
“Bisakah aku bicara?” Tanya Leoni dengan hati-hati. “Maukah kamu mendengarkanku terlebih dahulu?” Tanya Leoni lagi.
“Bicaralah!” Glen menanggapi pertanyaan Leoni.
“Tiket untuk berangkat ke Kupang sudah ada ditanganku. Aku harus bagaimana? Haruskah aku tidak bertanggung jawab pada tiket itu dan pekerjaan yang sudah menantiku?” Leoni mulai berbicara. “hheeemmmm....” Leoni menghela nafas dalam-dalam. “Aku sangat mau bertunangan denganmu, tapi waktu terlalu singkat bagiku dan bagi kita. Aku harus bagaimana?” Tanya Leoni lagi. “Tolong bantu aku!” Kata Leoni dengan sedih dan penuh dengan permohonan.
Glen tidak dapat berkata apa-apa lagi, dia sangat tahu bahwa Leoni sudah punya tiket untuk berangkat ke Kupang dan tidak mungkin dia membatalkan tiket itu apalagi membatalkan pekerjaan yang sudah dia nanti-nantikan sejak lama. Namun dibalik itu Leoni pasti juga dilema karena tidak mau melepaskan Glen dan membuat kedua orang tua Glen kecewa, yang mungkin nantinya akan berdampak bagi masa depan mereka berdua.
“Glen, aku sangat bingung. Aku takut mengambil langkah yang salah dan akhirnya mungkin akan menghancurkan hubungan kita.” Terang Leoni.
“Iya, aku tahu itu sayang. Aku tahu kamu pasti berat mengambil keputusan namun juga tidak mungkin kamu menyenangkan orang tua ku sedangkan orang tua mu yang sangat berharap kamu akan bekerja.” Kata Glen. “Hanya yang ku sesalkan adalah waktu yang terlalu cepat. Aku tahu mungkin ini semua karena salahku. Coba saja sejak awal kamu datang, aku sudah mengutarakan cintaku dan mengajakmu menikah, mungkin tidak akan terjadi seperti ini. Aku memang bodoh.” Glen menyalahkan dirinya sendiri. “Aku yang harus bertanggung jawab untuk semua ini.” Kata Glen penuh sesal. “Sudah sampai.” Glen sendiri kaget ternyata mereka sudah berada di depan rumah Leoni.
“Kita ngobrol ditaman saja dulu.” Leoni menunjuk jalan ke arah taman dekat kompleks rumah mereka.
“Baik.” Glen kembali melajukkan mobil menuju ke taman yang jaraknya tidak jauh dari rumah Leoni.
“Ngobrol di dalam mobil saja biar aman.” Glen memarkirkan mobil di tepi jalan depan taman.
“Iya.” Leoni menanggapi perkataan Glen.
“Ny.” Glen kembali bersuara setelah beberapa menit mereka hening.
“Hah?” Leoni menanggapi Glen yang memanggil namanya.
“Aku tetap mendukungmu untuk berangkat ke Kupang besok.” Kata Glen.
“Hah?? Benarkah?” Leoni kaget dengan pernyataan Glen barusan.
“Tapi...” Glen berpikir sejenak.
__ADS_1
“Tapi apa?” Leoni mendesak Glen.
“Kita harus mencari jalan keluar secepatnya, agar kamu tetap berangkat ke Kupang besok namun juga ada jawaban yang tidak mengecewakan papa.” Kata Glen dengan serius.
“Tidak mungkin kita menikah malam ini juga kan?” Kata Leoni sinis.
Glen terdiam sejenak, sepertinya dia sedang mencerna perkataan Leoni barusan sekaligus memikirkan jalan keluar yang terbaik bagi hubungan mereka. “Papa ngasih kita waktu satu minggu untuk memikirkan pernikahan kita kan?” Kata Glen tiba-tiba dengan senyum dan wajah berbinar sepertinya dia mendapatkan solusi yang terbaik untuk mengatasi masalah mereka. Glen langsung menghidupkan kembali mobilnya dan menuju ke rumahnya.
“Kita ke mana?” Tanya Leoni.
“Kamu pamitan dengan mama dan papa ku untukbesok pergi ke Kupang.” Jawab Glen dengan santai.
“Hah? Yang benar saja?? Apa kamu tidak lihat kalau papa mu sedang marah pada ku tadi?” Kata Leoni dengan emosi.
“Iya aku tahu papa marah, namun aku tahu bagaimana harus menghadapinya dan kamu akan mendapatkan restu dari mereka untuk berangkat.” Kata Glen dengan semangat sambil terus mengemudikan mobilnya.
“Tolong jelaskan apa yang sedang kamu rencanakan!” Kata Leoni bermohon.
“Terus?” Tanya Leoni lagi.
“Selama satu minggu ini kita berpikir dan cari ide yang terbaik, serta mempersiapkan pernikahan kita atau apa yang akan kita lakukan kedepan.” Kata Glen menjelaskan.
“Apa ini akan berhasil? Apa ini yang terbaik? Apa papa mu akan menerima ide ini?” Tanya Leoni bertubi-tubi.
“Pasti dia akan menerima nya. Papa adalah orang yang selalu berpegang pada omongannya, apapun yang kita lakukan, pokoknya dalam satu minggu itu harus sudah ada jawabannya. Intinya jangan lewat dari waktu yang dia berikan.” Jelas Glen.
“Baik kalau demikian. Semoga saja apa yang kamu omongin itu akan benar terjadi.” Kata Leoni. “Aku takut saja kalau dia marah padaku. Aku takut dia akan menolakku dan tidak mau menungguku. Aku takut dia akan menikahkan mu dengan ....” Kata Leoni blak-blakan.
“Hehehehe... makasi sayang. Aku sangat senang mendengarnya.” Kata Glen seolah tahu dan paham maksud dari Leoni. “Itu artinya kamu sangat mencintaiku dan takut kehilanganku. Benar kan?” Glen mencubit pinggang Leoni.
__ADS_1
“Apaan sih??” Leoni menjadi malu.
“Kenapa wajahmu memerah?” Kata Glen usil.
“Merah apanya?” Leoni mencubit-cubit pipi nya sambil melirik-lirik ke kaca spion untuk membuktikan apakah perkataan Glen itu benar atau tidak.
“Hehehe...” Glen tertawa lagi. “Benar kan, kamu tidak mau kehilanganku? Jawab aja jujur! Sama pacar sendiri aja pake acara malu-malu.” Kata Glen lagi sambil tersenyum.
Leoni tidak menjawab pertanyaan Glen, dia hanya diam tersipu malu namun sangat terpancar dari wajahnya kalau yang dikatakan oleh Glen itu benar. Leoni memang tak ingin kehilangan Glen.
Sesampainya dirumahnya Glen, mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah dan Leoni menunggu di ruang tamu selagi Glen memanggil kedua orang tuanya di dalam kamar. Sebelum bertemu dengan Leoni, Glen sudah terlebih dahulu menjelaskan maksud kedatangannya kepada orang tua nya agar mereka tidak salah paham.
“Pa... bangun! Katanya ada yang mau Glen bicarakan.” Bisik mama membangunkan papa yang lagi berbaring.
“Apa lagi yang mau dia bicarakan?” Tanya papa sinis.
“Aku mau bicara tentang Leoni pa.” Kata Glen yang mendekati papa di tempat pembaringannya.
“Kenapa? Dia sudah bersedia memenuhi permintaan papa?” Tanya papa yang masih terus berbaring.
“Tadi papa bilang kami dikasih waktu satu minggu untuk memikirkannya kan?” Tanya Glen yang tidak mendapat tanggapan apa-apa dari papa.
“Maksud kamu apa Glen?” Tanya mama.
“Gini ma, pa, biarkan Leoni pergi ke Kupang dulu untuk memenuhi tuntutan kerjanya besok. Selama satu minggu kedepan kami akan mendiskusikannya, walaupun Leoni ada di Kupang, kami akan terus berkomunikasi. Glen jamin, dalam waktu satu minggu kami pasti sudah punya jawaban yang terbaik untuk papa, dan Glen pastikan akan menikah dalam waktu dekat. Yang terpenting bagi Glen sekarang adalah Glen sudah punya wanita pilihan Glen yang benar-benar mencintai Glen dan mau menjadi istri Glen. Dan kami
saling mencintai.” Jelas Glen.
“Baik. Papa sangat percaya padamu. Papa sangat yakin bahwa kamu tidak akan mengecewakan papa.” Papa mengambil posisi duduk. “Papa kasih kamu waktu satu minggu, dan papa sangat berharap, kalau kalian berdua memang benar-benar saling mencintai maka jangan menunda-nunda untuk menikah. Kalian suah sama-sama dewasa, sudah sewajarnya untuk membangun rumah tangga.” Papa mengelus rambut anaknya yang saat ini sedang berlutut dihadapannya.
__ADS_1
“Makasih pa.” Glen mencium punggung tangan papa. “Sekarang Leoni ada di luar pa, dia mau pamitan dengan papa dan mama karena besok dia harus berangkat ke Kupang.” Kata Glen lagi.
“Ayo kita temui dia.” Papa berdiri dari tempat dia duduk dan segera menemui Leoni.