” Bisik Leoni. “Makasi sudah mengingatkan.” Tambah Leoni lagi.
“Mari kita bersulang atas keberhasilan acara yang tadi sudah kita selenggarakan.” Tiba-tiba Wiliam mengangkat beer mengajak bersulang.
“Benar. Ayo bersulang, semoga pelatihan berjalan lancar dan kita bisa meraih juara. Bersulan!” Pak Lukas ikut mengangkat gelasnya.
“Bersulang….!” Pak George ikutan mengangkat gelas beer. “Leoni. Bersulang untukmu dan tim, semoga kalian berhasil menjadi pemenang dalam lomba ini.” Lanjut pak George.
“Mba…” Paula menarik tangan Leoni agar tidak meminum beer.
Leoni menatap Paula dalam-dalam. Dia ragu antara mau minum atau tidak, tidak enak juga kalau tidak ikut minum walau hanya seteguk, apalagi namanya disebutkan.
Tatapan mata Paula mengisyaratkan agar Leoni jangan minum. “Mba.” Bisik Paula lagi.
“Ayo habiskan!” Lagi Wiliam mengangkat gelasnya dan diikuti oleh semua.
“Ayo Leoni!” senyum sinis Wiliam ke arah Leoni.
Terpaksa Leoni pun mengikuti yang mereka lakukan, dia menghabiskan beer satu gelas penuh.
“Mba? Apa yang dirasakan?” Paula dengan sigap disamping Leoni. Dia takut terjadi sesuatu pada Leoni, apalagi sedikit lagi Glen dan keluarganya tiba di Kupang.
__ADS_1
“Agak puyeng sih, tapi tidak seperti sebelumnya. Masih bisa ditahan.” Jawab Leoni santai.
“Sebaiknya kita masuk ke kamar saja?” Tanya Paula dengan hati-hati.
“Sedikit lagi, aku tidak enak dengan Pak Lukas dan Pak George. Tunggu mereka masuk dulu baru kita juga masuk.” Jawab Leoni lagi.
“Baik.” Paula kembali duduk dibelakang Leoni.
“Ahhhh… kepalaku sakit sekali.” Bisik Leoni tiba-tiba namun masih bisa terdengar oleh beberapa orang yang ada didekatnya. “Ahhhh….” Leoni berdiri dari tempatnya duduk. “Maaf, aku tidak bisa tahan lagi. Aku masuk dulu.” Paula langsung menangkap tangan Leoni dan menuntunnya menuju ke kamar.
“Maaf, saya bawah mba Leoni ke kamar dulu.” Paula pamitan.
“Melati tolong kamu lihat Leoni dan Paula.” Wiliam memberikan gerakan tangan ke arah Leoni yang tengah berjalan ke arah kamar.
“Baik.” Melati ikut berdiri dari tempat duduk. “Saya permisi.” Melati menyempatkan diri berpamitan.
“Uwuueekk… uuwwwuueeekkk..” Leoni muntah mengeluarkan cairan beer yang tadi masuk ke mulutnya tepat di depan kamar Melati.
“Mba!” Paula menuntun Leoni masuk dan menuju ke wastafel dalam kamar mandi. “Sudah baikan?” Tanya Paula seketika Leoni keluar dari kamar mandi.
“Lumayan sih.” Leoni memegang kepalanya seperti orang yang lagi menahan sakit. “Tapi masih agak puyeng.” Leoni menuju ke tempat tidur. “Aku butuh tidur.” Kata Leoni lagi sambil menarik selimut.
“Mba tidur di sini? Ini kamar saya.” Kata Melati tiba-tiba.
Leoni tidak menghiraukan perkataan Melati, dia langsung membaringkan dirinya di tempat tidur.
“Mba kita pindah yuk! Ini kamarnya bu Melati.” Paula berusaha membangunkan Leoni namun sama sia-sia, Leoni tidak mempedulikan mereka lagi. Dalam beberapa detik saja Leoni sudah mendengkur. “Bu, gimana nih?” Paula agak sungkan dengan Melati, dia takut Melati marah.
Melati bingung mau berkata apa, tidak mungkin dia mengusir Leoni dari kamarnya, bagaimanapun Leoni adalah calon istri bos nya walaupun saat ini posisi mereka sama-sama karyawan.
__ADS_1
“Biar aku dengan mba Leoni di sini. Bu Melati bisa menempati kamar kami.” Paula menyodorkan kunci pintu ke arah Melati. “Bu Melati pilih saja, bisa di kamarku atau kamarnya mba Leoni.” Paula menggoyangkan kunci di tangannya ke arah Melati. “Tidak apa-apa kan bu? Aku takut membangunkan mba Leoni, kasihan juga dia dalam keadaan begini harus dibangunkan, bisa ya bu?.” Lanjut Paula memohon pada Melati.
“Heeemmmm….” Melati nampak berpikir sejenak.
“Buuu.” Paula masih berusaha membujuk Melati agar mau pindah ke kamar yang lain. “Atau aku pesankan kamar yang lain untuk bu Melati kalau tidak mau ke kamar kami?” Tanya Paula.
“Baik. Tidak perlu repot-repot.” Melati mengambil salah satu kunci di tangan Paula. “Aku ambil ini saja.” Melati menunjukkan kunci kamar yang sudah berpindah ke tangannya tanpa melihat nomor kamar mana terlebih dahulu.
“Oke.” Paula langsung berbalik badan mendekat ke ranjang tempat Leoni tidur sedangkan Melati langsung keluar dari kamarnya itu.
“Hufft dasar! Mentang-mentang dia bos jadi seenaknya saja tidur di kamarku.” Melati berontak dalam hatinya. “Ini kamar siapa? Nomor berapa?” Dia melihat nomor kunci kamar yang sudah ada di tangannya.
“145 Presiden sweet?? Ah tidak mungkin.” Melati menggelengkan kepalanya. “Ini kamar Leoni?” Melati melihat kembali kunci yang dia pegang untuk meyakinkan. “Ahh benar. Ya sudah. Sekali-sekali aku nikmatin kamar istimewah dulu lah. Lagian ini bukan salahku juga.” Melati melompat-lompat menuju ke nomor kamar milik Leoni. Sampai di kamar itu, dia langsung membuka bajunya tanpa membersihkan tubuh terlebih dahulu. Kebiasaan buruknya Melati di saat tidur hanya menggunakan bra dan CD saja.
“Empuk banget, semoga mimpi indah.” Kata Melati pada dirinya sendiri sebelum tidur.
***
Disamping kolam, Wiliam bersama beberapa teman staf masih nampak menikmati hard drink yang dipesannya setelah pak Lukas dan pak George pulang.
“Wil… cukup! Kamu sudah mabuk.” Kata Doni salah satu staf yang ada bersama dengannya saat itu.
“Diam kamu!” Dengan kondisi mabuk, Wiliam membentak Doni.
“Wil sebaiknya kamu istirahat!” Doni menarik lengan Wiliam yang hendak meminum hard drink lagi. “Ayo aku antar ke kamarmu!” Ajak Doni lagi.
“Lepaskan! Aku bisa sendiri.” Wiliam melepaskan tangan Doni dengan kasar kemudian menuju ke lift.
“Yah sudah terserah kamu saja.” Doni membiarkan Wiliam menuju kamar sendirian.
__ADS_1
Wiliam bukan menuju ke kamarnya melainkan ke kamar 145 Presiden sweet yang seharusnya adalah kamar Leoni. Karena dia yang mereservasi kamar untuk semua orang jadi petugas resepsionis tidak curiga saat tadi dia meminta kunci serep.
“Selamat malam nona manis.” Bisik Wiliam saat dia melihat orang yang sedang tidur di atas ranjang, dengan buru-buru Wiliam langsung masuk ke dalam kamar tanpa megunci pintu lagi, dia hanya asal mendorong pintu kamar tersebut. Dalam benaknya bahwa orang itu adalah Leoni, dia tidak mengenali orang yang sedang tidur tersebut. “Mari kita bersenang-senang.” Wiliam membuka bajunya dan hanya menyisahkan color, dalam benaknya terbayang-bayang kenikmatan mencicipi tubuh Leoni.