
Glen menelan salivanya susah payah. Sungguh dia terpesona dengan bentuk tubuh istrinya dan perlahan membuatnya mendekatkan ke tubuhnya pada Leoni, dia melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Leoni sehingga tubuh mereka tidak berjarak lagi. “Ny..” Glen mendekap wajah Leoni dengan kedua tangannya kemudian mengelus pipi itu perlahan, hembusan nafas Glen sangat teras di pipi Leoni, beberapa inci saja jarak tersisa diantara mereka.
Leoni diam saja, dia pasrah pada apa yang akan dilakukan oleh Glen padanya saat itu, dia sangat sadar kalau saat ini Glen sudah memiliki hak untuk menyentuh tubuhnya walaupun rasa gerogi masih dia rasakan bercampuk dengan rasa capek karena aktifitas mereka sepanjang hari sehingga tidak sanggup dia melakukan perlawanan.
Walaupun dalam keadaan sama-sama capek Glen sebagai seorang laki-laki tak bisa menahan rasa yang saat ini tengah mengganggunya, rasa haus dan lapar serta penasaran ingin mencicipi makanan yang ada di hadapannya.
Glen menatap wajah Leoni dengan sangat intens sambil tersenyum, dia mulai melangkah mendekat pada Leoni dan mendekatkan wajahnya pada wajah Leoni.
Leoni pun sontak memejamkan kedua kelopak matanya saat wajah Glen semakin dekat dengannya. Hembusan nafas hangat Glen semakin jelas terasa. Sesaat kemudian kedua kelopak mata Leoni yang tertutup seketika terbuka dan melotot ke arah Glen karena merasakan sesuatu yang kenyal menempel di bibir mungilnya.
Leoni menatap tak percaya pada Glen yang tengah menciumnya secara sadar. Ciuman lembut yang perlahan membuat Leoni menutup kedua kelopak matanya kembali dan menikmatinya. Glen pun turut memejamkan kedua kelopak matanya dan semakin memperdalam ciumannya hingga ciuman lembut itu kian memanas.
Glen menahan tengkuk Leoni saat Leoni hendak menjauhkan wajahnya dri Glen. Ia semakin memperdalam ciumannya dan tangannya mulai bekerja mengusap punggung Leoni dengan lembut. Glen dapat merasakan jika tubuh Leoni menegang saat tangannya mengusap kulit punggung Leoni dengan sangat lembut.
“Glen…” kata Leoni dengan kedua mata terpejam saat Glen melepaskan ciumannya.
Glen tidak menjawab ucapan Leoni dan kembali membenamkan bibirnya di bibir mungil Leoni. Tangan Glen pun terus mengusap punggung Leoni dan terus bergerak sampai di daerah yang dia sukai. Glen kemudian memainkannya hingga membuat Leoni terlena dan mengeluarkan suara indah yang terdengar di telinga Glen.
Cukup lama Glen melakukan aktifitasnya itu sampai perlahan-lahan dia menuntun Leoni dengan gerakan lembut menuju ke ranjang tanpa melepaskan pautan diantara mereka. Tanpa disadari Glen pun sudah tidak berbusana lagi, tidak ada sehelai benangpun yang melekat ditubuh mereka berdua, keduanya telah bebraring di atas ranjang yang besar dan nyaman milik Glen.
Leoni pun saat itu telah mengikuti irama Glen dan tanpa malu-malu lagi membalas ciuman Glen dengan lebih menuntut hingga membuat Glen bahagiah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leoni.
__ADS_1
“Kamu menyukainya Ny?” Glen tersenyum ke arah istrinya itu, dia sejenak menghentikan aktivitasnya dan menatap intes kedua bola mata Leoni.
Leoni juga membalas tatapan mematikan dari suaminya itu, tanpa berkata-kata, dia hanya mengangguk dengan malu-malu mengiyakan pertanyaan Glen itu.
Sejenak Glen mengecup sayang kening Leoni. “Makasi Ny, aku sangat bahagiah hari ini, akhirnya kita telah dipersatukan dalam nikah yang kudus.” Kata Glen. “Dan ini pertama kalinya bagi kita melakukan ini dengan sangat sadar.” Beberapa saat kemudian Glen melemparkan senyuman manis ke arah Leoni.
Leoni membalas senyuman Glen dengan ekspresi sebaik mungkin darinya, dia sadar dengan perkataan Glen barusan, hal itu membuatnya perlahan menghilangkan rasa malunya kemudian menarik tengkuk Glen dan membenamkan bibirnya di bibir seksi nan menggoda milik Glen. Glen tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Leoni itu dengan membalas pergerakan Leoni dan memberkan sentuhan-sentuhan lembut ditubuh Leoni.
“Ny, tubuhmu sangat indah, aku menginginkannya.” Bisik Glen dengan parau ditelinga Leoni dengan hembusan nafas yang telah memberat dan tak sanggup lagi menahan rasa penasaran dalam tubuhnya.
Entah apa yang ada dalam pikiran Leoni saat Glen mengatakan keinginannya itu, dia hanya diam saja dan menganggukkan kepala dengan mata terpejam.
“Leoni, apa kau mengijinkannya?” Bisik Glen lagi tepat dibelakang telinga Leoni yang bisikannya itu membuat tubuh Leoni tergetar ditambah dengan hembusan nafas Glen yang membuat suhu tubuhnya tak menentu, pertanyaan Glen mendapat persetujuan Leoni melalui anggukan kepalanya.
Glen mendekap tubuh istrinya itu masuk ke dalam pelukannya, Leoni membenamkan kepalanya di dada bidang nan kekar milik Glen. “Makasi Ny, sungguh aku sangat bahagiah bisa bersama mu.” Glen mengambil kain dan mengelap wajah Leoni yang berkeringat akibat percintaan mereka yang berlangsung cukup lama itu kemudian ia mendaratkan ciuman bertubi-tubi disekujur wajah Leoni.
Senyum bahagian diwajah tampan Glen tak pernah surut setelah ia berhasil menerobos pertahanan Leoni yang dia jaga selama ini. Leoni pun sama dengan Glen, senyuman bahagiah mekar dari bibir mungilnya.
Tubuh mungil yang atletis ini terasa remuk setelah pertempuran panas mereka berakhir. Sisa kenikmatan masih jelas terasa ditubunya, kecpan demi kecupan dari keduanya pun meninggalkan bekas pada tubuh masing-masing.
“Tidurlah, kamu pasti lelah!” Kata Glen setelah merasa puas memberikan kecupan di wajah Leoni.
__ADS_1
Leoni pun membenamkan wajahnya dada bidang Glen. “Kamu juga tidurlah!” Leoni menoleh ke wajah Glen.
Glen mengusap kepala Leoni sampai keduanya memasuki dunia mimpinya.
Pagi harinya Glen bangun terlebih dahulu, ditatapnya istrinya yang masih terlelap itu, sentuhan lembut dipipi Leoni pun dilakukan Glen. “Selamat pagi istriku. Terima kasih telah menjadikanku pria yang paling sempurna bisa memilikimu.” Glen mengusap pipi cantik istrinya itu.
Menyadari akan sentuhan yang diberikan oleh Glen, Leoni pun akhirnya mulai menggeliat dari tidurnya. Glen terus mengusap wajah cantik istrinya itu sampai kedua bola matanya terbuka dengan sempurna.
“Selamat pagi.” Glen menyambut istrinya itu dengan satu kecupan manis.
“Selamat pagi juga.” Leoni membalas kecupan Glen dengan tersenyum manis kearahnya.
“Kamu sungguh sangat cantik, walaupun tanpa polesan diwajahmu, auramu selalu membawah kebahagiaan padaku.” Rayu Glen.
Seketika itu Leoni menjadi malu mendengarkan gombalan pagi dari sang suami, kedua pipi nya menjadi merah seperti tomat. “Apaan sih.” Leoni menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Yah sudah sekarang kamu istirahat lagi dulu, pasti tubuhmu masi butuh istirahat. Sekarang baru jam setengah lima pagi.” Kata Glen.
“Sebaiknya aku bangun dan bantu mama di dapur.” Leoni hendak bangun dari tempat tidurnya.
“Tidak usah, di dapur ada banyak orang yang membantu.” Glen menahan Leoni
__ADS_1