
Suasana di dalam rumahnya Glen lumayan ramai dengan orang-orang yang tidak di kenal Leoni, mereka semua berpakaian rapih dan terlihat seperti berasal dari golongaan bangsawan deh, lebih tepatnya mereka adalah para manager diperusahaan milik Glen yang berasal dari seluruh penjuru, mereka datang atas undangan Papa nya Glen.
“Mereka itu siapa?” Bisik Leoni ketika mereka berada di pintu masuk rumah dan sudah disuguhkan dengan penampakan para petinggi-petinggi tersebut.
“Mereka itu para manager perusahaan, lebih tepatnya bawahan papa.” Jawab Glen berbisik. “Ayo masuk!” Ajak Glen.
“Aku di sini saja, kamu temui mama dulu.” Leoni memilih untuk tidak masuk dulu, dia melihat ada kursi sudut di depan pintu masuk, dia memilih duduk di situ.
“Oke.. jangan ke mana-mana yah! Aku temui mama dulu.” Kata Glen menerima usul dari Leoni.
“Maa..” Bisik Glen menghampiri mama.
“Eh kalian sudah datang? Leoni mana?” Tanya mama.
“Ada di depan ma, aku butuh ngomong sama mama dulu. Bisa ke ruang kerjaku sebentar?” Bisik Glen lagi.
“Ada apa?” Mama Glen berdiri dan mereka menuju ke ruang kerja Glen yang posisinya ada di dekat ruangan tamu.
Glen menceritakan semua tentang Leoni dan hubungan mereka sekarang, serta Glen mengutarakan keinginannya kepada mama nya agar mendapatkan jalan keluar.
“Panggil Leoni masuk! Kita temui papa, kayaknya pembicaraan mereka hampir selesai tadi.” Mama menyuruh Glen memanggil Leoni.
**
“Pa gimana?? Udah selesai??” Bisik mama.
__ADS_1
“Sudah. Glen mana?” Tanya papa.
“Pergi memanggil Leoni di depan.” Jawab mama dengan wajah ceria. “Paa, sekalian lamar Leoni untuk Glen yah..!” Bisik mama lagi sambil tersenyum bahagiah.
“Hah? Mama tidak bercanda kan?” Papa pura-pura kaget.
“Papa ikutin aja apa omongan mama yah! Ini permintaan Glen.” Kata mama menenangkan.
“Baik bapak-bapak, ibu-ibu semua, ini anak saya Glen.” Kata papa memperkenalkan ketika melihat mereka masuk. “Mari sini Glen!” Ajak papa mengayunkan tangan supaya Glen mendekat.
“Ma.. titp Leoni.” Bisik Glen ketika Leoni sudah berdiri di samping mama, yang kemudian dibalas dengan senyuman oleh mama dan menggandeng Leoni pertanda setuju.
“Glen adalah penerus saya satu-satunya.” Kata papa setelah Glen berada tepat di samping papa, papa menggengam tangan Glen dengan wajah bersinar. “Dan mulai sekarang secara resmi saya menyerahkan segala kekuasaan ke tangan anakku ini.” Kata papa yang disambut dengan tepukan tangan dari semua orang yang ada di ruangan tersebut. “Glen, kamu bersediah menerima tanggung jawab ini kan nak?” Tanya papa ke Glen dengan serius.
Glen melirik Leoni pertanda meminta dukungan dari kekasihnya itu dan dibalas dengan anggukkan Leoni seraya memberikan dukungan kepada Glen. “Iya paa, Glen menerima tanggung jawab yang papa berikan ini dan Glen akan berusaha menyenangkan papa dan memberikan yang terbaik untuk papa dan perusahaan. Glen akan berusaha menjalankan tugas yang papa berikan ini dengan sekuat dan semampu Glen.” Kata Glen dengan semangat.
“Benar maa, selama ini memang Glen sudah mengambil alih tugas papa, dan sekarang papa sampaikan secara resmi Glen menjadi pewaris papa, perusahaan sudah jadi milik Glen dan bukan milik papa lagi, mungkin papa sekarang jadi sebatas penasehat saja yah??” Papa tertawa gembira menyampaikan.
“Makasi paa..” Glen bolak-balik menciumi seluruh pipi papa dengan bahagiah. “Maaa...” Glen mengecup pipi mama juga. “Sayang.” Bisik Glen kemudian merangkul Leoni dan mengajak Leoni berdiri di samping papa. “Paa.. ini Leoni.” Bisik Glen ke papa, Leoni memberi salam ke papa dan mencium tangan papa (salim), papa diam saja menunggu Glen menjelaskan maksud dia membawah Leoni ke hadapan papa. “Ini yang papa dan mama minta dari Glen.” Kata Glen, dia bingung mau bicara apa.
“Hah?” papa pura-pura tidak mengerti, Leoni menjadi malu dan ketakutan, dia takut dipermalukan di depan orang banyak, dia menundukkan kepalanya.
“Papa..” Bisik mama namun tetap tidak mendapatkan tanggapan papa.
Beberapa menit suasana menjadi hening, Leoni merasa bahwa mungkin saja dirinya tidak direstui papa Glen, segala ketakutan muncul dibenaknya, begitu pun Glen yang saat ini sangat ketakutan menunggu respon papa nya, dia tidak ingin menyakiti dan mempermalukan Leoni karena sebenarnya dialah yang mengejar-ngejar Leoni. Jika saat ini Leoni tersakiti maka akan hilang kesempatannya untuk mendapatkan gadis itu, bahkan mungkin Leoni tidak akan pernah mau bertemu dirinya lagi. Jika hal itu terjadi, mungkin dirinya pun yang lebih tersakiti, dia tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti.
__ADS_1
“Papa...” Panggil mamanya. “Kok diam aja?” Tanya mama berusaha menyelamatkan situasi yang sepertinya membuat Glen sangat tegang.
Semua undangan atau lebih tepatnya lagi, rekan-rekan papa yang ada bersama mereka saat itu sudah tahu kalau papapunya sikap seperti itu tentu ada yang tidak dia sukai, sehingga mereka pun diam-diam saja menunggu papa bicara.
“Papa.. jangan buat Glen kayak gini dong..!” Bisik Glen dengan berani berbicara pada papa. “Papa jangan diamin Glen kayak gini dong.” Rengek Glen lagi yang dibalas dengan ekspresi wajah marah papa dan tambah membuat suasana tidak enak saat itu.
Air mata Leoni mulai jatuh perlahan, papa melihat Leoni dan Glen saat itu sangat down dengan sikap diam nya. “Nak.. apa kamu yakin Glen jadi pilihanmu?” Bisik papa tapi Leoni tak mampu menjawab lagi, dia sudah terlanjur punya pikiran negatif terlebih dahulu, sakit hati sudah hinggap di benaknya terlebih dahulu.
“Papaa...” Rengek Glen. “Glen yakin Leoni adalah pilihan Glen. Glen yang memilih Leoni bukan dia yang ....” Kata Glen yang belum menyelesaikan perkataannya tapi sudah di sambung oleh papa.
“Leoni?? Nama kamu Leoni kan?” Papa mengacukan Glen.
“Iya.” Leoni mengangguk.
“Nama yang indah sekali, cantik seperti orangnya. Sekarang papa tanya, apa kamu yakin Glen menjadi pilihanmu untuk kalian sama-sama saling mendampingi sampai se-umur hidup?” Tanya papa ke Leoni.
“Iya.” Sekali lagi Leoni hanya mampu mengangguk.
Glen merangkul Leoni dengan mesrah dan menghapus air mata di wajah gadis cantik itu. “Sayang, kita sama-sama berjuang.” Bisik Glen.
Tiba-tiba papa berbalik menghadap ke arah kolega-koleganya, “saat ini aku sangat berbahagiah, anakku bersediah menjadi penerusku.... (diam sejenak) dan dia membawah calon istrinya di hadapanku. Anakku berhasil menggenapi wasiat dari ayahku, kakeknya, alm. Kakek Gonzaga.” Kata papa dengan wajah yang tiba-tiba menjadi ceria. “Glen..” Papa menatap Glen dan Leoni yang masih dalam kebingungan. “Ini adalah dua tanggung jawab yang besar, yang mulai sekarang harus kamu pikul.” Kata papa dengan tegas. “Dan kamu Leoni nantinya jika sudah resmi menjadi menantu di keluarga ini, tentunya juga beban ini yang sama-sama harus kalian berdua pikul, saling bekerja sama, saling mendukung dan menjalankan dengan penuh tanggung jawab.” Kata papa lagi.
“Jadi papa menerima Leoni?” Tanya Glen masih bingung dan ditanggapi dengan senyuman papa serta tepukan tangan dari semua orang yang ada di ruangan tersebut.
“Bagaimana?? Apakah kalian berdua bersedia memikul tanggung jawab yang papa berikan??” Tanya papa.
__ADS_1
“Iya paaaa...” Jawab Glen.
“Oke. Itu artinya papa sangat setuju dengan hubungan kalian, dan kalau bisa papa minta segera mungkin melangkah ke tahap selanjutnya!” Kata papa yang mengagetkan Glen dan Leoni.