KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Tanda Cinta


__ADS_3

Karena keras kepalanya dan rasa tidak enak pada sang mertua maka Leoni tidak mendengarkan perkataan Glen yang memintanya untuk tetap berada di kamar, dia bersih keras ke dapur untuk membantu mama Glen yang sedang mempersiapkan sarapan pagi bersama pekerja-pekerjannya.


Leoni menuju ke kamar mandi untuk sekedar membasuh wajahnya kemudian menggunakan pakaian yang nyaman untuk beraktifitas di rumah. Penampilannya pagi itu sangat sederhana, setelah menggunakan pakaian rumahannya yang sudah dia persiapkan dan di bawah dari rumahnya beberapa hari sebelum acara pernikahan, dia mengikat rambut panjangnya itu sampai tidak ada sehelai pun yang tergerai agar tidak mengganggunya saat bekerja di dapur nanti.


Saat keluar dari kamarnya menuju ke dapur, Leoni berpapasan dengan beberapa pekerja di rumah itu namun dia dibuat bingung karena setiap pekerja dirumahnya menatapnya dengan ekspresi yang tak dapat dia artikan. Leoni berusaha mengabaikan tatapan mereka itu dan terus melangkah menuju ke dapur. Namun semua orang yang bertemu dengannya memiliki tatapan yang aneh menurutnya.


“Kenapa semua orang menatapku seperti itu? Ada apa dengan mereka? Apa ada yang aneh dengan penampilanku?” Kata Leoni ketika melewati beberapa orang pekerja dirumahnya yang menatapnya sambil tetawa seperti ada sesuatu yang mengganjal pada dirinya walaupun dia merasa bahwa tidak ada yang aneh pada dirinya sendiri, dia berusha mengecek rambutnya yang mungkin berantakan karena baru saja bangun dan belum mandi tapi rasanya tidak ada yang aneh dengan rambutnya, dia juga memperhatikan pakaian yang dia kenakan tapi juga tidak ada yang aneh. “Mereka ini kenapa yah?” Rasa penasaran Leoni karena semua orang yang bertemu dengannya menertawakannya dan berbisik-bisik dengna orang di samping jika mereka ada lebih dari satu orang.


Saat bertemu dengan Paula Leoni kembali dibuat bingung melihat Paula yang menatapnya intens dan mengelilinginya beberapa kali seperti sedang memeriksa keadaan tubuh Leoni.


“Paula?” Kata Leoni menyadarkan Paula yang terus menerus memperhatikannya.


“Agh, ya. Mba mau ke ngapain pagi-pagi begini?” Tanya Paula kebingungan melihat Leoni.


“Aku mau bantu di dapur.” Jawab Leoni.


“Bantu apa? Nyonya sudah mengatur semuanya di dapur, mending mba kembali ke kamar dan mandi.” Kata Paula mau menghalangi Leoni untuk menuju ke dapur.


“Ah, ya, tapi.” Leoni hendak membantah karena dia pingin sekali membantu mertuanya itu.


“Sudah. Mba ke kamar saja, jangan lupa ininya!” Paula memegang lehernya memberikan petunjuk pada Leoni.

__ADS_1


“Ini apa maksudnya?” Leoni mendesak Paula karena tidak mengerti apa yang Paula maksud.


“Ini loh mba.” Paula kembali menunjuk ke arah lehernya.


“Selamat pagi.” Glen pun menghampiri Paula dan Leoni.


“Selamat pagi juga tuan.” Paula menjawab sapaan Glen namun ujung-ujungnya dia juga tertawa dan menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


Glen pun dibuat bingung dengan tingkah Paula saat itu, dia tidak mengerti dengan sikap Paula itu.


Leoni juga kaget setelah melihat Glen dengan intens walaupun Glen tidak menyadari kenapa Leoni tiba-tiba ekspresinya berubah seperti itu.


Sebaliknya Glen pun kaget ketika melihat Leoni dari dekat nampak terlihat dengan jelas banyak hiasan merah di bagian lehernya. Dia menutupi wajahnya karena malu, dia menyadari perbuatannya semalam meninggalkan bekas seperti itu.


“Selamat pagi, kalian sudah bangun juga?” Mama yang datang dari dapur menghampiri mereka bertiga. “Paula kamu kenapa?” Mama menatap Paula dan memperhatikan ekspresi Paula yang nampak terlihat aneh.


Paula tidak menjawab pertanyaan mama Glen, dia nampak sedang menahan tawa dengan menutupi mulutnya menggunakan kedua tangannya namun sangat terlihat aneh.


Mama Glen berbalik menatap Glen dan Leoni dengan tujuan mau menanyakan apa yang terjadi dengan Paula, namun saat melihat anak dan menantunya itu dia pun melakukan hal yang sama dengan Paula, tertawa dan menutupi mulutnya dengan tangannya seperti sedang mengejek mereka berdua.


Sontak Leoni dan Glen pun saling bertatapan dan saling memperhatikan sekiranya ada yang aneh pada diri mereka. Seketika itu juga mereka berdua menjadi sangat malu karena menyadari apa yang sedang ditertawakan mama dan Paula.

__ADS_1


“Leoni?” Glen kaget memegeng lehernya memberi isyarat pada istrinya itu.


“Glen?” Leoni pun tidak kalah kagetnya melihat suaminya ketika tatapannya tertuju pada leher sang suami.


“Tunggu sebentar disini!” Mama buru-buru menyerahkan piring yang dia bawah ke tangan Paula kemudian masuk ke dalam kamarnya dan mengambil salep dari dalam kotak P3K yang sering dia persiapkan dirumah.


“Bagaimana bekas merah itu ada di leher mereka? Apa saja yang mereka lakukan semalam sehingga meninggalkan bekas merah sebanyak itu?” mama menuju kamarnya dan sedikit memikirkan perbuatan kedua anaknya itu.


Mama membayangkan bagaimana ganasnya anak dan menantunya dalam melakukan aktivitas tidurnya semalam, kecupan sedalam apa sehingga mereka berdua tidak menyadari hasil dari perbuatannya itu. Dalam hati mama pun sangat senang mengetahui bahwa anaknya sedang berusaha untuk memberikannya cucu, dia berinisiatif untuk memberi tahukannya ke papa.


Glen, Leoni dan Paula masih setia di tempatnya. Glen dan Leoni nampak tidak berekspresi, mereka bingung saja kenapa mama tidak mengatakan apa-apa dan malah langsung menuju ke kamar sedangkan Paula tetap di tempatnya dengan ekspresi menahan tawa melihat kedua bos nya saat itu.


“Sudah, sudah. Mama senang sekali melihat hiasan merah di leher kalian. Jadi mama juga tidak perlu memberikan kado kalung untuk Leoni karena sudah ada hiasan yang lebih indah.” Mama tidak dapat menahan tawanya ditambah lagi dengan bayangan yang lewat dipikirannya mengenai aktifitas apa yang mereka berdua lakukan semalam. “Mama senang kalian baru saja menikah namun sudah berusaha memberikan mama dan papa cucu. Upsss.” Mama tertawa dan lagi-lagi menutupi mulutnya dengan tangannya karena sudah keceplosan bicara sepeti itu pada anak dan menantunya itu. “Ini, pakai ini, Ayo sana!” Mama menyerahkan salep yang dia bawah ke tangan Glen.


Setelah itu Mama dan Paula yang masih saja tertawa melihat Glen dan Leoni yang sudah terlihat salah tingkah, mereka berdua terus tertawa dan meninggalkan Leoni dan Glen yang sedang terpaku ditempat.


Glen menarik Leoni kembali ke kamarnya dan menuntunnya ke arah cermin, keduanya rasa pingin menertawakan diri sendiri dan rasa malu pun bercampur jadi satu setelah melihat penampakan diri mereka saat itu.


“Aduh, aduh, aduh, kenapa bisa begini? Ahhh…” Leoni menjadi panik melihat dirinya di depan cermin. “Isshhh kenapa aku tidak memperhatikannya tadi? Aduh dasar!” Leoni memarahi dirinya sendri. “Mama sudah lihat lagi.” Leoni menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena malu, dia teringat dengan ekspresi mama tadi saat melihat tanda cinta yang Glen tinggalkan dilehernya itu.


“Sudah.” Glen mendekap istrinya itu. “Tidak apa-apa.” Glen mengelus punggung Leoni. “Maaf kan aku.” Glen merasa bersalah melihat sikap Leoni yang merasa malu seperti itu.

__ADS_1


“Maafkan aku juga.” Leoni melerai pelukan Glen dan menatap wajah suaminya itu.


“Sebaiknya kita mandi dan pakai salep ini agar bekas merah itu bisa hilang.” Glen mengerti apa yang diberikan oleh mamanya tadi.


__ADS_2