KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Kejadian sebenarnya


__ADS_3

“Ny..” Glen kaget melihat Leoni dihadapannya. Glen pun melakukan hal yang sama seperti apa yang pernah Leoni lakukan padanya, dia berlutut dihadapan Leoni memeluk erat kaki nya dan menangis tak henti. “Mohon maafkan aku atas semua kesalahan yang pernah aku perbuat padamu!” Glen memohon di kaki Leoni.


“Aku sudah memaafkanmu.” Kata Leoni sambil menahan agar butiran bening di pelupuk matanya tidak jatuh. Glen merasa senang mendengar perkataan Leoni barusan.


“Makasi Ny.” Glen berdiri dan memeluk Leoni erat-erat.


“Sekarang pergi dari sini. Aku tidak mau melihatmu lagi.” Kata Leoni lagi, dia melepaskan pelukan Glen.


“Leoni?” Glen rasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar keluar dari mulut Leoni.


“Aku sudah menuruti permintaanmu kan? Aku sudah menemuimu dan menerima permintaan maafmu. Sekarang silahkan pergi dari sini!” Perintah Leoni dengan santai. “Ema, Bapa tolong suruh orang ini pergi!” pesan Leoni pada kedua orang tua Airin sebagai pemilik rumah dan sekaligus sebagai orang tuanya di desa itu, setelah itu dia masa

__ADS_1


bodoh masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya.


“Leoni?” Glen masih tidak menerima perlakuan Leoni padanya barusan, dia berusaha memanggil Leoni sekuat tenaganya.


“Tuan sudah dengar kan perkataan nona ibu? Sekarang silahkan tuan pergi. Minta maaf bukannya mengusir tuan, tapi tolong tuan juga menghargai permintaan nona ibu kami di sini.” Kata bapa desa dengan bijak sana.


“Leoni….” Glen berusaha sekuat tenaga yang masih dia miliki berteriak memanggil nama Leoni, menuju ke depan pintu kamar Leoni walaupun semua orang menghadangnya, dia menempel di depan pintu kamar Leoni sambil menangis. “Terima kasih kamu sudah mau memaafkanku, aku akan pergi dari sini namun sebelum aku pergi ada beberapa hal yang harus aku sampaikan padamu, baik kalau kamu tidak mau menemuiku dan berbicara padaku, aku yakin dibalik pintu ini kamu mendengarkan suaraku.” Glen berlutut menghadap ke arah pintu sambil menangis dan berusaha meluapkan perasaannya. “Tiga bulan yang lalu, aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku.” Glen sesekali terisak dalam tangisnya. “Emosiku dan rasa cemburuku membuatku menjadi orang yang bodoh dan tidak dapat mengontrol perbuatanku.” Glen mulai menceritakan kejadian waktu itu.


“Lepaskan aku, biarkan aku bicara dengannya.” Glen menghempaskan tangan Paula yang mau memapahnya berdiri.


“Biarkan dia bicara!” Kata Romi pada Paula.

__ADS_1


Glen kembali fokus pada daun pintu yang ada dihadapannya.


“Aku tidak tahu kalau kamu dan Melati bertukaran kamar, mungkin juga kamu sendiri tidak tahu kejadian itu karena kamu berada dalam kendali minuman yang kamu minum. Paula menemanimu dan menjagamu sepanjang malam di dalam kamar yang seharusnya adalah kamar Melati. Sebaliknya dikamar yang seharusnya adalah kamarmu, Melati sedang tidur nyenyak tanpa berbusana, mungkin juga dia tengah dalam pengaruh minuman sehingga tidak sadarkan diri. Wiliam saat itu juga terobsesi pada dirimu, dia berniat jahat padamu, saat mereservasi kamar hotel, dia meminta kunci reserep khusus kamarmu agar dia bisa masuk dengan leluasa tanpa sepengetahuan orang lain. Malam itu dia sengaja mabuk-mabukan bersama para staf agar menjadi alasan baginya yang sengaja mau masuk ke dalam kamarmu. Aksi bej@t mulai dilancarkannya, walaupun mungkin dia tidak tahu siapa yang ada diatas ranjang saat itu. Malam itu aku sengaja mau memberikan surprise padamu, sesampainya kami di Kupang aku langsung menuju ke hotel dan bertanya pada petugas di mana kamarmu. Setelah mengecek daftar nama pengunjung, mereka menyampaikan padaku di mana letak kamarmu. Aku kaget karena pintu kamarmu tidak terkunci jadi aku masuk pelan-pelan dengan tujuan mau mengagetkanmu, namun apa yang aku dapat? Dua orang tengah melakukan perbuatan yang sungguh menyakitkan hati. Suasana kamar remang-remang, aku tidak dapat melihat wajah wanita di atas tempat tidur itu dan juga kebetulan wajahnya tertutup rambutnya sendiri, namun aku dapat melihat dengan jelas siapa pria yang bersamanya.” Jelas Glen kejadian tiga bulan yang lalu. “Emosiku tak dapat aku kontrol lagi, amarah menguasai diriku saat itu, aku sangat marah karena sebelumnya sudah memintamu untuk tidak dekat-dekat dengan Wiliam, tapi apa yang aku dapat? Pemandangan yang aku lihat dengan mataku sendiri. Sungguh aku tak mau percaya dengan apa yang aku lihat, namun sakit hati terlalu berat aku rasakan. Dan satu lagi, tidak mungkin aku menikah dengan wanita yang telah menduakan aku.” Lanjut Glen. “Pagi harinya kamu pulang ke vila bersama Paula, kamu seperti tidak melakukan kesalahan apapun, kamu langsung memelukku, hal itu tambah membuatku marah, aku merasa jijik denganmu, dalam pemikiranku kenapa setelah perbuatan yang  semalam kamu lakukan itu dengan Wiliam, sekarang kamu pulang padaku tanpa beban apapun. Sungguh menambah sakit hati ini. Sejak saat itu hati ini sungguh hancur, semangat hidupku pun hilang, rasanya tujuan hidupku tidak ada lagi, sungguh hancur. Jujur selama itu aku tidak tahu kalau perempuan yang bersama Wiliam saat itu bukanlah dirimu, sebenarnya mama dan papa sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya tapi mereka tetap tidak memberi tahu ku kebenaran yang sebenarnya karena prinsip mereka sejak aku kecil bahwa mereka tidak akan ikut campur dalam urusan pribadiku apalagi berkaitan dengan cinta, sampai hari menjelang perpisahanmu dengan sekolah. Aku sengaja mengajak Luna karena aku yakin bahwa kamu sudah bersama Wiliam, aku membawahnya untuk membuatmu marah. Mama sempat melarangku namun seperti yang kamu tahu siapa


diriku, aku tidak akan mendengarkan perkataan mereka, itulah ego ku. Saat sampai di Kupang, aku sepanjang malam merenung di tamnos ditemani Paula, aku mengenang semua yang kita lakukan di tamnos, sebenarnya aku sangat merindukanmu namun ego ku sungguh tak bisa dikalahkan. Aku belum belajar mengalah dan mengikuti kata


hatiku.” Glen masih terus bercerita.


Leoni mendengar cerita Glen dari balik pintu dengan berderai air mata. Dia kaget mendengar semua penuturan Glen, diapun tidak sanggup mempercayai apa yang dia dengar itu.


“Saat itu mama dan papa tidak tinggal diam, mereka berusaha membuat kita baikan, mereka mencari Wiliam dan Melati untuk datang menjelaskan kejadian waktu itu padaku.” Glen terdiam, tak dapat melanjutkan kata-katanya karena dia kembali penuh dengan isak tangis. “Aku datang ke acaramu dengan tujuan untuk meminta maaf padamu dan menjelaskan kesalahanku, namun akibat dari perbuaan Luna yang membuatmu marah dengan berbicara sembarangan, semua rencanaku gagal. Kamu pergi menghilang sampai saat ini. Memang salahku telah membawah Luna saat itu. Sejak saat itu sampai detik ini aku selalu mencarimu seperti orang gila, Ny sungguh aku tidak dapat hidup tanpamu. Oh yah satu lagi, aku dan Luna tidak ada hubungan apa-apa, aku tidak pacaran dengannya apalagi menikah dengannya.” Glen menghakhiri penjelasannya kemudian berdiri. “Aku sudah selesai. Aku pamit.” Kata Glen singkat dan berbalik hendak pergi. “Paula, ayo!” Ajak Glen dan mulai berjalan perlahan menuju pintu keluar.

__ADS_1


__ADS_2