KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Sport tourism


__ADS_3

“Makasi om.” Glen duduk di tempat yang sudah disiapkan.


“Bapak/Ibu silahkan duduk.” Pak Lukas mempersilahkan semua orang untuk duduk.


Wiliam terpaku pada posisi nya, pikirannya masih loading antara menerima bahwa Glen adalah presdir mereka dan menyesali perbuatan yang dia barusan perbuat kepada Glen atau juga mau mebelah diri nya karena serba tidak tahu dan tidak mengenal Glen sebelumnya. Dia merutuki kebodohannya karena sudah berlaku ceroboh seperti tadi. Terlambat dia menyadari keadaan, Wiliam hendak keluar tapi pintu aula sudah tertutup dan semua mata tertuju padanya. Dengan Langkah lunglai, Wiliam Kembali duduk di tempat duduknya semula.


“Hemmmm…. Tunggu kau, Wiliam.” Kata Glen dalam hati.


Suasana Kembali hening ketika Wiliam sudah Kembali duduk di tempatnya, yang tepat berada di samping Leoni.


Sementara Leoni tetap berdiri dalam kebingungan, Leoni mengutuk dirinya yang terlalu bodoh tidak menyadari dimana kini dia berada. Kenapa dia tidak bertanya pada Glen tentang perusahaan dan yayasan miliknya yang berada di Kupang? Padahal sudah pernah disinggung oleh Glen dan keluarganya.


Saat itu tidak ada yang berani menegur Leoni untuk duduk, bu Melati sekalipun yang memegang tangan Leoni tapi tak berani bersuara atau meminta Leoni untuk duduk, dia hanya menggerak-gerakan tangan Leoni memberi tanda untuk duduk tapi tidak mampu menyadarkan Leoni dari lamunannya.


“Glen, mau ke mana?” bisik Pak Lukas ketika Glen berdiri dari tempatnya. “Kamu belum menyampaikan sesuatu, koku dah berdiri?” Tanya Pak Lukas lagi dengan santai.


Tanpa bersuara sedikitpun Glen terus berjalan menuju ke arah Leoni dan Wiliam berada.


“Mati sudah aku!” Wiliam mulai gugup melihat Glen yang mengarah ke tempat dia duduk. “Jangan ke sini…..! jangan….!” Kata Wiliam dalam hati. “Mampus lu Wiliam!” Wiliam merutuki dirinya sendiri, wajahnya memerah dan


malu ketika Glen sudah tepat berada di hadapanya.


Glen masih belum mengatakan apa-apa, dia langsung menarik lengan Leoni dan menggiringnya ke arah depan.


Leoni masih belum bersuara, tangan bu Melati yang tadinya memegang lengan Leoni terlepas dengan sendirinya, bu Melati pun kebingungan, kenapa presdirnya itu berlaku seperti itu pada Leoni yang seorang guru baru di tempatnya. Sementara Leoni hanya menurut saja tanpa bantahan apapun sampai di podium. Seorang pengawal langsung menyiapkan tempat duduk untuk Leoni di samping tempat Glen.


Tanpa berkata apapun dengan Leoni, Glen langsung menyapah semua orang yang berada di tempat itu. Dia berpidato dan menyampaikan perkenalan sekaligus memberikan pesan secara umum untuk para pegawai di perusahaan maupun tenaga pengajar di Yayasan Gonzaga.


Setelah acara selesai, Wiliam langsung berlari keluar dari aula seolah-olah Glen akan mengejarnya.


“Om…” Glen berjalan di samping pak Lukas sambal menarik lengan Leoni, seolah dia takut Leoni lepas.


“Kita bicara di ruangan saya.” Kata Pak Lukas singkat dan mereka melangkah menuju ke ruangan yang dimaksud.


“Ini Leoni, calon istri aku om.” Kata Glen to the poin.


“Hah?” Pak Lukas kaget.


“Iya, dia guru renang yang om rekrut.” Kata Glen lagi.


“Maaf Glen, om tidak tahu.” Jawab Pak Lukas lagi.


“Saya juga tidak tahu kalau ternyata dia melamar kerja di sekolah milikku.” Kata Glen sinis. “Kalau aku tahu, mungkin saja aku sendiri tidak berada di sini saat ini dan tidak akan pernah tahu kalau ada karyawanku di sini yang kurangajar.” Kata Glen lagi.


“Maksudnya?” Pak Lukas bingung.


“Tidak om. Tidak ada maksud apa-apa.” Glen mengingat perlakuan Wiliam tadi.


“Om atur mutasi Leoni sekarang juga, dia pindah ke Manado.” Perkataan Glen yang tegas dan tidak membutuhkan bantahan bahkan Pak Lukas tidak berani melawan.

__ADS_1


“Glen…” Rengek Leoni. “Aku belum juga bekerja, sudah mau di mutasi?” Bantah Leoni.


“Tidak apa-apa bu, biar saya atur.” Kata Pak Lukas tidak berani membantah perkataan Glen yang merupaka presdirnya, dia tahu dengan siapa dia berhadapan.


Glen hendak menarik Leoni keluar dari ruangan itu tapi di tahan oleh Leoni sendiri. “Dengarin aku dulu!” Bentak Leoni. “Kamu mau atlit di sekolahmu kalah dalam pertandingan sport tourism international di Bali nanti? Itu ajang internasional dan seluruh Indonesia hanya ada 5 sekolah yang menjadi perwakilan dalam lomba tersebut, salah satu sekolah ini.” Jelas Leoni. “Dan sayangnya pelatih renang di sekolah ini cedera sebelum melatih anak-anak. Apa kamu mau aku mundur?” tambah Leoni lagi.


Sejenak Glen berpikir, akhirnya berhasil membuat dia luluh. Glen memilih duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


“Berapa lama waktunya Ny?” Tanya Glen dengan lemah.


Leoni melirik Pak Lukas meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan Glen tapi tak kunjung dimengerti oleh orangnya. “Kompetisinya akan diselenggarakan tiga bulan yang akan datang. Waktu aku melatih anak-anak tiga


bulan.” Jelas Leoni.


“Ny??” Glen bingung mau omong apa.


“Tiga bulan Glen.” Bujuk Leoni.


“Aku harus ngomong apa ke papa Ny?” Tanya Glen sedih. “Bukannya papa ngasih waktu…?” tanya Glen lagi.


“Papa ngasih waktu satu minggu untuk kita diskusi kan? Bukan satu minggu untuk nikah??” tambah Leoni.


Tampak Glen kecewa dengan pernyataan Leoni, dia pun bingung mau mengijinkan Leoni atau tetap akan membawah Leoni kembali ke Manado. Waktu tiga bulan menurutnya terlalu lama, dan kemungkinan papa nya tidak akan setuju.


Pak Lukas yang berada di antara mereka berdua pun terpaku mendengarkan diskusi mereka tanpa mengatakan apa-apa.


“Se-egois itu kah? Apa kamu pernah membayangkan anak-anak ini dipisahkan dari orang tuanya dalam waktu 3 bulan? Manado bukan jarak yang dekat loh.” Bantah Leoni.


“Bawah orang tuanya juga.” Glen tidak ingin ada bantahan.


“Sayang! Jangan karena emosi dan se-enaknya kamu memerintahkan seperti itu.” Rengek Leoni dengan wajah penuh kasihan.


“Kita bicarakan di rumah.” Kata Glen lagi kemudian menatap Pak Lukas pertanda pamitan dan di balas dengan anggukan.


Leoni mengikuti Langkah Glen keluar dari ruangan tersebut. Sebuah mobil mewah sudah menunggu Glen di depan pintu keluar.


“Mau kemana?” Tanya Leoni kebingungan, karena dia tahu rumah yang di maksud adalah rumah yang semalam mereka tempati dan jaraknya hanya dekat, tidak perlu dengan mobil.


“Silahkan tuan!” seseorang membukakan pintu mobil bagi Glen dan Leoni.


“Naik!” perintah Glen kepada Leoni dan menyuruh Leoni duduk di kursi penunpang samping kemudi, Leoni tahu jika Glen tidak akan menjawab pertanyaannya tadi serta akan sia-sia jika kembali bertanya dan membantah.


Glen memutari bagian depan mobil dan menerima kunci mobil dari seorang pengawal kemudian duduk di balik kemudi. Glen melajukan mobil mengikuti iringan mobil yang ada di depan mobilnya.


“Glen.” Panggil Leoni dengan lembut kemudian menggenggam lengan sebelah kiri Glen yang ada di dekatnya.


Glen membalas panggilan itu dengan sebuah lirikan mata namun tidak berniat mengeluarkan sepatah kata pun. Leoni tahu kalau saat ini Glen sedang marah padanya mengingat keinginannya untuk tetap tinggal di Kupang menjalankan tugasnya dan tidak mau kembali ke Jakarta.


“Halo ma, ini Leoni. Tolong kasi tahu papa kalau kami sudah sampai di Kupang dengan selamat.” Kata Leoni dengan seorang di  balik telepon, Glen Kembali melirik Leoni dimana pertanyaannya itu menyiratkan pertanyaan dengan siapa Leoni bertelpon.

__ADS_1


“Iya ma. Tolong kasi tahu papa juga kalau kami akan menikah 3 bulan lagi, dan papa tolong kasih waktu Leoni 3 bulan ini untuk menjalankan tugas pekerjaan Leoni di sini dengan baik. Ini semua demi yayasan sekolah Gonzaga juga ma.” Kata Leoni lagi dengan orang di seberang.


Mama Glen di seberang sana kaget mendengar perkataan Leoni barusan, dan dia baru sadar kalau ternyata Leoni pergi bekerja di yayasan milik mereka.


“Baik, nanti mama bicarakan dengan papa yah. Kamu baik-baik di sana!” mama Glen langsung mengakhiri panggilan telepon itu tanpa mendengarkan perkataan Leoni lagi.


“Kamu telpon mama?” Glen kaget mendengar percakapan Leoni di telpon.


“Iya.” Jawannya singkat.


“Kenapa harus menelpon mama sih? Kita bisa bicarakan berdua dulu.” Kata Glen marah. "Belum nikah aja sudah main lapor-lapor mama." Lanjut Glen dalam hati.


“Bicarakan berdua? Bukannya dari tadi aku ngajak kamu bicara tapi tidak di tanggapi?” Balas Leoni.


“Kamu…. Issshhhh!” Kesal Glen


20 menit perjalanan mereka tempuh akhirnya mobil yang dikemudikan Glen tiba di tempat yang ditujunya, tepat di depan sebuah bangunan mewah bergaya Eropa. Yah itu villa milik keluarga Glen di Kupang.


“Ayo turun!” perintah Glen pada Leoni yang sejak tadi diam memandangi bangunan dihadapannya.


“Tuan…” pengawal mempersilahkan Glen dan Leoni masuk dan menuntun mereka sampai di depan pintu. Glen memberikan Gerakan tangan kepada pengawal tersebut tanda mempersilahkan pergi, pengawal itu menundukkan


kepala kemudian berlalu dari hadapan Glen dan Leoni.


“Ayo!” Glen menarik lengan Leoni dengan lembut. “Silahkan duduk!” Glen mempersilahkan Leoni duduk. “Ini vila keluarga.” Kata Glen sebelum Leoni bertanya dan hanya dibalas anggukan oleh Leoni. “Kita tinggal di sini, barang-barang di mess sekolah nanti akan dibawahkan oleh si Wiliam brengsek itu.” Kata Glen emosi mengingat Wiliam.


Leoni mengerutkan kening mendengar perkataan Glen barusan tapi tidak berniat bertanya karena pasti tidak akan di jawab.


“Kamu makan dulu! Sarapanmu tadi pagi tidak di makan.” Glen menyodorkan bungkusan makanan di hadapan Leoni.


“Makasi.” Leoni menerima bungkusan makanan itu karena memang dia sudah sangat lapar. “Maaf.” Kata Leoni lagi mengingat Glen sudah menyiapkan sarapan untuknya tadi pagi.


15 menit Leoni menghabiskan makanannya dengan tenang tanpa ada pembicaraan apapun diantara mereka berdua, sementara Glen sibuk memperhatikan Leoni dalam setiap suapan makanan ke dalam mulutnya.


“Makasi.” Kata Leoni setelah menghabiskan makanannya. “Kamu? Sudah makan?” Leoni sadar kalau sejak tadi dia sendiri yang makan dan tidak menawarkan Glen makan padahal kotak makanan hanya ada satu, itu pun sudah dihabiskannya.


Glen membalas dengan senyuman. “Sudah. Aku memang sengaja memesankan makanan untukmu.” Kata Glen dengan lembut. “Kamu mau istirahat dulu atau?” tanya Glen.


“Kita bicara dulu baru istirahat.” Jawab Leoni tahu maksud pertanyaan Glen.


“Sayang, aku tidak mau berpisah dengan mu lagi. Cukup sudah beberapa tahun yang lalu kamu pergi ke Jakarta meninggalkan aku.” Wajah sendu Glen penuh pengasihan menggambarkan perasaannya saat ini.


“Glen, aku tidak meninggalkan kamu. Aku di sini bekerja, dan lagian aku kerja di tempat milikmu, jika terjadi sesuatu pasti kamu akan dengan mudah mengetahuinya.” Leoni seolah mengerti kekhawatiran Glen. “Aku janji.” Leoni meyakinkan. “Kamu juga bisa sering-sering mengunjungiku di sini, sekalian mengunjungi kantor.” Lanjut Leoni.”Iya kan?” Tekan leoni.


“Selama kamu ada di sini, aku juga aka nada di sini.” Kata Glen. “Atau kita pulang nikah kemudian Kembali lagi ke sini?” Tanya Glen.


Leoni menatap tajam wajah Glen. “Kamu yakin? Nikah itu bukan hal yang gampang. Butuh berbagai persiapan. Apa bisa secepat itu?” tanya Leoni. “Kamu yakin mama dan papa akan setuju jika mempersiapkan pernikahan hanya dalam waktu singkat? Mereka pasti mau yang terbaik Glen.” Kata Leoni lagi.


“Ya sudah tiga bulan yang akan datang, selesai mempersiapkan siswa untuk mengikuti sport tourism itu. Selama itu juga aku akan tetap berada di sini.” Glen berdiri dari tempat duduk hendak menuju ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2