
“Makasi yah ma.” Glen tersenyum bahagiah karena ternyata kedua orang tuanya merestui pilihannya.
Leoni sendiri tak dapat berkata apa-apa saat itu, dia bingung mau bicara apa. Saat itu dia bingung dengan pemikirannya sendiri yang sudah terlanjur menilai negatif terlebih dahulu kepada kedua orang tua Glen yang mungkin saja hanya untuk menguji mereka berdua.
“Leoni.” Panggil papa Glen.
“Iya om.” Leoni kaget karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Kamu kok diam saja? Lagi mikirin apa?” Tanya papa.
“Ah... tidak om.” Leoni malu-malu.
“Yang tadi itu, tidak usa kamu pikirkan lagi yah!” Kata papa Glen lagi, yang mungkin tahu kalau Leoni sibuk memikirkan perlakuannya tadi. “Papa tahu kalau tadi Leoni sempat sedih kan?” Papa Glen senyum.
“Pa.” Glen mau bicara sesuatu tapi tidak sempat berbicara, sudah di potong pembicaraannya.
“Kapan kalian menikah?” Tanya papa Glen tiba-tiba.
“Pa.” Kali ini mama Glen yang mau bicara sambil menatap ke arah Glen. “Kasih kesempatan mereka berdua untuk membicarakannya terlebih dahulu dong pa. Kasih kepercayaan kepada mereka untuk mengatur masalah pernikahan mereka. Kita jangan terburu-buru dan mendesak mereka.” Kata mama Glen dengan sangat lembut. “Begitu kan Glen?” Tanya mama yang dibalas dengan senyuman.
“Makasih mama.” Glen menanggapi pembicaraan mamanya. “Iya pa, Glen akan bahas dengan Leoni dulu yah? bisa kan?” Tanya Glen kepada papa nya. "Glen janji akan secepatnya memberikan jawaban ke papa, dan Glen akan berusaha untuk tidak mengecewakan papa dan mama." Jelas Glen lagi.
“Jangan lama-lama!” Kata papa singkat. "Papa sangat berharap agar kalian segera menikah agar papa bisa legah." Kata papa lagi.
“Om.” Panggil Leoni. “Eh, paa... eh..” Leoni mulai bicara walaupun agak salah tingka sedikit.
Glen, mama dan papa nya tertawa melihat tingkah Leoni. “Sayang” Glen memegang tangan Leoni. “Panggil papa juga tidak apa-apa kok. Toh nanti juga kita akan nikah kan?” Bisik Glen tersenyum.
Wajah Leoni memerah seperti buah tomat, sangat terlihat kalau dia malu dan salting, dia hanya bisa tertunduk dan tidak berani mengangkat wajahnya.
“Leoni, kamu harus mulai terbiasa dengan memanggil mama dan papa yah, sama seperti Glen” kata mama yang seolah mendengarkan apa yang Glen bisikkan di telinga Leoni, hal ini membuat Leoni tambah malu.
“Dengar tuh mama omong Ny!” Bisik Glen lagi.
“Iya.” Balas Leoni berbisik.
__ADS_1
“Baik. Papa kasih kalian waktu satu minggu untuk membicarakannya.” Kata papa Glen.
“Maaf!” Kata Leoni lagi namun tidak mendapat tanggapan dari siapapun. “Mungkin untuk pernikahan, belum bisa dalam waktu dekat.” Kata Leoni yang masih tertunduk.
“Kenapa begitu Leoni?” Tanya mama dengan lembut. “Bisa jelaskan alasannya? Kenapa belum bisa dalam waktu dekat? Bukannya .....” Lanjut mama, Glen hanya bisa diam, dia menunggu apa yang akan dikatakan Leoni.
“Aku harus pergi ke Kupang besok.” Jawab Leoni dengan singkat.
“Hah?” Mama dan papa kaget, terlihat wajah papa marah dan tidak menginginkan jawaban Leoni.
“Ma, pa, biar Glen diskusikan dulu dengan Leoni yah.” Glen berusaha menyelamatkan keadaan.
“Glen! Apa maksudnya semua ini?” papa marah. “Baru saja mengaku saling mencintai, sekarang mau pergi?? Hah? Glen ayo jujur! Permainan apa ini?” Papa membentak Glen.
“Pa, dengar penjelasan dari mereka dulu, jangan langsung emosi!” Mama berbisik ke papa.
“Maaf, ini bukan permainan.” Sambung Leoni. “Kalau diberi kesempatan, akan aku jelaskan.” Tambah Leoni yang direspon dengan tatapan penuh pertanyaan dari Glen.
“Jelaskan!” Kata papa singkat.
berbicara.
“Glen, selesaikan masalah ini secepatnya!” Perintah papa Glen kemudian langsung masuk ke dalam kamar.
Mama dan Glen tidak dapat membantah apa yang disampaikan papanya, mereka membiarkan papa masuk ke dalam kamar.
“Ma, aku harus bicara dulu dengan Leoni.” Kata Glen lembut.
“Iya.” Kata mama Glen. “Leoni, mama percaya pada kalian berdua, mama tahu pasti kalian akan melakukan semua yang terbaik. Papa hanya berharap supaya anak laki-lakinya ini akan segera menikah.” Mama memegang lembut pundak Glen.
“Iya.” Kata Glen dan Leoni bersama-sama.
“Mama sangat tahu kalau Glen begitu mencintai Leoni, sebaliknya Leoni juga pasti seperti itu kan?” Tanya mama.
“Leoni sangat mencintai Glen.” Kata Leoni spontan, sementara Glen hanya tersenyum mendengar perkataan Leoni.
__ADS_1
“Makasi sayang.” Glen mengelus lembut kepala Leoni. “Kita bicarakan masalah ini.” Bisik Glen yang dibalas dengan anggukan Leoni.
“Baik. Mama sangat percaya kalian akan seceptanya mengambil keputusan. Silahkan kalian bicarakan berdua.” Kata mama kemudian menuju ke dapur, meninggalkan mereka berdua di ruang tengah.
“Aku akan jelaskan kepada papa, pasti papa akan mengerti.” Bisik Glen, dia yakin bahwa Leoni masih terlarut dalam pemikirannya tentang desakan papa untuk menikah.
“Baik.” Leoni merespon perkataan Glen.
“Aku antar kamu pulang?” Tanya Glen.
“Ayo!” Jawab Glen.
*
Dalam perjalanan mengantar Leoni pulang, mereka berdua berdiskusi tentang pernikahannya.
“Ny.” Panggil Glen.
“Iya.” Jawab Leoni.
“Kira-kira kapan kita bisa menikah?” Tanya Glen dengan penuh kehati-hatian karena ia takut Leoni tersinggung dengan pertanyaannya. “Maaf, aku tidak mendesak kamu untuk segera menikah, tapi paling tidak kita sudah harus punya rencana kedepannya dan juga agar aku dapat mempertanggung jawabkannya ke papa.” Kata Glen lagi. “Aku bisa menunggumu sampai kapan pun, tapi orang tua ku tidak akan bisa sayang. Walaupun belum menikah dalam waktu dekat, mereka harus punya jawaban kejelasan kapan waktunya. Aku harap kamu mengerti dengan apa yang aku sampaikan.” Kata Glen penuh harap.
Sebenarnya Glen juga ingin segera menikah dengan gadis pujaannya itu, sama seperti harapan orang tua nya. Dia juga tidak ingin Leoni pergi, tapi dia pun tidak bisa egois tanpa memikirkan keinginan dari Leoni.
“Tahun depan?” Bisik Leoni. “Bisa kah tahun depan?” Tanya Leoni hati-hati.
“Sayang.” Glen mengelus lembut rambut kekasih hatinya yang duduk di sampingnya itu sambil tersenyum.
“Hem...” Leoni mengangguk.
“Kalau kita tunangan dulu gimana?” Tanya Glen yang masih mengelus kepala Leoni dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya sibuk menyetir.
“Hah?” Leoni kaget dan melirik ke arah Glen seolah menuntut penjelasan.
“Kalau kamu setuju.” Kata Glen datar. “Gimana?” Tanya Glen masih dengan nada bicara yang datar tanpa ekspresi.
__ADS_1
Dada Leoni terasa sesak melihat ekspresi Glen yang datar seperti itu, dia juga bingung untuk menjawab pertanyaan Glen itu. Keinginan hati sebenarnya ingin juga segera menikah namun sepertinya tidak bisa di waktu yang singkat ini.