
Linda menjelaskan dimana mobil yang dimaksud Luna itu diparkir, Luna langsung berlari keluar dari ruang perawatan walaupun sudah ditahan oleh beberapa petugas medis dan termasuk juga Linda sendiri. Dia bersih keras mau melihat mobil tersebut.
“Mba, mau kemana?” petugas medis kaget melihat Luna yang sedang memakai baju pasien sudah berlari keluar dari klinik. “Mba, mba belum pulih seratus persen, jangan berlari dulu!” dua orang petugas medis mengejar Luna dan Linda dari belakang.
“Luna kamu mau kemana sih? kamu belum pulih.” Teriak Linda menyusul Luna keluar. “Kamu mau kemana? Kamu baru saja siuman, kondisimu belum pulih seutuhnya, ayo kita masuk lagi ke ruang perawatan! Aku takut terjadi apa-apa padamu.” Kata Linda lagi tapi tidak ditanggapi oleh Luna, malah Luna sibuk mengelilingi mobil yang ada didepannya, memeriksa seluruh sudut mobil yang bisa dia jangkau dan masuk ke dalam mobil memeriksa isi di dalam mobil tersebut.
“Syukurlah mobil ini dan isinya masih dapat diselamatkan.” Kata Luna legah dan senang setelah memeriksa setiap sudut mobil tersebut beserta dengan seluruh isinya. Walaupun sebagian besar isi dalam butik sudah hangus terbakar, tapi paling tidak ada yang bisa dia selamatkan dari kebakaran tersebut. “Untung saja mobil ini tidak kenapa-kenapa.” Kata Luna senang.
“Luna.” Linda menghampiri Luna dengan wajah sedih, entah apa yang ada dalam pemikirannya saat itu. “Hanya ini yang tersisa dari butik kita Lun.” Linda memeluk Luna dan ikut menangis bersama. “Makasi kamu sudah berusaha menyelamatkan mobil ini dan seluruh isinya.” Semakin erat Linda memeluk Luna, mereka terisak bersama. “Hanya ini yang tersisa untuk kita.” Linda sedikit merasa penyesalan namun berusaha untuk kuat. “Kita jadikan ini sebagai modal untuk sama-sama memulai dari awal lagi. Kamu mau kan?” Tanya Linda pada Luna.
“Ya, aku mau.” Luna melerai pelukan diantara mereka kemudian memaksakan senyuman diwajahnya yang sedang bersedih mengingat musibah yang mereka alami.
“Kita bisa memulainya kembali dari awal, aku masih punya sedikit modal yang bisa kita pakai untuk membangun kembali butik.” Kata Linda bersedih mengigat usahanya selama ini.
“Aku juga punya sedikit simpanan, walaupun sedikit tapi bisa membantu, aku harap kamu jangan menolaknya, kita sama-sama berusaha kembali.” Kata Luna dengan tulus.
“Iya Lun, kita sama-sama memulai kembali.” Linda mengiyakan perkataan Luna.
“Tapi bagaimana dengan orang yang sudah memesan baju di butik kita?” Linda tiba-tiba teringat pada costumer nya. “Kita harus segera mengantisipasinya.” Segera Linda melakukan telepon dan menghubungi beberapa kenalannya untuk membantu dan juga memberi tahu beberapa konsumen yang sempat dia ingat agar mereka bisa memahami keadaannya.
“Di dalam mobil ini ada beberapa pesanan yang sudah siap dan menunggu diantarkan hari ini. Kita harus segera mengantarnya, walaupun agak terlambat tapi kita harus mengantarnya, kita jangan membuat semakin banyak costumer yang kecewa, paling tidak ada beberapa yang masih bisa diantarkan.” Luna semangat, dia teringat dengan beberapa kotak yang sudah dia kemas semalaman. Dia langsung mengecek daftar yang telah dia masukkan ke dalam mobil tersebut. “Pesanan yang lain masih bisa kita usahakan, besok masih ada waktu.” Kata Luna lagi. “Ayo masuk ke dalam mobil!” Luna berlari masuk ke dalam mobil, duduk di balik kursi kemudi mobil itu dan menyalakan mesin mobil. “Ayo Lin!” Teriak Luna dari dalam mobil karena Linda diam saja di luar.
“Lun mau kemana? Kamu masih harus perawatan. Kita konsultasi dulu dengan dokter.” Kata Linda. “Luna, kamu mau kemana? Lihat penampilamu masih seperti itu!” Kata Linda lagi karena tidak mendapat tanggapan dari Luna dan dia melihat pakaian yang dipakai Luna yaitu pakaian pasien rumah sakit.
__ADS_1
“Ayo Lin, nanti kita terlambat!” Teriak Luna lagi. Linda pun menuruti permintaan Luna karena mesin mobil sudah dia nyalakan dan beberapa kali dia menginjak gas untuk berancang-ancang menjalankan mobil.
“Kemana sih?” Tanya Linda.
“Mengantarkan beberapa wedding dress yang sudah seharusnya diantarkan.” Jawab Luna tegas.
Selama perjalanan mereka berdua terdiam tanpa suara, keduanya sibuk dengan pemikirannya masing-masing, beberapa rumah costumer mereka kunjungi untuk mengantarkan pesanan.
“Linda?” Konsumen pertama yang mereka datangi pun kaget melihat kedatangan Linda dan Luna membawah kotak. “Apa ini?” tanya konsumen itu lagi.
“Ini dress yang kalian pesan.” Jawab Luna mengambil alih.
“Yang benar saja? bukannya butik kalian terbakar? Kok bisa?” Tanya costumer lagi.
“Ini rumah siapa?” Tanya Linda setelah Luna memarkirkan mobil di halaman rumah costumer yang terakhir, seharusnya diantarkan ke rumah Glen tapi kenapa ini rumah yang asing bagi Linda.
“Ini rumah Leoni.” Jawab Luna singkat kemudian turun dari mobil.
Luna langsung turun dari mobil dan masuk kedalam rumah menghampiri Leoni dan keluarganya yang ada di ruang tengah sedangkan Linda mulai menurunkan kotak berisikan pakaian dan meminta beberapa orang pengawal Glen yang kebetulan ada di depan rumah Leoni saat itu untuk membantu menurunkan beberapa kotak berisi baju itu dari dalam mobil dan membawah masuk ke dalam rumah itu.
“Leoni.” Panggil Luna dan mengalihkan perhatian semua orang yang ada disitu.
“Luna?” Leoni dan Glen kaget melihat siapa yang ada di hadapan mereka saat ini.
__ADS_1
“Kenapa kamu di sini? Untuk datang menertawakanku, iya? Belum cukup kah apa yang telah kamu buat padaku selama ini? Setelah membakar butik dan menghancurkan semua wedding dress ku, sekarang kamu masih bisa datang ke sini? Untuk apa Luna?” Leoni berdiri dari tempat duduknya menghampiri Luna yang berdiri di depan pintu kemudian meneriakinya sambil menangis. “Puas kamu mengacaukan pernikahanku?” Teriak Leoni lagi.
“Leoni, Ny, sabar!” Glen menarik Leoni dan memeluknya. “Tidak boleh seperti itu Ny, sabar! Aku mohon.” Bujuk Glen.
Leoni terdiam mendengarkan permohonan Glen, dia kembali duduk ditempatnya.
“Kamu harus sabar sayang! Apapun yang terjadi aku tetap akan menikahimu besok. Wedding dress itu bukan suatu penghalang yang akan menghalangi pernikahan kita. Jadi aku mohon kamu untuk tenang.” Bujuk Glen dan berhasil membuat emosi Leoni surut.
“Luna kamu kenapa ke sini? Ada apa?” Mama Glen dengan pelan menghampiri Luna dan memperhatikan kotak yang dibawah oleh Luna dan beberapa kotak yang baru saja dibawah masuk oleh beberapa pengawal Glen yang membantu Linda tadi.
“Makasi.” Kata Linda pada beberapa orang yang telah membantunya menurunkan kotak dari dalam mobil.
“Linda?” Glen kaget melihat sahabatnya itu. “Ny, ada Linda. Aku hampiri dia dulu.” Glen pamit pada Leoni dan menghampiri Linda yang sudah berdiri di samping Luna.
***
Like
komen
vote
Share ke teman-teman yach readers biar tambah banyak yang membaca tulisanku, thanks!
__ADS_1