KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Yayasan Gonzaga


__ADS_3

Leoni dan Wiliam masuk beberapa menit ke dalam ruangan personalia untuk melaporkan kehadiran Leoni sebagai guru di Yayasan itu. Beberapa menit kemudian, mereka pun Kembali keluar dari ruangan tersebut Bersama dengan Pak George kepala bidang personalia.


“Makasi pak George.” Leoni bersalaman dengan pak George ketika dirinya sudah diterima.


“Sama-sama mba. Mari saya antar untuk bertemu dengan kepala sekolahnya, supaya mba bisa langsung mengajar.” Pak George menanggapi.


“Baik pak.” Kata Leoni.


“Mari…!” Wiliam membukakan pintu untuk Leoni dan Pak George.


Sesampainya di luar ruangan, Leoni tersadar dengan kehadiran Glen yang setia menunggunya.


“Glen… “ Leoni menoleh kearah Glen.


“Ny….” Glen berdiri dari duduknya dan hendak menghampiri Leoni karena sempat kaget mendengar Leoni menyebut namanya.


“Pak, saya ketemu teman saya dulu sebentar yah.” Kata Leoni pada pak George karena ada perasaan tidak enak sejak tadi tidak menghiraukan Glen.


“Iya, silahkan.” Jawab pak George singkat. “Itu temannya Mba Leoni kok kayak familiar sih wajahnya?” Bisik pak George secara spontan. “Ah, mungkin hanya perasaanku saja.” Kata pak George dalam hati walaupun dia merasah ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya.


“Ada apa pak?” Tanya Wiliam yang merasah ada sedikit aneh dengan tingkah pak George.


“Heeeemmm.. tidak ada apa-apa.” Jawab pak George singkat.


Beberapa menit kemudian setelah berbincang sedikit dengan Glen, Leoni Kembali menghampiri Pak George dan Wiliam untuk kemudian menuju ke ruang Kepala Sekolah.


“Pak George.” Leoni Kembali berada di samping Pak George.


“Iya mba. Oh yah teman mba itu siapa?” tanya Pak George serasa penasarannya tadi masih agak mengganjal di benaknya.


“Oh itu teman saya dari kota pak. Dia mengantarkan saya ke sini.” Jawab Leoni tanpa mau menutup-nutupi kenapa Glen ada di situ walaupun dia tidak memberitahukan siapa Glen dalam hidupnya karena menurut dia ini belum saat yang tepat.


“Hem, baik.” Kata Pak George singkat menanggapi Leoni. “Mas, tolong menunggu di sini sebentar yah. Saya mengantarkan Mba Leoni nya untuk bertemu dengan kepala sekolah dulu.” Pak George menghampiri Glen yang sedang terpaku ditempatnya. “Saya George.” Menyodorkan tangan kearah Glen.


“Glen.” Menyebutkan Namanya dengan ramah menanggapi uluran tangan Pak George. “Nih orang kayaknya tidak kenal siapa saya? Sepertinya dia tidak tahu atau kurang bergaul yah??” Kata Glen dalam hatinya. “Sebagai kepala Personalia harusnya dia sudah tahu siapa saya.” Kata Glen lagi dalam hatinya.


“Glen?” Pak George bertanya-tanya dalam hatinya. “Apa saya tidak salah lihat atau?” Pak George merasa seperti kenal dengan orang yang ada dihadapannya.


“Ayo pak, kita ke ruang kepala sekolah dulu! Sebentar lagi sudah mau jam bubar sekolahan pak.” Wiliam datang mengingatkan.


“Ah baik.” Pak George menanggapi seadanya. “Mas nya tunggu sebentar yah!” Pak George agak berhati-hati karena pikirannya agak tidak tenang.


“Baik.” Jawab Glen singkat.


Pak George kemudian membawah Leoni Bersama Wiliam ke ruang kepala sekolah.


*


Selama Leoni bersama pihak personalia berada di ruangan kepala sekolah, Glen menghubungi papanya dan memberi tahu rencananya berkunjung di perusahaannya serta meminta pihak yayasan untuk besok pagi dapat menyiapkan acara pertemuan dengannya sebagai pemilik Yayasan.


“Baik Glen. Akan papa atur. Papa akan menghubungi om Lukas.”


“Oke pa, Glen tunggu info dari papa.” Glen mengakhiri pembicaraan dengan papa melalui telepon bertepatan dengan sekembalinya Leoni dan pak George.


“Ny.” Sapa Glen saat Leoni sudah berada di dekatnya.

__ADS_1


“Mba mari saya antar ke mess khusus pegawai yayasan.” Pak George mengajak Leoni. “Wiliam tolong bantu mba Leoni membawah barang-barangnya!” perintah Pak George.


“Baik pak.” Respon Wiliam singkat dan langsung mengambil alih beberapa barang bawaan yang tadi ada dalam kendali Glen.


Mereka semua mengikuti Pak George sebagai penunjuk arah menuju tempat tinggal Leoni yang baru.


“Mba Leoni, ini tempat tinggal mba selama bekerja disini. Silahkan masuk!” Pak George membukakan pintu rumah yang sudah mereka siapkan. “Kalau ada yang dibutuhkan, boleh hubungi Wiliam. Dia akan siap membantu.” Kata Pak George dengan sopan.


“Iya pak. Terima kasih.” Jawab Leoni.


“Saya tinggal dulu, silahkan mba Leoni beres-beres. Besok sudah bisa bekerja. Kami tunggu disekolah besok.” Kata pak George.


“Baik pak.” Leoni menganggu menanggapu perkataan pak George.


“Wiliam, kamu bantu mba Leoni yah. Saya Kembali ke ruangan.” Pak George memberi tugas kepada Wiliam.


“Siap.” Kata Wiliam singkat. “Mari mba. Apa yang bisa saya bantu?” Tanya Wiliam pada Leoni.


Setelah selesai beres-beres barangnya Bersama Glen dan dibantu oleh Wiliam, Leoni membuatkan dua orang pria itu minuman Pelepas dahagah, dan sepertinya mereka terlihat sangat kelelahan karena membersihkan beberapa bagian rumah tempat tinggal yang baru itu.


“Oh ya mba, temannya ini nanti nginap di mana?” Tanya Wiliam dengan sopan, mengingat kehadiran Glen disitu dan dia tersadar kalau tadi pak George tidak sempat memberi tahu peraturan di mess ini..


“Saya nginap disini dengan Leoni.” Kata Glen dengan tegas.


“Tapi disini kan sekolahan. masa ada guru yang membawah teman gurunya lawan jenis nginap di satu tempat yang sama. Apalagi disini hanya ada satu kamar.” Kata Wiliam polos.


Glen dan Leoni jadi salting mendengar perkataan Wiliam tapi sekaligus membuat Glen jengkel. “Berani sekali dia melarangku untuk tinggal di sini? Hhheeeemmm….” Kata Glen dalam hati.


“Tapi sekarang kan sudah malam. Glen tidak tahu keadaan di daerah sini. Tidak mungkin dia pergi mencari tempat nginap sendirian. Kalaupun aku mengantarnya, juga pun sama.” Kata Leoni spontan. “Biarkan dia nginap di sini mala mini. Besok dia akan Kembali ke Jakarta. Boleh?” Leoni melirik Wiliam seraya meminta persetujuan. “Glen nanti tidur di sofa. Lagian kami sudah dewasa. Tidak mungkin kami melakukan hal-hal yang buruk.” Jelas Leoni lagi.


Glen terlihat diam saja, tidak berniat menjawab atau merespon sedikitpun.


“Terima kasih.” Kata Leoni setelah Wiliam keluar dari rumahnya.


“Enak yah dapat perhatian dari cowok lain.” Sindir Glen membuat wajah Leoni memerah karena emosi. Dia sadar kalau hari ini dia sudah melupakan Glen walaupun mereka berada di tempat yang sama.


“Kamu….” Leoni tak dapat mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, dia sadar kalau sejak tadi tidak menganggap Glen ada. Entah karena kebahagiaannya mendapatkan pekerjaan dan disibukkan dengan aktifitas hari ini yang menguras tenaga sampai dia bisa cuek pada Glen dan lebih banyak berinteraksi dengan Wiliam.


Leoni meneteskan air mata karena merasa bersalah.


“Jangan menangis.” Glen menghapus air mata yang menetes di pipi Leoni dengan jemarinya yang indah. “Sayang, aku tidak bermaksud….” Kata-kata Glen terhenti dengan pelukan Leoni yang tiba-tiba menghambur ke dalam lengan kekar Glen.


“Glen, aku sayang kamu.” Leoni mulai sesegukan, dia menyadari kesalahannya dan dia tahu Glen marah.


“Aku tidak mau ada cowok lain yang ngasih perhatian lebih seperti si Wiliam tadi.” Kata Glen jujur.


“Iya.” Jawab Leoni singkat.


Mereka beristirahat setelah perbincangan panjang mereka yang menguras emosi dan pemikiran Glen yang tidak rela meninggalkan Leoni bekerja sendiri di tanah orang dan apalagi ada cowok yang mulai memberikan perhatian, namun akhirnya mereka menemukan kata sepakat.


Ting… (bunyi pesan masuk di Hp Leoni)


“Besok pagi jam 9 ada pertemuan dengan Direktur utama Yayasan Gonzaga di aula utama. Jadi diharapkan jam 8 sudah berada di sekolah. Kita persiapkan hal-hal yang dibutuhkan dalam pertemuan.” Bunyi pesan singkat dari Wiliam.


“Baik. Terima kasih.” Balas Leoni singkat.

__ADS_1


*


Pagi itu Glen sudah terlebih dahulu bangun dan mempersiapkan sarapan yang sudah dia pesan kepada salah satu orang suruhan papa yang merupakan orang kepercayaan om Lukas.


“Kamu mau kemana?” Tanya Leoni yang tiba-tiba keluar dari dalam kamar dan melihat Glen sudah siap dengan pakaian lengkapnya.


“Kamu ke sekolah jam berapa?” Glen balik bertanya. “Ini sudah jam 7.30 loh.” Glen melirik jam tangan indah yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Hah?? Aku harus sudah berada di sekolah sebelum jam 8 karena ada pertemuan.” Leoni terburu-buru. Dia mencium pipi Glen kemudian berlari menuju kamar mandi.


Tok… tok… tok (pintu rumah Leoni di ketok oleh seseorang).


“Hem… pagi-pagi ni orang sudah bertamu saja.” Glen melihat siapa yang datang dari lubang monitor pintu.


“Tok… tok… tok” pintu Kembali diketuk.


“Glen siapa yang datang? Tolong bukakan pintunya!” Teriak Leoni dari dalam kamar mandi.


“Iya.” Jawab Glen kemudian membukakan pintu. “Ada apa pagi-pagi sudah bertamu.” Kata Glen cetus.


“Apa-apaan sih temannya mba Leoni ini? Pagi-pagi aja uda cetus gitu. Siapa sih dia ini?” Wiliam mengomel dalam hatinya.


“Saya hanya mau mengingatkan mba Leoni untuk segera ke sekolah. Karena hari ini secara kebetulan ada pertemuan dengan Direktur utama, takutnya mba Leoni terlambat apalagi hari ini adalah hari pertamanya kerja.” Jelas Wiliam.


“Ohhh….. dia lagi mandi. Nanti saya sampaikan.” Kata Glen singkat kemudian menutup pintu walaupun Wiliam belum selesai bicara.


“Isshhhh dasar!” Bentak Wiliam tidak senang. Wiliam setia menunggu Leoni di depan rumah, dia tidak peduli dengan sikap Glen yang tiba-tiba menutup pintu. “Ini orang nih menjengkelkan sekali. Hanya teman juga, masi bersyukur tidak di usir dari sini.” Wiliam merasa jengkel dengan sikap Glen.


“Mba…” Wiliam sontak berdiri ketika Leoni membuka pintu hendak keluar.


“Wiliam? Ngapain di sini? Kamu belum ke sekolah?” Tanya Leoni kaget melihat Wiliam duduk di depan rumahnya.


“Iya, aku menunggu mba di sini supaya bisa sama-sama ke sekolah. Kan kasihan toh mba kalau pergi sendiri, mba kan masih baru di sini.” Jawab Wiliam  penuh pengasihan.


“Makasi, tapi sebenarnya tidak harus bigini juga. Dia bisa pergi sendiri ke sekolah, kamu jangan terlalu berlebihan.” Glen tiba-tiba muncul di belakang Leoni. Rasa protektifnya mulai muncul mengingat tingkah Wiliam yang dinilainya agak berlebihan.


“Maaf, saya rasa tidak berlebihan, malah ini wajar kok. Saya sebagai teman dan orang yang sudah lama bekerja lama di tempat ini. Sudah seharusnya berlaku baik terhadap orang baru.” Wiliam masa bodoh menanggapi perkataan Glen.


“Semoga saja kamu bisa bertahan bekerja disini.” Glen semakin kesal, kemudian berlalu dari hadapan Wiliam menuju ke dalam rumah.


“Sabar yah, aku omong sedikit dengan ….” Leoni belum menyelesaikan perkataannya langsung masuk menyusul Glen karena Wiliam memberikan respon Gerakan tangan seraya mengerti maksud Leoni. “Glen…” Panggil Leoni.


“Iya, silahkan terus menerima perlakuan baiknya! Aku jamin dia akan segera berhenti bekerja di sini.” Kata Glen tegas.


“Glen. Kamu kenapa sih?” Leoni serasa tidak mengerti dengan tingkah Glen.


“Tidak ada apa-apa. Sebaiknya kamu pergi ke sekolah sekarang, sebelum terlambat. Ingat ada bos mu yang datang. Apalagi ini hari pertama mu kerja.” Kata Glen dengan tegas.


Leoni masih pingin mempertanyakan sikap Glen, tapi ketika melirik jam yang melingkar di tangannya sudah hamper jam 8, akhirnya dia memutuskan untuk segera menuju ke sekolah. “Iya. Aku ke sekolah dulu yah. Kamu tunggu di sini! Selesai pertemuan aku akan pulang.” Kata Leoni buru-buru.


“Sarapanmu belum di makan.” Belum selesai Glen bicara, Leoni sudah menghilang dari hadapannya. “Issshhhh…. Ini semangat banget masuk kerja atau apa sih?” Glen masih jengkel.


Tok… tok… tok (ada orang mengetuk pintu rumah Leoni.)


“Masuk!” Perintah Glen dari dalam.

__ADS_1


“Tuan, sudah siap ke kantor?” Kata pengawal yang ditugaskan untuk menjemput Glen.


“Ayo!” Glen langsung keluar dari dalam rumah dan menuju ke mobil yang sudah disiapkan untuk menjemputnya menuju ke kantor Yayasan Gonzaga.


__ADS_2