
“Sayang.” Glen menyapah Leoni yang sedang duduk di ruang tamu sambil termenung seorang diri.
“Eh, iya.” Leoni kaget dan tiba-tiba langsung berdiri dari tempat duduk.
“Lagi lamunin apa sih? Kok kaget banget gitu?” Glen menghampiri Leoni dan memegang tangan Leoni sambil tersenyum.
“Tidak.” Jawab Leoni malu-malu. “Halo pa, ma.” Leoni menyapah kedua orang tua Glen dan menunduk tanda memberi hormat.
“Silahkan duduk! Santai saja.” Papa mengambil posisi duduk diikuti oleh mama dan Glen. “Ada maksud apa kalian berdua kembali ke sini? Bukannya tadi sudah mengantar Leoni pulang?” Tanya papa ke Glen.
Glen melihat Leoni bingung mau jawab apa, dia terlihat kaku dan juga sangat berhati-hati. “Ini pa, tolong papa dan mama memberi restu kepada Leoni untuk besok dia pergi ke Kupang hanya sekedar untuk memenuhi panggilan kerjanya, dan beri kami waktu selama satu minggu seperti yang papa bilang tadi. Glen dan Leoni akan mencari cara agar dapat memenuhi permintaan mama dan papa. Glen janji tidak akan mengecewakan mama dan papa. Glen janji akan secepat mungkin menjadikan Leoni sebagai menanti mama dan papa.” Kata Glen panjang Lebar.
“Bagaimana cara kalian mendiskusikannya kalau yang satu nya ada di sini dan yang satunya lagi ada di Kupang?” Kata papa sinis.
“Pa, kan alat komunikasi sekarang sudah canggih paa.” Belah mama.
“Heeemmmm...” Papa menghela nafas dalam-dalam.
“Terserah kalian berdua saja yang penting dalam waktu satu minggu kedepan papa sudah dapat jawaban kapan kalian akan menikah.” Kata papa to the poin.
“Iya pa, Glen janji.” Kata Glen meyakinkan. “Tapi untuk saat ini mama dan papa merestui Leoni untuk berangkat kan?” Tanya Glen.
“Oke.” Jawab papa singkat.
“Atau gimana kalau Glen juga ikut ke Kupang? Yah anggap saja Glen mengantar Leoni ke sana.” Mama memberikan ide.
“Ma, nanti yang ada Glen mengganggu Leoni bekerja lagi.” Kata Glen spontan.
“Menurut mama sih tidak. Kamu di sana juga bisa sekalian kerja kok, kan di sana ada cabang perusahaan dan yayasan sekolah kita. Yaahhh.... sambil nungguin Leoni kerja, kamu juga bisa kerja. Mengunjungi perusahaan atau mengunjungi sekolah, apalagi kamu sudah secara resmi menjadi pemiliknya, berarti kamu juga harus mengenal pegawai-pegawaimu di sana.” Jelas mama. “Gimana pa?” Mama menatap papa meminta dukungan atas ide yang dia usulkan.
“Boleh. Papa juga setuju dengan yang mama sampaikan. Tapi jangan lama-lama di sana karena di sini juga banyak pekerjaan yang menantimu.” Kata papa memberikan dukungan. “Dan satu lagi, harus ingat tujuannya, jangan sampai kamu menikmati pekerjaan di sana dan lupa dengan maksud dan tujuanmu berada di sana.” Tambah papa lagi.
Glen menatap Leoni meminta tanggapan dari Leoni namun tidak membuahkan hasil. “Ny, gimana? Aku bisa ikut kamu ke Kupang?” Kata Glen memperjelas maksud tatapannya tadi.
__ADS_1
“Bisa.” Jawab Leoni singkat.
“Baik. Besok kalian berangkat pakai pesawat jet pribadi keluarga.” Kata papa singkat.
“Tapi...” Leoni mau membantah, dia berpikir kasihan kalau tiket pesawatnya harus hangus.
“Ny... jangan membantah perkataan papa yah.” Kata Glen.
“Aku sudah punya tiket pesawat pemberian yayasan sekolah ku.” Kata Leoni dengan hati-hati.
“Aku tahu maksud kamu sayang, kita tetap berangkat besok dan akan sampai tepat waktu kok.” Glen menenangkan Leoni.
“Oke, terserah kamu aja.” Leoni pasrah dan tidak berani lagi untuk membantah.
“Ma, pa kalau gitu Glen pamit untuk mengantar Leoni ke rumahnya, dia masih harus mempersiapkan perlengkapan yang akan dia bawah.” Glen pamit kepada orang tuanya.
“Oke. Silahkan!” Jawab papa.
“Ma, pa, kami pamit dulu. Makasi sudah memberikan ijin untuk Leoni.” Kata Leoni berpamitan.
“Tidak usah ma, aku hanya bawah beberapa pakaian saja sama laptop kok.” Kata Glen menanggapi mama nya. “Makasih ma.” Kata Glen lagi. “Ayo!” Glen memegang lengan Leoni dan menuntunnya menuju ke mobil.
“Ma, pa, kami pamit.” Kata Leoni lagi.
“Iya, hati-hati yah! Dan jangan lupa istirahat.” Kata mama lagi.
Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di rumahnya Leoni yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Glen.
Glen membantu Leoni membereskan barang-barang yang akan di bawah Leoni, dan mengatur segala persiapan yang Leoni butuhkan.
“Leoni, gimana persiapanmu? Sudah beres?” Tanya mama yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar karena memang kamar Leoni tidak di kunci. “Eh ada Glen, apa kabar?” Tanya mama sekedar berbasa-basi.
“Baik. Terima kasih.” Jawab Glen singkat.
__ADS_1
“Sudah ma, ini sudah yang terakhir kok.” Leoni menghampiri mama yang masih berdiri di depan pintu kamar sambil menunjuk ke arah koper terakhir yang belum terisi dengan baik.
“Oh baguslah kalau sudah selesai. Kitamakan dulu yuk!” Ajak mama. “Ayo Glen! Papa sudah menunggu di ruang makan.” Kata mama lagi.
“Iya ma, kami segera menyusul. Mamaduluan saja.” Kata Leoni.
“Baik. Kami tunggu kalian yah. Kita makan sama-sama.” Kata mama lagi sebelum meninggalkan Leoni dan Glen yang masih menyelesaikan satu koper terakhir.
Setelah membereskan semua, Glen dan Leoni menuju ke ruang makan untuk bergabung dengan keluarga Leoni yang sedang menunggu mereka untuk makan.
Sesampainya di Kupang, Leoni langsung dijemput oleh pihak personalia perusahaan yang merekrutnya sebagai guru.
“Hai, saya Leoni.” Leoni menghampiri sesorang yang membawah papan bertuliskan Namanya.
“Hai, selamat datang di kota Karang Kupang mba Leoni, saya Wiliam. Saya dari pihak Yayasan Gonzaga yang ditugaskan untuk menjemput anda.” Wiliam menyambut Leoni dengan senyum semerbak sambil mengulurkan tangannya yang bebas untuk berjabatan tangan.
“Hah?? Yayasan Gonzaga??” Tanya Glen dalam hatinya seolah nama Yayasan yang disebutkan itu tidak asing baginya.
“Mari Mba…” Wiliam mempersilahkan Leoni untuk mengikutinya.
Leoni mengikuti Wiliam dari belakang tanpa memperhatikan Glen yang sudah menyodorkan tangannya kearah Wiliam untuk bersalaman tapi tidak ditanggapi.
“Issshhh…” Glen merasa kesal dalam hati, namun tetap mengikuti mereka tanpa bersuara.
“Hemm… Leoni!” Glen menyunggingkan bibirnya Ketika mereka mulai memasuki Kawasan bangunan milik Yayasan Gonzaga. Glen menyadari dimana mereka berada sekarang.
“Mba, mari kita ke kepala personalia dulu.” Wiliam menunjuk ruangan yang didepan pintunya bertuliskan ruangan personalia, Leoni pun menanggapi dan langsung melangkah masuk ke dalam ruangan.
“Ny…” Panggil Glen.
“Ohh… iya.” Leoni menyadari keberadaan Glen yang sedari tadi layaknya ajudan yang setia berada di sampingnya.
“Maaf mas, tunggu di sini saja yah!” Perintah Wiliam menunjuk kursi tunggu di depan ruangan ketika Glen ambil abah-abah untuk mengikuti mereka.
__ADS_1
“Hem… baik.” Glen langsung duduk di tempat yang ditunjuk. Rasa kesal semakin hinggap di hati Glen.