KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Glen berani mengungkapkan


__ADS_3

“Bu pisang goreng satu porsi sama kopi hitam satu yah.” Kata Glen kepada pelayan kantin di pinggiran boulevard. “Kamu apa Ny?” Glen bertanya ke Leoni.


“Teh hangat saja.” Jawab Leoni santai.


“Sama teh hangat satu yah bu, semua bungkus yah.” Teriak Glen.


“Kok bungkus sih?” Tanya Leoni lagi.


“Aku mau duduk di pinggiran boulevard kayak mereka yang ada di sana.” Jawab Glen sambil menunjuk pemuda-pemudi yang duduk di pinggiran sambil menikmati sunset, hidangan yang mereka bawah dan mungkin saja ada yang pacaran di sana.


“Oke.” Kata Leoni setuju.


Setelah pesanan mereka siap, Glen membayar pesanan itu kemudian mereka pergi mencari tempat yang bagus dan tidak terlalu ramai.


“Kok di sini sih? Sepih banget.” Tanya Leoni setelah mereka sampai ditempat yang dipilih Glen.


“Karena ada yang mau aku omongin sama kamu.” Jawab Glen santai kemudian turun dari mobil membawah map dokumen milikLeoni yang dia ambil dari kampus tadi.


“Tapi…” Leoni mau membantah.


“Aku tidak akan ngapa-ngapain kamu kok. Takut banget! Ayoo kita nikmati sunset di sini.” Kata Glen yang masih


terlihat santai.


“Oke.” Leoni turun dari mobil membawah makanan dan minuman yang mereka beli tadi, mereka mengambil posisi


duduk untuk menikmati sunset yang begitu indah di sore itu.


**


Ting…. Ting… (Hp Leoni berbunyi)


“Iya maaa.” Leoni berbicara dengan orang dibalik telpon.


“Kamu di mana? Belum pulang nih?” Tanya mama dari balik telpon.


“Aku masih sama Glen maa, dikit lagi pulang.” Jawab Leoni.

__ADS_1


“Ingat cepat pulang, kamu belum beres-beresin barang-barang mu loh.” Mama mengingatkan.


“Iya maa.. setengah jam lagi kami pulang.” Leoni langsung menutup telpon.


**


“Kenapa?” Tanya Glen.


“Mama nyuruh aku pulang.” Jawab Leoni.


“Aku dengar, katanya beres-beresin barang-barang mu? emangnya ada apa, kok barang-barangmu harus diberesin?” Glen sempat mendengar pembicaraan mereka di telpon.


Leoni kebingungan mau jawab apa. “Tadi pagi tuh aku berantakin lemari karena nyari sesuatu, dan aku janji sama mama pulang kuliah baru aku beresin.” Entah ide dari mana yang muncul dikepala Leoni sehingga dapat menjawab pertanyaa Glen itu.


“Ohh.. kirain karena kamu mau pindah?!” sindir Glen lagi.


Wajah Leoni saat itu langsung memerah seperti buah tomat.  “Nggakkk.. ngak kok.” Jawab Leoni terbata-bata.


“Benar tidak pindah?” tanya Glen mengiterogasi untuk meyakinkan dan melihat ekspresi Leoni mau mengakui atau tidak.


“Heemm…” Leoni bingung mau menjawab seperti apa, yang harusnya hal ini tidak perlu disembunyikan, hanya


“Ny.. Leoni Aprilia. Ini punya mu kan?” Tanya Glen tanpa mau berbasa-basi lagi, kesabarannya mulai habis melihat tingkah Leoni yang saat itu tidak mau jujur.


“Heeemmm...” Leoni menggaruk kepala nya yang tidak sakit.


“Map yang berisi permohonan pindah kuliah Leoni Aprilia. Benar?” Glen mulai sinis.


“Iya itu punya ku.” jawab Leoni pelan dan takut-takut karena melihat ekspresi Glen yang mulai marah, rasa-rasanya gelas kopi di tangannya akan melayang entah ke manah arahnya.


“Kamu mau pindah ke mana sih Ny?” Tanya Glen lemah. “Hanya


pindah kampus atau?” Tanya Glen lagi seperti jiwa nya sebagian mulai redup. “Kenapa pindah kampus? Apa ada masalah dengan kampusku?” Tanya Glen lagi karena tidak mendapat tanggapan dari Leoniu. “Belum cukup kah ke Jakarta waktu itu kamu niggalin aku?” Glen meneteskan air mata. “Baru kamu cewek yang suka buat aku nangis loh Ny...” Rasa sakit hati banget tiba-tiba kembali dirasakan Glen setelah beberapa tahun yang lalu perasaan ini ia rasakan ketika Leoni pergi ke Jakarta.


“Maaf, aku tidak mengerti maksud kamu.” Kata Leoni datar, tidak pekah dengan perasaan Glen.


“Kamu jawab saja pertanyaanku!” Glen menghapus air mata yang menetes di pipinya. “Kamu mau ke mana lagi?” Tanya Glen serasa dada nya berkecamuk. “Leoni, jawab aku!” Kata Glen masih dengan lembut, atau lebih jelasnya dengan lemah karena menahan sesak di dada, namun lagi-lagi masih belum mendapatkan tanggapan dari Leoni. “Leoni, jawab pertanyaanku!” Teriak Glen dengan emosi.

__ADS_1


“Aku mau pindah kampus.” Jawab Leoni singkat.


“Kampus mana? Kenapa pindah? Apa kamu tidak puas dikampus ku? Atau ada pelayanan yang kurang baik?? tolong kasi tahu Leoni!” kata Glen dengan kesal.


“Semua baik-baik saja. Tapi aku memang harus pindah kuliah ditempat lain.” Kata Leoni.


“Tempat lain di mana? Kenapa harus pindah?” tanya Glen dengan air mata yang semakin deras.


“Aku harus pindah ke Kupang (NTT).” Jawab Leoni singkat.


Bruuukkkk... jawaban Leoni membuat seolah dunia Glen benar-benar runtuh. apa benar kali ini Leoni akan kembali


meninggalkannya? Apa lagi yang terjadi? Kenapa dia harus pergi ke Kupang? Glen tak mampu memikirkan semua itu. Rasa trauma dan sakit hati yang dulu dia pendam telah berhasil sembuh dengan kembali nya Leoni tapi sekarang sepertinya luka malah semakin dalam yang dia rasakan. “Aku harus menahan Leoni agar tetap ada di sisiku.” Kata Glen dalam hati menguatkan diri.


“Aku sayang kamu Leoni, ku mohon jangan pergi lagi!” Bisik Glen yang hampir-hampir tidak bisa di dengar oleh Leoni. “Dulu waktu kamu pergi ke Jakarta, aku belum sempat menyampaikan hal ini kepadamu, hal ini yang membuat aku sakit hati dan trauma untuk jatuh cinta, namun dibalik itu juga aku yakin bahwa kamu akan kembali untukku. Aku merasa bersalah pada diriku sendiri dan melampiaskan emosiku kepada orang lain. Mungkin empat tahun yang telah berlalu itu adalah masa-masa terburukku. Aku baru merasa bangkit kembali ketika kamu kembali. Ny, kurang lebih satu bulan ini, aku merasakkan seperti hidupku telah kembali. Waktu itu juga mungkin karena kita masih anak-anak, jadi aku tidak berani dan tidak bisa menahanmu di sini, aku tak mampu bertanggung jawab atas dirimu kala itu. Tapi sekarang Ny aku mohon tetaplah disini bersamaku!” curahan hati Glen sambil meneteskan air


mata.


“Glen... apa maksud mu??” Tanya Leoni bingung.


“Ku mohon jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Aku butuh kamu ada di sampingku!” Rengek Glen seperti anak kecil yang meminta permen. “Aku sayang kamu Leoni, aku butuh kamu disini, di sisiku.” Kata Glen lagi. “Baru


sekarang aku berani mengungkapkannya. Mungkin kalau keadaan ini tidak pernah terjadi, maka aku tidak akan pernah mengungkapkannya. Aku bersyukur dengan adanya map permohonan pindah ini, karena adanya map ini membuat aku berani untuk mengungkapkan isi hatiku padamu” Glen mengangkat map yang dia pegang.


“Glen..” Leoni menyebut nama Glen.


“Iya Leoni, aku sayang kamu dan aku tidak mau berpisah dari mu. Ku mohon.” Tiba-tiba Glen memeluk erat Leoni dan menangis.


Lima menit Glen memeluk Leoni “Jangan lebay nangisnya..!” Leoni tersenyum kemudian melepaskan pelukan Glen yang terasa begitu erat. “Sebenarnya ungkapan ini yang aku tunggu dari mu.” Kata Leoni dalam hati sambil menatap mata Glen yang berlinang air mata. “Biasanya yang nangis cewek deh, tapi baru kali ini aku lihat cowok yang nangis.” Leoni meledek Glen yang terlihat cengeng dengan senyuman dibibir mungilnya itu.


“Benar Ny, mungkin baru aku cowok yang nangis, dan baru sekarang aku nangis. Itu gara-gara kamu.” Kata Glen


malu-malu namun penuh kejujuran yang terlihat dari tatapan matanya.


**


bantu like, comment, vote, hadiah yah....

__ADS_1


supaya penulis semangat dalam melanjutkan penulisannya...


makacieee


__ADS_2