
Sekitar setengah jam Romi dan Leoni bermain dengan anak-anak di bawah pohon beringin, Leoni menceritakan dongeng sederhana pada mereka namun berhasil membuat mereka bahagiah. Setelah itu mama Romi sebagai bundes atau bunda desa memanggil anak-anak untuk menikmati makanan tambahan kolak kacang hijau, mereka pu berlari meninggalkan Romi dan Leoni yang duduk di bawah pohon sambil menikmati udara sejuk pinggir sungai, sesekali Leoni melempar batu kecil ke arah sungai.
***
Setelah pertemuan dengan bapa desa beserta beberapa perangkat desa dan mendapat persetujuan, Glen dan para pengikutnya mulai bertindak dengan menurunkan sejumlah bantuan logistik yang mereka bawah, memeriksa dan memberikan obat-obatan bagi yang membutuhkan serta sejumlah bantuan uang tunai.
Paula yang walaupun bukan seorang dokter tapi telah mendapat pelatihan dan sedikit mengerti ilmu medis pun ikut membantu.
“Tuan mari kita jalan-jalan keliling untuk sekedar tuan bisa mengenal daerah ini.” Ajak bapa desa.
“Boleh. Sekalian aku bisa meninjau daerah kalian, siapa tahu aku bisa membangun proyek disini untuk sekedar meningkatkan perekonomian warga.” Kata Glen.
Bapa desa menuntun Glen berkeliling melihat para pengungsi yang ada di tenda pengungsian, kemudian menunjukkan lokasi bencana dan beberapa rumah warga yang terdampak, serta menunjukkan beberapa proyek pembangunan desa yang sedang dibangun dibawah pengawasan Romi.
***
“Rom, aku bisa minta sesuatu?” Tanya Leoni tiba-tiba.
“Apa?” tanya Romi balik.
“Aku bisa pinjam pundakmu hanya sekedar untuk…” Kata-kata Leoni tidak dapat dilanjutkan karena Romi langsung menarik kepala Leoni bersandar ke pundaknya.
“Tidak perlu minta ijin kalieee…” Glen mengusap kepala Leoni dengan mesrah.
“Apa masyarakat tidak akan salah paham kalau melihatnya?” Tanya Leoni.
“Biar aja mereka salah paham, biar mereka bisa menunutut kita untuk nikah.” Kata Romi bercanda walaupun sebenarnya itu adalah maksud hatinya.
“Ahhh apa-apaan sih? Aku tidak mau.” Spontan Leoni menarik kepalanya kembali.
“Tidak apa-apa, takut sekali sih. Aku hanya bercanda. Mereka tidak akan mungkin menuduh kita yang tidak-tidak. Mereka juga pasti tidak akan berani denganku.” Kata Romi menenangkan. “Aku tahu non, kamu memang tidak akan mau menikah denganku, aku tahu kamu masih selalu mengingat kekasihmu yang itu. Aku sadar kok.” Kata Romi dalam hati, dia menatap lurus ke arah sungai tanpa melihat ke arah Leoni.
__ADS_1
“Makasi yah!” Leoni bersandar di pundak Glen dan memeluk sebelah tangannya, sekilas terlihat mereka seperti orang yang tengah bermesraan.
***
“Hai anak-anak.” Paula menyapa anak-anak yang sedang menikmati makanan kolak.
“Hai kak cantik.” Anak-anak membalas sapaan Paula. “Kak mau ikut makan kolak?” Tanya seorang anak.
“Boleh.” Jawab Paula dengan gembira.
“Sabar yah saya ambilkan.” Kata anak yang paling besar di antara mereka.
“Kakak ada bawah jajanan dan mainan untuk kalian. Mau tidak?” Tanya Paula sambil menyuapkan kolak ke dalam mulutnya.
“Mau…” Teriak anak-anak secara bersama-sama.
Romi dan Leoni mendengar teriakan anak-anak sontak berdiri dari tempatnya dan melangkah ke arah anak-anak mereka penasaran apa yang sedang dilakukan oleh anak-anak.
“Ada apa denganmu?” Tanya Romi. “Antar pulang ke Manado? Yang benar saja?! Di sini sementara bencana dan kamu minta aku mengantarmu pulang?” Tanya Romi bercanda namun sebenarnya mengandung perasaan yang sebenarnya.
“Ke rumah Airin.” Jawab Leoni ketus.
“Oke. Tapi aku beri tahu bundes dulu.” Romi kembali bercanda. “Aku kasi tahu mereka di tenda dulu, takut mereka mencari kita dan membutuhkan sesuatu.” Kata Romi serius.
“Aku tunggu di bawah pohon.” Leoni berbalik dan kembali ke bawah pohon beringin tempat mereka duduk tadi. “Kamu tidak ikutan pamit dulu?” Tanya Romi mengejar Leoni.
“Kamu saja yang sampaikan, sama saja kan?!” Jawab Leoni tanpa menghiraukan Romi, dia terus melangkah ke arah pohon.
“Itu kan mba Leoni? Aku tidak salah lihat kan?” kata Paula dalam hati sambil dia mengucek-ngucek matanya untuk memperjelas apa yang dia lihat. “Benar itu mba Leoni.” Kata Paula yakin tapi mengingat pesan-pesan yang disampaikan oleh temannya sebelum ke daerah itu, maka dia menahan diri. Dia yakin orang yang dilihatnya tadi tidak akan lari.
Setelah pamitan dengan orang-orang di tenda pengungsian, Romi mengantar Leoni ke rumah Airin dengan berjalan kaki.
__ADS_1
“Non ada apa sih?” Romi mengejar langkah Leoni yang sangat cepat. “Non kenapa? Ayo cerita! Sepertinya ada yang aneh dengan nona ibu deh.” Kata Romi.
“Tadi sepertinya aku melihat orang yang aku kenal deh.” Kata Leoni tanpa menutu-nutupi.
“Siapa maksudnya? Kan semua orang yang ada di sini memang sudah non kenal.” Romi tidak mengerti maksud perkataan Leoni.
“Sepertinya aku melihat Paula, supir pribadiku waktu tinggal di vila milik Glen.” Jawab Leoni polos.
“Masa sih? Yang benar saja? Kok bisa dia ada di sini?” Tanya Romi penasaran. “Ahhh mungkin nona ibu salah deh, tidak mungkin dia ada disini..” Kata Romi lagi.
“Aku juga tidak tahu. Tapi semoga saja aku salah.” Kata Leoni tidak yakin.
Nampak dari kejauhan Glen dan bapa desa memperhatikan tingkah Leoni dan Romi yang tengah kejar-kejaran sambil berbicara, nampak mereka seperti sepasang kekasih yang tengah bertengkar, nampak beberapa kali Leoni menghentakkan kaki, beberapa kali juga Romi mengejar Leoni seperti sedang membujuk Leoni, pokoknya romantis jika disaksikan.
“Ah tuan, mohon maaf akan tingkah mereka, itu anak saya dan sahabatnya, mereka biasa begitu.” Bapa desa menyadari adanya Glen yang tengah memperhatikan tingkah anaknya dan Leoni.
“Ny?? Apa aku tidak salah lihat? Kau kah itu? Apa benar itu kamu?” kata Glen dalam hati, rasa sakit hati mulai menjalar ditubuhnya menyaksikan orang yang dia sayangi tengah bermesraan dengan pria lain.
“Tuan?” Panggil bapa desa.
“Itu anak laki-laki saya namanya Romi, dengan nona ibu guru dari salah satu anak di desa ini, mereka berdua berteman. Seringkali mereka seperti itu, kami sudah terbiasa menyaksikan mereka berdua seperti itu.” Bapa desa dengan bangga menyampaikan ulah anaknya pada Glen.
“Apa? Sering? Kamu sering menampakkan sikap romantis seperti ini pada pria itu?” Glen merasa sedih mendengar perkataan bapa desa, namun dia berusaha untuk menahan emosinya, dia berusaha mengontrol dirinya agar tidak gegabah, dan dia mau meyakinkan benar-benar kalau orang yang dilihatnya itu adalah Leoni atau bukan. Kalaupun benar itu Leoni, mungkin dia sudah bahagiah dengan kehidupan barunya bersama Romi, tapi dalam benak Glen dia harus tetap menjelaskan pada Leoni apa yang sebenarnya terjadi dan meminta maaf padanya, walaupun sudah terlambat agar dia tidak merasa bersalah sepanjang hidupnya.
“Tuan?” Sekali lagi bapa desa memanggil Glen dan berhasil menyadarkannya.
“Ah iya, ada apa? Maaf!” Kata Glen setelah tersadar dari pemikirannya, Leoni dan Romi sudah beranjak menghilang dari tatapan matanya.
“Itu tadi anak saya, maaf kalau tingkah mereka sudah merusak penglihatan tuan.” Kata bapa desa dengan penuh kerendahan hati.
“Oh ya, tidak apa-apa.” Kata Glen lagi.
__ADS_1