KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Mama sangat senang.


__ADS_3

“Selamat pagi mba.” Sapah Paula saat Leoni mulai mengerjapkan matanya pertanda dia sudah bangun dan berusaha mengumpulkan kesadaran dari tidurnya.


“Paula? Glen belum juga pulang?” Tanya Leoni yang sadar bahwa suda pagi dan yang berada di kamarnya hanya Paula bukan suaminya.


Leoni kembali mengedipkan mata, mengucak kedua matanya dengan kedua tangannya untuk meyakinkan siapa yang ada di hadapannya, perlahan dia turun dari ranjangnya dan berpindah duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya itu.


“Apa harus aku katakan sekarang? Bagaimana respon mba Leoni kalau tau yang sebenarnya? Ahh aku bingung, aku tidak mau dia sedih, dan bukan aku yang sepantasnya memberi tahu yang sebenarnya.” Kata Paula dalam hatinya.


“Paula?” Sapah Leoni lagi karena tidak mendapat tanggapan dari asistennya itu.


“Ah iya mba?” Paula tersadar dari pemikirannya.


“Gimana sih kamu ini, di ajak ngobrol kok hanya ngelamun aja sih?” Kata Leoni ngambek seperti anak kecil, entah kenapa perasaannya sangat sensitif saat ini.


“Ahh maaf mba, heemmm… mba mandi dulu yah? Sudah ku siapkan air mandinya.” Paula langsung menarik Leoni menuju ke kamar mandi dan Leoni pun tidak membantah, dia hanya menurut saja pada Paula. “Apa aku bantu mandinya mba?” Tanya Paula.


“Tidak perlu. Kamu tunggu di luar saja!” Perintah Leoni yang langsung ditanggapi oleh Paula yang langsung melangkah keluar dari kamar mandi dan meninggalkan Leoni sendirian.


“Cepat mandinya yah mba, jangan lama-lama, dan hati-hati, ingat ada dede di dalam perut mba!” Paula mengingatkan.


“Iya bawel, lama-lama kamu tambah cerewet saja dan sekarang sudah beranti memerintah aku yah?” Kata Leoni emosi mendengar perkataan Paula. “Belum nikah juga tapi perkataanya sudah macam emak-emak anak lima.” Gerutu Leoni masih belum terima dengan pesan Paula barusan. “Emangnya aku anak kecil, sampai harus diingatin kayak gitu?” Leoni mulai menyirami tubuhnya namun terus dengan omelan-omelan yang menuju pada Paula yang sudah meninggalkannya sendiri di kamar mandi. “Paula….” Teriak Leoni selesai mandi dan dia membuka pintu kamar mandi menuju ke dalam kamarnya namun tidak di dapatinya asistennya itu di dalam kamar. “Tadi aku suruh tunggu di luar tapi bukan berarti pergi begitu, ihhh dasar tu orang.” Leoni masih kesal pada Paula dan terus saja mengomel dalam hatinya.


“Iya mba.” Paula kembali dengan membawah sarapan untuk Leoni dan meletakannya di meja. “Pakaiannya sudah aku siapkan di walkin closet mba.” Kata Paula sebelum kembali Leoni mengomel padanya.

__ADS_1


“Yah sudah, kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana!” Leoni menuju ke ruangan gantinya.


Selesai memakai pakaiannya, Leoni kembali ke dalam kamar dan menyantap sarapan yang dibawah oleh Paula dengan hening tanpa berkata apa-apa pada Paula sampai makanannya habis.


“Belum ada kabar dari suamiku dan kembaranmu?” Tanya Leoni sementara membersihkan mulutnya dengan tisu pertanda telah selesai makan.


“Aduh gawat, gimana ini?” Kata Paula dalam hati.


“Paula?” Kata Leoni lagi, nampak Leoni curiga dengan tingkah Paula. “Kenapa sejak tadi Paula terlihat aneh? Apa yang terjadi sebenarnya?” Leoni curiga dalam hati. “Kenapa perasaanku tidak enak yah? Sebenarnya sejak kemarin rasanya ada yang mengganjal, apa terjadi sesuatu dengan Glen?” kata Leoni dalam hati.


Leoni berdiri dari duduknya menuju ke nakas dan mengambil handphone nya niat untuk menghubungi Glen.


“Tok… tok…. Tok….” Bunyi ketukan pintu dari luar.


“Biar aku buka pintunya.” Paula segera melangkah ke arah pintu tanpa menunggu sahutan dari Leoni.


“Mana Leoni?” Tanya mama Dona setelah pintu terbuka oleh Paula.


“Ada di dalam nyonya, silahkan masuk!” Palua menggeser tubuhnya memberi ruang dan mempersilahkan mama Dona masuk.


“Mama, ada apa pagi-pagi ke sini?” Tanya Leoni tambah curiga, tidak biasanya mertuanya itu datang pagi-pagi dan tanpa memberi tahu terlebih dahulu.


“Ada yang mau mama sampaikan padamu.” Kata Mama Dona.

__ADS_1


“Mba, nyonya duduk dulu, saya buatkan minum yah nya?” Kata Paula memotong pembicaraan.


“Tidak usa, kamu ikut duduk saja di sini.” Kata mama Dona pada Paula.


Leoni mengikuti mama Dona duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya itu, pikirannya semakin travelling ke mana-mana memikirkan apa yang akan di sampaikan oleh mamanya saat ini, apakah kecurigaanya benar? Apakah terjadi sesuatu pada Glen? Dia dengan setia menunggu mama Dona untuk berbicara dan mengatakan apa sebenarnya maksud kedatangannya.


“Apa yang mau mama sampaikan?” Tanya Leoni tidak sabar menunggu sang mama untuk berbicara. “Apa mama mau bicara tentang Glen?” Tebak Leoni.


Sontak mama Dona terlihat kaget mendengar pertanyaan Leoni. “Paula?” Mama Dona menatap Paula meminta penjelasan padanya, dia curiga kalau Paula telah mengatakan sesuatu pada Leoni tanpa menunggu dirinya datang. Paula yang mengerti makud dari tatapan mama Dona menanggapinya dengan menggelengkan kepala pertanda dia tidak mengatakan apa-apa pada Leoni.


“Mama ada apa? Kenapa menatap Paula seperti itu?” Leoni yang mengerti tatapan mama Dona mengarah pada Paula itu pun menuntut penjelasan. “Paula tidak mengatakan apa-apa padaku.” Kata Leoni dengan sinis.


“Eh… baik. Maaf kan mama! Mama tidak bermaksud apa-apa menatap Paula.” Mama Dona mengalihkan pembicaraannya, dia tidak mau Leoni berprasangka buruk terhadap dirinya. “Kita bicara di ruang tamu yah? Ada papa menunggu di sana bersama dengan kedua orang tuamu.” Kata mama Dona lagi mengajak Leoni. “Rasanya aku tak sanggup untuk mengatakannya sendiri pada Leoni, aku tak mampu melihat kesedihan diwajahnya nanti.” Bisik mama Dona dalam hatinya.


“Baik. Ayo!” Firasat tidak baik Leoni rasakan, tanpa menunggu lagi dia langsung melangkah keluar dari kamarnya diikuti oleh Paula dan Mama Dona.


“Ny.” Mama Dona menarik tangan Leoni yang melangkah lebar dan mendapat lirikan dari Leoni. “Pelan-pelan dong, kamu harus hati-hati. Kata mama Serly kamu sedang hamil kan? Jalannya harus hati-hati.” Lanjut mama Dona setelah Leoni menghentikan langkahnya dan menatap mama Dona.


“Heeemmmm… benar juga. Maafkan aku ma, aku tidak sabar untuk mendengarkan apa yang akan mama sampaikan.” Leoni sadar dengan keadaannya sekarang.


“Selamat atas kehamilanmu yah!” Mama Dona memeluk Leoni. “Mama sangat senang akhirnya akan punya cucu juga.” Lanjut mama Dona benar adanya, tidak dapat dia pungkiri kalau saat ini dia sedang berbahagiah mengetahui kalau Leoni tengah mengandung.


“Glen juga pasti akan senang mengetahui kalau aku hamil, iya kan ma?” Tanya Leoni, tak terasa ujung matanya telah basah dengan setets bening yang keluar dari ujung matanya itu.

__ADS_1


Mama Dona sangat tersentuh mendengar perkataan Leoni, sepertinya kontak batin Leoni dengan suaminya sangat erat, karena tanpa ada yang memberi tahu nya namun nampak dia telah mengetahui sesuati, sangat terlihat dari tinghaknya saat ini, mama Dona jadi tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya.


__ADS_2