
Menjelang siang, Leoni mulai mengatur perlengkapannya, di bantu oleh Glen yang belum pulang-pulang. Dia benar-benar memanfaatkan waktu bersama dengan Leoni saat itu, walaupun dalam benaknya sebenarnya masih penuh kebingungan tentang apa yang harus dilakukannya, meski dia telah mengijinkan Leoni untuk pergi ke Kupang tapi dalam pikirannya masih terus berusaha berpikir, bagaimana langkah yang harus dia lakukan untuk dapat paling tidak menunda keberangkatan Leoni.
“Kak." Kevin menepuk pundak Glen. "Ini pakai bajuku! Kak Glen mandi dulu sana biar segar.” Kevin menyerahkan baju nya untuk Glen pakai, karena dia melihat Glen yang masih seperti belum mandi. “Masih baru kok, belum aku pakai.” Kevin tersenyum.
“Makasi yah Vin...” Glen menerima baju yang diberikan Kevin. "Aku benar-benar gerah banget nih." Glen mengayunkan baju yang dia terimah dari Kevin. “Tapi aku mandinya di mana nih?” Tanya Glen pada Kevin.
“Di kamarku saja kak biar agak bebas.” Jawab Kevin tersenyum mencurigakan.
"Bebas?" Glen bingung dengan pernyataan Kevin. "Emangnya ada yang tidak bebas yah?" Tanya Glen lagi.
“Kalau di sini nanti ada cewek yang ngintip loh kak.” Bisik Kevin bercanda.
“Kamu nih, kakakmu cewek baik-baik loh, tidak mungkin dia ngintip orang mandi.” Glen balas berbisik ke Kevin kemudian mereka berdua tertawa bersama-sama.
“Kalian berdua apaan sih?” Leoni marah, tersinggung dengan mereka berdua yang tiba-tiba saja tertawa.
“Tidak ada apa-apa. Aku mandi dulu.” balas Glen.
Glen pergi mandi ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya Kevin, sedangkan Leoni juga memanfaatkan waktu unutk mandi juga tapi di dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Selesai mandi mereka kembali ke ruang tengah untuk packing barang-barang milik Leoni yang belum selesai di pack.
**
Ting
Ting
(Hp Glen berbunyi)
__ADS_1
“Hallo maa...” Glen menjawab teleponnya.
“Belum pulang juga nih?” Tanya orang di balik telepon.
“Dikit lagi maa. Kenapa emangnya?” Glen menjawab dan juga bertanya.
“Papa suru mama memanggil kamu pulang. Nanti sore ada pertemuan sama Gonzaga Group loh. Lupa yah??” Jawab mama dari balik telepon.
“Aduh maaf maa aku lupa.” Glen memukul jidatnya. “Baik maa, ini 15 menit lagi aku on the way pulang yah.” Kata Glen.
“Katanya papa, ajak Leoni jugaa ke rumah.” Kata mama lagi.
“Hah?” Glen kaget dengan pesan mama terakhir yang menyuruhnya untuk mengajak Leoni juga.
"Iya, mungkin ada yang mau papa bicarakan dengan kalian berdua juga." Kata mama lagi.
**
“Kenapa kak?” Tanya Kevin penasaran.
“Heeemmm... papa manggil aku pulang.” Jawab Glen yang kemudian melirik ke arah Leoni.
“Habis kakak tidak pulang-pulang sih, makanya dicariin.” Kata Kevin santai.
“Iya sih, tapi bukan itu masalahnya.” kata Glen lagi. “Masalahnya, mama suruh ngajak Leoni juga ke rumah.” Lanjut Glen.
Dalam hatinya Glen senang Leoni diajak ke rumahnya juga, mungkin ini berkat doa nya yah, kesempatan ini bisa dimanfaatkan untuk memprofokasi mama agar bisa membantu dirinya, paling tidak untuk sekedar menunda keberangkatan Leoni karena sebenarnya dia belum siap melepas Leoni pergi kerja ke Kupang.
__ADS_1
“Iya kak, bisa banget. Boyong aja si Leoni skalian ke rumah kakak, tidak perlu dikembalikan juga tidak apa-apa.” Kevin tertawa terbahak-bahak.
Leoni tidak mempedulikan apa yang kedua peria itu diskusikan walaupun dia juga penasaran dengan apa yang disampaikan oleh mama Glen di telpon, yang sempat dia dengar dengan baik hanyalah ajak Leoni juga, artinya dia juga pasti harus pergi bersama dengan Glen yang entah ke mana, apakah ke rumah Glen atau ke mana.
“Sayang, mama menyuruh aku pulang dan dia meminta aku untuk mengajak kamu juga ke rumah.” Kata Glen to the poin ke Leoni setelah meladeni Kevin yang mau usil dengan kakak nya. “Ke rumahku dulu yuk!” Ajak Glen sambil memegang lengan Leoni penuh harap. “Nanti kita langsung balik ke sini lagi kok. Lagian besok kan kamu sudah harus berangkat ke Kupang, sebaiknya hari ini kita ketemu orang tua ku dulu.” Kata Glen penuh dengan kehati-hatian. "Bisa kan?" Glen menatap wajah Leoni dengan penuh permohonan. "Sayang, kamu mau kan?" Tanya Glen.
“Bener kak.” Sambung Kevin yang masi terus menguping pembicaraan Glen dan Leoni sambil memainkan game di hp nya. "Kamu memang harus ketemu dengan mama dan papa nya kak Glen sebelum berangkat ke Kupang, supaya mereka tahu kamu itu pacarnya atau paling tepatnya calon istri." Kevin berdiri di hadapan Leoni dengan wajah serius. "Iya kan kak?" Tanya Kevin dengan serius dengan melirik Glen yang ada di sampingnya Leoni. "Supaya mereka tidak akan menjodohkannya dengan cewek lain." Kata Kevin lagi.
“heeemmm... kamu nih ngomong apa sih Vin." Bentak Leoni.
"Ny, apa yang Kevin omongin itu benar kok." Glen membelah Kevin.
"Oke aku ikut.” Leoni berdiri dari tempat duduk dan hendak pergi ke kamar untuk ganti pakaian.
“Kamu ganti pakaian dulu yah...!” Kata Glen sebelum Leoni mengucapkan kalimat yang sama dengan yang Glen ucapkan. Selesai Leoni berganti pakaian mereka langsung menuju ke rumah Glen, tentunya dengan mengantongi ijin dari mama Leoni yang saat itu sudah berada di rumah.
Perasaan Leoni bercampur aduk antara senang dan bingun serta banyak pertanyaan yang hinggap dikepalanya, antara lain yang paling penting adalah apa tujuan orang tua Glen menyuruh dia ke rumah mereka?
Sementara Glen pun juga dalam pikirannya muncul banyak pertanyaan, Kenapa harus mengajak Leoni? Apakah mereka marah karena nginap di rumah Leoni? Apa yang mereka lakukan di rumah Leoni? Padahal yang dia tahu hari ini ada pertemuan dengan Gonzaga Group, tapi kok harus ngajak kekasihnya?? dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang berputar-putar dikepalanya.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di depan rumah Glen, lagi-lagi disambut dengan banyaknya mobil mewah yang terparkir di halaman rumahnya.
“Ada apa ini?” Leoni dalam kebingungan.
“Sepertinya ada pertemuan dengan rekan-rekan kerja papa deh, tadi mama sempat kasi tahu.” Jawab Glen. "Aku juga tidak menyangka kalau banyak sekali orang yang hadir." Kata Glen menunjuk mobil-mobil yang terparkir di situ.
“Terus kenapa harus ngajak aku? Kan aku tidak ada hubungannya denganku??” Tanya Leoni.
__ADS_1
“Bukan tidak yah, tapi tepatnya belum.” Glen tersenyum. “Turun aja dan masuk, kita lihat apa yang akan terjadi di dalam.” Ajak Glen.