
“Nak Romi, nak Romi…” Seorang warga datang memanggil Romi yang tengah menikmati secangkir kopi di teras rumah Airin sambil bercerita dengan Leoni.
“Ada apa?” Tanya Romi.
“Bapa Desa memanggil nak Romi. Katanya suruh ke tempat pengungsian, ada bantuan yang masuk jadi tolong diatur.” Kata warga tadi.
“Baik. Nanti aku menyusul setelah selesai ini.” Romi mengangkat cangkir kopinya.
“Baik.” Kata warga yang menyampaikan perintah.
“Kamu mau ikut non?” Tany Romi.
“Aku di rumah saja dulu, aku pingin istirahat sebentar.” Jawab Leoni. “Selesai urus bantuan, kamu jemput aku lagi yah?” Kata Leoni manja.
Setelah Romi pergi, Leoni masuk ke kamarnya dan merenung, apa sekarang sudah waktunya untuk bertemu dengan Glen? Sepertinya orang yang dia lihat tadi adalah Paula, kalau Paula ada di sini pasti tuannya juga ada di sini, tapi kenapa dia tidak mengetahui kedatangan mereka?
***
“Tuan.” Paula mendekat ke arah Glen setelah kembali ke tenda tamu. “Tadi sepertinya aku melihat mba Leoni di sini, tapi dia bersama seorang pria.” Lapor Paula.
“Benar itu dia, kalau Paula juga sudah melihatnya, itu berarti dia. Tidak mungkin aku salah lihat.” Kata Glen dalam hatinya.
“Kamu cari tahu lagi! Tapi ingat hati-hati jangan sampai mencurigakan.” Perintah Glen.
“Siap tuan.” Paula keluar dari tenda menuju ke tempat pengobatan warga.
“Semoga saja itu Leoni yang aku cari, dan semoga dia mau mendengarkan penjelasanku.” Kata Glen dalam hatinya.
***
“Romi tolong atur sumbangan logistik yang masuk ini, ini jadi tanggung jawabmu.” Perintah bapa desa setelah Romi menghampirinya.
“Baik bapa.” Kata Romi sambil langsung mengambil alih peranan dalam mengurus sumbangan-sumbangan yang mulai masuk ke desa itu.
__ADS_1
Sambil Romi mengatur sumbangan, Glen memperhatikannya dari jauh. “Kamu itu siapa? Sepertinya dari penampilanmu dan auramu, kamu bukan orang biasa. Kalau hanya sebatas anak bapa desa, rasanya tidak mungkin. Kenapa kamu bisa menarik hati Leoni? Kenapa dia bisa secepat itu dekat dengan Leoni?” tanya Glen dalam hati.
“Kalau bapa cari aku, tolong bilang kalau aku pergi menjemput nona ibu di rumah, dia harus ada di sini karena untuk mengatur obat-obatan aku tidak paham, harus nona ibu yang atur.” Pesan Romi pada salah satu warga yang sama-sama dengannya mengatur bahan-bahan sumbangan yang masuk. Romi langsung berlari menuju ke rumah Airin.
“Tok…tok…tok…” Romi mengetuk pintu rumah Airin.
“Non, nona ibu..” Teriak Romi memanggil Leoni.
“Iya. Sabar!” Leoni keluar dari kamar sambil menguncir rambutnya.
Pemandangan yang dilihat Romi ini membuat hatinya bergetar. “Ahhh… nona, kau cantik sekali.” Romi mengusap keringat di dahinya.
“Heeiii.. kenapa denganmu?” Leoni mengayunkan tangannya di wajah Romi nampak dia tengah melamun. “Romi.” Teriak Leoni di telinga Romi dan membuat Romi sadar.
“Ahh yah, kenapa?” Romi kaget. “Jangan teriak gitu dong, telinga ku sakit.” Kata Romi sambil memegang telinganya.
“Habisnya kamu bengong terus dari tadi nah.” Leoni tertawa. “Ada apa?” Tanya Leoni.
“Tadi ada bantuan yang masuk. Sudah aku atur, tapi obat-obatan aku tidak paham. Boleh kamu bantu?” kata Romi.
Mereka berdua bergegas menuju ke lokasi pengungsian dan mengatur obat-obatan bantuan.
Disisi lain sementara Leoni mengatur obat-obatan ke tempat penyimpanan, Paula mengobati pasien yang kakinya luka dan perlu diganti perbannya.
“Ada cairan Nacl di sini?” tanya Paula pada seorang warga yang juga membantu medis.
“Aku kurang tahu non, coba ke ruangan sana, di sana tempat penyimpanan obat.” Jawabnya menunjukkan arah.
“Baik.” Paula melangkah ke arah yang ditunjuk.
“Kak apa ada cairan Nacl di sini? Aku mau membersihkan luka salah satu pasien.” Paula berbicara dengan seseorang yang sedang berjongkok sibuk dengan mengangkat-angkat obat.
“Ada, ini!” seseorang itu berdiri dan berbalik menghadap ke arah orang yang berbicara sambil menyerahkan cairan Nacl.
__ADS_1
“Mba?” Paula kaget melihat siapa yang ada di hadapannya. “Mba?” Paula meyakinkan penglihatannya. “Kau kah ini mba?” Paula memeluk erat-erat orang yang dia yakini adalah Leoni, dia sangat gembira karena orang yang mereka cari selama ini ada dihadapannya. “Aku harus beri tahu tuan.” Paula melepaskan pelukan dan hendak meninggalkan Leoni yang masih terpaku kaget dengan adanya Paula dihadapannya bahkan tengah dia rasakan pelukan dari orang tersebut.
“Paula.” Panggil Leoni mengejar Paula.
“Iya mba?” Paula berbalik dan kembali mendekat pada Leoni dengan sangat gembiranya dia.
“Glen di mana?” Bisik Leoni, rasanya dia berat dan belum yakin akan kondisinya untuk bertemu dengan orang itu.
“Ada, tuan juga ada di sini.” Paula sangat gembira, dia melupakan tujuannya datang ke ruangan itu, dia lebih fokus pada Leoni yang selama ini mereka cari.
“Paula, aku mohon jangan beri tahu Glen keberadaanku sekarang. Aku belum siap bertemu dengannya.” Kata Leoni. “Aku mohon!” Leoni memohon pada Paula.
“Tapi mba, tuan sudah mencari mba ke mana-mana.” Kata Paula. “Tuan pasti senang bertemu dengan mba lagi.” Lanjut Paula.
“Tolong kamu jangan beritahu siapa-siapa kalau bertemu aku di sini, aku belum mau ketemu dengan Glen. Kalau memang kami ditakdirkan untuk bertemu di tempat ini, biar dia dengan sendirinya tahu keberadaanku, dan aku mohon jangan kamu beri tahu dia. Paula? Bisa kan?” Desak Leoni.
“Tapi mba..” Paula merasa berat dengan permintaan Leoni.
“Please Paula, tolong aku. Aku belum siap bertemu dia.” Leoni memohon pada Paula.
“Apa mba sudah menemukan pengganti tuan sehingga mba tidak mau bertemu tuan lagi?” Paula merasa sakit hati karena Leoni tidak mau bertemu dengan tuannya.
“Kenapa kamu berbicara seperti itu padaku?” Tanya Leoni.
“Tadi aku lihat mba dengan seorang pria, nampaknya romantis sekali.” Jawab Paula.
“Kamu lihat di mana?” Tanya Leoni.
Paula menceritakan dimana dia melihat Leoni dengan Romi tadi, dia menceritakan dengan jelas semua yang dia lihat.
“Sepertinya mba bahagiah sekali bersamanya.” Kata Paula dengan ekspresi sedih seolah mewakili perasaan tuannya. “Mungkin pria itu tidak kaya seperti tuan, tapi mungkin dia berhasil membuat mba bahagiah, dan mungkin juga tuan terlalu menjunjung tinggi ego nya sehingga membuat mba sakit hati dan sekarang mba jadi tidak mau bertemu dengannya lagi.” Paula meneteskan air matanya.
“Laki-laki itu namanya Romi, dia anak bapa desa di sini, kami bersahabat.” Jelas Leoni. “Tolong jangan sampaikan pada Glen tentang aku sekarang ini, anggap saja kamu tidak melihatku. Bukan karena aku bahagiah saat ini dengan orang lain, tapi karena aku belum siap menemuinya dan masih terlalu sakit hati atas perbuatannya padaku. Paula seandainya kamu jadi aku? Gimana perasaanmu? Tiba-tiba diusir dan membatalkan pertunangan yang sudah direncanakan, dan ternyata pria yang kamu cintai malah akan menikah dengan sahabatmu sendiri? Hati aku masih sakit.” Kata Leoni lagi.
__ADS_1
“Yahh memang pantas mba sakit hati, itu karena perbuatan tuan juga yang salah, tapi tuan juga sudah merasakan sakit akibat perbuatannya itu, mba tolong bertemu dengannya dan dengarkan penjelasannya! Setelah itu terserah mba mau ambil langkah seperti apa. Aku mohon mba, ini semua demi kalian.” Paula memohon pada Leoni.