KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Bertengkar part 2


__ADS_3

Dalam perjalanan, Wiliam sempat terpikirkan beberapa hal yang nanti akan terjadi jika ada orang yang menyelidiki atau mengetahui kejadian hari ini. Untuk itu dia langsung menghubungi manager 777 resto and hotel yang tadi dan menyuruh mereka tutup mulut. Tidak lupa juga dia memerintahkan mereka untuk segera menghapus semua rekaman CCTV.


“Mba, sudah sadar?” Paula dengan sigap dan siaga menjaga Leoni di kamarnya.


“Hah?” Leoni bingung dengan pertanyaan Paula. “Kita di rumah?” Tanya Leoni linglung.


“Iya mba, kita sudah di rumah.” Jawab Paula. “Mba minum dulu!” Paula menyodorkan segelas air putih ke arah Leoni. Leoni menerimanya kemudian meminum segelas penuh sampai habis dalam satu kali teguk.


Paula ketakutan melihat tingkah Leoni seperti itu, tidak biasanya dia minum air secepat itu. Kali ini seperti orang yang sedang kehausan seharian penuh tidak minum.


“Mba tidak apa-apa kan?” Paula bertanya dengan hati-hati.


Leoni masih mengumpulkan kesadarannya sehingga belum menjawab pertanyaan Paula, dia masih terlihat seperti orang linglung dan sedang memikirkan sesuatu.


“Kenapa aku ada di sini? Kapan kita pulang?” tanya Leoni berhasil mengumpulkan kesadarannya. “Bukannya tadi kita lagi makan dengan Melati dan Wiliam?” tanya Leoni lagi.


“Aku yang membawah mba pulang.” Jawab Paula singkat.


“Caranya? Kok aku tidak tahu?” tanya Leoni lagi.


Paula menjelaskan dengan hati-hati kepada Leoni kenapa dan bagaimana dia membawahnya pulang. Paula takut Leoni marah karena dia tiba-tiba membopong Leoni dan membawahnya pulang tanpa sepengetahuan Leoni. Namun menurut dia itu adalah yang terbaik yang harus dilakukannya pada calon istri bosnya itu.


“Apa yang terjadi sebenarnya? Bukannya tadi mba ke toilet dengan Melati? Tapi kenapa tiba-tiba sudah tiduran di kamar? Siapa yang reservasi kamarnya? Mba tahu tidak?” Paula balik bertanya pada Leoni. Dibalik pertanyaannya itu, sepertinya Paula tengah mencurigai sesuatu namun tidak dapat dia ungkapkan saat itu.


“Yang aku ingat, benar tadi aku kebelet pipis jadi aku ke toilet dianterin sama Melati. Sampai di toilet aku agak muntah-muntah, sebenarnya aku memang tidak bisa minum beer karena cepat pusing, namun yang aku tahu tadi aku masih sadar waktu ke toilet sih. Terus aku ingat kalau aku memuntahkan semua yang aku makan tadi, Melati yang menemaniku saat itu menuntunku untuk duduk di dekat toilet yang kebetulan ada sofa disitu, dia meminta pelayan untuk membawahkan minyak angin dan segelas air minum. Dia mengoles punggungku dengan minyak angin, menyuruhku mencium minyak tersebut kemudian aku meminum air yang dibawahkan oleh pelayan. Setelah itu aku tidak tahu apa-apa lagi.” Jelas Leoni.


“Mba mohon maaf kalau aku lancang, aku hanya mau menyampaikan pendapatku saja. Apakah bisa?” Tanya Paula dengan hati-hati.


“Apa itu?” Leoni balik tanya namun Paula masih sungkan untuk menyampaikan. “Katakan!” perintah Leoni.


“Aku agak curiga dengan Melati, saat ini dia adalah teman mba, rekan kerja mba, tapi aku curiga, dia yang sengaja membuat mba tidak sadarkan diri, dia yang membawah mba ke kamar. Tapi aku tidak tahu apa motif dibalik perlakuannya itu kepada mba.” Terang Paula.

__ADS_1


“Kamu jangan ngomong sembarangan!” bentak Leoni.


“Maaf mba, itu hanya sekedar pemikiranku saja. Aku tidak punya maksud apa-apa.” Paula merasa bersalah telah menyampaikan maksud pemikirannya.


“Sekali lagi, kamu jangan ngomong sembarangan!” Leoni marah.


“Mba maaf!” Paula ketakutan. “Sekali lagi aku tidak bermaksud untuk membuat mba dan bu Melati bertengkar. Selama yang aku kenal dia orangnya baik, tapi aku bingung saja kenapa bisa terjadi seperti kejadian tadi.” Lanjut Paula.


“Baik.” Kata Leoni setelah berpikir sejenak. Memang dia tidak mau berpikiran negatif terhadap Melati, namun karena kejadian tadi sebaiknya harus hati-hati dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Kamu selidiki!” perintah Leoni.


“Siap mba. Aku akan segera menyelidiki.” Paula menerima perintah dari Leoni.


***


“Mel.” Panggil mama nya saat Melati masuk ke dalam rumah. “Kamu kenapa?” mama mengejar Melati yang tengah berlari menuju kamarnya. “Mel ada apa? Buka pintunya dong!” mama Melati belum menyerah.


“Jangan ganggu aku ma!” Teriak Melati dari dalam kamar. “Aku tidak apa-apa ma. Mama tolong jangan ganggu aku!” teriak Melati lagi.


“Iya ma. Sekarang mama pergi dari situ, jangan ganggu aku dulu!” teriak Melati lagi.


Malam itu Melati menangis sepanjang malam. Dia merasah bersalah pada Leoni atas apa yang telah dia lakukan, namun di balik itu dia mau menyenangkan Wiliam pria yang dia cintai sejak pertama bekerja bersama di yayasan Gonzaga.


“Apa maksud Wiliam melakukan itu pada Leoni?” Melati menangis mengingat perbuatannya pada Leoni atas perintah Wiliam.


***


Setelah perbincangan Leoni dan Paula malam itu, Leoni menyuruh Paula untuk kembali ke kamarnya kebetulan dia melihat HP nya yang tengah berdering karena panggilan video dari Glen.


“Halo sayang….” Leoni mengaktivkan panggilan video bersama Glen. “Gimana aktivitasmu hari ini?” tanya Leoni.


Glen menjawab pertanyaan Leoni dengan menceritakan semua yang dia lakukan sepanjang hari.

__ADS_1


“Kalau kamu? Apa saja yang kamu lakukan hari ini?” Glen balik bertanya pada Leoni setelah dia selesai menceritakan semua yang telah dia lakukan.


“Aku…” Leoni bingung mau memulai dari mana, dia takut Glen tahu kejadian hari ini tapi dia juga tidak mau berbohong pada Glen karena dia tahu pasti Glen akan dengan mudah mengetahuinya, walaupun Paula tidak melapor namun pasti banyak suruhan Glen yang dapat memberikan informasi padanya.


“Kamu kenapa? Kok tidak menjawab? Tidak seperti biasanya deh.” Sindir Glen, biasanya Leoni yang dengan antusias akan menceritakan apa saja yang dia lakukan sepanjang hari.


Akhirnya Leoni menceritakan apa saja yang terjadi padanya hari itu tanpa ditutup-tutupi sedikitpun.


“Tadi kenapa saat aku telpon kamu bilang kalau lagi makan sama Paula? Kenapa tidak jujur kalau lagi dengan mereka?” Teriak Glen emosi.


“Maaf!” Leoni penuh penyesalan.


“Oh gitu yah sekarang? Kamu mulai tidak jujur?” Sindir Glen.


“Aku tidak punya maksud seperti itu.” Kata Leoni dengan hati-hati.


“Terus maksudmu apa? Menyembunyikan kalau kamu jalan dengan Wiliam? aku sudah melarangmu untuk dekat-dekat dengan dia. Sekarang? Malah sembunyi-sembunyi pergi.” Teriak Glen dengan emosi yang sudah memuncak. “Prrrraaanngggg….” Bunyi asbak rokok pecah menjadi pelampiasan Glen.


“Glen, tenang dong! Jangan marah seperti itu!” Pecah tangisan Leoni. Serasa sesak di dada namun tak dapat dia ungkapkan.


“Apa? Jangan marah?” teriak Glen lagi. “Sekarang terserah kamu saja kalau masih mau dengar dan menurut padaku.” Kata Glen pasrah. “Belum menikah saja kamu sudah melawan, bagus.” Sindir Glen lagi.


“Kamu jahat sekali.” Leoni kembali terisak.


“Apa? Aku jahat? Oh sekarang mulai menuduh aku jahat? Hebat banget kamu! Dan kamu sendiri baik gitu? Enak yah habis jalan sama cowok lain, sekarang mulai menuduh aku jahat.” Glen masih emosi. “Silahkan kamu jalan


lagi sama dia! Tapi ingat, jangan cari aku kalau terjadi sesuatu padamu!” bentak Glen lagi.


“Aku minta maaf.” Kata Leoni dengan segenap hati, ia masih dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. “Sekarang terserah kamu kalau masih mau bertengkar denganku, masih mau marah-marah terus, aku mungkin memang salah, jadi pantas dimarahi.” Lanjut Leoni. “Tapi apa marahmu itu betah bertahan dibenakmu? Apa dadamu tidak sesak saat marah-marah?” tanya Leoni.


Pertanyaan Leoni membuat Glen melemah, ego nya menurun dan sedikit dia mulai tenang. “Heemmm….” Glen menarik napas panjang. “Sudahlah! Sebaiknya kamu istirahat sekarang, mungkin kondisimu belum fit, dan ingat besok hari senin, jangan sampai kamu terlambat ke sekolah.” Kata Glen mulai melemah. “Ingat, hari ini terakhir kamu dekat dengan Wiliam! aku tidak mau dengar lagi kamu dekat dengannya entah hanya kalian berdua ataupun ada orang lain.” Peringatan tegas dari Glen. “Kamu dengar kan apa kataku?” Glen menekankan.

__ADS_1


“Iya aku dengar.” Jawab Leoni singkat.


__ADS_2