
Besok harinya Luna kembali ke butik untuk bekerja, seperti biasa dia melayani pengunjung yang datang ke butik dan menjelang jam pulang mereka neyortir semua pesanan yang masuk hari itu serta menyimpan baju yang sudah siap dan menunggu untuk diambil oleh pemiliknya. Hari itu Linda dan satu orang karyawan pergi ke luar kota untuk belanja keperluan butik, sedangkan Luna dan dua orang temannya ditugaskan stay di butik untuk melaksanakan pekerjaan seperti biasanya, mereka kekurangan tenaga karena hanya mereka bertiga saja yang bekerja sedangkan ada banyak pelanggan yang datang dan ada juga banyak wedding costum yang harus disortir karena akan diambil besok paginya, termasuk milik Leoni dan Glen sehingga mereka bekerja sampai larut malam.
“Lun, pesanan yang mau diantarkan besok pagi sudah kamu pisahkan semua? Tidak ada kesalahan kan?” Tanya temannya yang datang mengontrol saat Luna sedang memasukkan beberapa pasang baju ke dalam kotak karena sudah siap untuk diantar kepada pemesannya.
“Sudah nih.” Luna menunjuk ke beberapa kotak yang sudah dia atur. “Ini juga hampir selesai.” Lanjut Luna.
“Kalau gitu yang sudah dalam kotak ini kita langsung masukan ke dalam mobil supaya besok pagi langsung diantarkan tanpa harus menunggu kita lagi. Takutnya kita datang terlambat dan kurirnya sudah datang.” Kata teman Luna lagi dan dibalas dengan anggukan oleh Luna.
Selesai menyortir semua pesanan dan memasukkan ke dalam kotak, mereka langsung memasukan kotak-kotak tersebut ke dalam mobil MPV butik yang biasanya dipakai untuk memuat pesanan yang akan mereka antarkan dan setelah itu mereka pulang.
Kring…
Kringg…
Kringg…
(Hp Luna berbunyi)
“Halo!” Luna terbangun karena deringan Hp nya itu, dia langsung menarik Hp dari meja lampu tidurnya dan menerima panggilan di Hp tanpa melihat siapa yang menelpon itu, dia langsung menekan gambar berwarna hijau di layar ponselnya. “Siapa nih? Ada apa menelpon jam segini?” Luna menguap, mulutnya terbuka lebar sambil melihat jam dinding yang dipajang dikamarnya. “Ah jam 3.00? siapa sih?” Tanya Luna lagi karena dia tidak memperhatikan perkataan orang dibalik telpon, dia masih fokus dengan rasa ngantuknya.
“Lun, hiiiiiii… butik kebakaran.” Teriak orang dari balik telpon sambil sesegukan menangis, membuat Luna sadar sepenuhnya dan rasa ngantuknya pun hilang seketika.
“Apa? Yang benar saja?” Luna kaget, dia mengumpulkan segenap tenaganya kemudian mengambil posisi duduk di tempat tidurnya itu dan berniat mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan oleh orang di balik telpon. “Linda, apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Luna setelah melihat nama penelpon di layar Hp nya itu.
“Aku baru saja dapat kabar, butik kebakaran. Tolong kamu ke lokasi sekarang, lihat bagaimana keadaan di sana, kami sekarang lagi siap-siap untuk kembali ke sana.” Perintah Linda yang semakin sesegukan menangis.
__ADS_1
“Baik. Aku akan segera ke sana.” Luna turun dari ranjangnya dan menuju ke lemari pakaian untuk mengganti pakaian tidurnya terlebih dahulu.
“Kabari aku kalau kamu sudah di sana!” Kata Linda lagi.
Luna langsung mengakhiri panggilan telpon itu, dia segera mengganti pakaiannya, mengambil kunci mobilnya dan langsung menuju ke lokasi butik. Tepat dihadapannya api sedang berkobar, beberapa bangunan yang sejajar dengan butik pun ikut mendapatkan dampak dari kobaran api tersebut. Luna menerobos petugas keamanan dan pemadam kebakaran serta masyarakat yang sudah berada di lokasi tersebut.
“Permisi… permisi…” Kata Luna pada orang-orang yang menghalangi jalannya.
“Maaf mba tidak boleh masuk!” Kata seorang petugas keamanan yang menghampiri Luna karena berusaha menerobos masuk ke lokasi yang sudah dibatasi dengan police line.
“Saya karyawan butik ini pak.” Luna menunjukkan kartu pengenal sebagai karyawan butik yang dia ambil dari dalam mobilnya sebelum turun karena sempat terlintas dipikirannya mungkin saja akan dibutuhkan.
“Yah sudah, silahkan masuk tapi hanya sampai di tempat petugas saja.” Kata petugas keamanan tadi mengarahkan sampai di mana Luna bisa masuk. Dia pun hanya bisa menganggukan kepalanya dan menerima arahan dari petugas tersebut.
***
“Ada di kamarnya.” Jawab mama Leoni.
Tanpa mendengarkan kelanjutan kalimat dari mama Leoni, Glen langsung berlari ke atas dan masuk ke kamar Leoni.
“Ny…” Panggil Glen langsung membuka pintu kamarnya dan masuk.
“Glen?” Leoni kaget melihat siapa yang tiba-tiba masuk di kamarnya. “Ada apa? Kenapa kamu sudah ada di sini? Bukannya nanti sore baru kita ke butik? Katanya pagi ini masih ada kerjaan di kantor kok sudah ngongol di sini, ada apa?” Tanya Leoni yang baru saja selesai mandi dan sedang duduk di meja rias sambil mengeringkan rambutnya yang basah, dia melihat ke arah jam dinding di kamarnya, ternyata pagi itu baru jam delapan pagi. “Kamu belum mandi juga?” Leoni tambah bingung melihat penampilan Glen saat itu yang masih menggunakan kimono baju tidurnya.
“Tadi aku baru saja mau mandi, terus dengar berita di TV, aku langsung lari ke sini.” Kata Glen tergesah-gesah.
__ADS_1
“Emang berita apaan sih? sampe bisa buat kamu berlari ke sini?” Tanya Leoni sambil mendekat ke arah Glen dan menariknya duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya itu.
“Ini Ny…” Kata Glen terbata. “Butik Linda kebakaran.” Kata Glen to the poin.
“Apa? Butik Linda temanmu terbakar? Butik tempat kita pesan baju itu?” Leoni kaget mendegar apa yang baru saja di katakan oleh Glen.
“Iya Ny.” Jawab Glen dengan ekspresi sedih.
Informasi yang disapaikan Glen membuat Leoni panik dan sedih, besok sudah acara pernikahannya, sebentar sore seharusnya baju pengantinnya sudah ada di dalam kamarnya, tapi tiba-tiba butiknya terbakar. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Leoni dengan sedih.
“Semua pakaian yang akan digunakan untuk acara besok ada di dalam butik itu.” Leoni menangis. “Apa lagi ini Tuhan? Kenapa selalu saja ada yang menghalangi?” tangis Leoni. “Jangan-jangan ini perbuatan Luna?” sejenak Leoni berpikiran negatif pada Luna karena dia tahu apapun akan Luna lakukan untuk membuat mereka gagal menikah.
“Tidak mungkin Ny, itu tempat kerjanya, tidak mungkin dia melakukan itu pada tempat kerjanya.” Kata Glen dengan bijak.
“Apanya yang tidak mungkin? Dia pasti melakukan berbagai cara untuk mengacaukan acara pernikahan kita besok. Dia tahu baju yang akan kita pakai besok ada di dalam butik itu, mungkin saja dia tidak dapat merusak semua baju pesanan kita disana makanya dia memilih untuk membakar butik sekalian.” Leoni emosi. “Sekarang apa yang akan kita lakukan? Apa ada butik yang sanggup untuk menyediakan baju untuk sekian banyak orang dalam waktu satu malam? atau paling tidak gaun pengantin dalam satu malam?” Leoni menangis putus asah.
***
Minta komennya yah jangan lupa!
Like
vote
juga yah!
__ADS_1