KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Sakit Perut


__ADS_3

Malam itu mereka lalui berdua dengan romantis dan dipenuhi berbagai jenis perjanjian yang di ungkapkan oleh masing-masing untuk pasangannya itu. Serasa malam yang sangat singkat namun berhasil mencapai kata sepakat. Glen harus kembali ke Manado untuk mengurus pekerjaan yang beberapa hari ini terbengkalai sedangkan Leoni tetap di Kupang untuk menjalankan tugas pekerjaannya, yang juga sebenarnya menguntungkan dan untuk mengharumkan nama Sekolah SMA Gonzaga. Keadaan ini kembali membuat mereka berdua terpisah oleh jarak dan beban pekerjaan yang mungkin saja akan membuat mereka berdua sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


“Aku janji akan selalu meluangkan waktu untuk menghubungimu.” Leoni meyakinkan, ia mengambil posisi tidur di sofa yang mereka duduki kemudian meletakkan kepalanya di paha Glen. “Aku pasti akan sangat merindukanmu.” Kata Leoni manja dengan wajah sedih mengarahkan tatapan wajahnya ke arah wajah Glen dan menatapnya dalam-dalam.


“Aku juga akan sering menghubungimu dan memberi kabar padamu walau sesibuk apapun diriku.” Glen mengelus kepala Leoni sambil menyisir rambut Leoni yang panjang itu dengan jari jemarinya yang panjang. Leoni hanya membalas perkataan Glen dengan senyuman. “Aku juga pasti akan sangat merindukanmu. Aku tak sabar menanti hari di tiga bulan yang akan datang.” Glen menampakkan senyum tulus diwajahnya. “Aku pasti akan mempersiapkan acara kita dengan sangat baik dan tidak akan mengecewakanmu juga orang tuamu.” Kata Glen lagi.


“Makasi.” Kata Leoni singkat.


Tanpa aba-aba Glen menundukkan kepalanya mendekati wajah Leoni kemudian menjatuhkan kecupan ke pipih Leoni dengan sangat lembut, hal ini membuat Leoni malu namun dia tetap merespon kecupan itu dengan tersenyum kemudian memegang lembut lengan Glen, dia meraih tangan Glen dan menciumnya. Saat itu pun terciptalah suasana romantis dia antara mereka berdua. “Ny….” Glen menatap wajah cantik Leoni dengan tatapan yang sangat menggetarkan.


“Ya…” Leoni masih tersenyum lebar bertatapan dengan Glen, sekali lagi membuat Glen kembali mengecup pipi sebelahnya lagi. Tatapan manja Leoni membuat hati Glen semakin bergetar dan bahkan menuntun bibirnya itu untuk menyentuh bibir mungil nan seksi dari wanita cantik yang atletis itu. Dari pipi akhirnya sentuhan itu berpindah ke bibir Leoni yang berwarna pink itu.


“Aku sangat mencintaimu Ny.” Kata Glen setelah menyentuh bibir mungil Leoni.


“Aku juga mencintaimu.” Leoni tampak kaget dengan apa yang barusan Glen lakukan padanya namun tidak membuat dia terbang ke awan-awan.


“Haaappp….” Glen menempelkan bibir nya, Leoni masih terpaku dan tidak berbuat apa-apa, namun tindakan yang Glen lakukan semakin menuntut untuk dibalas, dan yah beberapa detik kemudian Leoni mulai menunjukkan reaksi menerima dan membalas dekapan bibir Glen.


Leoni membalas ciuman Glen dengan lembut namun akhirnya membuat ciuman di antara mereka semakin dalam, bibir mereka semakin terpaut dan berhasil membuat tubuh Glen bergetar hebat, bagian di antara paha yang dijadikan bantal oleh Leoni mulai mengeras namun Leoni dengan polos tidak menyadarinya.


Glen melepaskan pautan bibir mereka dan mengambil nafas dalam-dalam, serasa beberapa menit mereka tidak menghirup oksigen.

__ADS_1


“Ahhh….” Teriak Leoni kaget saat tiba-tiba jari jemari jenjang Glen menyentuh dua bukit kembar miliknya.


“Ah maaf!” Glen tersadar dari buayan indah ini, Glen merasa malu hampir kehilangan tidak dapat mengontrol dirinya dan bersyukur teriakan Leoni membuat akal sehatnya kembali. “Maaf Ny…!” Glen menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena merasa malu hampir saja lewat batas.


Leoni mengambil posisi duduk di samping Glen kemudian menarik kedua tangan yang menututpi wajah Glen.


“Maaf!” Glen memeluk Leoni erat-erat, Leoni hanya membalas kata maaf Glen itu dengan anggukan.


Semakin erat Glen memeluk tubuh mungil Leoni dan dibalas dengan elusan lembut di punggung Glen, jari tangan Leoni mengelus lembut punggung Glen malah bukan membuat Glen tegang namun hasratnya semakin memuncak.


“Aku ke toilet dulu.” Glen melepas pelukan kemudian mencium kening Leoni dengan romantis lalu dengan cepat berlari menuju toilet di lantai satu vila itu yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka duduk. Di toilet, Glen secepatnya menuntaskan apa yang membuat dia resah saat itu dan membuat hampir kelewat batas.


“Glen, kok lama banget sih?” Susul Leoni ke depan pintu toilet karena Glen berada di sana sudah 10 menit lebih.


“Yah sudah, cepat dong! Aku ngantuk banget.” Teriak Leoni lagi.


“Iya tidur saja!” Jawab Glen dari dalam dan masih berusaha menuntaskan pekerjaannya.


Leoni naik ke lantai dua, dia masuk ke dalam kamarnya mengambil minyak angin kemudian menuju ke kamar Glen.


“Loh kok tidur di sini?” Beberapa menit kemudian Glen masuk ke dalam kamarnya, dilihatnya Leoni yang sedang berbaring di sofa. “Dia lucu sekali kalau tidur.” Glen mengelus wajah Leoni, menyibakkan beberapa helai rambut yang tergerai di wajah cantiknya.

__ADS_1


Pergerakan Glen membuat Leoni terbangun. “Sudah selesai? Masih sakit perutnya?” Tanya Leoni penuh perhatian. “Tadi makan apa aja? Minum apa aja? Makan jajan apa saja? Kok perutnya bisa sakit?” Leoni menginterogasi Glen dengan polos.


“Anak ini dasar! Emangnya dia tidak menyadari keadaan tadi? Dasar!” Kata Glen dalam hati. “Sudah. Sudah baikan. Tenang saja!” Jawab Glen santai.


“Tenang saja gimana? Kalau kamu sakit gimana? Jangan buat aku panik!” kata Leoni.


“Aduh anak ini, tingkahmu seperti ini sangat membuatku gemes. Please jangan begitu, nanti aku tidak bisa mengontrol diri ini maka bahaya.” Kata Glen dalam hati.


“Hei ngelamun apa sih? Masih sakit?” Leoni melambaikan kedua tangannya di depan wajah Glen.


“Ah tidak.” Glen tersadar dari pemikirannya. “Kamu tidur di tempat tidur saja biar aku di sofa.” Kata Glen. “Atau kamu mau kembali ke kamarmu?” Glen tersadar jika mereka tidur di kamar yang sama bisa saja dia tidak dapat menguasai diri.


“Selamat tidur.” Tanpa menjawab pertanyaan Glen, Leoni langsung bangun dan melangkah ke arah pintu keluar. “Kalau perutnya sakit lagi, oles pakai minyak angin itu! Atau panggil aku.” Leoni menunjuk sebotol minyak angin yang ia letakkan di atas dipan.


“Iya. Makasi. Selamat tidur.” Kata-kata Glen mengantar kembalinya Leoni ke kamarnya.


Besok harinya mereka berdua pergi ke kantor bersama, saat itu Glen meminta waktu pertemuan dengan semua karyawan di perusahaan termasuk guru dan pegawai di Yayasan Sma Gonzaga.


“Selamat pagi semua. Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian, saat ini saya sebagai presdir menyerahkan kembali kepemimpinan kepada Om Lukas sebagai perwakilan di daerah Kupang ini karena saya harus kembali ke kantor pusat. Dan dengan ini juga saya menyampaikan bahwa Leoni…” Glen memberi kode ke Loeni untuk maju ke


tempatnya berada dan Leoni pun mengerti maksud dari kode yang diberikan oleh Glen, dia langsung melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Glen berdiri. “Leoni adalah calon istri saya.” Sambung Glen ketika Leoni sudah berada di sampingnya. “Dia akan berada di sini sebagai guru dan pelatih renang untuk mempersiapkan anak-anak dalam mengikuti lomba tiga bulan kedepan. Saya titip dia di sini, saya harap semua bisa menghargai dia sebagaimana saya.” Lanjut Glen.

__ADS_1


***


Mohon like dan komentarnya dong!


__ADS_2