KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Teman Baru


__ADS_3

“Ini apa Rin?” tanya Leoni yang penasaran.


“Ini buah bidara bu. Coba deh, rasanya enak kecut-kecut manis.” Airin menyodorkan satu buah bidara ke arah Leoni dan diterima dengan senang hati.


“Cara makannya gimana?” Tanya Leoni setelah menerima buah yang disodorkan oleh Airin.


“Hahaha… ibu nih lucu sekali deh.” Airin tertawa melihat tingkah Leoni, sambil melahap satu buah bidara ke dalam mulutnya. “Gigit saja begini bu.” Airin menirukan cara makan buah bidara.


“Oh gituu saaajjaaaa?” Leoni pun tertawa dengan kekonyolannya dan melahap buah yang ada di tangannya. “Enak juga yah.” Kata Leoni setelah memakan sedikit buah yang mereka dapat itu. “Sungguh baru kali ini aku memakan buah seperti ini, di tempatku tidak ada. Biasanya yang ada mah apel, pisang, pepaya, anggur.” Leoni masih tertawa.


Mereka berdua berjalan dengan kegirangan, penuh canda dan tawa apalagi baru kali ini Leoni datang ke perkampungan seperti itu. Banyak hal baru yang dia dapat.


“Kalian sudah datang?” Kata mama saat melihat Leoni dan Airin sudah memasuki gazebo.


“Iya ema.” Jawab Leoni.


“Gimana? Sudah memberi kabar kepada keluarga mu? Gimana tanggapan mereka?” Tanya mama Airin penasaran.


“Mereka mengijinkanku untuk menenangkan diri di sini, setelah merasa agak baikan, mereka memintaku untuk pulang.” Jawab Leoni.


“Baguslah.” Lanjut mama Airin. “Kami juga senang kamu tinggal disini dan kami tidak merasa keberatan dengan adanya kamu di tempat kami, malah kami sangat senang menerimamu sebagai bagian dari keluarga kami tapi kamu juga harus ingat dengan keluargamu, orang tua mu juga pasti sangat menginginkanmu berada di dekat mereka.” Jelas mama Airin lagi.


“Iya ema, pasti secepatnya aku akan pulang kepada keluargaku.” Kata Leoni.


“Nona ibu, mau makan ini?” Tiba-tiba Airin membawah sepiring penuh berisi makanan.


“Apa itu?” Leoni penasaran dan merasa tertarik dengan penampilan makanan yang dibawah oleh Airin.


“Ini ubi bakar yang baru saja di bakar oleh bapa, dan ini lawar jantung pisang.” Jelas Airin. “Coba deh!” Airin mengambilkan sepotong ubi dan dicelupkan ke dalam lawar.


“Boleh.” Leoni membuka membuka mulutnya dan meminta Airin menyuapkan. “Wuhwuhwuh….” Leoni mengibas-ngibaskan mulutnya. “Pedes tapi enak.” Leoni mengambil lagi sepotong ubi dari piring dan memakannya.

__ADS_1


“Ini untuk bu Leoni saja.” Airin menyodorkan piring yang di pegangnya ke arah Leoni.


“Kamu yakin? Terus kamu?” Leoni merasa kasihan nanti kalau dia mengambilnya gimana dengan Airin. “Kita makan sama-sama?” lanjut Leoni.


“Tenang bu, nanti aku ambil yang baru. Masih ada banyak kok.” Airin menunjuk ke arah bapa yang masih sementara membakar ubi di perapian.


Akhirnya Leoni menerima sepiring ubi dan lawar itu dengan senang hati dan tidak berbeban lagi setelah dia tahu kalau masih ada banyak.


“Nak Romi?” Papa Airin melihat anaknya bapa desa lewat di depan kebun mereka, kebetulan tempat perapian ada di samping jalan.


“Iya bapa, selamat siang.” Sapah Romi.


“Mau ke kebun yah?” Tanya papa Airin basa-basi.


“Iya, tadi ada warga yang bekerja membersihkan kebun, jadi bapa menyuruh saya membawahkan makan siang.” Romi mengangkat rantangan yang sedang dibawah olehnya.


“Ema siapa itu yang ngobrol dengan bapa?” Leoni melihat seseorang yang sedang berbicara dengan papa Airin.


“Iya ema? Ada apa?” tanya Romi dengan sopan.


“Kenalkan, ini Leoni. Ibu gurunya Airin. Sementara ini dia akan tinggal di sini, di rumah kami.” Jelas mama Airin.


“Oh halooo.. iya, tadi aku lihat ke rumah kami yah? Kenalkan aku Romi anaknya bapa desa.” Romi menyodorkan tangannya bersalaman dengan Leoni.


“Leoni.” Balas Leoni singkat menyebutkan namanya sambil bersalaman dengan Romi. “Senang berkenalan dengan mu.” Lanjut Leoni.


“Senang juga berkenalan denganmu, semoga betah tinggal di desa kami dan semoga kita bisa menjadi teman.” Kata Romi.


“Kak Romi nanti bisa ajak-ajak Nona Ibu keliling-keliling kampung yah, kasihan juga kalau nona ibu hanya di dalam rumah saja, dia kan disini butuh refresing.” Kata Airin. “Aku mungkin dua hari lagi akan kembali ke sekolah, nanti nona ibu tidak punya teman lagi dong di sini. Kan tidak mungkin berteman dengan ema dan bapa saja.” Lenjut Airin sehabis menyantap makanan ubi nya.


“Boleh asalakan nona ibu nya mau di ajak kak Romi keliling kampung.” Kata Romi dengan senyum.

__ADS_1


“Pasti nona ibu mau dong, pasti nona ibu senang mendapat teman baru disini, lagian dia belum punya teman juga disini selain aku.” Kata Airin lagi.


“Airin.” Tegur mama Airin.


“Yah sudah aku lanjut ke sebelah dulu yah, pasti mereka sedang menunggu makanan dariku.” Romi mengangkat bekal yang dia bawah sejak tadi.


“Iya kak, nanti ingat yah sebentar main ke rumah kami biar nona ibu ada teman ngobrolnya.” Lanjut Airin.


Mereka kembali ke rumah setelah menyelesaikan aktifitas di kebun dengan memakan ubi bakar yang dipasangkan dengan lawar, juga memetik jagung mudah untuk dibawah pualng ke rumah. Leoni sangat terhibur dengan aktifitas barunya itu. Sungguh pengalaman baru dia peroleh bersama keluarga Airin.


***


Sementara Leoni menikmati kehidupan barunya bersama keluarga Airin di desa yang tengah menghibur dirinya dan berusaha melupakan rasa sakit hatinya pada Glen, sebaliknya Glen yang masih berada di Kupang berusaha mencari Leoni di setiap sudut kota Kupang yang bisa mereka jangkau dengan para orang kepercayaan papa Glen.


“Sudah ada informasi?” Beberapa kali Glen menghubungi orang-orang suruhannya dan menanyakan keberadaan Leoni.


“Belum tuan, sejauh ini tidak ada sarana transportasi yang melaporkan membawahnya keluar dari sini.” Beberapa orang suruhan mempunyai jawaban yang selalu sama setiap kali dihubungi oleh Glen.


“Selain mengawasi transportasi keluar daerah, coba selidiki lagi angkutan dalam kota antar kabupaten! Jangan sampai dia sembunyi di daerah.” Perintah Glen.


“Kamu ini yang benar saja Glen, mana mungkin dia sembunyi ke daerah? Dia sembunyi di siapa? Kalau ke daerah pasti dia harus punya kelarga atau paling tidak kenalan didaerah tersebut, sedangkan Leoni orang baru di sini, dia selama ini hanya terkurung di sekolahan saja. Mana mungkin dia tahu daerah di Kupang ini? Itu tidak mungkin menurut mama.” Potong mama.


“Terus menurut mama dia kemana? Seluruh sudut kota Kupang ini sudah diselidiki namun tidak ditemukan keberadaannya? Semua sarana transportasi sudah diblokir namun tidak juga ada tanda-tanda keberadaannya. Tidak mungkin kan dia pulang ke Manado pake pintu doraemon ma?!” Kata Glen tersirat emosi.


“Coba kamu hubungi orang tua nya. Siapa tahu mereka ada informasi.” Usul mama.


***


Guys sambil menunggu kelanjutan cerita Leoni dan Glen, mampir dulu yuks di novel baruku


"Melatinya Wiliam"

__ADS_1


__ADS_2