KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Lapang Dada


__ADS_3

Glen bersama pengawalnya berjalan perlahan menuju pintu keluar rumah itu. Beban Glen agak berkurang karena dia telah menjelaskan penyebab dia marah pada Leoni saat itu, dia puas karena telah mengungkapkan semuanya pada Leoni, namun kini rasa sakit yang baru muncul dalam hatinya, dia belum bisa merelakan Leoni menjadi milik orang lain. Dia masih sangat berharap Leoni kembali padanya.


Semua orang ikut menangis terharu mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulut Glen.


Romi, saat itu mulai menaruh hati pada Leoni. Dia pun was-was ketika mendengarkan semua penuturan Glen. Dia senang karena masalah antara Glen dan Leoni telah jelas, namun disisi lain diapun takut Leoni akan pergi dengan Glen. Dia tidak bisa egois, namun diapun mengakui perasaannya mulai tumbuh untuk Leoni.


“Nona.” Romi memanggil Leoni yang tiba-tiba saja membuka pintu kamarnya lalu keluar.


Semua orang mengalihkan pandangan yang sebelumnya melihat ke arah Glen dan anak buahnya yang hendak pergi beralih ke arah Leoni, Glen beserta para pengikutnya pun melakukan hal yang sama.


“Mba…” Paula berlari memeluk Leoni. “Mba mau ikut kami pulang kan?” tanya Paula. Sementara Glen masih terpaku menyaksikan interaksi dua orang yang seperti sahabat itu. Sejenak Glen berpikir bahwa Leoni akan kembali padanya, tidak masalah dia telah bersama Romi, yang terpenting adalah hati Leoni masih miliknya. Glen menyunggingkan bibirnya, nampak senyum tipis mulai muncul dengan sendirinya diwajah pria tampan itu. Dia sangat yakin bahwa dia menjadi pemenang hati Leoni.


“Mba bukan aku yang mengatakan keberadaanmu pada tuan. Ini mungkin sudah takdir untuk kalian menyelesaikan masalah.” Bisik Paula.


“Kenapa tadi kamu tidak menjelaskan padaku apa yang terjadi? Kenapa kamu menutup-nutupi dari ku? Kenapa sejak saat itu kamu juga menghilang dariku?” Leoni menghujani Paula dengan beberapa pertanyaan tanpa melepas pelukan dianatara mereka.


“Maafkan aku! Aku bukan menutup-nutupi darimu, tapi rasanya tidak pantas bagiku untuk melangkahi tuan. Mba tahu aku ini siapa?!” Jawab Leoni. “Aku pun tidak bermaksud menghilang dari mba, sejak saat itu aku pingin ikut dengan mba, tapi sekali lagi aku sadar siapa diriku.” Lanjut Paula kemudian melepaskan pelukannya dengan Leoni. “Tuan.” Panggil Paula pada Glen berharap Glen mendekat dan membujuk Leoni untuk pulang.


“Ny?” Selangkah Glen maju mendekat.


“Nona..” Romi sigap mendekat ke arah Leoni.

__ADS_1


“Romi!” Bentak bapa desa, walaupun sebenarnya dia berharap Leoni menjadi menantunya tapi dia tidak bisa egosi, dia harus bijaksana dalam menyikapi setiap permasalahan. “Biarkan nona ibu menyelesaikan masalahnya, kamu jangan ikut campur!” Perintah bapa desa.


“Leoni?” Dengan hati-hati Glen maju selangkah lagi.


“Tuan, ayo cepat bujuk mba pulang!” Paula tidak sabaran melihat tuannya yang hanya maju selangkah demi selangkah dengan sangat lambat. “Tuan, aku mohon ajak mba pulang!” Paula menarik Glen agar mendekat dengan cepat ke arah Leoni.


“Nona.” Romi menghalangi. “Nona.” Romi mulai meneteskan air mata, rasanya tidak rela jika Leoni akan kembali pada Glen.


“Ny, pertama dan terakhir kali aku bertanya padamu. Apakah kamu mau pulang bersamaku?” Tanya Glen pada Leoni tanpa mempedulikan Romi yang ada di dekatnya saat itu. “Aku yakin semua orang sedang menunggu kedatanganmu, kedua orang tuamu dan kedua orang tuaku. Aku tidak memintamu untuk kembali menjadi miliku, tapi aku harap kamu mau pulang. Ingat keluargamu merindukanmu.” Kata Glen dengan sangat lembut dan mendapat tanggapan dari Leoni, dia menganggukan kepalanya tanda setuju.


“Romi.” Leoni melepaskan genggaman Romi di lengannya. “Maafkan aku. Mungkin sekarang sudah waktunya aku untuk pulang pada keluargaku.” Kata Leoni dengan lembut.


“Aku bisa mengantarmu pulang, tidak harus bersamanya.” Romi berusaha membuju Leoni.


“Ayo duduk!” Papa Airin sebagai tuan rumah mempersilahkan mereka semua untuk duduk.


Semua orang mengikuti permintaan sang pemilik rumah, semua duduk diruang tengah rumah itu.


“Mungkin semua hal yang mengganjal di hati nona ibu sudah terjawab oleh tuan Glen. Bapa rasa semuanya sudah jelas. Kekeliruan di antara tuan Glen dan nona ibu, kesalah pahaman di antara kalian, penyebabnya sudah jelas. Sekarang tergantung kalian berdua mau mengambil keputusan seperti apa.” Bapa Desa memecah keheningan diantara mereka.


“Heeeemmmm…” Glen menarik nafas dalam-dalam, rasa sesak di dada mungkin masih dia rasakan. “Pertama, aku minta maaf sudah membuat keributan di tempat ini!” Glen merasa bersalah atas apa yang baru saja dia lakukan, secara bergantian dia menatap bapa desa dan kedua orang tua Airin sebagai pemilik rumah, tanda permohonan maafnya. “Kedua, aku sudah merasa agak legah karena telah menjelaskan penyebab masalah diantara aku dan Leoni.” Lanjut Glen. “Dari lubuk hatiku yang paling dalam, sebenarnya aku masih berharap Leoni kembali padaku dan ikut pulang bersamaku. Namun aku tidak akan memaksanya jika dia tidak menginginkannya.” Kata Glen dengan berat hati.

__ADS_1


“Tuan kenapa berkata seperti itu? Aku tahu tuan tidak akan rela jika mba Leoni tinggal atau tidak ikut pulang.” Paula ikut nimbrung dalam pembicaraan.


“Paula!” Bentak Glen.


“Mba, aku menggantikan tuan, aku mohon mba ikut dengan kami. Aku tahu hati tuan sangat sakit dan hancur begitupun denganmu. Aku sangat yakin kalian masih saling memendam rasa. Tolong mba! Ikutlah dengan kami.” Paula yang duduk di samping Leoni tiba-tiba berlutut dihadapan Leoni dan memegang kedua tangan Leoni. “Mba.” Paula menangis.


“Nona, jangan pergi!” Tiba-tiba Romi pun berdiri dan ikutan bermohon pada Leoni.


“Romi.” Bapa Desa menahan langkah Romi.


“Bapa, aku mohon, demi aku. Bapa jangan mengijinkan nona ibu pergi dengan mereka.” Rengek Romi.


“Kenapa kamu seperti ini?” Tanya Bapa Desa.


“Romi?” Leoni bingung melihat tingkah Romi. “Apakah dia memendam rasa padaku selama ini?” kata Leoni dalam hati, sedangkan Glen diam saja menyaksikan apa yang di lakukan Romi.


“Nona, aku mohon tinggallah disini sebentar lagi.” Rengek Romi lagi.


“Romi duduk!” Perintah bapa desa yang dituruti oleh Romi. “Bapa tahu, tanpa kamu ungkapkan, bapa dan kami semua telah melihat dan menilai apa yang kamu lakukan dengan Nona Ibu. Mungkin kamu telah menaruh perasaan padanya, itu wajar saja sebagai seorang pria dan wanita yang sering bersama. Tapi kamu juga harus menghargai perasaan dan keputusannya. Kalau nona ibu memilih untuk ikut dengan tuan Glen, kamu harus dengan lapang dada menerimanya dan mengijinkannya pergi.” Kata Bapa Desa secara to the poin. “Sekarang kita serahkan kepada Nona Ibu untuk mengambil keputusan. Langkah apa yang dia pilih, apakah dia akan ikut dengan tuan Glen atau akan tetap bersamamu di sini.” Tambah bapa desa.


***

__ADS_1


Mohon dukungannya terus yah!


Thanks.


__ADS_2