KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Perusahaan ASing.


__ADS_3

“Tok…. Tok…. Tok….” Paulo mengetuk pintu kamar Glen. “Tuan buka pintunya!” teriak Paulo dari luar.


“Aduh ada apa lagi sih itu orang?” Glen masih kesal pada Paulo yang sejak semalam berusaha untuk masuk ke dalam kamarnya dan mengganggu jam istirahatnya. “


“Tuan, ayo sarapan!” Teriak Paulo lagi.


“Apa sarapan? Yang benar saja tuh orang.” Glen kesal, dia merasa bahwa tidurnya baru sekejap kok sudah di suruh sarapan. “Ahh? Jam delapan?” Glen melirik jam yang terpajang di tembok kamarnya.


“Tuan!” Teriak Paulo lagi.


Dengan rasa kesal, Glen memastikan jam melalui smartphone nya kemudian membukakan pintu untuk asistennya yang sedari tadi meneriakinya dari luar. “Kenapa kamu tidak membangunkanku dari tadi?” Kata Glen dengan nada datar.


“Saya sudah teriak-teriak dari tadi di depan pintu kamar tapi tuan tidak mendengarkan dan bahkan mungkin masi di alam mimpi.” Kata Paulo ceplas ceplos sambil meletakan nampan berisi sarapan untuk presdirnya itu. “Tuan sarapan dulu supaya ada tenaga untuk menyelesaikan masalah di kantor.” Paulo menarik Glen duduk di sofa kamar itu dan menyodorkan sarapan yang dibawahnya tadi.


Lima belas menit Glen menghabiskan sarapan yang dibawahkan oleh Paulo untuknya, setelah itu Glen membersihkan diri di kamar mandi dan bersiap ke kantor.


“Apa ada informasi terbaru?” Tanya Glen yang sudah duduk di sofa kamarnya berhadapan dengan Paulo, sambil dia mengancing kemeja kantornya.


Sesaat kemudian Paulo langsung menyampaikan informasi yang diperolehnya tentang perusahaan asing yang menghalangi bisnis mente perusahaan mereka secara detail tanpa di lebih-lebihkan ataupun dikurang-kurangi.


“Ini buktinya!” Paulo menyerahkan dokumen-dokumen penunjang yang dibutuhkan.


“Bagus.” Kata Glen setelah membaca dokumen yang diserahkan oleh Paulo. “Sekarang kita ke kantor bupati Flores Timur untuk menghadap dan menyelesaikan masalah ini.” Kata Glen setelah berbicara sejenak melalui sambungan telpon dengan seseorang.

__ADS_1


Sepuluh menit mereka tempuh dari hotel tempat mereka tinggal menuju ke kantro bupati, sesampainya di sana mereka sudah di tunggu oleh orang suruhan bupati dan menuntun mereka menuju ke ruangan. Sang bupati sangat berlaku sopan dan menerima mereka dengan sangat baik karena perusahaan milik Glen yang berada di daerah mereka itu merupakan salah satu perusahaan yang memberikan pendapatan bagi daerah mereka dalam jumlah yang sangat besar dan selalu membantu masyarakatnya.


Sesampainya di ruangan bupati, tanpa berbasah basi, sang bupati langsung menanyakan apa maksud kedatangan Glen dan Paulo. Sebelum berbicara, Glen terlebih dahulu memberikan salinan dokumen yang tadi diberikan oleh Paulo padanya, kemudian dia menjelaskan apa yang terjadi pada perusahaannya akibat dari perbuatan perusahaan asing yang tertera pada dokumen-dokumen tersebut.


“Baik, terima kasih tuan Glen. Saya akan segera menindak lanjuti perusahaan tersebut.” Kata bupati setelah meneliti dokumen yang diserahkan dan mendengarkan penjelasan dari Glen. “Kalian tunggu sebentar, saya sudah menyuruh orang untuk memanggil pimpinan perusahaan asing tersebut dan kita selesaikan bersama.” Kata bupati setelah sesaat dia melakukan sambungan telepon.


“Terima kasih.” Kata Paulo menanggapi mewakili Glen yang saat itu nampak sedang memikirkan sesuatu.


“Ah, yah! Bapak bupati, saya tidak bermaksud untuk mengusir mereka dari sini, saya mengerti mereka juga mencari nafkah melalui perusahaan mereka itu, namun paling tidak mereka tidak mempersulit kami dan bersedia bersaing secara sehat, serta tidak mengancam para petani di sini.” Kata Glen secara bijaksana.


Dalam waktu tiga puluh menit mereka menunggu kedatangan pimpinan perusahaan asing tersebut akhirnya sang Bule blasteran India itu muncul dihadapan mereka.


“Ada apa bapak memanggil saya?” Kata Bule India tersebut dalam bahasa Indonesia dengan sangat mahir.


“Perusahaan kalian berada di daerah saya, jika ingin bertahan disini silahkan mengurus perijinannya dan bersaing dengan sehat. Jika perusahaanmu melakukan pelanggaran dan berlaku curang, saya akan segera menghancurkannya dan mengusirmu dari sini.” Kata bupati secara tegas dan bersikap netral serta tidak memihak, dia menuruti apa yang dikatakan oleh Glen tadi. “Satu lagi, kalau kamu mengganggu perusahaan tuan Glen sedikitpun, aku pun akan turun tangan padamu. Aku harap kamu mengerti.” Kata bupati pada sang bule.


“Baik.” Kata Bule itu dengan singkat namun jelas maksudnya.


Setelah menyelesaikan urusan dengan bupati dan bule pemimpin perusahaan asing itu, Glen dan Paulo menuju ke kantor mereka untuk menyelesaikan masalah intern mereka.


“Siapkan penerbangan besok untuk pulang ke Manado.” Perintah Glen pada Paulo sesampainya mereka di hotel.


“Baik.” Kata Paulo. Dia merogoh smartphone dari saku celananya hendak menyiapkan penerbangan. “Tuan ada pesan dari pemimpin perusahaan asing itu, dia mengundang kita untuk makan siang bersama.” Kata Paulo setelah membaca pesan di hp nya.

__ADS_1


“Heeemmmm…” Glen menarik nafas dalam-dalam sambil berpikir, disisi lain tidak mau menghindari undangan dari saingannya itu, di satu sisi dia ingin sekali untuk segera pulang karena terlalu merindukan istrinya yang sudah beberapa hari ditinggalkannya.


“Beri tahu dia untuk bertemu saya di restoran hotel ini besok pagi, dan sampaikan alasan padanya. Setelah itu baru kita pulang.” Jelas Glen.


Paulo pun menuruti perintah bos nya itu. “Sudah, fix tuan.” Kata Paulo setelah mendapat pesan persetujuan dari orang yang dimaksud. “Kalau begitu aku permisi tuan, aku pingin beristirahat.” Kata Paulo.


“Oke.” Kata Glen sambil mengayunkan tangan pertanda menyuruh asistennya itu untuk keluar.


Seperti biasa, setelah Paulo kembali ke kamarnya, Glen akan segera menghubungi istrinya yang kini tengah dia rindukan. Setelah puas bercerita dengan istrinya melalui sambungan telepon baru Glen bisa tidur dengan nyenyak, tak lupa dia memberi tahu istrinya itu jika besok dia dan Paulo akan kembali.


Pagi harinya, seperti yang direncanakan, Glen dan Paulo menikmati sarapan pagi di restoran hotel tempat mereka menginap sambil menunggu kedatangan bule India pemilik perusahaan asing yang sebelumnya menjadi saingan mereka, kini menjalin kerja sama dengannya berkat campur tangan bupati yang bersedia membantu menyelesaikan masalah diantara mereka.


“Terima kasih telah bersedia menghampiri kami di sini, dan mohon maaf karena waktu terbatas karena kami harus segera kembali. Semoga dilain kesempatan kami bisa meluangkan waktu lebih banyak untuk duduk bersama.” Kata Glen dengan sopan.


“Semoga perjalanan kalian menyenangkan ….” Bule itu berkata dengan tulus, walaupun belum selesai mengucapkan kalimatnya karena kedatangan seseorang.


“Tolonggg… tolooonnggg…. Di seberang jalan ada kebakaran, tolong selamatkan, ada bayi belum usia satu tahun yang terkurung dari kobaran api.” Kata seseorang dengan tergesa-gesah datang ke halaman hotel yang tepat ada di hadapan Glen dan bule itu berada.


“Apa?” Glen tergerak hatinya mendengarkan perkataan orang tersebut.


“Ayo kita bantu mereka.” Kata bule itu mengajak Glen dan Paulo.


Glen pun tanpa berpikir panjang langsung berlari ke arah depan dan mengikuti langkah orang yang tadi memberikan informasi itu.

__ADS_1


__ADS_2