
Sesaimpainya di Kupang Glen mengantar keluarganya dan Leoni ke Vila terlebih dahulu, dia memastikan mereka semua dalam keadaan nyaman, setelah itu dia menuju ke Hotel tempat Leoni berada.
Sebelum acara inagurasi, Pak Lukas sempat memberitahu Glen sehingga saat itu dia tahu dimana keberadaan Leoni.
“Ma, aku pergi jemput Leoni dulu.” Pamit Glen pada mamanya.
“Iya, hati-hati!” Pesan mama Glen.
Glen langsung menuju hotel Sylvia diantar oleh supir.
Beberapa kali Glen coba menghubungi Hp Leoni dan Paula namun tidak ada satupun yang menjawab teleponnya. “Mungkin mereka sudah tidur.” Glen melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 3.00 dini hari.
“Dimana tempat kegiatan SMA Gonzaga?” Tanya Glen pada resepsionis yang menyambut kedatangannya.
“Kegiatannya sudah selesai sejak tadi tuan.” Jawab resepsionis. “Guru-guru dan para staf ada yang menginap di sini tuan.” Jelas resepsionis.
“Di mana kamar Leoni?” Tanya Glen lagi.
“Sabar saya lihat daftar tamu nya tuan.” Resepsionis membuka buku daftar tamu dari SMA Gonzaga. “Bu Leoni di kamar 145 Presiden sweet tuan.” Kata resepsionis setelah menemukan nama Leoni.
“Baik terima kasih.” Glen dengan semangat menuju ke nomor kamar yang disebutkan tadi, saking rindunya pada Leoni, dia tak sabaran untuk sampai di kamar tersebut.
“145 Presiden sweet.” Glen membaca nomor kamar yang tertulis di depan pintu. “Ny…” Panggil Glen pelan hendak mengetuk pintu kamar. “Kamarnya tidak dikunci?” Glen heran dengan pintu yang dengan mudahnya di buka. Nampak lampu tidur remang-remang menyalah disudut ranjang, Glen maju selangkah memastikan jika benar apa yang dia lihat di dalam kamar tersebut.
Kondisi kamar yang tidak terlalu terang menampakkan samar-samar bayangan di atas tempat tidur. Dilihatnya dari jauh nampak seorang wanita yang terbaring di ranjang, wajahnya tidak terlihat karena tertutup dengan rambut panjangnya, sepintas postur tubuhnya terlihat seperti Leoni dan sangat jelas pria yang sama-sama diatas tempat tidur itu adalah Wiliam. Wiliam sedang memeluk wanita itu dari belakang dan sesekali membelai rambut wanita itu..
“Leoni… oh Leoni.” Terdengar Wiliam mencium punggung sang wanita sambil memuja-muja dan menyebutkan nama Leoni dengan lantang.
Glen tak sanggup menahan rasa sakit di dadanya, dia pun tak dapat berkata apa-apa lagi, dia mundur perlahan-lahan dan keluar dari kamar itu.
“Apa yang sedang kamu lakukan Ny? Sungguh terlalu menyakitkan.” Glen berlari menuju parkiran mobil. “Janji sekedar janji, katanya tidak akan dekat-dekat dengan Wiliam, sekarang apa? Dasar bodoh! Kenapa aku terlalu bodoh membiarkanmu sendirian di sini? Kenapa aku terlalu bodoh percaya kata-katamu?” Glen teriak dalam hatinya.
__ADS_1
“Tuan…” Teriak resepsionis yang tadi melihat tiba-tiba Glen berlari keluar tanpa memperhatikan sekeliling.
“Arrggghhh….” Teriak Glen di depan mobilnya sambil memukul-mukul kap mobilnya.
“Tuan ada apa?” Supir keluar dari dalam mobil kaget melihat kedatangan Glen secara tiba-tiba.
“Pulang sekarang juga!” Perintah Glen melangkahkan kaki masuk ke dalam mobil.
“Mba Leoni? Tidak ikut pulang?” Tanya sang supir dengan polos, yang dia tahu Glen datang ke hotel untuk menjemput Leoni dan Paula.
“Ayo jalan!” Perintah Glen dengan marah.
“Bbbaik tuan.” Sang supir tergagap dan masih terpaku ditempatnya. “Tuan kenapa yah? Kok tiba-tiba saja marah? Bukannya tadi baik-baik saja?” Supir bingung memikirkan keadaan Glen yang berubah drastis hanya dalam beberapa menit.
Sepanjang perjalanan menuju ke vila Glen diam saja tanpa bersuara, sesekali dia menarik napas berat dalam-dalam, sesekali juga dia menyeka air mata yang menetes walaupun tidak sederas tangisan seorang perempuan, nampak wajah gantengnya menjadi menakutkan, penuh amarah yang terpancar dari setiap tatapan matanya. Supir yang ada bersamanya saat itupun takut bertanya bahkan takut berbicara sedikitpun, dia melajukan mobil dalam keheningan.
Sesampainya di rumah, Glen langsung menuju ke kamarnya, kebetulan semua orang rumah sudah tidur.
“Praaannggg…” terakhir bunyi asbak rokok dilempar keluar melalui jendela dan jatuh tepat di akuarium kaca yang ada ditaman.
Saat itu sang mentari sudah bersinar dengan gagahnya namun Glen tidak mempedulikan keadaan di luar kamarnya, dia terus meluapkan amarahnya.
“Sepertinya tuan Glen sedang murka di dalam kamarnya.“ Kata supir yang tadi mengantar Glen kepada security.
“Emangnya ada apa? Apa yang terjadi dengan tuan? Bukannya tadi kalian berdua keluar dengan baik-baik saja?” Tanya security.
“Entahlah, aku juga tidak tahu.” Jawab supir.
“Glen, kamu kenapa?” Mama Glen terburu-buru menghampiri Glen yang sedang marah-marah di dalam kamar ketika mendengar kekacauan yang terjadi di kamar Glen. “Glen, ada apa sayang?” Tanya mama lagi mengelus pundak anak kesayangannya itu. “Ayo cerita ke mama!” mama menarik Glen duduk di atas ranjang. “Kalau ada masalah selesaikan dengan kepala dingin, jangan dengan bara emosi!” Mama berusaha menenangkan Glen. “Leoni mana? Apa yang terjadi? Kenapa kamu marah-marah?” Mama pergi menutup pintu kamar Glen agar tidak ada yang bisa masuk.
Glen yang selalu menjadikan mamanya sebagai tempat curhatan langsung merasa tenang dengan kedatangan mama di kamarnya. Dengan sendirinya dia langsung menceritakan kejadian yang tadi dilihatnya tanpa ditutupi sedikitpun.
__ADS_1
“Kita bicarakan dengan orang tua Leoni. Ayo! Pasti mereka sedang menunggu kita di luar.” Ajak mama.
Tanpa berkata apa-apa, Glen mengikuti mama keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu yang berada di lantai bawah. Benar saja semua sudah berkumpul di ruangan tersebut.
“Ada apa ma?” Tanya papa Glen sesaat setelah Glen dan mama duduk disampingnya.
“Biar Glen yang menjelaskan.” Jawab mama. “Ayo Glen!” perintah mama Glen.
Glen masih nampak berpikir dan merangkai kata-kata untuk menyampaikan hal yang terjadi pada semua orang yang sedang menunggunya dari tadi.
“Glen…” Teriak Leoni yang tiba-tiba masuk dan langsung berlari hendak memeluk Glen.
“Jangan sentuh aku!” Glen menepis tangan Leoni dengan ekspresi marah dan sangat menakutkan.
“Kamu kenapa sih?” Leoni kaget dengan perlakuan Glen.
“Jauh-jauh dariku!” perintah Glen dengan emosi yang membara.
“Glen?!” Leoni tambah bingung dia berusaha meraih tangan Glen namun sama saja ditepis dengan kasar.
“Ada apa ini sebenarnya?” Tanya papa Leoni yang tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Glen.
“Glen?” panggil Papa Glen dengan nada marah.
“Ma..” Leoni menghampiri mamanya, bulir-bulir bening mulai membasahi mata indahnya.
“Tenang! Hapus air matamu!” Mama Leoni menghapus air mata yang jatuh di pipi Leoni. “Selesaikan masalah kalian berdua dengan tenang.” Tambah mama Leoni.
“Glen ada apa ini? Kenapa kamu marah-marah? Apa yang terjadi? Ayo jelaskan!” perintah papa Glen yang melihat ada hal tidak beres terjadi antara anaknya dan calon menantunya.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi ma.” Bisik Leoni yang masih terisak pada mamanya. Leoni pun sama halnya dengan semua orang.
__ADS_1
“Om, tante, sebaiknya kalian pergi dari sini sekarang juga dan bawah jauh anak kalian ini dari hadapanku!” kata Glen tiba-tiba. “Aku tidak akan pernah menikahinya.” Glen memalingkan wajahnya kemudian meninggalkan semua orang yang sedang bertanya-tanya apa yang terjadi.