
“Kok bisa heboh sih?” Tanya Leoni.
“Karena banyak pengawal yang keluar masuk di area persekolahan.” Jawab Airin.
“Terus kira-kira kamu tahu tidak, kenapa dia mencariku?” Tanya Leoni penasaran. “Apa mereka juga menbicarakan alasan kenapa mencariku?” Leoni penasaran kenapa Glen mau mencarinya sampai ke desa-desa, apa yang terjadi sebenarnya? Dan kenapa sampai heboh seperti itu? Yang seharusnya Leoni prediksikan adalah Glen heboh akan menikah dengan Luna, namun kenapa malah sekarang mencarinya?
“Aku tidak tahu non, yang aku dengar dari teman-teman sih katanya dia lagi menyuruh orang untuk mencari calon istrinya ke seluruh pelosok, dan bahkan disebarkan foto non di mana-mana. Termasuk kami anak-anak juga diperintahkan untuk mengabarinya kalau menemukanmu.” Jelas Airin. “Aku takut nanti seandainya mereka menemukan nona dirumahku, kemudian mereka akan menghukumku karena dianggap telah menyembunyikan nona.” Kata Airin lagi.
Sejenak Leoni berpikir. “Kamu tenang saja, hal itu tidak akan terjadi. Dalam beberapa hari aku akan pergi menemuinya. Jadi tidak perlu khawatir! Oh yah, ingat untuk terus mengabariku, kalau ada apa-apa kamu langsung telpon bapa desa, oke?” Pesan Leoni.
“Baik non, baik-baik di sana yah. Salam untuk semua di sana. Sudah waktunya aku tutup telponnya karena harus bergantian dengan temanku yang lain.” Airin mengakhiri pembicaraan mereka.
“Apa kata Airin non?” Semua orang serempak bertanya, mereka penasaran menunggu penjelasan Leoni karena mereka sempat mendengar perkataan Leoni di telpon.
“Non ada apa? Sepertinya ada masalah yah?” Romi berkata lembut sambil menghampiri Leoni. “Kami semua di sini siap membantumu kok. Iya kan?” Kata Romi sambil meminta dukungan dari semua orang yang ada di ruangan tersebut.
“Yah Nona Ibu, kami selalu ada dibelakangmu, jika ada masalah ceritakan biar kami membantu.” Kata bapa Desa.
“Glen menyuruh orang-orang untuk mencariku sampai ke pelosok-pelosok katanya.” Jawab Leoni singkat.
“Kenapa dia mencarimu?” Tanya mama Airin polos.
“Entahlah ema, aku juga bingung kenapa sampai segitunya mengerahkan orang untuk mencariku. Padahal seharusnya dia tidak perlu mencariku. Untuk apa dia mencariku kalau dia akan segera menikah dengan sahabatku sendiri?” Leoni meneteskan air mata.
“Jangan menangis, aku sudah bilang, jangan pernah menangis di hadapanku.” Romi mengusap air mata yang jatuh di pipi Leoni. “Jangan cengeng!” Kata Romi lagi penuh perhatian.
“Aku bingung Rom…” kata Leoni.
“Apa yang bisa kami bantu untuk nona ibu? Nona ibu sudah menjadi bagian dari kami, jadi kami akan selalu berpihak pada nona ibu.” Kata bapa desa. “Kalau mereka mencari nona ibu sampai di sini, sebaiknya nona menemui mereka saja atau menemui Glen dan berbicara padanya agar masalahnya jelas.” Nasihat bapa desa.
__ADS_1
“Tapi aku masih terlalu sakit hati bapa, aku belum siap bertemu dengannya.” Leoni menangis meneteskan air mata ditemani dentingan air hujan di seng yang mulai berjatuhan.
“Kalau nona ibu belum siap bertemu dengannya, apa yang bisa kami lakukan untuk nona ibu? Kalau nona mau kami menyembunyikan keberadaan nona, akan kami lakukan hal itu secara adat, agar tidak ada yang akan menemukan nona ibu, walaupun nona bisa melihat mereka tapi mereka tidak akan bisa melihat nona.” Jelas bapa desa lagi.
Leoni menangis melirik Romi yang berdiri di sampingnya.
“Gimana? Aku juga mendukung, kalau kamu mau seperti itu.” Romi membalas tatapan Leoni, dan dia memahami maksud dari tatapan Leoni tersebut. “Tapi jangan menangis yah! Lihat kamu menangis, langitpun mulai menangis. Sepetinya semesta ikut bersedih denganmu.” Romi usil.
“Apaan sih..” Akhirnya Leoni tertawa. “Makasi semuanya, semoga mereka tidak sampai di daerah sini dalam waktu beberapa hari ini. Paling tidak satu malam ini aku masih harus berpikir dulu.” Kata Leoni.
Malam itu mereka berdiskusi sepanjang malam di rumah keluarga Romi, berhubung hujan mulai turun jadi belum memungkinkan bagi Leoni dan keluarga Airin untuk pulang. Mama Romi mempersiapkan mereka makan malam dengan makanan khas daerah NTT, membuat Leoni bersemangat untuk makan.
“Kita duduk di teras saja yuk! Biar orang tua mereka yang di sini. Sekali-sekali yang mudah menikmati kebebasan.” Romi mengajak Leoni. “Wah hujan semakin deras sepertinya.” Kata Romi setelah mereka telah berada di teras. “Tapi semoga air matamu tidak sederas hujan ini yah.” Kata Romi usil.
“Apaan sih?” Leoni berani mencubit pinggang Romi, ini kali pertama Leoni berani seperti itu.
“Awww… sakit tahu.” Romi teriak.
Dalam sesaat Leoni dan Romi saling bertatapan melihat ulah para orang tua yang kepo seperti paparazi. “Kamu sih teriak.” Bisik Leoni pada Romi.
“Kamu juga sih pake acara cubit segala.” Bisik Romi.
“Heemmmm… tidak apa-apa.” Romi dan Leoni salting bersamaan.
“Heemmm… mengerti saja dengan anak muda, hahaha…” Bapa Desa terbawa kegirangan.
“Iya yah, anak muda sekarang pada aneh-aneh saja deh, hahaha” Papa Airin pun ikut tertawa.
“Sudah-sudah. Masuk sana! orang tua nih pada kepoh saja dengan urusan anak muda. Sana-sana!” Romi mengusir orang-orang tua itu dan menyuruh mereka masuk, kemudian menutup pintu agar tidak dapat melihat mereka di teras.
__ADS_1
“Hahahaa…” Leoni dan Romi tertawa bersamaan menyadari tingkah mereka.
“Apa maksud Leoni mulai seperti ini padaku? Sepertinya dia mulai percaya padaku atau?” Romi kebawah baper atas apa yang barusan Leoni lakukan.
“Maaf Rom, aku tidak sengaja.” Leoni salting.
“Bapa desa.. bapa desa…” Salah satu warga tergesah-gesah berlari memanggil-manggil bapa desa.
“Ada apa sih? Ganggu saja.” Bisik Romi.
“Bapa Desa…” Teriak warga yang lain sambil berlari mendekat ke arah rumah.
“Ada apa?” Bapa desa tiba-tiba keluar mendengar teriakan para warga.
“Air sungai meluap, karena hujan di daerah sungai sangat deras, beberapa rumah warga telah hanyut terbawah air sungai dan sepertinya beberapa warga juga ikut hanyut bersama rumahnya.” Jelas salah satu warga.
“Hujan di daerah sungai semakin deras bapa, warga di sana butuh bantuan.” Kata seorang warga yang lain.
“Ayo kita ke sana!” kata bapa desa tergesah-gesah.
“Ambil perlengkapan di gudang!” Perintah Romi pada warga, sejenak dia melupakan Leoni. Semua orang buru-buru menuju ke daerah yang dimaksud.
“Bapa hati-hati, hujan masih belum redah.” Leoni mengingatkan bapa Airin dan bapa desa yang juga ikut berlari dengan para warga yang mau pergi meyelamatkan warga yang hanyut.
“Ema, kalian dirumah saja. Kalau hujan sudah surut baru kalian ke sana, bawahkan makanan dan perlengkapan yang sekiranya dibutuhkan oleh warga.” Pesan bapa desa sebelum mereka pergi.
“Baik.” Jawab Mama Romi.
“Nona ibu bantu ema mereka di rumah yah!” Pesan Romi sebelum pergi.
__ADS_1
“Hati-hati yah Rom, jaga diri baik-baik!” Pesan Leoni serasa berat melepas Romi pergi ke lokasi bencana.