KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Sakit hati


__ADS_3

“Benar juga yah, tidak mungkin dia tidak menghubungi mereka.” Lanjut Glen mendukung usul mama tadi. “Baik nanti aku coba menghubungi mereka.” Kata Glen.


“Kamu tahu nomo kontak mereka? Apa bisa kamu telpon mereka sekarang?” kata mama lagi.


“Akan aku coba tanya pada Anita, mungkin Anita tahu nomor kontak keluarganya, atau mungkin juga Anita tahu keberadaan Leoni.” Kata Glen optimis.


Beberapa kali malam itu dia menghubungi Anita namun tidak tersambung alias tidak direspon oleh Anita.


“Gimana?” tanya mama penasaran.


“Tidak direspon ma, sekarang sudah larut. Mungkin dia sibuk dengan suami dan anaknya. Pasti setelah dia lihat Hp, dia akan segera menghubungiku.” Ada sedikit nada kecewa paa ucapan Glen namun masih menaruh harapan.


“Semoga saja.” Kata mama juga agak kecewa. “Sebaiknya kamu istirahat dulu, harus carge kembali energimu agar bisa mencari Leoni. Kalau kamu sakit maka semua akan sia-sia.” Perintah mama.


“Iya ma, aku akan istirahat. Sekarang mama boleh keluar dari kamarku.” Kata Glen lagi.


Dia menuju ke atas tempat tidurnya, sejenak dia mengambil segelas air dan sebutir obat yang dia minum agar bisa mengurangi rasa sakit kepalanya dan dia yakin dengan meminum obat itu dia bisa tidur nyenyak. Jika tidak, maka kepalanya akan pecah dan akan terus otaknya bekerja memikirkan Leoni.


“Terlalu sakit hati ini, semua ini salahku, ahhh boddohh!” Glen memarahi dirinya sendiri.


Dia terus memikirkan Leoni sampai reaksi obat yang di minumnya itu membuat dia mengantuk dan tertidur dengan sendirinya.


Pagi harinya, setelah tersadar dari tidur hal pertama yang Glen lakukan adalah langsung memeriksa Hp berharap ada informasi dari orang-orang suruhannya atau ada panggilan dari Anita. Benar saja dilihatnya tiga panggilan tak terjawab dari Anita. Bergegas dia kembali menghubungi Anita.


“Halo Nit.” Glen semangat menyapa saat telepon tersambung.


“Ada apa kamu menguhubungi istriku? Mau nyebar undangan yah?” Kata Aryz usil menerima panggilan Glen.


“Ryz…” Glen langsung bersedih mengingat perkataan Aryz, benar seharusnya sekarang dia sudah menyebar undangan pernikahannya dengan Leoni.


“Kenapa sih? Apa aku salah ngomong yah? Kok kayaknya kamu lagi tidak baik-baik saja?!” Aryz merasa bersalah.


“Tidak. Kamu tidak salah Ryz.” Jawab Glen.


“Terus kamu kenapa? Sepertiya suaramu tidak seperti biasanya?!” Kata Aryz lagi.

__ADS_1


“Ada apa?” Anita menghampiri suaminya yang sedang melakukan panggilan telepon. “Telpon dari siapa?” Tanya Anita lagi.


“Ini sih Glen, kamu saja yang ngomong. Kayaknya dia lagi ada masalah.” Aryz menyerahkan Hp ke tangan istrinya.


“Halo Glen.” Anita mulai berbicara dengan Glen.


“Nit tolong aku!” Nada bicara Glen semakin serak


“Kamu kenapa? Apa yang bisa aku bantu?” tanya Anita.


“Aku lagi ada sedikit masalah dengan Leoni. Aku butuh bantuan kamu.” Lanjut Glen mulai terbata.


“Masalah apa kamu sama Leoni?” Tanya Anita lagi.


Glen kemudian menceritakan kejadian yang terjadi antara dia dan Leoni secara mendetail.


“Heeemmmm..” Anita menarik napas panjang setelah Glen menyelesaikan ceritanya.


“Nit, aku tahu aku yang salah. Aku harus gimana Nit?” Glen menangis.


“Jadi sekarang kamu tidak tahu Leoni ada di mana?” tanya Anita lagi.


“Kenapa sampai kamu bawah Luna ke sana?” Anita penasaran.


“Heemmm.. Nit itu salahku. Aku terlalu emosi pada Leoni karena telah menduga hal yang tidak-tidak padanya waktu itu dan aku berpikir bahwa dia pasti sudah bersama pria itu saat ini. Namun ternyata kejadian yang aku lihat waktu itu salah, aku keliru. Aku terlanjur membawah Luna untuk membuat dia marah. Memang rencana awal aku mau dia hancur seperti ini, tapi malah aku yang lebih hancur jadinya. Karena aku telah mengetahui kejadian yang sebenarnya, yang membuat aku meninggalkannya waktu itu. Sungguh terlalu kejam diriku waktu itu, aku tidak memberinya kesempatan berbicara waktu itu, sungguh emosiku yang terlalu berlebihan, aku tidak dapat menahan emosiku, aarrrgggghhh akhirnya aku hancur Nit. Hancur.” Jelas Glen dengan menangis.


“Tenangkan dirimu dulu!” Kata Anita. “Apa yang harus aku lakukan untukmu?” Tanya Anita.


“Mungkin akan sangat sulit bagi Leoni untuk memaafkanku apalagi kembali bersamaku, tapi aku tetap ingin mencarinya, aku ingin minta maaf padanya. Itu saja tujuanku.” Lanjut Glen.


“Iya memang sudah seharusnya kamu minta maaf padanya!” Kata Anita.


“Tapi gimana caranya Nit?” Glen merasa pasrah dan tidak dapat berbuat apa-apa. “Apa Leoni pernah menghubungimu? Apa kamu tahu dia di mana?” tanya Glen.


“Beberapa hari yang lalu dia sempat menghubungiku, dia hanya beri tahu kalau akan segera pulang ke sini setelah acara perpisahan dengan pihak sekolah. Itu saja. Sejak saat itu dia tidak pernah menghubungiku lagi.

__ADS_1


“Hhhheeemmmmm… gimana caranya aku mencarinya?” tanya Glen.


“Apa kamu sudah mencoba bertanya pada keluarganya?” Anita balik bertanya pada Glen.


“Belum. Aku juga tidak tahu menghubungi mereka dengan cara apa. Aku ada di Kupang sedangkan mereka ada di Manado. Aku tidak punya nomor kontak mereka, kalau aku di sana pasti aku sudah datang ke rumahnya langsung.” Jawab Glen. “Apa kamu ada nomor kontak mereka? Atau kamu bisa bantu aku, kamu mendatangi mereka? Mungkin saja mereka tahu dimana dia berada.” Kata Glen.


“Nanti aku kirim nomor kontak mama Leoni ke kamu, kamu harus menghubungi mereka sendiri.” Jelas Anita. “Mungkin saja Leoni menghubungi mereka.” Lanjut Anita.


“Baik Nit, makasi sudah mendengarkan ceritaku. Aku tunggu kamu mengirimkan nomor kontaknya.” Glen mengakhiri telepon dengan Anita. Beberapa menit kemudian Anita sudah mengirimkan nomor kontak mama Leoni dan Glen pun tidak membuang-buang waktu, dia langsung menghubungi nomor yang diberikan oleh Anita tersebut.


“Halo ma…” Sapah Glen setelah nada panggilan tersambung ke nomor yang ditujunya.


“Siapa?” Tanya orang yang dibalik telepon.


“Aku Glen ma.” Jawab Glen.


“Oh… ada apa kamu menelpon?” tanya mama Leoni sinis.


“Ma, mama tahu Leoni ada di mana?” Tanya Glen to the poin.


“Leoni di mana? Yang benar saja? Bukannya kamu yang menyuruhnya bekerja di Kupang? Terus kenapa sekarang kamu tanya padaku dia dimana?” Bentak mama.


“Maaf ma.” Glen penuh penyesalan.


“Bukannya kamu sudah putus dengannya? Bukannya kamu yang meninggalkannya? Kenapa sekarang kamu mencarinya? Kenapa kamu tidak tanya ke orang-orangmu di Kupang kalau dia ada di mana?” beberapa pertanyaan mama Leoni sampaikan.


“Maaf ma.. aku yang salah.” Hanya itu kata yang bisa Glen sampaikan saat itu sambil menangis.


“Kenapa? Kamu menyesal telah meninggalkan Leoni tanpa sebab? Atau sudah tidak ada lagi perempuan yang bisa buat kamu senang? Jadi sekarang kamu mau kembali mencari Leoni?” Tanya mama lagi.


“Iya aku menyesal ma, maafkan aku. Aku butuh Leoni ma, aku mau minta maaf padanya.” Kata Glen membelah diri.


“Ya sudah kamu cari dia di Kupang saja!” Perintah mama.


“Sepertinya keluarga Leoni belum tahu kejadian ini? Atau Leoni tidak memberi tahu mereka? Sepertinya mereka masih berpikir bahwa Leoni ada di sekolahanku.” Kata Glen dalam hati. “Apa sejak kemarin dan hari ini Leoni pernah menghubungi mama?” Tanya Glen polos dan tidak mau terlihat mencurigakan, dia tahu pasti mereka juga akan khawatir kalau tahu Leoni menghilang darinya.

__ADS_1


“Sejak kemarin dia tidak menghubungi kami.” Jawab mama Leoni singkat.


“Baik ma, maaf sudah mengganggu mama.” Glen mengakhiri panggilan di telpon.


__ADS_2