KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Rumah Baru


__ADS_3

Sesampainya di restoran, Glen dan Leoni langsung disambut oleh pelayan restoran yang tugasnya menunggu pengunjung di depan pintu masuk dan membukakan pintu bagi para tamu yang datang selanjutkan mengantarkan mereka ke table jika sudah ada reservasi sebelumnya ataupun yang belum.


“Selamat siang tuan, nyonya.” Pelayan menyapah mereka.


“Reservasi atas nama Glen.” Glen menyebutkan nama reservasi yang telah dia buat sebelumnya. “Baik tuan, tunggu sebentar saya lihat di daftar pesanan dulu yah!” Kata Pelayan itu yang mendapat anggukan dari Glen sebagai jawaban kemudian memeriksa layar yang ada di depan mejanya. “Mari ikut saya tuan! Saya akan mengantarkan ke tempat yang sudah tuan pesan.” Setelah menemukan daftar pesanan, pelayan itu mempersilahkan mereka ikut dengannya, dia berjalan di depan untuk mengantarkan kedua tamunya itu ke ruangan VIP yang telah dipesan oleh Glen sebelumnya.


Glen dan Leoni berjalan bergandengan tangan dengan sangat gembiranya layaknya para pasangan muda mudi yang lagi kasmaran dan pergi berkencan dengan pasangannya, beberapa kali Leoni bergeliat manja di lengan Glen ketika berpapasan dengan cewek-cewek yang kecentilan melihat suaminya itu. Nampak Leoni cemburu dan was-was melihat tingkah Glen ketika berpapasan dengan beberapa orang cewek yang dilihat Leoni mencuri-curi pandang pada sang suami walaupun suaminya itu tidak memberi respon sedikitpun pada mereka. Entah kenapa perasaan Leoni sepertinya agak sensitif kali ini jika melihat banyak wanita memperhatikan suaminya ataupun sebaliknya jika suaminya bertatapan dengan seseorang.


“Silahkan tuan, nyonya!” Pelayan yang mengantarkan mereka itu mempersilahkan mereka berdua masuk ke dalam ruangan privasi yang sudah dipersiapkan.


“Makasi.” Kata Glen pada pelayan itu.


“Selamat menikmati hidangan makan siangnya.” Pelayan itu berpamitan dengan Glen dan Leoni yang sudah duduk berhadapan di meja makan yang ditata dengan sangat romantis dan tentunya sudah terhidang makanan yang enak-enak diatasnya.


“Ayo makan!” Ajak Glen.


Spontan Leoni mengambil piring di depan Glen yang masih kosong dan mengisinya dengan makanan yang menurut Leoni enak sesuai dengan selera suaminya itu, setelah itu dia mengisi piringnya dengan makanan yang sama dengan yang dia berikan untuk Glen.


“Makasi. Selamat makan.” Glen menerima makanan yang diberikan Glen dan mulai memakan makanannya itu, demikian juga dengan Leoni yang menikmati makanannya dengan sangat lahap, nafsu makannya sangat meningkat dan tidak seperti biasanya.


“Ny?” Glen bingung melihat makanan yang dimakan oleh Leoni dengan ekspresi bertanya-tanya.


“Iya, kenapa?” Leoni bertanya serasa tidak ada yang aneh pada dirinya.


“Kamu makannya banyak banget.” Glen menunjuk ke arah beberapa piring makanan yang sudah kosong dilahap oleh sang istri.

__ADS_1


“Hah? Heemmm…” Leoni kaget melihat piring-piring yang ditunjuk oleh Glen kemudian ekspresinya menjadi malu karena dia menyadari kalau semua itu karena perbuatannya. “Iya, makanan ini kan untuk dimakan jadi harus dihabiskan, kalau tidak maka mubasir dong. Kasihan uangnya sudah bayar makanan ini mahal-mahal.” Leoni membelah dirinya.


Glen tersenyum mendengar perkataan Leoni, diapun berpikir ada baiknya juga apa yang dikatakan oleh istrinya itu walaupun tetap rasanya ada yang mengganjal dalam dirinya melihat Leoni yang memakan banyak sekali makanan yang disajikan itu.


“Kamu tidak takut gendut?” Tanya Glen dengan sangat hati-hati.


“Tidak.” Jawab Leoni singkat dan melanjutkan makannya yang masih tersisa di atas piringnya. “Kalaupun aku gendut kamu pasti tetap akan klepek-klepek kok sama aku. Iya kan?” Kata Leoni setelah beberapa saat sempat berpikir.


Glen hanya membalas perkataan Leoni dengan senyuman dan anggukan, setelah itu mereka melanjutkan makanan sampai keduanya merasa kenyang dan cukup melahap makanan yang ada.


Hampir satu jam mereka berada di ruang privasi VIP restoran itu selain makan, mereka juga meluangkan waktu untuk saling berbagi cerita.


“Oh iya, kemarin katanya selesai makan mau ngajak aku ke suatu tempat? Jadi nggak?” Tanya Leoni teringat dengan perkataan Glen yang sempat membuat dirinya jengkel kemarin.


“Iya jadi dong.” Kata Glen dengan santai.


“Tidak. Pekerjaanku sudah aku selesaikan tadi, kalaupun ada pekerjaan mendadak pasti akan diselesaikan oleh asistenku. Kamu tidak usa khawatir!” Jawab Glen lagi dengan santai.


“Kalau gitu kita jalan sekarang yuk!” Ajak Leoni.


“Heemmm… apa segitu penasarannya sampai mau buru-buru jalan nih?” Tanya Glen bercanda.


“Tidak juga sih, aku tidak penasaran, hanya aku sudah bosan berada di sini. Rasanya ngantuk banget di dalam ruangan seperti ini.” Jawab Leoni.


“Ohh ya sudah. Ayo!” Ajak Glen.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan urusan di kasir, mereka menuju ke tempat parkiran mobil bersama dengan tetap saling berpegangan tangan seperti sebelumnya saat mereka masuk tadi.


Hampir setengah jam Glen mengendarai mobilnya setelah keluar dari restoran tadi akhirnya mereka memasuki kawasan perumahan mewah di kota itu.


“Southern Hill.” Leoni membaca papan nama yang terpampang di dewan kawasan perumahan itu. “Kita mau kemana sih?” Tanya Leoni penasaran namun tidak mendapat jawaban apapun dari Glen.


“Selamat siang tuan, selamat datang.” Kata seorang sekurity yang membukakan pintu gerbang bagi mereka.


“Ini rumah siapa?” Tanya Leoni lagi setelah mereka memasuki pekarangan salah satu rumah yang ada di kawasan perumahan itu.


“Ayo turun!” Glen membukakan pintu bagi Leoni yang sejak tadi bertanya-tanya, bukannya menjawab pertanyaan sang istri malah Glen menyuruhnya turun. Leoni pun masih memenuhi kepalanya dengan berbagai pertanyaan namun tetap menurut pada Glen yang menyuruhnya untuk turun.


Mereka berjalan beriringan memasuki rumah tersebut, Leoni terlihat mengamati setiap sudut ruangan sampai dia menemukan foto pernikahan mereka sangat besar terpasang di salah satu sudut ruangan rumah tersebut. Hal ini tambah membuatnya bingung, kenapa fotonya bisa ada di rumah itu? Ini sebenarnya rumah siapa? Untuk apa mereka datang ke rumah tersebut?


Glen yang masih belum bersuara, hanya terus menuntut Leoni mengelilingi rumah itu, Leoni pun hanya menurut saja walaupun sebenarnya dia membutuhkan jawaban atas pertanyaan yang telah memenuhi kepalanya.


“Gimana? Bagus nggak rumahnya?” Tanya Glen setelah mereka selesai berkeliling di rumah itu dan berhenti di salah satu kamar yang diduga adalah kamar utama dari rumah itu.


“Heemmm… iya. Sangat bagus.” Leoni menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Glen. “Emangnya ini rumah siapa sih?” Tanya Leoni lagi, sepertinya dirinya tidak pekah dengan keadaan dan masih berpikir kalau rumah ini adalah milik orang lain atau mungkin milik keluarga Glen sehingga memungkinkan ada foto mereka yang dipajang dirumah itu.


“Sayang, ini rumah kita.” Jawab Glen dengan lembut. “Ini rumah baru kita, aku mempersiapkan rumah ini untuk kita.” Kata Glen lagi.


***


Love you all readers,

__ADS_1


Maaf Melatinya Wiliam belum update lagi soalnya fokus ngurusin Glen dan Leoni dulu.


__ADS_2