
“Kapan kalian sampai di sini?” Tanya Leoni yang berdiri dari duduknya dan mulai mendekat ke brankar yang menjadi tempat suaminya berbaring saat itu.
“Semalam.” Jawab Paulo singkat sambil mengikuti langkah Leoni dari belakang, dia khawatir terjadi sesuatu pada Leoni atau mungkin tiba-tiba Leoni jatuh.
“Apa? Sejak semalam?” Tanya Leoni kaget.
“Iya mba, kami pakai pesawat pribadi dan sampai sekitar jam sebelas malam, kami langsung ke rumah sakit.” Jelas Paulo.
“Kenapa kalian menyembunyikan ini dariku? Apa kalian sengaja agar aku tidak tahu keadaan suamiku?” Bisik Leoni yang masih terdengar di telinga Paulo. Leoni menyentuh tangan Glen yang tidak terpasang infus dan menggenggamnya erat.
“Aku takut mba shok mengetahui berita ini, makanya aku menghubungi nyonya dan tuan besar terlebih dahulu. Maaf kalau aku salah mba.” Pintah Paulo. “Tuan dan nyonya juga mungkin sengaja tidak memberi tahu mba sejak semalam karena tidak mau mengganggu istirahat mba, makanya pagi-pagi tadi mereka langsung menghampiri mba di rumah.” Jelas Paulo lagi.
“Glen, aku di sini, bangun dong!” Bisik Leoni lagi tepat di telinga Glen, dia tidak lagi menghiraukan perkataan Paulo. “Glen bangun, jangan seperti ini dong, aku mohon!” Rengek Leoni yang kembali meneteskan air matanya. Rasa sesak di dadanya melihat kondisi Glen seperti itu. “Glen, bangun!” Leoni berteriak sekuat tenaga berusaha agar suaminya itu bisa mendengar panggilannya dengan harapan Glen membuka matanya sat itu juga.
“Mba, jangan seperti itu, mba harus tenang! Kita serahkan pengobatan tuan pada dokter, yah?” Bujuk Paulo yang menuntun Leoni untuk duduk kembali di samping Glen berbaring.
Semua orang yang berkumpul di depan ruangan perawatan Glen saat itu menyaksikan apa yang Leoni lakukan, namun mereka semua tidak berani untuk masuk dan menegur Leoni, mereka tahu saat ini hati Leoni sedang sakit melihat Glen yang terbaring seperti itu.
Paula memberanikan diri untuk masuk, dia tidak tahan melihat Leoni rapuh seperti itu, yah bos nya itu yang sudah dia anggap seperti saudari sendiri nampak sangat terpuruk.
__ADS_1
“Aku harus membujuk mba Leoni agar bisa tenang, kasihan bayi yang ada dalam kandungannya. Aku tahu perasaan mba saat ini, seharusnya dia berbahagiah menanti kepulangan suaminya dan akan memberi tahukan kabar gembira atas kehamilannya saat ini, namun sayangnya dia yang mendapatkan surprise menyedihkan seperti ini.” Kata Paula dalam hati. “Mba.” Panggil Paula yang telah masuk ke dalam ruangan perawatan Glen dan mendekat pada Leoni.
“Glen, aku tidak sanggup menjalani ini semua, aku mohon kamu bangun!” perintah Leoni lagi, masih dengan isak tangis yang semakin menjadi.
“Mba, ingat kondisi kandungan mba dong, kasihan bayinya mba, tolong jangan menangis seperti ini yah! Mba harus yakin sebentar lagi tuan pasti akan segera sembuh.” Bujuk Paula.
Leoni kembali berdiri dan menghampiri brankar Glen, dia menangis sejadinya sambil menggoyangkan tubuh Glen yang tengah terpasang beberapa alat medis. “Apa yang harus aku lakukan sekarang Glen? Hah? Jawab aku!” teriak Leoni di telinga Glen berharap bisa di dengar oleh suaminya itu.
“Mba, aku mohon tenang.” Kata Paula lagi.
“Mba minum dulu!” Paulo menyodorkan segelas air putih pada Leoni yang sedari tadi menangis, Leoni pun menerima dan meminum air segelas itu dalam satu kali teguk, setelah itu dia mengembalikan gelas yang kosong pada Paulo.
Sepasang saudara saudari kembar itu sangat mencemaskan Leoni dengan keadaanya yang sedang mengandung namun beban pikirannya saat ini sungguh sangat memprihatinkan.
“Glen, sejak kemarin aku menunggu mu pulang, aku senang sekali mendengar kabar bahwa urusan pekerjaanmu di Larantuka telah selesai dan akan kembali ke sini, aku sungguh tidak sabar menanti kepulanganmu. Sejak semalam aku gelisah menunggumu, namun apa? Bukannya kamu kembali dengan selamat melainkan kembali dengan keadaan seperti ini. Apa yang harus aku lakukan? Hah?” Kata Leoni dalam hatinya. “Seharusnya hari ini kamu mendengar berita baik dariku yang selama ini kamu nantikan.” Leoni menyeka air mata yang jatuh di pipinya. “Aku tidak bisa menerima keadaanmu seperti ini Glen, baru saja kita bersama dan merasakan kebahagiaan, tapi kenapa sekarang ada krikil tajam seperti ini yang kembali menusuk kehidupan kita? Belum cukup kah selama ini kita terpisahkan oleh jarak? Kenapa sekarang kita bersama tapi dalam keadaan seperti ini? Katanya mau membuatku bahagiah selamanya? Tapi kenapa sekarang malah bukan kebahagiaan yang kau berikan padaku?” Rintihan Leoni mengomel pada suaminya yang sedang tidak sadarkan diri itu.
“Mba, ayo kita keluar. Dokter mau memeriksa keadaan tuan.” Kata Paula menunjuk kedatangan beberapa tenaga medis yang terlihat dari balik sekat kaca.
“Aku masih mau di sini, kalian berdua saja yang keluar dan suru mereka masuk!” Bentak Leoni.
__ADS_1
“Mba, jangan keras kepala seperti ini, aku mohon!” pintah Paula.
“Aku bilang pergi!” Bentak Leoni lebih keras lagi.
“Mba jangan terlalu bersedih seperti ini, yakin tuan sebentar lagi akan sembuh. Ingat ada bayi dalam kandungan mba yang harus di jaga, kalau mba terlalu banyak menangis nanti anaknya juga ikut bersedih.” Bujuk Paula tanpa menyerah.
“Kamu tahu apa? Emangnya kamu sudah pernah mengandung?” Tanya Leoni sinis pada Paula, yah saat ini Leoni tidak bisa mengontrol emosinya.
“Sudah, jangan berdebat lagi, ayo kita keluar.” Bujuk Paulo pada saudari kembarnya itu. “Mba kami keluar dulu, nanti kami kembali setelah dokter selesai memeriksa keadaan tuan.” Kata Paulo sambil menarik Paula keluar dan hal itu mendapat tanggapan dari Leoni dengan sekedar anggukan kepala.
“Kamu harus sabar dalam menghadapi mba Leoni sekarang ini, kita harus mengerti keadaannya, dia pasti rapuh melihat keadaan tuan seperti ini. Kita harus berusaha membuat mba Leoni melupakan kesedihannya walaupun tidak mudah.” Bisik Paulo setelah mereka sampai di luar ruangan pemeriksaan.
“Aku kasihan dengan keadaan mba Leoni, pasti berat baginya menghadapi situasi saat ini.” Kata Paula menaggapi perkataan saudaranya itu.
Sementara Leoni yang tetap berada di dalam ruangan perawatan menyaksikan dengan tenang tindakan yang dilakukan oleh para dokter pada suaminya, berharap apa yang mereka lakukan saat itu bisa paling tidak membuat suaminya siuman dan bisa sedikit berbicara dengannya.
“Dok, kenapa suamiku belum juga sadar?” Tanya Leoni setelah mereka selesai memeriksa suaminya dan hendak keluar dari ruangan itu.
“Kami masi sedang mengobservasi kondisi tuan, kami belum tahu dengan jelas apa penyebab sehingga tuan belum sadarkan diri sampai saat ini, mungkin tuan terlalu banyak menghirup asap akibat kebakaran dan asap sudah memenuhi paru-paru dan otak. Kami juga sudah melakukan pemeriksaan dan menunggu hasil lab serta hasil scan nya, semoga secepatnya hasil pemeriksaan keluar agar kami bisa tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mengobati tuan.” Jelas dokter kepala tim yang menangani Glen saat itu.
__ADS_1
***
Sejauh ini tentang Glen dan Leoni, mohon terus dukungannya yah!