KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Hasilnya Positif.


__ADS_3

Dengan langkah seribu Glen, Paulo dan bule pemilik perusahaan asing itu berlari menerjang kobaran api demi untuk menyelamatkan nyawah seorang bayi yang tidak tahu apa-apa tengah terkurung kobaran api.


Kebakaran yang disebabkan oleh kelalaian kedua orang tua bayi itu yang membakar sampah di samping rumah mereka dan tidak memperhatikan nyala api yang ternyata semakin membesar sampai membakar atap rumah mereka yang terbuat dari daun ilalang.


“Tuan, jangan gegabah, kita tunggu petusa pemadam kebakaran datang.” Paulo menasihati Glen yang hendak menerobos ke dalam rumah.


Rasa kasihan pada seorang anak bayi yang belum tahu apa-apa itu membuat Glen semangat untuk menolong anak tersebut, tanpa pikir panjang dia langsung menerobos masuk, Paulo tidak dapat menahan bos nya itu, sedangkan dirinya sendiri pun tidak bisa mengikuti langkah Glen karena telah dihalangi oleh aparat yang melihat aksi Glen.


“Asssiiihhh…. Tuan nekat sekali. Gimana kalau terjadi apa-apa dengan tuan?” Paulo mondar-mandir gelisah memikirkan Glen yang sedang berjuang menyelamatkan seorang bayi.


“Tolong, tuan jangan mendekat!” Salah seorang petugas mencegah Paulo yang hendak melangkah menyusul Glen.


“Tapi, saya tidak bisa diam saja melihat bos saya di dalam kobaran api seperti itu.” Paulo membantah perkataan petugas itu dan tetap berusaha menerobos karena perasaan tidak tenang menunggu seperti itu dalam diam.


Paulo mondar-mandir tidak tenang, sesekali dia menatap ke arah kobaran api berharap Glen segera keluar dari dalam kobaran api tersebut. Tiga puluh menit berlalu, membuat Paulo merasa semakin was-was karena bos nya tak kunjung keluar dari kobaran api.


“Itu mereka.” Nampak beberapa petugas pemadam kebakaran yang ikut masuk menerobos api keluar memapah Glen dan beberapa orang lainnya bersama seorang bayi yang selamat.


“Tuan…” Paulo langsung menghampiri Glen, tiba-tiba Glen roboh di depan Paulo dan beruntungnya assistennya itu berhasil menanggakp tubuh sang presdir sehingga tidak terjatuh ke lantai.


“Dia pasti kekurangan oksigen dan terlalu banyak menghirup asap tebal. Segera bawah ke ambulans, dan dilarikan ke rumah sakit agar mendapat pertolongan.” Kata seorang petugas medis yang langsung menghampiri mereka bersama dengan brangkar dan segera menaikan Glen ke atas brangkar tersebut tanpa menunggu persetujuan dari siapapun. Segera Paulo memberikan anggukan pertanda menyetujui dan mengikuti dari belakang brangkar yang didorong oleh para petugas medis.


“Maaf anda siapa?” Tanya petugas medis saat Paulo hendak mengikuti mereka naik ke dalam ambulans. “Apakah anda keluarganya?” Tanya petugas medis itu ragu-ragu.


“Ya, saya asistennya.” Jawab Paulo dengan tegas.


“Baiklah kamu boleh ikut.” Petugas medis mengijinkan Paulo ikut masuk ke dalam ambulans.


Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, petugas medis yang ikut di dalam mobil ambulans itu berusaha memberikan pertolongan pertama pada Glen agar segera sadarkan diri, sedangkan Paulo masih nampak gelisah melihat keadaan tuannya itu, nampak diapun ragu-ragu untuk mengabari keluarga Glen terutama istri bosnya itu.


“Tolong urus administrasinya.” Kata petugas medis sesampainya di ruang gawat darurat.


“Baik.” Paulo dengan langkah cepat mengurus administrasi perawatan Glen.

__ADS_1


“Apakah anda keluarga pasien?” Tanya seorang petugas medis yang selesai memeriksa keadaan Glen setelah Paulo kembali dari mengurus administrasi.


“Iya.” Jawaban singkat Paulo berikan.


“Mari kita ketemu dokter yang bertanggung jawab kepada pasien.” Kata petugas itu.


“Baik.” Paulo mengikuti petugas itu dari belakang. Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di ruangan dokter IGD yang bertanggung jawab atas perawatan Glen.


“Perkenalkan, saya dokter Dewi kepala IGD di rumah sakit ini.” Kata sang dokter setelah Paulo duduk berhadapan dengannya.


“Saya, Paulo asisten tuan Glen.” Paulo membalas sapaan dokter itu dengan bersalaman.


“Baik, tuan Paulo, saya langsung saja.” Dokter Dewi membuka beberapa dokumen hasil pemeriksaannya tadi. “Sepertinya tuan Glen terlalu banyak menghirup asap tebal yang sudah masuk sampai ke dalam paru-parunya, bahkan sampai ke otak sehingga membuat tubuhnya lemah serta belum sadarkan diri dan kemungkinan besar kepalanya terkena benturan yang mempengaruhi tingkat kesadarannya. Untuk itu kami akan melakukan pemeriksaan tindak lanjut terhadap pasien jika pihak keluarga menyetujui.” Jelas Dokter Dewi. “Silahkan tuan lihat dokumen hasil pemeriksaan ini!” Dokter Dewi menyerahkan dokumen yang tadi dipegangnya pada Paulo dan diterima oleh Paulo yang langsung mengamati dokumen tersebut.


“Selain itu juga kemungkinan adanya penumpukan plak di pembuluh darah (arteriosklerosis)akibat asap kebakaran yang mempengaruhi kerja jantung.” Tambah dokter Dewi.


“Apa pengobatannya akan berlangsung lama?” Tanya Paulo.


“Heeemmmm…” Paulo menarik nafas kasar di udara dan menghempaskannya. “Saya harus menghubungi keluarga tuan terlebih dahulu, karena saya sendiri tidak bisa mengambil keputusan.” Kata Paulo dengan sedikit merasa kesal pada dirinya yang telah gagal menjaga bosnya itu.


“Baik. Harap sesegera mungkin mengambil keputusan.” Kata dokter Dewi.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Paulo langsung keluar dari ruangan dokter tersebut menuju ke depan pintu ruang perawatan Glen, dia ragu-ragu untuk masuk ke ruangan tersebut, diapun bingung harus berbuat apa. Rasa takut menghubungi Leoni ataupun kedua orang tua Glen, karena pasti mereka akan memarahinya, terlebih Leoni istri Glen yang usia pernikahan mereka baru seumur jagung itu, pasti akan shok mendengar berita keadaan Glen saat ini.


***


Sementara Leoni dirumahnya bersama kedua orang tuanya


“Leoni? Kenapa dia?” Tanya Mama Serly dalam hatinya saat lewat di kamar anaknya itu mendengar Leoni yang sepertinya sedang muntah-muntah. “Ny, kamu kenapa?” Mama Serly yang saat itu masuk ke dalam kamar Leoni menghampiri Leoni yang saat itu sudah berada di dalam kamar mandi.


“Eh ma.” Leoni kaget dengan keberadaan mama Seerly di depan pintu kamar mandi.


“Ada apa? Kamu sakit?” Mama Serly mengusap-usap punggung Leoni dengan lembut.

__ADS_1


“Uweek… uweeekkk…” Lagi-lagi Leoni mengeluarkan semua isi dalam perutnya.


“Ny?” Mama Serly menjadi panik karena lagi-lagi Leoni muntah dan bahkan wajahnya menjadi pucat. “Sudah?” Tanya Mama Serly setelah melihat Leoni agak baikan. Mendapat anggukan Leoni pertanda dia sudah baikan, mama Serly menuntut anaknya itu kembali ke dalam kamar. “Paula.” Teriak mama Serly memanggil asisten Leoni sekaligus sebagai body guart serta sahabat anaknya itu.


“Iya Nyonya?” Paula masuk ke dalam kamar.


“Tolong panggilkan dokter, sepertinya Leoni sedang sakit.” Kata Mama Serly memberi perintah.


“Tok… tok… tok…” beberapa menit kemudian Paula kembali mengetuk pintu kamar Leoni.


“Masuk!” Perintah Mama Serly dari dalam kamar yang masih setia menemani Leoni.


“Dokternya sudah datang.” Kata Paula setelah membuka pintu.


Paula pun mengantar sang dokter untuk masuk ke dalam kamar Leoni.


Tanpa basa basih, sang dokter yang merupakan dokter peribadi keluarga Glen itu langsung menjalankan tugasnya, “Selamat yah.” Kata dokter setelah selesai memeriksa Leoni.


“Selamat apa dok?” Leoni bertanya pada sang dokter.


“Mba Leoni saat ini sedang mengandung, sepertinya berdasarkan prediksi saya usia kandungannya sudah berjalan satu bulan.” Dokter menjawab pertanyaan Leoni.


“Yang benar saja dok?” Tanya Leoni kurang percaya.


“Iya mba, berdasarkan hasil pemeriksaan saya menunjukkan bahwa mba sedang mengandung, hal ini didukung dengan gejala yang mba alami.” Jelas dokter. “Untuk lebih jelasnya saya sarankan mba pergi ke dokter obgyn atau dokter kandungan untuk pemeriksaan selanjutnya.” Jawab dokter.


Besok paginya Paula mengantar Leoni ke dokter obgyn untuk memeriksakan kandungannya dan hasilnya positif.


****


Makasi sudah baca karya author.


Kita move ke novel baru yah “Melatinya Wiliam” yang tidak kalah serunya dan tentunya bikin tambah penasaran dan menambah wawasan kita mengenai daerah di NTT Indonesia.

__ADS_1


__ADS_2