
“Makasi yah Nit, makasi kamu mau membantuku.” Kata Leoni setelah Anita menyanggupi untuk membantunya.
“Sama-sama Ny, malah aku sangat senang dikasi kepercayaan ini.” Kata Anita lagi. “Oh ya Ny, sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian berdua sebelumnya? Apa aku bisa tahu? Jujur aku penasaran banget, soalnya beberapa hari yang lalu Glen sempat menelponku.” Kata Anita penasaran dengan kisah Leoni dan Glen.
“Ceritanya panjang Nit.” Kata Glen seolah mau menghindari pertanyaan dari sahabatnya itu.
“Ada sedikit masalah diantara kami, nanti lain waktu aku pasti akan cerita Nit. Untuk saat ini kita fokus dulu sama acara nikahan. Intinya dia!” Leoni menunjuk ke arah Glen. “Pernah nyakitin aku tanpa sebab dan akibatnya aku pergi jauh darinya.” Jawab Leoni.
“Yah sudah, intinya sekarang kalian sudah bersama lagi. Semoga tidak terjadi lagi hal-hal yang saling menyakiti satu sama lain.” Kata Anita memahami keadaan mereka saat ini. “Kalau ada masalah diantara kalian, diskusikan bersama. Jangan mudah percaya dengan orang lain dan yang terpenting adalah saling komunikasi di antara kalian dan harus percaya dengan pasangan kalian.” Anita menasihati.
Leoni dan Glen mengangguk-angguk mendengarkan setiap perkataan Anita yang tengah menasihati mereka.
“Iya makasi Nit.” Kata Glen dan Leoni bersamaan setelah mendengarkan setiap perkataan Anita.
Setelah puas mendengarkan setiap nasihat serta wejangan dari sahabat mereka itu dan mendapat kepastian bahwa Anita bersedia membantu mereka, kedua sejoli itu pun berpamitan dan melanjutkan urusan mereka yang lainnya.
Seminggu telah berlalu, persiapan pernikahan mereka pun hampir rampung delapan puluh lima persen, semua urusan surat menyurat telah diurus. Seminggu lagi mendekati hari H acara pernikahan mereka.
Rasa bahagiah bercampur gelisah kini Leoni dan Glen rasakan, bahagiah karena Leoni akan segera menjadi ratu dalam kehidupan Glen namun juga gelisah menanti hari yang masi di depan mata, tak sabar menanti hari yang ditunggu-tunggu itu.
“Ny, sekitar satu jam lagi aku akan jemput kalian untuk fitting baju, aku barusan dapat kabar dari butik kalau bajunya sudah siap dan mereka sedang menunggu kita. Tapi aku selesaikan sedikit pekerjaan di kantor dulu. Kamu siap-siap yah!.” Isi pesan singkat yang Glen kirimkan ke Leoni di selah aktifitasnya di kantor. Walaupun sibuk mempersiapkan pernikahannya, Glen pun tetap ke kantor karena ada banyak pekerjaan yang belum sempat dia kerjakan dan sudah menunggu untuk harus diselesaikan.
Membaca pesan singkat yang Glen kirimkan, membuat Leoni tambah gugup saja rasanya seperti tidak percaya kalau hari itu akan segera tiba. Leoni langsung meloncat dari tempat duduknya, dia berlari keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju ke dapur yang dia yakini kalau mama dan papanya ada di sana. Dia langsung mengutarakan maksud kedatangannya menjumpai kedua orang tuanya itu. Mereka pun turut merasa bahagiah bersama anaknya itu.
“Papa mama siap-siap sana! aku juga akan segera siap-siap, sebentar lagi Glen jemput.” Leoni melompat-lompat kegirangan, dia mendorong kedua orang tuanya itu menuju ke kamar mereka.
“Iya sabar Ny, pelan-pelan, jangan buru-buru nanti yang ada mama dan papa jatuh kalau didorong seperti ini.” Kata papa menahan tangan Leoni.
__ADS_1
“Yah sudah, kamu pergi siap-siap sana!” Kata mama sebelum masuk ke dalam kamar.
Leoni segera meninggalkan papa dan mamanya di depan kamar mereka kemudian berlari menuju ke kamarnya, “aku harus buru-buru, jangan sampai Glen sudah datang dan aku belum siap.” Leoni tersenyu-senyum sendiri mengingat apa yang akan mereka lakukan saat ini.
Setelah sudah siap, Leoni, Kevin dan kedua orang tuanya menunggu kedatanga Glen di ruang tengah, Leoni tak sabar menunggu kedatangan calon suaminya itu, dia mondar-mandir di depan pintu.
“Leoni duduk dulu, sebentar lagi pasti Glen datang. Belum juga satu jam menunggu.” Kata Kevin melihat kegelisahan Leoni menunggu Glen.
Beberapa menit kemudian terdengar deru suara mobil masuk ke pekarangan rumah mereka.
“Itu pasti Glen.” Leoni langsung berdiri dari tempat duduknya kemudian berlari membuka pintu rumahnya. “Ayo, Glen sudah datang.” Leoni mengajak keluarganya keluar setelah dia melihat benar mobil Glen sudah terparkir di depan rumahnya.
“Belum juga Glen masuk.” Kata mama.
“Kita langsung jalan saja.” Rasanya tak sabaran Leoni pingin mencoba gaun pengantinnya.
Perjalanan menuju ke butik hanya beberapa menit saja namun rasanya seperti berhari-hari karena rasa tak sabar dari Leoni maupun Glen.
“Selamat datang tuan!” Sambut karyawan butik yang membukakan pintu bagi mereka.
Rasa kagum atas tempat itu, Leoni melihat begitu banyak gaun cantik yang terpajang di butik tersebut, rasanya pingin dia memiliki semuanya.
“Hai Glen, hai Leoni.” Pemilik butik menghampiri mereka dengan senyum mereka di wajah cantiknya.
“Hai Linda.” Glen dan Leoni menyapahnya bersamaan.
“Gimana pesananku?” Tanya Glen pada Linda si pemilik butik.
__ADS_1
“Sudah beres, sudah bisa di fitting semuanya, lengkap kan keluargamu?” Linda mengedarkan pandangan ke seluruh keluarga Glen dan Leoni. “Bagus sudah lengkap.” Kata Linda setelah menyadari kalau semua orang yang akan fitting baju sudah lengkap. “Nanti om, tante di bantu fittingnya sama asistenku yah!” Linda menyuruh asistennya mengantar keluarga Glen dan Leoni ke tempat fitting. “Kalian berdua ikut aku!” Ajak Linda pada Leoni dan Glen. Setelah berada di ruang fitting baju, Linda menjelaskan baju yang akan dikenakan oleh sepasang kekasih itu, ada sebanyak empat pasang baju yaitu satu yang akan dikenakan saat pemberkatan nikah digereja, dua baju untuk acara resepsi, dan satunya lagi untuk acara mid night dance bersama teman-teman mereka.
Tak putus-putusnya Leoni memuji kemewahan dan keindahan baju-baju yang di siapkan Linda untuknya.
“Di sana ruang gantimu!” Kata Linda pada Glen.
“Maksudnya?” Glen sedikit bingung dengan perkataannya.
“Apa aku harus bantu kamu ganti pakaiannya?” Kata Linda sinis sengaja membuat Glen jengkel.
“Nih…” Linda meletakan satu paket baju ke tangan Glen, kemudian menuntun Leoni masuk ke dalam ruangan yang berbeda untuk mencoba bajunya. “Selesai pakai pakaianmu, tunggu aku di sini!” Teriak Linda pada Glen.
“Iya.” Jawab Glen jengkel.
“Hahaha…” Linda tertawa melihat Glen jengkel.
Sesaat kemudian setelah mereka ada di ruangan ganti, pakaian Leoni yang tadi berada di manekin pun dibawahkan oleh salah satu karyawan Linda.
“Leoni?” Karyawan yang membawah pakaian itu kaget melihat siapa orang yang akan mengenakan gaun-gaun cantik itu.
***
Readers, jangan lupa dukungannya yah!
Like
komen
__ADS_1
vote