KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Memberikan Keturunan


__ADS_3

Sejenak Glen bingung dengan apa yang baru saja di katakan papa itu, saat ini dirinya belum connect dengan hal-hal yang seperti itu. Maklum saja dia belum punya pengalaman dalam hal ini.


“Apa sih maksud papa?” Tanya Glen pelan sepertinya tidak mengerti perkataan papa barusan.


Leoni sepertinya sudah mengerti maksud perkataan papa namun dia tidak berani membalas berkataan papa mertuanya itu, dia tertunduk malu seketika mendengarkan permintaan itu. Dia tahu dan sadar kalau ke dua orang tua itu pasti sudah sangat mengharapkan hadirnya seorang cucu di awal pernikahan mereka ini.


Papa merasa jengkel mendengarkan perkataan Glen yang menanyakan maksudnya, rasanya pingin sekali papa berteriak menjelaskan pada mereka berdua namun dia menurunkan amarahnya dan perlahan dia menatap anak dan menantunya itu bergantian.


“Glen, Leoni, kalian tidak usa bohong sama mama dan papa, kalian berdua sudah mencetak gol kan tadi malam? ayo ngaku!” mama merayu mereka berdua sebelum papa melanjutkan kata-katanta. “Buktinya mama sendiri melihat dengan mata kepala mama tanda pencetakan gol itu yang membekas di itu tuh!” Rayu mama lagi, dia menunjuk ke arah leher Leoni dan Glen dengan tatapan menggoda.


“Emangnya ada bukti apa sih ma?” Tanya papa seolah ingin tahu apa yang ada dalam pikiran istrinya itu.


“Itu loh pah, tadi pagi mama melihat ada bekas merah-merah di leher mereka berdua. Itu karena apa coba pa? kalau bukan karena pencetakan gol yang Glen lakukan ke Leoni.” Lanjut mama usil dengan tersenyum lebar.


“Mama? Papa?” Nada bicara Glen sudah meninggi menghadapi keusilan papa dan mama nya pagi ini. “Itu tadi bekas gigitan nyamuk ma, tadi malam kami tidak menutup jendela sehingga banyak nyamuk masuk.” Kata Glen tegas. “Iya kan sayang? Benarkan gigitan nyamuk?” Tanya Glen pada Leoni meminta dukungan atas perkataannya itu.


Leoni hanya tertunduk sambil menganggukkan kepalanya, dia tidak berani mengangkat kepala dan menatap papa dan mama Glen.


“Oh gigitan nyamuk? Tadi salep yang mama kasi bukan untuk obat gigitan nyamuk loh Glen, itu khusus untuk yang gituan loh.” Mama semakin usil, menunjuk ke arah leher mereka berdua. “Tapi manjur kan? Buktinya sudah memudar kan atau bahkan bekasnya sudah hilang, coba mama lihat di kamu Glen.” Mama mendekat ke arah Glen dan hendak memeriksa leher anaknya itu. Ke usilan mama saat itu tidak menurun, malah semakin melihat anak dan menantunya itu salting maka semakin bertambah ke usilannya.


“Mama!” Glen semakin meninggikan nada bicaranya, apalagi dia melihat Leoni yang nampak menahan malu atas sikap kedua orang tua mereka itu.


“Iya sudah, sudah.” Mama mengangkat kedua tangannya seperti orang yang sudah menyerah. “Makanya habis gituan, perhatikan kondisi kalian dulu agar tidak kayak tadi pagi.” Mama masi saja usil pada Glen, dia berbisik ke telinga anaknya itu dengan senyuman mengejek kemudian duduk kembali ditempatnya.


“Sudah ma!” papa menengahi melihat tingkah sang istri yang terus merayu anak dan menantunya.

__ADS_1


“Iya papa.” Mama duduk dengan sikap sopan dan tidak berkutik lagi walaupun dalam hatinya senang mengerjai anak dan menantunya itu.


“Leoni.” Panggil papa pada menantunya yang sejak tadi menundukkan kepalanya.


“Iya pa.” Leoni mengangkat kepalanya kemudian menatap ke arah papa.


“Glen, papa senang sekali hari ini karena kamu sudah bersedia memenuhi permintaan papa untuk menikah, hari ini dirumah ini sudah ada suasana baru dengan hadirnya Leoni sebagai istrimu.” Kata papa.


“Iya pa, mama juga senang.” Sambung mama.


“Makasi pa, ma, sudah menerima Leoni.” Kata Glen.


“Sejak kemarin di gereja sudah banyak yang memberikan petuah bagi kalian berdua, jadi papa tidak akan banyak bicara lagi, kalian sudah dewasa pasti kalian sudah tahu apa yang bisa kalian lakukan dan yang tidak bisa dilakukan, yang terpenting adalah saling menghargai, saling menghormati dan terbuka satu sama lain, tidak ada yang saling menutup-nutupi hal sekecil apapun itu, ya intinya kejujuran itu penting, jika ada masalah harus disikapi dengan kepala dingin. Itu saja yang bisa papa sampaikan.” Kata papa memberikan nasihat.


“Makasi pa.” Sambung Glen dan Leoni bersamaan.


“Apa itu pa? kami akan berusaha semampunya untuk memenuhi harapan papa.” Kata Glen lagi.


“Ya, papa tahu kalian pasti akan berusaha untuk memenuhinya.” Kata papa lagi.


“Apa itu pa?” Bisik mama yang duduk di samping papa.


“Papa ingin kalian segera memberikan keturunan.” Lanjut papa. “Papa ingin segera menimang cucu.” Kata papa lagi melanjutkan perkataannya sebelumnya.


Leoni dan Glen saling bertatapan dengan ekspresi yang tidak terbaca.

__ADS_1


“Papa nih, nggak ngerti apa? Mereka semalam sudah mencoba untuk melakukan permintaan papa, papa tunggu saja pengumuman dari mereka pa.” Bisik mama ke telinga papa, sengaja mama berbisik dengan suara yang bisa didengar oleh Leoni dan Glen dengan tujuan masih melanjutkan keusilannya.


“Iya ma, pa, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk secepatnya dapat memberikan cucu untuk mama dan papa.” Kata Leoni malu-malu.


“Nah gitu dong Leoni.” Mama menatap Leoni dengan tatapan menggodanya.


“Ny?” Glen kaget mendengar perkataan Leoni.


“Glen, kalian kan sudah menikah jadi wajar saja kami meminta kalian untuk segera menghadirkan cucu bagi kami.” Kata papa lagi.


“Iya pa, akan kami usahakan.” Kata Glen walaupun agak sedikit kesal dan malu dengan tuntutan ke dua orang tuanya itu.


“Nah kalau gitu besok kalian harus honeymoon.” Kata papa spontan. “Paula.” Teriak papa memanggil Paula.


“Iya tuan besar.” Paula menghampiri papa.


“Segera atur liburan mereka ke Bali besok sampai satu minggu kedepan.” Perintah papa.


Paula langsung berbalik dan segera mengatur segala sesuatu yang dibutuhkan tanpa menghiraukan panggilan Glen karena dia merasa perintah dari tuan besarnya yaitu papa Glen yang harus dituruti dan lagian dia juga mendukung ide tersebut.


“Papa.” Panggil Glen kesal. “Papa jangan terburu-buru begitu dong! Aku juga setuju dengan ide papa untuk pergi honeymoon tapi untuk saat ini masih ada banyak pekerjaan di kantor yang harus aku selesaikan terlebih dahulu, apalagi dua minggu belakangan ini aku jarang ke kantor karena mengurus pernikahan kami pa.” Kata Glen membantah sedangkan Leoni diam saja, dia tahu apapun yang papa dan suaminya itu putuskan, itu adalah yang terbaik. “Masa iya aku langsung menambah libur satu minggu lagi sedangkan pekerjaanku menumpuk pa?” Tanya Glen dengan kesal.


“Tidak ada bantahan Glen. Ini juga demi kalian berdua kok.” Kata papa lagi tidak mau kalah dengan Glen.


“Selama ini kalian sudah banyak mengalami masalah yang tak henti-hentinya, sekarang ini adalah waktu bagi kalian untuk quality time berdua, iya kan Leoni? Kalian sudah banyak kehilangan waktu berdua loh. Jadi tidak ada salahnya untuk kalian mengambil waktu satu minggu kedepan untuk honeymoon.” Tambah mama yang juga mendukung ide papa.

__ADS_1


“Tapi ma, pa.” Glen masih berat menerima.


“Tidak ada tapi-tapian Glen. Dikantor masih ada asistenmu yang kerja, ada papa juga yang siap membantu, dan kalaupun dibutuhkan kamu bisa kerja dari sana kan? Tidak harus ada di sini. Jadi sekarang tidak usa pikirkan masalah kerjaan dulu, fokus dulu untuk quality time bersama istrimu!” Papa menekan Glen agar mau menuruti permintaannya.


__ADS_2