KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Terkurung di suatu tempat


__ADS_3

“Iya, iya papaaa.” Glen memberi penekanan pada perkataannya pertanda menuruti perkataan papa.


“Nah gitu dong.” Papa tersenyum lebar, dia sangat senang mendengar perkataan anaknya yang menerima permintaannya untuk liburan alias pergi honeymoon walaupun hanya di Pulau Dewata.


Besok harinya tepat jam delapan pagi mereka sudah siap dan menuju ke bandara diantar oleh Paula. Mereka akan berangkat menggunakan pesawat pribadi keluarga Glen seperti biasanya.


“Ayo Paula!” Ajak Leoni setelah mereka sudah berada di tangga memasuki pesawat.


“Aku tidak ikut mba, kali ini karena liburan honeymoon maka aku tidak diijinkan oleh tuan besar untuk ikut dengan kalian.” Kata Paula. “Lagian aku tidak mau mengganggu tit tit kalian (memberikan gestur tangan menunjukkan gerakan yang biasa dilakukan oleh pasangan suami istri).” Kata Paula sejenak setelah sedikit berpikir, dia tersenyum membayangkan apa yang akan dilakukan oleh tuannya itu saat honeymoon nanti.


“Paula!” Bentak Leoni karena tidak senang dengan gestur yang dilakukan oleh Paula. “Jangan aneh-aneh deh!” Bisik Leoni pada Paula.


“Idihh mba, siapa juga yang aneh-aneh? Namanya juga honeymoon yah pasti melakukan itu dong.” Kata Paula lagi.


Wajah Leoni nampak berubah, pipinya menjadi merah muda seperti buah tomat menahan malu mendengarkan perkataan Paula.


“Ny ayo!” Glen memotong pembicaraan Paula dan Leoni, dia baru saja selesai mengurus bagasi barang yang akan mereka bawah.


“Awas kamu yah!” Leoni melototkan kedua matanya ke arah Paula, namun Paula hanya membalasnya dengan senyum sumringah pertanda kemenangan berpihak padanya.


“Byeee, jangan lupa oleh-oleh untukku yah!” Paula masih sumringah menatap Leoni yang semakin membuatnya kesal.


“Ny…” Panggil Glen lagi.


“Ah, iya.” Leoni mendekat ke Glen. “Paula tidak ikut?” bisik Leoni pada Glen.


“Hah?” Glen kaget dengan pertanyaan Leoni karena yang dia tahu dimanapun mereka pergi, atau khususnya Leoni pergi pasti Paula akan ikut karena itu adalah tugas Paula tapi kenapa sekarang malah Leoni bertanya tentang asistennya itu. “Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Glen bertanya setelah menetralkan pemikirannya.

__ADS_1


“Iya, katanya papa tidak mengijinkanya ikut, tadi aku ajak tapi katanya tidak mau mengganggu kita.” Jawab Leoni singkat.


“Paula?” tanya Glen soelah meminta penjelasan dari Paula atas perkataan yang baru saja Leoni ucapkan.


“Iya tuan, aku tidak ikut karena harus membantu tuan besar di kantor selama tuan dan mba pergi honeymoon.” Lagi-lagi paula memberikan gestur tangan dengan menempelkan kedua tangannya dan menggerakkan ke atas ke bawah.


“Hemmmm…” Glen menarik nafas dalam dalam, dia mengerti kenapa papanya tidak mengijinkan sang asisten untuk ikut. “Yah sudah kalau begitu.” Glen berbalik badan menuju ke dalam pesawat. “Ayo Ny!” Glen merangkul Leoni dan mereka sama-sama masuk ke dalam pesawat.


“Tapi Paula?” Leoni masih saja bingung melihat Paula yang terpaku pada posisinya menanti mereka masuk ke dalam pesawat baru akan beranjak dari posisinya itu.


“Sudah, biar saja dia tinggal. Itu sudah perintah papa yang tidak boleh di ganggu gugat oleh siapapun.” Jelas Glen.


Akhirnya mereka masuk ke dalam pesawat dan siap-siap take off.


***


Penerbangan dari Manado ke Bali memakan waktu sekitar tiga sampai empat jam.


“Wooowwww keren sekali pemandangannya.” Rasanya Leoni ingin segera turun dari pesawat yang mereka tumpangi ketika melihat penampakan Bali dari atas pesawat yang sedikit lagi akan landing di bandara Ngurah Rai Bali.


“Semoga kamu senang liburan di sini.” Kata Glen menanggapi sikap Leoni yang nampak senang sekali.


“Pasti dong, aku tidak sabaran pingin ke pantai Kuta, Jimbaran, GWK, Uluwatu, Tanah Lot, Nusadua, Danau Beratan, pokoknya pingin keliling Bali.” Leoni dengan semangat menyebutkan berbagai dempat destinasi di Bali.


Glen hanya bisa tersenyum mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Leoni sambil membayangkan apa yang akan mereka lakukan berdua di Bali.


“Kenapa senyum-senyum saja? ada yang aneh atau?” Tanya Leoni yang merasa Glen tidak menanggapi setiap perkataannya dan malah hanya tersenyum.

__ADS_1


“Tidak ada yang aneh sayang, aku hanya membayangkan apa yang akan kita lakukan di sini.” Glen melontarkan senyum menggodanya pada Leoni.


Leoni dapat menangkap maksud senyuman dari Glen itu, sejak kejadian yang terjadi pada first night mereka, dia semakin peka terhadap laki-laki yang menjadi suaminya itu.


“Apa yang kamu bayangkan? Pasti lagi membayangkan sesuatu yang aneh deh, aku sungguh curiga kalau kita ke sini bukan liburan ke tempat-tempat yang menyenangkan tapi hanya akan terkurung di suatu tempat!” Kata Leoni sedikit menunjukkan kekesalan.


“Hahahaaaa….” Glen tertawa, dia mengerti yang Leoni maksud. “Tau aja sih kamu? Tenang sayang, selain yang itu, tetap kita akan mengeksplor semua tempat wisata yang ada di sana.” Glen dengan nada usil nan menggoda.


Leoni tidak lagi menanggapi perkataan Glen sampai pesawat yang mereka tumpangi itu mendarat dengan sempurna di bandara.


Setelah turun dari pesawat, Glen dan Leoni dijemput oleh pengawal-pengawal utusan papa, mereka di antar menuju ke villa keluarga yang letaknya ada di daerah Bedugul, daerah yang dingin dengan udara yang sangat segar di pesisir danau Bratan. Perjalanan dari Bandara Denpasar menuju ke Bedugul memakan waktu sekitar satu jam.


“Selamat datang tuan, nyonya.” Para pelayan di villa telah berbaris rapih menyambut kedatangan Glen dan Leoni, beberapa diantaranya langsung menghampiri mobil yang membawah barang-barang Glen dan Leoni, mereka langsung membawah barang-barang tersebut ke dalam kamar utama yang tidak kalah besar dan lengkapnya dengan kamar Leoni di villa Glen yang ada di Kupang, sedangkan pelayan yang lainnya masih setia berbaris menyambut kedua orang yang baru kali ini mengunjungi tempat itu, mereka siap sedia menunggu untuk melayani mereka berdua.


Mata Leoni nampak berbinar memperhatikan setiap sudut di villa itu yang dapat dia tangkap dengan penglihatannya. “Ini villa papa juga?” Tanya Leoni.


“Ini villa kita Ny.” Jawab Glen yang dibalas dengan ekspresi Leoni mengkerutkan kening seolah meminta penjelasan atas jawaban Glen. “Iya, iya, ini villa aset perusahaan yang sudah dialihkan atas namaku dan sekarang bukan hanya miliku dong, milik kita.” Jelas Glen dan dibalas dengan anggukan kepala serta senyuman dari Leoni. “Kamu suka?” Tanya Glen melihat ekspresi senang dari sang istri.


“Iya.” Jawab singkat Leoni. “Tapi kok?” Leoni tertegun menatap dengan tatapan tidak percaya seisi villa itu, bagaimana bisa Glen mengatur vila ini dengan penataan dan prabotan yang hampir semuanya sama dengan villa yang ada di Kupang.


“Sudahlah, ayo kita istirahat dulu di kamar!” Ajak Glen melihat Leoni yang masih larut dalam pemikirannya. “Ayo!” Glen menggenggam tangan Leoni dengan lembut lalu menuntunnya masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa yang telah tersedia di dalam kamar itu.


Beberapa saat kemudian seorang pelayan masuk membawah dua cangkir teh panas dan sedikit jajanan yang bisa mereka nikmati untuk sekedar bersantai.


***


Maaf akhir-akhir ini update sedikit-sedikit saja, soalnya lagi sibuk awal sekolah.

__ADS_1


__ADS_2